Allah memberikan bekal hidup manusia di dunia diantaranya; jasmani yang
menopang kehidupan hingga dapat menimbulkan tenaga untuk beramal dalam seluruh
asfek kehidupan, rohani yaitu unsur
manusia yang sebenarnya yang akan mempertanggungjawabkan segala amal yang
dilakukan oleh manusia, keberadaannya di sisi Allah yang ditiupkan ketika
jasmani sudah berujud fisik manusia di alam kandungan, dan akal yaitu modal yang diberikan untuk memmbedakan
manusia dengan makhluk lainnya sehingga bisa memilah dan memilih mana yang baik
dan mana yang buruk, mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang.
Akal sebagai modal manusia untuk merambah kehidupan di dunia ini, agar dia
bermutu maka sangat penting
mengasahnya dengan latihan, training
dan ilmu pengetahuan. Pentingnya ilmu dalam islam terletak dari awal wahyu yang
diturunkan Allah yaitu surat Al "Alaq yang mengajak manusia untuk membaca,
mengkaji dan meneliti.
1. Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia Telah
menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah,
dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang
mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],
5. Dia
mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.[Al[
Rasulullah bersabda: "Jadilah orang yang mengajar, atau orang yang
belajar, atau orang yang mendengar, atau orang yang cinta kepada ilmu,
janganlah jadi orang yang kelima, maka celaka kamu".
Dari hadits diatas tergambar tentang
kewajiban muslim terhadap ilmu yaitu;
1.Mengajar
Orang
yang mengajarkan ilmu disebut dengan guru, ustadz, murabbi atau pendidik ialah orang yang memikul tanggungjawab untuk
mendidik. Pada umumnya jika kita
mendengar istilah pendidik akan terbayang di depan kita seorang manusia dewasa.
Dan sesungguhnya yang kita maksud dengan pendidik adalah hanya manusia dewasa
yang akan melaksanakan kewajibannya tentang pendidikan siterdidik.
Kalau ditinjau dari segi
pertanggungjawaban, maka orang dewasa yang mendidik memikul pertanggungjawaban
terhadap anak didiknya, sedangkan sipenolong kecil itu belumlah demikian.
Jelaslah kiranya bahwa si penolong kecil itu belum dapat disebut pendidik dalam
arti sesungguhnya, jadi pendidik itu adalah orang dewasa.
Salah
satu syarat guru profesional ialah
sebagaimana yang diungkapkan oleh tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara; Ing ngarso sung tulodo, ing madyo
mangunkarso, tutwuri handayani, berarti keberadaannya pada semua sisi
sangat diperlukan dalam rangka membawa manusia junior dengan bekal ilmu
pengetahuan serta kepribadian yang luhur, sehingga akan tercetak manusia pintar
lagi baik.
2.Belajar
Islam mewajibkan kepada pemeluknya untuk
menuntut ilmu tanpa membedakan ilmu
agama dan ilmu umum lainnya karena semua ilmu itu berasal dari Allah yang harus
dipelajari. Kewajiban ini disabdakan oleh Rasulullah,”Mencari ilmu itu wajib bagi setiap orang islam laki-laki dan
perempuan”. Dalam hadits lain Rasulullah menyampaikan sabdanya yang
diriwayatkan oleh Ibnu Adi dan Baihaqi,”Carilah ilmu itu walaupun sampai ke
negeri Cina”.
Di Cina pada masa itu kebudayaan telah
maju pesat dari segala lapangan kehidupan sehingga layak bila ummat islam
belajar dari kemajuan yang diraih bangsa Cina, kemajuan Cina dapa dicatat
diantaranya; pada Dinasi Shang telah dikenal tulisan sebagai alat penting dalam
mengenal ilmu pengetahuan. Pada saat itu telah ada sekolah untuk belajar
membaca, menulis serta budi pekerti. Pada tahun 105 M orang Cina berhasil
menemukan kertas sebagai alat menuangkan tulisan. Dan pada masa inipun Cina
telah mengenal alat cetak walaupun dengan bentuk yang sangat sederhana.
Kebudayaan bangsa Cina sangat tinggi seperti arsitektur, seni patung, porselin,
sastra, musik, seni tari, drama, seni menghitung dengan swipa dan lain
sebagainya.
3.Mendengar
Bila tidak
mampu untuk mengajar karena berbagai hal maka kewajiban lainnya adalah belajar,
secara khusus untuk belajarpun tidak mungkin maka disunnahkan kita untuk
mendengarkan ilmu melalui ceramah, diskusi, pengajian ataupun dialoq yang
secara tidak lansung mengandung ilmu pengetahuan.
Bahkan
seseorang yang ingin mempunyai ilmu,
memang dianjurkan untuk lebih banyak mendengar daripada banyak
berbicara. Itulah hikmahnya kenapa kita diberikan perangkat tubuh dengan dua
telinga dengan satu mulut, maksudnya supaya sering mendengar dan sedikit
becara.
4.Cinta ilmu.
Karena
sesuatu hal membuat orang tidak bisa mengajar, mustahil belajar dan tidak
mungkin mendengarkan ilmu maka kewajiban yang terakhir adalah mencintai ilmu
pengetahuan. Ujud cinta kepada ilmu itu nampak pada kemauan untuk menumbuh
suburkan ilmu melalui pemberian bea siswa, penyediaan buku dan kepustakaan.
Menurut Imam Al Gazali ada empat macam
manusia tentang ilmu yaitu;
1.Orang yang tahu, dia tahu bahwa dia tahu ; pintar.
2.Orang yang tahu, dia tidak tahu bahwa dia tahu; lalai.
3.Orang yang tidak tahu, dia tahu bahwa dia tidak tahu; sadar.
4.Orang yang tidak tahu, dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu;
bodoh.
Rasulullah bersabda; "Barangsiapa yang mempelajari
satu dari ilmu dengan maksud akan mengajarkan kepada orang lain, maka diberikan kepadanya pahala
tujuh puluh Nabi".
Ilmu terbagi dua dalam menuntutnya;
Ø Fardlu
'ain ; wajib dituntut oleh semua muslim seperti amaliyah ibadah sehari-hari
[shalat, syiam, zakat, membaca Al Qur'an dll.
Ø Fardlu
Kifayah; bila sudah ada yang mengerti ilmu ini maka sunnah dipelajari oleh orang lain seperti; ushul fiqh, tafsir, ilmu
hadits, ilmu umum dll.
-Islam tidak membedakan pahala menuntut ilmu umum dan ilmu
agama, pembagian ilmu secara umum dan agama adalah pendapat orang barat.
Ilmu lebih mulia dari amal karena ;
- Ilmu tanpa amal tetap ada, amal tanpa ilmu tidak terlaksana.
- Ilmu tanpa amal tetap bermanfaat, amal tanpa ilmu tidak ada manfaatnya.
- Amal bersifat tetap, sedangkan ilmu bersifat aktif dan dinamis.
- Ilmu adalah sifat Allah sedangkan amal sifat hamba.
- Dengan ilmu bisa menguasai dunia dan akherat, Rasulullah bersabda "Barangsiapa yang ingin kebahagiaan hidup di dunia maka raihlah dengan ilmu, dan siapa yang ingin bahagia di akherat maka raihlah dengan ilmu, dan siapa yang ingin bahagia di dunia dan di akherat maka raihlah dengan ilmu".
Rasulullah bersabda; "Sendi
tegaknya dunia ada empat; ilmunya para ulama, keadilan pemerintah, dermawannya
orang kaya dan do'anya orang fakir. Niscaya kalau bukan karena ilmunya para
ulama maka rusaklah orang-orang yang bodoh, kalau tidak karena kedermawanan
orang kaya niscaya lenyapnya orang fakir, kalau tidak karena keadilan
pemerintah niscaya orang akan saling tindas menindas sebagai Srigala makan
kambing".
Sejak dahulu hingga kini banyak ulama yang
dapat membenahi kehidupan seseorang agar menjadi baik, dia memberi penerangan
kepada orang lain sementara dia dalam kegelapan, ibarat lilin, terang orang di
sekitarnya tapi sang lilin terbakar,
sibuk mengajak orang, diri dan keluarga terabaikan, ”Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan
kebaikan, sedang kamu melupakan kewajiban sendiri, padahal kamu membaca Al
Kitab [Taurat] ? Maka tidakkah kamu
berfikir ?” [Al Baqarah 2;44].
Dunia ini akan indah, baik dan selamat
bila para ulamanya mengajarkan ilmunya dan dia juga mengamalkan ilmunya itu,
siap tampil sebagai teladan dengan akhlak islami.
Islam mewajibkan kepada pemeluknya untuk
menuntut ilmu tanpa membedakan ilmu
agama dan ilmu umum lainnya karena semua ilmu itu berasal dari Allah yang harus
dipelajari. Kewajiban ini disabdakan oleh Rasulullah,”Mencari ilmu itu wajib bagi setiap orang islam laki-laki dan
perempuan”. Dalam hadits lain Rasulullah menyampaikan sabdanya yang
diriwayatkan oleh Ibnu Adi dan Baihaqi,”Carilah ilmu itu walaupun sampai ke
negeri Cina”.
- Di Cina pada masa itu kebudayaan telah maju pesat dari segala lapangan kehidupan sehingga layak bila ummat islam belajar dari kemajuan yang diraih bangsa Cina, kemajuan Cina dapa dicatat diantaranya; pada Dinasi Shang telah dikenal tulisan sebagai alat penting dalam mengenal ilmu pengetahuan. Pada saat itu telah ada sekolah untuk belajar membaca, menulis serta budi pekerti. Pada tahun 105 M orang Cina berhasil menemukan kertas sebagai alat menuangkan tulisan. Dan pada masa inipun Cina telah mengenal alat cetak walaupun dengan bentuk yang sangat sederhana. Kebudayaan bangsa Cina sangat tinggi seperti arsitektur, seni patung, porselin, sastra, musik, seni tari, drama, seni menghitung dengan swipa dan lain sebagainya.
- Jarak yang harus ditempuh bagi ummat islam menuju Cina sangat jauh,hal ini mustahil dicapai dengan berjalan kaki, untuk itu perlu adanya transportasi baik darat, laut maupun udara. Pada sisi ini ummat islam diransang untuk menemukan berbagai alat transportasi.
- Dari pengertian lain mengajarkan kepada ummat islam agar berkelana ke negara lain supaya punya wawasan yang luas, tidak seperti katak dalam tempurung.
- Untuk menuntut ilmu di rantau orang diperlukan ketabahan dan ketahanan fisik dan mental, artinya menjaga kondisi tubuh agar tetap prima. Bila tubuh sehat, mental baik, mudah melakukan berbagai aktivitas kehidupan, disini diperlukan ilmu kesehatan.
- Biaya dalam menuntut ilmu tidak sedikit apalagi berada di rantau orang lain yang disebut Cina, artinya ilmu akan diperoleh bila ada biaya, untuk itu ummat islam dituntut memiliki kekayaan, kekayaan akan diraih bila mengerti soal ekonomi, maka diperlukan ilmu ekonomi sebagaimana Cina dengan menguasai ilmu ini menjadi raja dan penguasa di dunia.
- Bangsa Cina adalah bangsa yang menguasai bidang ekonomi sehingga pasaran Asia bahkan belahan dunia sebagian besar dikuasai oleh Cina, karena Cina maju dalam bidang ekonomi, disini mata ummat islam dibuka bahwa untuk memajukan usaha ekonomi harus mencontoh Cina, artinya demi kemajuan tidak segan-segan belajar dengan bangsa manapun.
Berangkat
dari pengertian hadits nabi tersebut dapat dikatakan bahwa Cina dijadikan
sebagai kiblat dari ilmu pengetahuan karena ditinjau dari berbagai sudut
sebagaimana yang telah dikemukakan. Ini adalah pengertian yang tersirat dari
sabda nabi tersebut, apalagi digali lebih dalam maka segala yang tersuruk di
negeri Cina dapat dijadikan sebagai bahan kajian yang mendatangkan ilmu
pengetahuan; bagaimana cara hidup masyarakatnya, adat istiadat atau apa saja
yang terkandung di bumi Cina tentu saja semua itu bila diadakan penelitian
dapat mendatangkan manfaat karena ucapan nabi bukan sekedar ucapan tapi wahyu
dari Allah Swt.
Dengan
ilmu pengetahuan peradaban manusia akan maju dan ilmu pula yang membedakan
antara manusia satu dengan lainnya sebagaimana surat Mujadalah 85;11 menyatakan,”....Allah akan meninggikan orang-orang
yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan
beberapa derajat...” . Selain itu, kedatangan seorang muslim ke Cina untuk
menimba ilmu memberi peluang pula baginya untuk menda’wahkan islam disana tanpa
mengenal waktu, karena kewajiban yang memang harus ditunaikan, Allah
menerangkan, ”Ajaklah manusia ke jalan
Tuhanmu dengan bijaksana, berilah mereka pelajaran yang baik dan debatlah
mereka iu dengan cara yang baik pula” [An Nahl 16;125].
Rasulullah
bersabda bahwa untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akherat haruslah dengan
ilmu; "Barangsiapa yang menghendaki kehidupan
sukses di dunia maka ia harus berilmu, siapa saja yang menghendaki kehidupan
bahagia di akherat maka ia harus berilmu, dan siapa saja yang menghendaki akan
kebahagiaan keduanya maka juga ia harus mendapatkannya dengan ilmu" .
Menuntut ilmu itu wajib hukumnya sebagaimana yang
disampaikan oleh Rasulullah; "Menuntut ilmu itu adalah suatu kewajiban
bagi setiap muslim baik laki-laki dan perempuan". "Tuntutlah
ilmu itu sejak masih dalam ayunan hingga ke liang lahat".
Agar ilmu yang kita cari dan kita peroleh itu bermanfaat
kepada diri kita dan orang lain maka ada beberapa adab cara mencari ilmu yaitu;
1.Menghormati guru
Tugas
guru bukan pada intelektualitasnya saja tetapi lebih jauh kepada
kepribadiannya, baik dan pintar, otak dan hati sasarannya. Untuk menjadi pintar
telah banyak usaha guru dikerahkan dalam bentuk transpormasi dan transfer ilmu
pengetahuan, lugasnya pengalihan ilmu kepada murid berlansung dengan berbagai
kegiatan formal sepanjang mengarah kepada otak atau keterampilan. Sudah banyak
jasa guru dalam mencetak kader bangsa yang berkualitas, baik level daerah
sampai tingkat internasional.
Dengan demikian berarti kehadiran guru
yang berkualitas sangat diperlukan dalam mencetak kader bangsa disamping pintar
juga baik. Dr. Zakiah Drajat sangat menekankan sekali agar seorang guru
memiliki kepribadian. Faktor terpenting bagi seorang guru ialah kepribadiannya,
kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia kembali menjadi pendidik dan
pembina yang baik bagi anak didiknya, atau akan jadi perusak atau penghancur
bagi hari depan anak didik, terutama bagi anak didik yang masih kecil dan mereka
yang sedang mengalami kegoncangan jiwa.
Demikian
besarnya peran seorang guru dalam mendidik muridnya menjadi pemimpin dimasa
yang akan datang, dikerahkan segala potensinya untuk itu, patut kiranya
dihargai dan dihormati selayaknya seorang guru, sehingga wajar bila Ali bin Abi
Thalib menyatakan; "Aku adalah hamba bagi seorang guru yang telah
mengajarku walaupun hanya satu huruf, jika ia menghendaki menjualnya, juallah
aku, jika ia menghendaki memerdekakannya merdekakanlah aku, dan jika ia
menghendaki menjadikan aku seorang budak, jadikanlah aku seorang budak".
Nabi
Muhammad Saw bersabda; "Siapa saja yang mengajarkan seorang hamba
sebuah ayat saja dari kitab Allah, maka ia menjadi tuannya
[menguasainya]".
2.Menghormati ilmu
Manusia adalah
makhluk yang diberi kemampuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan dibekali
dengan alat-alat yang mendukungnya dalam meraih ilmu tersebut, ketinggian
posisi nabi Adam dibandingkan malaikat karena ilmunya demikian pula halnya ayat
pertama kali turun kepada ummat ini bukanlah masalah shalat dan ibadah tapi
yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yaitu “Iqra” dengan pengertian bacalah,
kajilah dan telitilah sehingga menemukan hikmah.
Adapun alat yang dibekali Allah kepada manusia untuk
mencapai ilmu pengetahuan tersebut adalah berupa pendengaran, penglihatan, akal
fikiran dan hati [16;78], lisan dan kalam.
Manusia di dunia ini perlu perkembangan
dan dinamika hidup sesuai dengan perkembangan masanya, semua itu membutuhkan
ilmu pengetahuan. Allah menjamin ilmu pengetahuan yang dibutuhkan akal serta
membekali manusia alat dan sarana untuk mendapatkannya,dijelaskan dalam firman
Allah surat An Nahl 16;78 ” Dan Allah
mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun,
dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
Ilmu itu harus dihormati dengan cara memelihara
ilmu yang telah dimiliki, terus berlatih sehingga ilmu itu tidak hilang,
belajar dan mengembangkan ilmu itu dan selalu menambah ilmu itu melalui
pendidikan yang berkelanjutan, disamping mengajar juga selalu belajar
sebagaimana yang digambarkan Allah tentang generasi Rabbani; "Tidak
wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan
kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi
penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (Dia berkata):
"Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu
mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya"[Ali
Imran 3;79]
3.Menghormati dan
menjaga buku
Salah satu penunjang menuntut ilmu adalah buku yang
merupakan rangkuman pelajaran, banyak ilmu terdapat didalamnya sebagai bekal
untuk mentransfer ilmu kepada murid. Selain buku yang digunakan oleh guru dan
murid dalam kegiatan belajar mengajar maka seorang muridpun dituntut untuk
memiliki buku untuk menyimpan pelajaran yang sudah disampaikan guru kepadanya.
Cara menjaga dan menghormati buku itu adalah menatanya
dengan baik sehingga dikala dibutuhkan mudah mencarinya, membawanya dengan
sikap baik tidak sebagaimana membawa barang lain yang terkesan dilecehkan,
begitu juga halnya agar ilmu itu tersimpan rapi dalam buku yang ditulis oleh
murid dari transfer ilmu sang guru maka harus ditulis dengan tulisan yang jelas
sehingga mudah dan enak dibaca.
Al Qur'an adalah Kitab yang mengandung banyak ilmu di
dalamnya, merupakan wahyu Allah yang harus dijaga oleh ummatnya dengan jalan
membacanya, mempelajarinya dan mengamalkannya, walaupun sebenarnya Allah
sendiri menjaga Kitab ini; “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al
Qur’an, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya “ [Al Hijr 15;9]
4.Memilih teman
Agar ilmu yang diperoleh bermanfaat dalam kehidupan kita
maka seharusnya memilih teman yang baik akhlaknya, ibadahnya, aqidahnya karena
teman yang baik itu dapat memotivasi kita untuk berbuat lebih baik, seorang
penyair berucap; "Seorang tidak akan ditanya prihal dirinya,
tetapi cukup dilihat dari siapa temannya, sebab seorang teman itu akan
mengikuti prilaku temannya, baik atau buruk".
Rasulullah bersabda’ ”Perumpamaan teman bergaul yang baik dan teman yang jahat ialah
bagaikan pedagang minyak wangi dan tukang besi,bila berteman dengan pedagang
minyak wangi akan memperoleh salah satu dari dua kemungkinan, membeli minyak
wangi atau kena percikan harumnya minyak wangi tersebut, dan berteman dengan
tukang besi akan memperoleh dua kemungkinan, badan akan terpercik api atau
memperoleh bau yang tidak sedap”
Untuk menuntut ilmu agar dapat diserap oleh fikiran dan
perasaan seorang pelajar atau murid ada
beberapa syarat yang harus dipenuhi yaitu;
- Dzuka yaitu kecerdasan dalam menuntut ilmu, penuh konsentrasi dan serius dalam belajar, bila belajar sekedarnya maka hasilnyapun sedekarnya saja.
- Khirsun yaitu sikap merasa haus dengan ilmu sehingga selalu mencari ilmu itu hingga keujung dunia, bila murid merasa harus dengan ilmu akan memotivasinya selalu belajar.
- Ishtibar yaitu tahan uji, siap menerima tantangan dalam bejalar karena untuk meraih sesuatu yang berharga itu tidaklah mudah tapi membutuhkan daya upaya dan ketahanan.
- Bulghah yaitu merasa berkecukupan dan tidak rakus dengan materi, karena memang untuk mencari ilmu tidak boleh motivasinya untuk mendapatkan materi, bila pelajar telah mengenal materi maka dia akan lesu belajar.
- Irsyad Ustadz yaitu selalu mengikuti petunjuk dan nasehat guru, jauhkan sikap sombong dan membangkang dikala menuntut ilmu.
- Tuluzzaman yaitu menyadari bahwa dalam menuntut ilmu itu perlu waktu yang cukup lama dan panjang, sehingga kesabaran, ketabahan dan ketelitian akan mengantarkan kesuksesan seseorang dalam menuntut ilmu.
Demikian pengajaran yang dapat dipetik bagi penuntut ilmu yang ingin
sukses dan ilmu yang diperoleh juga bermanfaat bagi kehidupan di dunia atau
akherat atau kedua-keduanya yaitu bahagia di dunia dan bahagia di akherat,
wallahu a'lam [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar