Orang yang berkuasa
disebut dengan penguasa, dia bisa berkuasa karena punya kekuasaan, kekuasaan
sangat mahal harganya tapi sangat strategis untuk memperluas pengaruh dan
wewenang, karena pentingnya kekuasaan banyak dari pengusaha yang mengorbankan
usahanya asal kekuasaan dapat diraih, ucapan seloroh menyatakan “Biar tekor
asal kesohor”.
Penguasa dengan level apapun dia mampu memperkuat
kekuasaannya caranya melalui jalan memberikan jabatan kepada orang lain, sehingga
dengan jabatan itupun orang lain tadi punya kekuasaan yang dapat menguasai
orang-orang yang dibawah kekuasaannya. Kekuasaan itu sangat dekat dengan
kehidupan manusia bahkan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Ada
yang mengartikan jabatan dan kekuasaan itu sebagai prestise untuk meraih
prestasi, tapi orang yang sadar dengan kehidupan dia akan menjadikan kekuasaan
sabagai amanah dan titipan sehingga berhari-hati meraih dan menjalankan
kekuasaannya.
Bagi seorang mukminpun dituntut bahwa
jabatan bukanlah segala-galanya dalam perjuangan ini, dia merupakan amanah,
bila dia dipercaya maka akan dijalankan sesuai dengan kemampuan yang ada, dan
inipun hak Allah untuk memberikan kepada hamba-Nya [3;26]. Allah berhak
membeikan kekuasaan kepada siapapun, baik kafir ataupun mukmin, tapi semua itu
akan dipertanggungjawabkan di hadapanNya, kemuliaan dan kekuasaan semuanya
berada di tangan Allah;
“ Dan kepunyaan Allah-lah apa yang
di langit dan yang di bumi, dan sungguh kami Telah memerintahkan kepada
orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah
kepada Allah. tetapi jika kamu kafir Maka (ketahuilah), Sesungguhnya apa yang
di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan
Maha Terpuji.”[An Nisa’ 4;131]
Saat
Allah menciptakan Nabi Adam telah diberi kekuasaan yang kita kenal dengan
“khalifah” aadalah Adam, adapun kata pengganti tersebut dimaksudkan dengan dua
arti lagi yakni; pengganti Allah atau wakil-Nya di muka bumi atau sebagai pengganti
dari jenis makhluk yang telah datang terlebih dahulu dari Adam. Kalaupun
artinya adalah pengganti jenis manusia sebelumnya, maka dalam ayat-ayat yang
lain dijelaskan bahwa “khalifah” berarti pengganti Allah di bumi, untuk
mengolah bumi dan mengatur pelaksanaan hukum Allah [38;26, 6;165].
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan
Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang
dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan
anak-anakmu itu hanyalah sebagai fitnah (cobaan) dan sesungguhnya di sisi
Allah-lah pahala yang besar” (QS. Al-Anfal: 27-28)
Kedua ayat ini, zahirnya,
berisi larangan kepada orang-orang yang beriman agar tidak mengkhianati
amanat-amanat yang dipercayakan kepadanya, dan sejatinya harta dan anak-anak
kita adalah bagian dari amanat tersebut yag tak boleh kita sia-siakan, jika
kita benar-benar berharap pahala yang besar di sisi Allah swt. Yang sungguh
menarik, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah – rahimahuLlah – berargumen dengan ayat
ini atas kewajiban setiap orang yang memiliki kewenangan memilih pejabat, baik
pejabat eksekutif, legislatif maupun yudikatif, bahkan pejabat militer dan
lainnya, agar tidak gegabah dalam menentukan pilihannya. Orang yang memiliki
kewenangan untuk memilih pejabat, hendaknya ia memilih orang yang terbaik dan
paling tepat untuk jabatan yang akan diembannya, dari sekian banyak kandidat
yang ada. Barangsiapa yang memberikan jabatan kepada seseorang semata-mata
didasari atas relasi kekerabatan, nasab, teman, suku, ras, aliran atau karena
disuap dengan harta atau keuntungan lainnya, atau karena ketidaksukaannya
kepada orang yang semestinya berhak menerima jabatan tersebut, maka ia telah
mengkhianati amanat Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman (as-Siyaasah
asy-Syar’iyah: 14).
Ibnu Taimiyah melanjutkan,
biasanya, seseorang karena motivasi kecintaan kepada anaknya, maka ia
memilihnya atau memberinya sesuatu yang bukan haknya. Ada juga orang, yang
karena ingin menambah kekayaan atau demi mengamankan usahanya ia berkolusi
untuk jabatan-jabatan tertentu. Orang yang berlaku demikian, kata ulama yang
lebih dikenal dengan syaikhul Islam ini, telah mengkhianati Allah dan
Rasul-Nya, juga mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadanya (ibid. hal:
15).
Menurut jumhur (mayoritas)
ulama dari berbagai mazhab Islam, bahwa memilih pemimpin atau mengangkat
pejabat untuk suatu jabatan tertentu demi kemaslahatan kaum muslimin, hukumnya
adalah wajib (al Imamah, al Aamidy: 70-71). Karena keberadaan seorang pemimpin,
dalam pandangan Islam, berfungsi untuk menegakkan agama Allah serta untuk
menyiasati dan mengatur urusan duniawi masyarakat dengan mengacu kepada agama
(Muqadimah Ibnu Khaldun: 211).
Lebih tegas lagi, Imam Ibnu
Taimiyah menyatakan, bahwa fungsi jabatan apapun di dalam Islam bertujuan untuk
amar ma’ruf nahi munkar. Hal ini berlaku untuk jabatan tertinggi dan jabatan
tinggi negara, seperti presiden, panglima perang, kepala kepolisian, direktur
bank dan lain sebagainya., sampai jabatan terendah seperti pimpinan rombongan
dalam sebuah perjalanan. (al Hisbah: 8-14).
Jabatan
merupakan amanah yang harus ditunaikan sebaik-baiknya karena ia akan
dipertanggungjawabkan di dunia kepada rakyat, dan kepada Allah kelak di
akhirat. Rasulullah saw. pernah mengingatkan Abu Dzar ra. yang sempat meminta
jabatan. Beliau katakan, “Sesungguhnya jabatan ini adalah amanah dan
sesungguhnya di akhirat akan menyebabkan kekecewaan dan penyesalan, kecuali
bagi yang berhak menerimanya dan mampu menunaikan tugas sebagaimana mestinya”
(HR. Muslim, no:1826).[Tim dakwatuna.com,Khutbah Jum'at; Rambu Memilih Pejabat ,17/6/2009 | 23 Jumadil Akhir 1430 H].
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang penguasa diserahi
urusan kaum Muslim, kemudian ia mati, sedangkan ia menelantarkan urusan
tersebut, kecuali Allah mengharamkan surga untuknya.” (HR al-Bukhari dan
Muslim).
Terkait dengan hadits ini, Imam Fudhail bin Iyadh
menuturkan, “Hadits ini merupakan ancaman bagi siapa saja yang diserahi Allah
SWT untuk mengurus urusan kaum Muslim, baik urusan agama maupun dunia,
kemudian ia berkhianat. Jika seseorang berkhianat terhadap suatu urusan yang
telah diserahkan kepadanya maka ia telah terjatuh pada dosa besar dan akan
dijauhkan dari surga. Penelantaran itu bisa berbentuk tidak menjelaskan
urusan-urusan agama kepada umat, tidak menjaga syariah Allah dari unsur-unsur
yang bisa merusak kesuciannya, mengubah-ubah makna ayat-ayat Allah dan
mengabaikan hudûd (hukum-hukum Allah).Penelantaran itu juga bisa berwujud
pengabaian terhadap hak-hak umat, tidak menjaga keamanan mereka, tidak berjihad
untuk mengusir musuh-musuh mereka dan tidak menegakkan keadilan di
tengah-tengah mereka. Setiap orang yang melakukan hal ini dipandang telah
berkhianat kepada umat.”(Imam an-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim).
Kekuasaan adalah amanah.Amanah adalah taklif hukum dari
Allah SWT. Imam Ibnu Katsir menjelaskan, “Pada dasarnya, amanah adalah taklif
(syariah Islam) yang harus dijalankan dengan sepenuh hati, dengan cara
melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Jika ia melaksanakan
taklif tersebut maka ia akan mendapatkan pahala di sisi Allah.
Sebaliknya, jika ia melanggar taklif tersebut maka ia akan memperoleh
siksa.” (Ibnu Katsir, Tafsîr Ibnu Katsîr, III/522).
Sikap amanah seorang penguasa terlihat dari tatacaranya
dalam mengurusi masyarakat berdasarkan aturan-aturan Allah.Ia juga berusaha
dengan keras untuk menghiasi dirinya dengan budi pekerti yang luhur dan
sifat-sifat kepemimpinan. Penguasa amanah tidak akan membiarkan berlakunya
sistem kufur seperti demokrasi yang bertentangan dengan Islam. Ia pun tidak
mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada Islam dan kaum
Muslim.
Sejak diutusnya Rasulullah SAW, tidak ada sistem
kemasyarakatan yang mampu melahirkan para penguasa yang amanah, agung dan
luhur, kecuali dalam masyarakat Islam.Kita mengenal Khulafaur Rasyidin yang
terkenal dalam kearifan, keberanian dan ketegasannya dalam membela Islam dan
kaum Muslim.Mereka adalah negarawan-negarawan ulung yang sangat dicintai oleh
rakyatnya dan ditakuti oleh lawan-lawannya.Mereka juga termasyhur sebagai
pemimpin yang memiliki budi pekerti yang agung dan luhur.
Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sosok penguasa yang
terkenal sabar dan lembut. Namun, beliau juga terkenal sebagai pemimpin
yang berani dan tegas. Tatkala sebagian kaum Muslim menolak kewajiban
zakat, beliau segera memerintahkan kaum Muslim untuk memerangi mereka. Meskipun
pendapatnya sempat disanggah oleh Umar bin al-Khaththab, beliau tetap bergeming
dengan pendapatnya. Stabilitas dan kewibawaan Negara Islam harus dipertahankan
meskipun harus mengambil risiko perang.[Mendambakan Penguasa Amanah,Media
Ummat; Sunday, 22 November 2009].
Namun sayang sekali para penguasa hanya mementingkan diri
sendiri, keluarga dan kroninya saja sehingga mengorbankan rakyat dengan menggadaikan
amanah yang sudah diberikan rakyat kepadanya, kekuasaan yang disandangnya
diperkuat dengan kekuasaan politik yang menghalalkan segala cara asal tujuan
dapat diraih.
Rakyat kecil tak lelahnya menimang mimpi: kapan bisa memiliki
penguasa yang betul-betul abdi dan pelayan rakyat? Tentu impian ini benar 1000
persen. Betapa teori basi demokrasi selalu dicekokkan sejak di bangku
sekolah bahwa rakyatlah yang berdaulat dan berkuasa atas dirinya. Konsep
demokrasi mengidealkan para politikus, lembaga tinggi ne-gara, penguasa dan
seluruh struktur di bawahnya adalah instrumen pokok untuk menerjemahkan
ke-daulatan rakyat. Namun apa kenya-tannya? Demokrasi menunjukkan ilusi dan
kebobrokannya.Hari ini yang tumbuh tidak lebih dari “demo-krasi omong kosong”. Rakyat
di kubangan masalah sebagai korban, sementara para penguasa dan politi-kusnya
di meja kekuasaan mentran-saksikan kepentingan-kepentingan pribadi dan cari
untung atas nama rakyat.
Kini, kalau ada rakyat kecil yang bertanya, atas mandat siapa
koalisi bersama dilakukan?Kepen-tingan siapa, rakyatkah?Tentu sulit menemukan
hubungannya dengan nalar demokrasi sekalipun.Rasanya rakyat sudah makin
dewasa.Saking dewasanya kadang responnya keta-wa terbahak-bahak karena melihat
para politikus dan penguasanya terlalu menggelikan dalam menge-lola berbagai
masalah politik ke-bangsaan.Padahal kalau jujur, sebenarnya ketawanya untuk
menu-tupi keprihatinan yang luar biasa.Rakyat tidak mau beban hidup yang sudah
berat makin berat dengan ikut larut prihatin dengan gojekan-gojekan konyol itu.
Coba kita catat beberapa hal saja, ketika Obama hendak datang ke
Indonesia dan menimbulkan penolakan banyak pihak, pemerin-tah cepat-cepat
memberikan argu-mentasi bahwa Obama beda de-ngan Bush presiden sebelumnya. Lho
kalau beda kenapa di masa pemerintahan yang sama (SBY) Bush juga diterima
bahkan sampai perlu merusak beberapa habitat tanaman di Kebun Raya Bogor?
Kasus perdagangan bebas, rakyat bisa terjun bebas tanpa mampu
bersaing.Perjanjian ACFTA antara Cina-Indonesia implemen-tasinya dimulai tahun
2010.Dalam beberapa tahun seharusnya pe-nguasa menyiapkan regulasi dan seluruh
instrumen struktur dan in-frastrukstur yang mampu menjadi-kan industri nasional
sanggup bersaing. Tidak kemudian menung-gu protes baru kemudian renegosi-asi, seolah
baru siuman dan sadar betapa ACFTA akan mengguncang sektor industri nasional
baik dalam skala besar maupun kecil (home industri). Rakyat dibiarkan seperti
gerombolan “bonek” disuruh mela-wan negara maju dengan berbagai perangkat
regulasi dan kemampuan teknologinya.Lagi-lagi, rakyat ber-tanya mengabdi kepada
siapakah sebenarnya penguasa negeri ini?
Skandal korupsi yang melibat-kan seluruh aparat penegak hukum,
makin menjadikan wajah negeri ini makin bopeng.Bahkan skandal besar perampokan
uang rakyat “Century Gate” jelas-jelas melibat-kan tangan-tangan orang para
penguasa.Lagi-lagi kita dibuat geli, betapa skandal-demi skandal tidak jelas
juntrungnya.BLBI, Century Gate juga menguap tanpa arah apalagi setelah ada
sekber koalisi yang sepakat menyokong dan mengamankan kekuasaan hingga 2014.
Ini menjadi pertanda zaman, bahwa skandal Century akan diku-bur sementara
hingga usia kekua-saan berakhir di tahun 2014. Entah apakah nanti kemudian akan
digali dari kuburnya oleh para penguasa atau generasi-generasi berikutnya
karena keputusan politik DPR itu mengikat hingga 25 tahun men-datang. Dari sini
bisa dimengerti, orang-orang yang diduga terlibat dalam skandal ini harus ada
jalan keluar yang dianggap 'elegan” oleh penguasa karena “nggak enak ati”
kepada orang-orang yang berjasa kepadanya.Maka hengkangnya Menkeu Sri Mulyani
ke Bank Dunia adalah jalan keluar baginya agar tetap terhormat dan semua bisa
selamat.Ia dipuji sebagai orang hebat. Rakyat bingung, lho kalau hebat juga
kenapa harus dilepas dan bangga bekerja dengan pihak asing? Inilah politik,
komunikasi menjadi kunci untuk membenarkan apa saja dari sebuah skenario dari
yang baik sampai yang busuk.[Harits Abu Ulya, Politik Kepentingan Para Penguasa,Mediaummat.com.Tuesday, 03 August
2010 15:54].
Padahal para penguasa ketika dikokohkan saat pelantikan
telah mengucapkan janji dan berjanji untuk mensejahterakan rakyat dan
mendahulukan kepentingan rakyatnya, nampaknya janji yang diucapkan itu tidak
ada pengaruhnya dikala kekuasaan sudah menggurita.
Dalam tradisi
politik Islam, pelantikan pemimpin tertinggi ditandai dengan prosesi
bai`at.Bai`at pada dasarnya adalah akad yang mengikat pemimpin dan rakyat untuk
sama-sama berkomitmen dengan Islam.Ini berarti baik pemerintah maupun rakyat
dibebani sederet kewajiban sekaligus menerima hak-hak yang menjadi konsekuensi
bai`at yang diikrarkan.Jadi, tidaklah tepat jika bai`at hanya diartikan janji
setia rakyat kepada pemimpin.
Dasar pengertian ini adalah ayat 58-59
surah an-Nisa’, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada
yang berhak menerimanya, dan [menyuruh kamu] apabila menetapkan hukum di antara
manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.Sesungguhnya Allah memberi
pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi
Maha Melihat.Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah
Rasul-[Nya], dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat
tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul
(sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat. Itu
lebih utama [bagimu] dan lebih baik akibatnya.”
Ibnu Taimiyah menjelaskan dalam as-Siyasah asy-Syar`iyyah, ayat pertama ditujukan kepada pemerintah.Mereka harus menjalankan amanat kekuasaan kepada rakyat dan menegakkan hukum dengan adil.Sedangkan ayat kedua ditujukan kepada rakyat.Mereka harus taat kepada pemerintah yang menjalankan kewajibannya tersebut dalam mendistribusikan kekayaan negara (kebijakan ekonomi), menegakkan hukum dan lain-lain. Jika kedua belah pihak berselisih tentang apa saja, maka mesti diselesaikan dengan merujuk al-Qur’an dan sunnah.
Ibnu Taimiyah menjelaskan dalam as-Siyasah asy-Syar`iyyah, ayat pertama ditujukan kepada pemerintah.Mereka harus menjalankan amanat kekuasaan kepada rakyat dan menegakkan hukum dengan adil.Sedangkan ayat kedua ditujukan kepada rakyat.Mereka harus taat kepada pemerintah yang menjalankan kewajibannya tersebut dalam mendistribusikan kekayaan negara (kebijakan ekonomi), menegakkan hukum dan lain-lain. Jika kedua belah pihak berselisih tentang apa saja, maka mesti diselesaikan dengan merujuk al-Qur’an dan sunnah.
Prinsip dasar
ini dipahami dan diterapkan dengan sangat baik oleh generasi awal Islam, baik
pemimpin maupun rakyat.Para pemimpin lebih memandang kekuasaan sebagai amanat
dan kewajiban, sebelum menganggapnya sebagai sarana untuk mendapat hak yang
layak diterima.Sementara bagi rakyat, keharusan taat kepada pemerintah tidak
dipandang sebagai sikap tidak berdaya dan pasrah terhadap setiap kebijakan yang
dibuatnya.
Karena itu, para
pemimpin kala itu menempatkan rakyat sebagai partner yang sangat penting agar
kewajibannya sebagai penguasa dapat terlaksana dengan baik. Rakyat pun diberi
akses langsung untuk memberi masukan dan mengkritisi setiap kebijakan yang
dibuatnya sehingga tidak hanya terbatas pada lingkaran elit ahlul hal wal `aqd,
atau wakil-wakil rakyat yang saat itu disebut an-Nuqaba’ atau al-`Urafa’. Dalam
pidato ‘kenegaraan’ pertamanya di Masjid Nabawi, Abu Bakar ash-Shiddiq berkata,
“Wahai segenap manusia, aku telah diangkat sebagai pemimpin padahal aku bukan
orang terbaik di antara kalian.Karena itu, jika pemerintahanku baik maka
dukunglah.Tapi jika buruk maka maka luruskanlah.Kejujuran adalah amanah dan
dusta adalah khianat.”
Pidato yang
dituturkan Ibnu Katsir dalam al-Bidayah ini menunjukkan bahwa Khalifah sendiri
yang meminta rakyatnya bersikap kritis. Sikap yang sama ditunjukkan Umar bin
Khaththab saat menjadi Khalifah. Dalam ar-Riyadh an-Nadhirah, al-Muhibb
ath-Thabari menuturkan bahwa suatu ketika Umar menyampaikan pidato umum, “Wahai
segenap kaum muslim, apa yang akan kalian katakan jika aku menyelewengkan
kekuasaan?”Tiba-tiba seorang lelaki maju sambil menghunus pedangnya seraya
berkata lantang, “Pedangku ini yang berbicara!”Umar berkata, “Semoga Allah
merahmatimu!Alhamdulillah, ada rakyatku yang mau meluruskanku, jika aku keliru.
Kejadian seperti
ini merupakan fenomena yang sering terjadi di masa Umar.Ketegasan dan wibawa
Umar tidak menghalangi rakyat biasa sekali pun untuk mengkritisi bahkan menolak
kebijakan Khalifah di muka umum.Keputusan Umar membatasi mahar dibantah oleh
seorang wanita.Setelah mengetahui argumentasi wanita itu kuat, Umar hanya
berkata, “Wanita ini benar dan aku salah…setiap orang bisa lebih mengerti dari
Umar.”
Ciri pemimpin
yang memandang kekuasaan sebagai amanah adalah bersikap rendah hati dan
terbuka.Dia paham betul bahwa janji atau sumpah jabatan yang dinyatakannya
adalah beban paling berat yang harus ditunaikan kepada rakyat.Karena janji
pemimpin bukan janji biasa, sehingga jika tidak ditepati maka akibatnya pun
luar biasa. Rasulullah saw bersabda, “Tiga
model manusia yang pada hari kiamat tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak
akan dibersihkan [dosanya], tidak akan dipandang oleh-Nya, dan mereka mendapat
azab yang sangat pedih; orang lanjut usia yang berzina, penguasa yang berdusta,
dan orang miskin yang sombong.” (HR Muslim dan Nasa’i).[Asep Sobari,Janji
Pemimpin,Cybersabili, Kamis, 12 November 2009 08:56].
Ironinya
penguasa di negeri ini mayoritas beragama islam bahkan menjadikan islam sebagai
sarana untuk meraih jabatan tapi ketika jabatan dan kekuasaan sudah diraihnya
dengan melenggang seenaknya meninggalkan dan menanggalkan islam selama
berkuasa, nampaknya islam hanya sebagai alat atau kendaraan saja, setelah sampai
ditujuan kendaraan tadi diparkir entah dimana.
Kita adalah satu dari ratusan juta orang
yang hari ini memeluk agama Islam.Selama ini kita juga cukup bangga disebut
sebagai negara Islam terbesar di dunia.
Sayangnya, banyak dari kita sekadar berhenti
sampai di situ.Kita bangga pada jumlah.Kita bangga disebut sebagai negara
Muslim terbesar dunia.Kita bangga menjadi seorang Muslim, sementara tingkah
lakunya jauh dari ajaran Islam.
Kita masih saja mengaku diri Islam,
meski terus-menerus meninggalkan shalat, puasa, zakat.Masih pula mengusungkan
dada, meski terus-terusan berbuat maksiat, berjudi, minuman keras.Masih saja
berkata bohong dan dusta keji meski telah berkali-kali menunaikan ibadah haji.
Potret pejabat negeri ini juga tak
kurang buramnya.Sepuluh tahun terakhir, maksiat menggepung negeri ini.Koran dan
majalah yang mengumbar kebejatan bebas berkeliaran menghampiri anak-anak
negeri.Perjudian kian marak di berbagai pelosok negeri. Semuanya menghampar di
depan mata tanpa sedikit pun dapat dihentikan. Bahkan kecenderungan kian
menggila dari tahun ke tahun.
Tak hanya soal korupsi, negeri ini juga
tercatat sebagai negeri pengakses situs porno nomor tujuh tertinggi di
dunia.Anehnya, bukannya prihatin, presiden dan sebagian elit negeri ini, justru
cuek bebek.Bahkan mereka malah ribut pada soal-soal yang tidak terlalu urgen.
Lebih-lebih soal korupsi, petinggi
negeri ini seakan tutp mata.Aparat negara yang jelas-jelas menilep triliunan
uang negara, dilindungi.Bahkan, para koruptor dibiarkan bebas keluar masuk
penjara berlibur dengan sanak keluarga.
Sementara, mereka yang berusaha
membongkar kebusukan tersebut, justru dibungkam masuk tahanan.
Negeri ini kelihatan begitu payah.Negeri ini begitu sulit keluar
dari himpitan kesulitan yang melilitnya.Itu karena mereka yang bermukim di
negeri ini dari presiden, wakilnya, elit negeri dan masyarakat menjauhi ajaran
Islam.
Islam tak lebih sebagai kendaraan untuk
kepentingan pribadi dan dunia semata. Mereka tak pernah mau berhukum total pada
ajaran Islam. Islam dipakai jika ada maunya, namun disingkirkan jauh-jauh
ketika kepentingan telah terpenuhi.
Karena itu, tidak heran jika negeri ini
kian hari kian tak menentu.Di era globalisasi ini, Indonesia kian tak mampu
bersaing dengan negara-negara di dunia. Jangankan mampu bersaing dengan mereka,
mengatur urusan warganya saja sama sekali tidak berdaya.
Negeri ini benar-benar tidak lagi
memiliki izzah (kemuliaan). Sehingga negara lain seenak perutnya
menginjak-injak wibawa pemerintah tanpa ada kuasa. Parahnya, presiden sama
sekali tak berkutik melawan saat puluhan, bahkan ratusan tenaga kerja Indonesia
(TKI) menjadi korban kebiadaban majikannya di luar negeri.
Di mana perlindungan pemerintah kepada
mereka? Apakah TKI di luar negeri itu “sampah” yang sama sekali tidak berarti
bagi di mata presiden. Karena itu, mereka tak layak dibela.Apa presiden lupa
kacang pada kulitnya?
Lupakah pemerintah bahwa merekalah yang
mendatangkan devisa ke negeri hingga pembangunan berjalan di banyak sektor.
Sumbangsih mereka tidaklah kecil untuk negeri ini.Sebaliknya di mana dukungan
pemerintah untuk mereka?
Ujian yang sedang dihadapi negeri ini
sangat berat dan membutuhkan jalan ke luar agar lolos darinya. Maka tidak ada
kata lain selain belajar dari peristiwa hijrah yang pernah dilakukan Rasulullah
saw dan sahabat-sahabatnya.
Jika ingin terbebas dari kubangan lumpur
keterpurukan, para pemimpin dan masyarakat negeri ini berani berubah.Singkirkan
segala kemaksiatan, kesenangan dunia. Raihlah ketaatan pribadi, kelompok,
keluarga, hingga negara.[Islam, Jangan Dijadikan Kendaraan, Cyber Sabili, Rabu,
15 Desember 2010 15:45 Dwi Hardianto].
Untuk
meraih jabatan dan kekuasaan itu lebih mudah daripada menjaga kemuliaan
kekuasaan, tidak sedikit orang yang tadinya baik, shaleh lagi jujur, setelah berkuasa
dia kasar, keras lagi zhalim dan
akhirnya kelak dikala kekuasan sudah berakhir banyak penguasa yang tersungkur
dan tersingkir dari kekuasaannya, lebih hina hidupnya dari orang-orang yang
hina, untuk itulah sebelum meraih kekuasaan agar kuatkan mental terlebih dahulu
sehingga dikala tidak jadi penguasa lagi orang tetap menghargainya, jadilah
penguasa yang dihargai bukan karena kekuasaannya tapi karena kepribadian,
wallahu a’lam.[Bolai Indah Batam, 10 Rajab 1432.H/ 12 Juni 2011.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar