Rabu, 09 Desember 2015

25. Ilmu



Allah memberikan bekal hidup manusia di dunia diantaranya; jasmani yang menopang kehidupan hingga dapat menimbulkan tenaga untuk beramal dalam seluruh asfek kehidupan,  rohani yaitu unsur manusia yang sebenarnya yang akan mempertanggungjawabkan segala amal yang dilakukan oleh manusia, keberadaannya di sisi Allah yang ditiupkan ketika jasmani sudah berujud fisik manusia di alam kandungan,  dan akal yaitu modal yang diberikan untuk memmbedakan manusia dengan makhluk lainnya sehingga bisa memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang.

Akal sebagai modal manusia untuk merambah kehidupan di dunia ini, agar dia bermutu maka sangat penting  mengasahnya   dengan latihan, training dan ilmu pengetahuan. Pentingnya ilmu dalam islam terletak dari awal wahyu yang diturunkan Allah yaitu surat Al "Alaq yang mengajak manusia untuk membaca, mengkaji dan meneliti.

1.  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2.  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4.  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],
5.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.[Al[

Rasulullah bersabda: "Jadilah orang yang mengajar, atau orang yang belajar, atau orang yang mendengar, atau orang yang cinta kepada ilmu, janganlah jadi orang yang kelima, maka celaka kamu".
Dari hadits diatas tergambar tentang kewajiban muslim  terhadap ilmu yaitu;

1.Mengajar
Orang yang mengajarkan ilmu disebut dengan guru, ustadz, murabbi atau pendidik  ialah orang yang memikul tanggungjawab untuk mendidik. Pada umumnya jika kita mendengar istilah pendidik akan terbayang di depan kita seorang manusia dewasa. Dan sesungguhnya yang kita maksud dengan pendidik adalah hanya manusia dewasa yang akan melaksanakan kewajibannya tentang pendidikan siterdidik.
Kalau ditinjau dari segi pertanggungjawaban, maka orang dewasa yang mendidik memikul pertanggungjawaban terhadap anak didiknya, sedangkan sipenolong kecil itu belumlah demikian. Jelaslah kiranya bahwa si penolong kecil itu belum dapat disebut pendidik dalam arti sesungguhnya, jadi pendidik itu adalah orang dewasa.

            Salah satu syarat guru profesional  ialah sebagaimana yang diungkapkan oleh tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara; Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangunkarso, tutwuri handayani, berarti keberadaannya pada semua sisi sangat diperlukan dalam rangka membawa manusia junior dengan bekal ilmu pengetahuan serta kepribadian yang luhur, sehingga akan tercetak manusia pintar lagi baik.

2.Belajar
Islam mewajibkan kepada pemeluknya untuk menuntut ilmu  tanpa membedakan ilmu agama dan ilmu umum lainnya karena semua ilmu itu berasal dari Allah yang harus dipelajari. Kewajiban ini disabdakan oleh Rasulullah,”Mencari ilmu itu wajib bagi setiap orang islam laki-laki dan perempuan”. Dalam hadits lain Rasulullah menyampaikan sabdanya yang diriwayatkan oleh Ibnu Adi dan Baihaqi,”Carilah ilmu itu walaupun sampai ke negeri Cina”.

Di Cina pada masa itu kebudayaan telah maju pesat dari segala lapangan kehidupan sehingga layak bila ummat islam belajar dari kemajuan yang diraih bangsa Cina, kemajuan Cina dapa dicatat diantaranya; pada Dinasi Shang telah dikenal tulisan sebagai alat penting dalam mengenal ilmu pengetahuan. Pada saat itu telah ada sekolah untuk belajar membaca, menulis serta budi pekerti. Pada tahun 105 M orang Cina berhasil menemukan kertas sebagai alat menuangkan tulisan. Dan pada masa inipun Cina telah mengenal alat cetak walaupun dengan bentuk yang sangat sederhana. Kebudayaan bangsa Cina sangat tinggi seperti arsitektur, seni patung, porselin, sastra, musik, seni tari, drama, seni menghitung dengan swipa dan lain sebagainya.

3.Mendengar
            Bila tidak mampu untuk mengajar karena berbagai hal maka kewajiban lainnya adalah belajar, secara khusus untuk belajarpun tidak mungkin maka disunnahkan kita untuk mendengarkan ilmu melalui ceramah, diskusi, pengajian ataupun dialoq yang secara tidak lansung mengandung ilmu pengetahuan.
           
            Bahkan seseorang yang ingin mempunyai ilmu,  memang dianjurkan untuk lebih banyak mendengar daripada banyak berbicara. Itulah hikmahnya kenapa kita diberikan perangkat tubuh dengan dua telinga dengan satu mulut, maksudnya supaya sering mendengar dan sedikit becara.

4.Cinta ilmu.
            Karena sesuatu hal membuat orang tidak bisa mengajar, mustahil belajar dan tidak mungkin mendengarkan ilmu maka kewajiban yang terakhir adalah mencintai ilmu pengetahuan. Ujud cinta kepada ilmu itu nampak pada kemauan untuk menumbuh suburkan ilmu melalui pemberian bea siswa, penyediaan buku dan kepustakaan.

Menurut Imam Al Gazali ada empat macam manusia tentang ilmu yaitu;
1.Orang yang tahu, dia tahu bahwa dia tahu ; pintar.
2.Orang yang tahu, dia tidak tahu bahwa dia tahu; lalai.
3.Orang yang tidak tahu, dia tahu bahwa dia tidak tahu; sadar.
4.Orang yang tidak tahu, dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu; bodoh.

Rasulullah bersabda; "Barangsiapa yang mempelajari satu dari ilmu dengan maksud akan mengajarkan kepada  orang lain, maka diberikan kepadanya pahala tujuh puluh Nabi".

Ilmu terbagi dua dalam menuntutnya;
Ø  Fardlu 'ain ; wajib dituntut oleh semua muslim seperti amaliyah ibadah sehari-hari [shalat, syiam, zakat, membaca Al Qur'an dll.
Ø  Fardlu Kifayah; bila sudah ada yang mengerti ilmu ini maka sunnah dipelajari oleh  orang lain seperti; ushul fiqh, tafsir, ilmu hadits, ilmu umum dll.

-Islam tidak membedakan pahala menuntut ilmu umum dan ilmu agama, pembagian ilmu secara umum dan agama adalah pendapat orang barat.

Ilmu lebih mulia dari amal karena ;
  1. Ilmu tanpa amal tetap ada, amal tanpa ilmu tidak terlaksana.
  2. Ilmu tanpa amal tetap bermanfaat, amal tanpa ilmu tidak ada manfaatnya.
  3. Amal bersifat tetap, sedangkan ilmu bersifat aktif dan dinamis.
  4. Ilmu adalah sifat Allah sedangkan amal sifat hamba.
  5. Dengan ilmu bisa menguasai dunia dan akherat, Rasulullah bersabda           "Barangsiapa yang ingin kebahagiaan hidup di dunia maka raihlah dengan ilmu, dan siapa yang ingin bahagia di akherat maka raihlah dengan ilmu, dan siapa yang ingin bahagia di dunia dan di akherat maka raihlah dengan ilmu".

Rasulullah bersabda; "Sendi tegaknya dunia ada empat; ilmunya para ulama, keadilan pemerintah, dermawannya orang kaya dan do'anya orang fakir. Niscaya kalau bukan karena ilmunya para ulama maka rusaklah orang-orang yang bodoh, kalau tidak karena kedermawanan orang kaya niscaya lenyapnya orang fakir, kalau tidak karena keadilan pemerintah niscaya orang akan saling tindas menindas sebagai Srigala makan kambing".

Sejak dahulu hingga kini banyak ulama yang dapat membenahi kehidupan seseorang agar menjadi baik, dia memberi penerangan kepada orang lain sementara dia dalam kegelapan, ibarat lilin, terang orang di sekitarnya  tapi sang lilin terbakar, sibuk mengajak orang, diri dan keluarga terabaikan,  ”Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedang kamu melupakan kewajiban sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab  [Taurat] ? Maka tidakkah kamu berfikir ?” [Al Baqarah 2;44].

          Dunia ini akan indah, baik dan selamat bila para ulamanya mengajarkan ilmunya dan dia juga mengamalkan ilmunya itu, siap tampil sebagai teladan dengan akhlak islami.

Islam mewajibkan kepada pemeluknya untuk menuntut ilmu  tanpa membedakan ilmu agama dan ilmu umum lainnya karena semua ilmu itu berasal dari Allah yang harus dipelajari. Kewajiban ini disabdakan oleh Rasulullah,”Mencari ilmu itu wajib bagi setiap orang islam laki-laki dan perempuan”. Dalam hadits lain Rasulullah menyampaikan sabdanya yang diriwayatkan oleh Ibnu Adi dan Baihaqi,”Carilah ilmu itu walaupun sampai ke negeri Cina”.

  1.  Di Cina pada masa itu kebudayaan telah maju pesat dari segala lapangan kehidupan sehingga layak bila ummat islam belajar dari kemajuan yang diraih bangsa Cina, kemajuan Cina dapa dicatat diantaranya; pada Dinasi Shang telah dikenal tulisan sebagai alat penting dalam mengenal ilmu pengetahuan. Pada saat itu telah ada sekolah untuk belajar membaca, menulis serta budi pekerti. Pada tahun 105 M orang Cina berhasil menemukan kertas sebagai alat menuangkan tulisan. Dan pada masa inipun Cina telah mengenal alat cetak walaupun dengan bentuk yang sangat sederhana. Kebudayaan bangsa Cina sangat tinggi seperti arsitektur, seni patung, porselin, sastra, musik, seni tari, drama, seni menghitung dengan swipa dan lain sebagainya.

  1. Jarak yang harus ditempuh bagi ummat islam menuju Cina sangat jauh,hal ini mustahil dicapai dengan berjalan kaki, untuk itu perlu adanya transportasi baik darat, laut maupun udara. Pada sisi ini ummat islam diransang untuk menemukan berbagai alat transportasi.

  1. Dari pengertian  lain mengajarkan kepada ummat islam agar berkelana ke negara lain supaya punya wawasan yang luas, tidak seperti katak dalam tempurung.

  1. Untuk menuntut ilmu di rantau  orang diperlukan ketabahan dan ketahanan fisik dan mental, artinya menjaga kondisi tubuh agar tetap prima. Bila tubuh sehat, mental baik, mudah melakukan berbagai aktivitas kehidupan, disini diperlukan ilmu kesehatan.

  1. Biaya dalam menuntut ilmu tidak sedikit apalagi berada di rantau orang lain yang disebut Cina, artinya ilmu akan diperoleh bila ada biaya, untuk itu ummat islam dituntut memiliki kekayaan, kekayaan akan diraih bila mengerti soal ekonomi, maka diperlukan ilmu ekonomi sebagaimana Cina dengan menguasai ilmu ini menjadi raja dan penguasa di dunia.

  1. Bangsa Cina adalah bangsa yang menguasai bidang ekonomi sehingga pasaran Asia bahkan belahan dunia sebagian besar dikuasai oleh Cina, karena Cina maju dalam bidang ekonomi, disini mata ummat islam dibuka bahwa untuk memajukan usaha ekonomi harus mencontoh Cina, artinya demi kemajuan tidak segan-segan belajar dengan bangsa manapun.

            Berangkat dari pengertian hadits nabi tersebut dapat dikatakan bahwa Cina dijadikan sebagai kiblat dari ilmu pengetahuan karena ditinjau dari berbagai sudut sebagaimana yang telah dikemukakan. Ini adalah pengertian yang tersirat dari sabda nabi tersebut, apalagi digali lebih dalam maka segala yang tersuruk di negeri Cina dapat dijadikan sebagai bahan kajian yang mendatangkan ilmu pengetahuan; bagaimana cara hidup masyarakatnya, adat istiadat atau apa saja yang terkandung di bumi Cina tentu saja semua itu bila diadakan penelitian dapat mendatangkan manfaat karena ucapan nabi bukan sekedar ucapan tapi wahyu dari Allah Swt.

            Dengan ilmu pengetahuan peradaban manusia akan maju dan ilmu pula yang membedakan antara manusia satu dengan lainnya sebagaimana surat Mujadalah 85;11 menyatakan,”....Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat...” . Selain itu, kedatangan seorang muslim ke Cina untuk menimba ilmu memberi peluang pula baginya untuk menda’wahkan islam disana tanpa mengenal waktu, karena kewajiban yang memang harus ditunaikan, Allah menerangkan, ”Ajaklah manusia ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana, berilah mereka pelajaran yang baik dan debatlah mereka iu dengan cara yang baik pula” [An Nahl 16;125].

Rasulullah bersabda bahwa untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akherat haruslah dengan ilmu; "Barangsiapa yang menghendaki kehidupan sukses di dunia maka ia harus berilmu, siapa saja yang menghendaki kehidupan bahagia di akherat maka ia harus berilmu, dan siapa saja yang menghendaki akan kebahagiaan keduanya maka juga ia harus mendapatkannya dengan ilmu" .

            Menuntut ilmu itu wajib hukumnya sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah; "Menuntut ilmu itu adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim baik laki-laki dan perempuan". "Tuntutlah ilmu itu sejak masih dalam ayunan hingga ke liang lahat".

            Agar ilmu yang kita cari dan kita peroleh itu bermanfaat kepada diri kita dan orang lain maka ada beberapa adab cara mencari ilmu yaitu;

1.Menghormati guru
            Tugas guru bukan pada intelektualitasnya saja tetapi lebih jauh kepada kepribadiannya, baik dan pintar, otak dan hati sasarannya. Untuk menjadi pintar telah banyak usaha guru dikerahkan dalam bentuk transpormasi dan transfer ilmu pengetahuan, lugasnya pengalihan ilmu kepada murid berlansung dengan berbagai kegiatan formal sepanjang mengarah kepada otak atau keterampilan. Sudah banyak jasa guru dalam mencetak kader bangsa yang berkualitas, baik level daerah sampai tingkat internasional.

Dengan demikian berarti kehadiran guru yang berkualitas sangat diperlukan dalam mencetak kader bangsa disamping pintar juga baik. Dr. Zakiah Drajat sangat menekankan sekali agar seorang guru memiliki kepribadian. Faktor terpenting bagi seorang guru ialah kepribadiannya, kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia kembali menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya, atau akan jadi perusak atau penghancur bagi hari depan anak didik, terutama bagi anak didik yang masih kecil dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa.

            Demikian besarnya peran seorang guru dalam mendidik muridnya menjadi pemimpin dimasa yang akan datang, dikerahkan segala potensinya untuk itu, patut kiranya dihargai dan dihormati selayaknya seorang guru, sehingga wajar bila Ali bin Abi Thalib menyatakan; "Aku adalah hamba bagi seorang guru yang telah mengajarku walaupun hanya satu huruf, jika ia menghendaki menjualnya, juallah aku, jika ia menghendaki memerdekakannya merdekakanlah aku, dan jika ia menghendaki menjadikan aku seorang budak, jadikanlah aku seorang budak".

            Nabi Muhammad Saw bersabda; "Siapa saja yang mengajarkan seorang hamba sebuah ayat saja dari kitab Allah, maka ia menjadi tuannya [menguasainya]".

2.Menghormati ilmu
Manusia adalah makhluk yang diberi kemampuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan dibekali dengan alat-alat yang mendukungnya dalam meraih ilmu tersebut, ketinggian posisi nabi Adam dibandingkan malaikat karena ilmunya demikian pula halnya ayat pertama kali turun kepada ummat ini bukanlah masalah shalat dan ibadah tapi yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yaitu “Iqra” dengan pengertian bacalah, kajilah dan telitilah sehingga menemukan hikmah.
            Adapun alat yang dibekali Allah kepada manusia untuk mencapai ilmu pengetahuan tersebut adalah berupa pendengaran, penglihatan, akal fikiran dan hati [16;78], lisan dan kalam.    

Manusia di dunia ini perlu perkembangan dan dinamika hidup sesuai dengan perkembangan masanya, semua itu membutuhkan ilmu pengetahuan. Allah menjamin ilmu pengetahuan yang dibutuhkan akal serta membekali manusia alat dan sarana untuk mendapatkannya,dijelaskan dalam firman Allah surat An Nahl 16;78 ” Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
            Ilmu itu harus dihormati dengan cara memelihara ilmu yang telah dimiliki, terus berlatih sehingga ilmu itu tidak hilang, belajar dan mengembangkan ilmu itu dan selalu menambah ilmu itu melalui pendidikan yang berkelanjutan, disamping mengajar juga selalu belajar sebagaimana yang digambarkan Allah tentang generasi Rabbani; "Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (Dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya"[Ali Imran 3;79]

3.Menghormati dan menjaga buku
            Salah satu penunjang menuntut ilmu adalah buku yang merupakan rangkuman pelajaran, banyak ilmu terdapat didalamnya sebagai bekal untuk mentransfer ilmu kepada murid. Selain buku yang digunakan oleh guru dan murid dalam kegiatan belajar mengajar maka seorang muridpun dituntut untuk memiliki buku untuk menyimpan pelajaran yang sudah disampaikan guru kepadanya.

            Cara menjaga dan menghormati buku itu adalah menatanya dengan baik sehingga dikala dibutuhkan mudah mencarinya, membawanya dengan sikap baik tidak sebagaimana membawa barang lain yang terkesan dilecehkan, begitu juga halnya agar ilmu itu tersimpan rapi dalam buku yang ditulis oleh murid dari transfer ilmu sang guru maka harus ditulis dengan tulisan yang jelas sehingga mudah dan enak dibaca.
            Al Qur'an adalah Kitab yang mengandung banyak ilmu di dalamnya, merupakan wahyu Allah yang harus dijaga oleh ummatnya dengan jalan membacanya, mempelajarinya dan mengamalkannya, walaupun sebenarnya Allah sendiri menjaga Kitab ini; “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya “ [Al Hijr 15;9]

4.Memilih  teman
            Agar ilmu yang diperoleh bermanfaat dalam kehidupan kita maka seharusnya memilih teman yang baik akhlaknya, ibadahnya, aqidahnya karena teman yang baik itu dapat memotivasi kita untuk berbuat lebih baik, seorang penyair berucap; "Seorang tidak akan ditanya prihal dirinya, tetapi cukup dilihat dari siapa temannya, sebab seorang teman itu akan mengikuti prilaku temannya, baik atau buruk".

Rasulullah bersabda’ ”Perumpamaan teman bergaul yang baik dan teman yang jahat ialah bagaikan pedagang minyak wangi dan tukang besi,bila berteman dengan pedagang minyak wangi akan memperoleh salah satu dari dua kemungkinan, membeli minyak wangi atau kena percikan harumnya minyak wangi tersebut, dan berteman dengan tukang besi akan memperoleh dua kemungkinan, badan akan terpercik api atau memperoleh bau yang tidak sedap”

            Untuk menuntut ilmu agar dapat diserap oleh fikiran dan perasaan seorang pelajar atau murid  ada beberapa syarat yang harus dipenuhi yaitu;

  1. Dzuka yaitu kecerdasan dalam menuntut ilmu, penuh konsentrasi dan serius dalam belajar, bila belajar sekedarnya maka hasilnyapun sedekarnya saja.
  2. Khirsun yaitu sikap merasa haus dengan ilmu sehingga selalu mencari ilmu itu hingga keujung dunia, bila murid merasa harus dengan ilmu akan memotivasinya selalu belajar.
  3. Ishtibar yaitu tahan uji, siap menerima tantangan dalam bejalar karena untuk meraih sesuatu yang berharga itu tidaklah mudah tapi membutuhkan daya upaya dan ketahanan.
  4. Bulghah yaitu merasa berkecukupan dan tidak rakus dengan materi, karena memang untuk mencari ilmu tidak boleh motivasinya untuk mendapatkan materi, bila pelajar telah mengenal materi maka dia akan lesu belajar.
  5. Irsyad Ustadz   yaitu selalu mengikuti petunjuk dan nasehat guru, jauhkan sikap sombong dan membangkang dikala menuntut ilmu.
  6. Tuluzzaman yaitu menyadari bahwa dalam menuntut ilmu itu perlu waktu yang cukup lama dan panjang, sehingga kesabaran, ketabahan dan ketelitian akan mengantarkan kesuksesan seseorang dalam menuntut ilmu.

Demikian pengajaran yang dapat dipetik bagi penuntut ilmu yang ingin sukses dan ilmu yang diperoleh juga bermanfaat bagi kehidupan di dunia atau akherat atau kedua-keduanya yaitu bahagia di dunia dan bahagia di akherat, wallahu a'lam [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M]









Tidak ada komentar:

Posting Komentar