Masa yang menjadi
tumpuan harapan bagi semua orang adalah dikala menjadi pemuda karena masa ini
memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang yang sudah tua, kelebihan itu
diantaranya semangat yang membara, tenaga yang masih kuat, fikiran yang masih
jernih dan analisa yang tajam, sehingga wajar bila Bung Karno
menyatakan.”Berikan kepada saya seribu pemuda maka saya akan memindahkan gunung
Semeru, tapi berikan kepada saya sepuluh pemuda yang bersemangat maka saya akan
ubah dunia ini”.
Rasulullah menghibur para pemuda dan
pemudi yang mampu mempertahankan kesucian dirinya bahwa nanti di Padang Mashar
jarak Matahari dengan Bumi hanya sejengkal saja, tidak ada yang dapat menaungi
manusia kecuali Allah. Naungan itu
diberikan kepada salah seorang yang mampu mempertahankan diri dari
perbuatan zina walaupun peluang itu ada.
Selain itu beliau menyatakan bahwa pemuda dan pemudi yang mampu menjaga
kesucian dirinya hingga masuk pintu pernikahan merupakan sebuah prestasi yang
luar biasa.
Godaan kekuasaan
sangat besar.Akses terhadap harta, tahta dan wanita sangat mudah
diperoleh.Surat al Baqarah menggambarkan hal ini.Dalam perjalanan menyerang
Raja Jalut, tiba-tiba terik dan panas menyerang tentara Thalut.Pasukan itu pun
mengadu, “Kami kehausan.” Raja Samuel mengatakan, “Di depan ada sungai yang
airnya jernih. Tapi awas, siapa yang minum bukan golongan kami, sedangkan yang
tidak minum termasuk golongan kami kecuali minum sedikit saja.”
Sesampainya di sungai, empat ribu tentara
Thalut terbagi empat kelompok.Pertama, tentara yang minum dan mandi.Kedua,
minum banyak.Ketiga, minum sedikit.Keempat, sama sekali tak
minum. Tentara yang minum sedikit jumlahnya 300 dan yang tidak minum 13
orang.Ketika saatnya menyerang, ternyata hanya 313 tentara yang bisa bertempur,
sebagian besar lainnya lemas dan berbalik pulang. Yang paling tangguh justru 13
tentara yang sama sekali tidak minum, di dalamnya ada pemuda bernama Daud yang
berhasil membunuh Raja Jalut. [KH Khodamul Quddus, Cyber sabili, Jumat, 30 Juli
2010 02:00 ]
Tampilnya Daud sebagai pemuda yang dapat
memenangkan pertempuran itu yang akhirnya dia menjadi raja, mensejahterakan
rakyatnya dan diapun jadi seorang rasul yang memimpin ummat ke jalan yang
benar, pemuda mampu berbuat lebih baik dan punya idealisme yang bagus sehingga
hasil kerjanya berkualitas.Karena pentingnya peran pemuda di negeri ini
sehingga ada sebuah hari yang disebut sebagai hari pemuda bahkan dirangkai
dengan sumpah mulia dinamakan sumpah pemuda.
28 Oktober 1928, momentum emas bagi para
pemuda di zamannya. Mereka cukup paham akan peran dan tanggung jawab yang harus
mereka emban untuk bangsa Indonesia. Siapa tak kenal Bung Karno, Bung Hatta,
Muh. Yamin, M. Syahrir, Buya Hamka? Dulu, mereka juga pernah muda. Misal, Bung
Hatta, dia pernah bertekad tak akan pernah menikah dulu sebelum Indonesia
merdeka. Pemuda di zaman itu, punya cara berpikir yang sama, berkarya untuk
memperjuangkan kemerdekaan bangsa.
Walau pun mereka berbeda latar belakang budaya, pendidikan, agama, namun itu justru menjadi warna tersendiri dari perjuangan mereka. Menariknya, mereka yang beruntung bisa mendapatkan pendidikan sekolah, mengajarkan kembali pada pemuda lainnya. Raden Ajeng Kartini, contoh terbaik untuk hal ini.
Namun kini, pemuda Indonesia seakan tak sadar akan potensi diri dan peran yang hendak dilakoninya sebagai anak bangsa. Khawatirnya, tak ada lagi semangat membara dalam diri para pemuda untuk terus berjuang membangun kejayaan bangsa ini. Parahnya, sistem pendidikan kita belum berhasil mendidik pemuda-pemudi yang cinta akan bangsanya. Semuanya hanya di atas kertas ujian saja.Hapal teori, tak paham makna dan relevansinya dalam kehidupan nyata.
Kasus tawuran pelajar, narkoba, pornografi, menjadi gambaran rapuhnya generasi muda bangsa kita saat ini.Jangan lupa, kenyataan pahit ini bisa jadi dipengaruhi oleh tiadanya insipirasi dan teladan dari para pemimpin bangsa—yang dulunya pernah muda—yang bisa dijadikan panduan hidup bagi para pemuda bangsa kita pada masa sekarang.
Dulu dan kini jelas berbeda.Walau pun demikian, pemuda tetaplah pemuda.Mereka punya energi yang dahsyat, potensi yang luar bisa, sayang kalau waktu hidup mereka hanya digunakan untuk menunggu kematian saja. Harus ada sesuatu yang dilakukan, tentunya karya hebat nan bermanfaat untuk bangsa ini. Caranya banyak, bisa jadi seorang juara olimpiade matematika dan sains, bisa jadi lulusan SD yang punya perusahaan besar yang mengentaskan masalah pengangguran, minimal bisa jadi orang baik yang tidak menjadi beban buat bangsa ini.
Pada akhirnya kita hanya bisa berharap dengan menyisakan rasa optimisme bahwa semua pemuda Indonesia dapat menemukan nuraninya kembali, memiliki kepekaan sosial dengan kondisi ibu pertiwi yang sedang bersusah hati, sehingga mereka pun merasa terpanggil untuk mempersembahkan maha karya yang orisinil untuk memperbaiki kondisi bangsa yang lebih baik. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal yang kecil, dan mulailah dari sekarang.[Asep Sapa’at, Berkaryalah Pemuda Indonesia!, Korandigital.com.Kamis, 28/10/2010 13:53 WIB].
Karena potensi yang luar biasa
dimiliki oleh pemuda maka pemudalah yang mampu untuk melakukan perubahan, baik
perubahan terhadap dirinya, keluarga, masyarakat hingga sebuah bangsa dapat
dirubah menjadi baik dari usaha para pemuda.Orang yang besar adalah orang yang
mampu untuk melakukan perubahan, tapi melakukan perubahan tidaklah semudah
membalik telapak tangan, banyak tantangan yang mesti di hadapi.
Terkadang kita ini terlalu
banyak menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu di luar diri
kita.Juga terlalu banyak energi dan potensi kita untuk memikirkan selain diri
kita, baik itu merupakan kesalahan, keburukan, maupun kelalaian.Namun ternyata
sikap kita yang kita anggap kebaikan itu tidak efektif untuk memperbaiki yang kita
anggap salah. Banyak orang yang menginginkan orang lain berubah, tapi ternyata
yang diinginkannya itu tak kunjung terwujud. Kita sering melihat orang yang
menginginkan Indonesia berubah. Tapi, pada saat yang sama, ternyata keluarganya
‘babak belur’, di kampus tak disukai, di lingkungan masyarakat tak bermanfaat.
Itu namanya terlampau muluk.
Jangankan mengubah Indonesia,
mengubah keluarga sendiri saja tidak mampu.Banyak yang menginginkan situasi
negara berubah, tapi kenapa merubah sikap adik saja tidak sanggup. Jawabnya
adalah: kita tidak pernah punya waktu yang memadai untuk bersungguh-sungguh
mengubah diri sendiri. Tentu saja, jawaban ini tidak mutlak benar.Tapi jawaban
ini perlu diingat baik-baik. Siapa pun yang bercita-cita besar,
rahasianya adalah perubahan diri sendiri.Ingin mengubah Indonesia, caranya
adalah ubah saja diri sendiri. Betapapun kuatnya keinginan kita untuk mengubah
orang lain, tapi kalau tidak dimulai dari diri sendiri, semua itu menjadi
hampa. Setiap keinginan mengubah hanya akan menjadi bahan tertawaan kalau tidak
dimulai dari diri sendiri. Orang di sekitar kita akan menyaksikan kesesuaian
ucapan dengan tindakan kita.
Boleh jadi orang yang banyak
memikirkan diri sendiri itu dinilai egois.Pandangan itu ada benarnya jika kita
memikirkan diri sendiri lalu hasilnya juga hanya untuk diri sendiri.Tapi yang
dimaksud di sini adalah memikirkan diri sendiri, justru sebagai upaya sadar dan
sungguh-sungguh untuk memperbaiki yang lebih luas. Perumpamaan yang
lebih jelas untuk pandangan ini adalah seperti kita membangun pondasi untuk
membuat rumah. Apalah artinya kita memikirkan dinding, memikirkan genteng,
memikirkan tiang yang kokoh, akan tetapi pondasinya tidak pernah kita bangun.
Jadi yang merupakan titik kelemahan manusia adalah lemahnya kesungguhan untuk
mengubah dirinya, yang diawali dengan keberanian melihat kekurangan diri.
Pemimpin mana pun bakal jatuh
terhina manakala tidak punya keberanian mengubah dirinya.Orang sukses mana pun
bakal rubuh kalau dia tidak punya keberanian untuk mengubah dirinya.Kata
kuncinya adalah keberanian.Berani mengejek itu gampang, berani menghujat itu
mudah, tapi, tidak sembarang orang yang berani melihat kekurangan diri
sendiri.Ini hanya milik orang-orang yang sukses sejati. Orang yang
berani membuka kekurangan orang lain, itu biasa. Orang yang berani
membincangkan orang lain, itu tidak istimewa. Sebab itu bisa dilakukan oleh
orang yang tidak punya apa-apa sekali pun.Tapi, kalau ada orang yang berani
melihat kekurangan diri sendiri, bertanya tentang kekurangan itu secara
sistematis, lalu dia buat sistem untuk melihat kekurangan dirinya, inilah calon
orang besar.
Mengubah diri dengan sadar,
itu juga mengubah orang lain. Walaupun dia tidak berucap sepatah kata pun untuk
perubahan itu, perbuatannya sudah menjadi ucapan yang sangat berarti bagi orang
lain. Percayalah, kegigihan kita memperbaiki diri, akan membuat orang lain
melihat dan merasakannya. Memang pengaruh dari kegigihan mengubah diri
sendiri tidak akan spontan dirasakan. Tapi percayalah, itu akan membekas dalam
benak orang. Makin lama, bekas itu akan membuat orang simpati dan terdorong
untuk juga melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ini akan terus
berimbas, dan akhirnya semakin besar seperti bola salju. Perubahan bergulir
semakin besar.
Jadi kalau ada orang yang
bertanya tentang sulitnya mengubah keluarga, sulitnya mengubah anak, jawabannya
dalam diri orang itu sendiri. Jangan dulu menyalahkan orang lain, ketika mereka
tidak mau berubah. Kalau kita sebagai ustadz, atau kyai, jangan banyak
menyalahkan santrinya.Tanya dulu diri sendiri. Kalau kita sebagai pemimpin,
jangan banyak menyalahkan bawahannya, lihat dulu diri sendiri seperti
apa. Kalau kita sebagai pemimpin negara, jangan banyak menyalahkan
rakyatnya.Lebih baik para penyelenggara negara gigih memperbaiki diri sehingga
bisa menjadi teladan. Insya Allah, walaupun tanpa banyak berkata, dia akan
membuat perubahan cepat terasa, jika berani memperbaiki diri. Itu lebih
baik dibanding banyak berkata, tapi tanpa keberanian menjadi suri
teladan. Jangan terlalu banyak bicara.Lebih baik bersungguh-sungguh
memperbaiki diri sendiri.Jadikan perkataan makin halus, sikap makin mulia, etos
kerja makin sungguh-sungguh, ibadah kian tangguh. Ini akan disaksikan orang.[Fitria Meysti Sari,Ciri Orang Besar Memulai
Perubahan,Dakwatuna.com.28/1/2011 | 22 Shafar 1432 H].
Salah satu agen perubahan itu
adalah melalui dakwah yang dilakukan di sekolah dan kampus karena banyak para
pemuda dan pelajar yang ghirahnya terhadap islam sangat tinggi, bila diabaikan
maka cendrung mereka akan melakukan perubahan yang tidak sesuai dengan tahap
dan tujuannya.Sehingga aktivitas remaja, pemuda dan pelajar banyak yang
destruktif, mendatangkan mudarat bagi diri dan keluarganya.
Banyak peristiwa yang mendera
masyarakat kita sepekan terakhir.Di antaranya ialah kekacauan para siswa SLTA
dalam menanggapi pengumuman hasil ujian nasional (UN) tanggal 26 April yang
lalu.Bagi siswa siswi yang lulus, banyak di antara mereka yang menyambutnya
dengan hura-hura seperti konvoi di jalan raya sambil membawa kendaraan dengan
ugal-ugalan sehingga membahayakan lalu lintas di berbagai jalan raya. Banyak
pula yang berteriak-teriak sambil tertawa, berjingkrak-jingkrak dan mencorat-coret
baju seragam mereka. Selain itu, banyak pula yang meluapkan kegembiraannya
melalui pesta miras dan bermesraan dengan sesama teman sekolah lawan
jenis.Hanya sedikit sekali yang melakukan sujud syukur pada Allah atas nikmat
kelulusan yang Allah anugerahkan kepada mereka.
Bagi yang tidak lulus UN,
mereka menanggapinya dengan berbagai tingkah yang tidak baik dan sama sekali
tidak mencerminkan kematangan kepribadian sebagai hasil didikan keimanan selama
bertahun-tahun sekolah. Banyak sekali yang berteriak-teriak histeris seakan
nasib dan masa depan mereka hancur dan musnah. Ada pula yang merusak sekolah
dan bertingkah tidak terpuji lainnya.Yang memprihatinkan lagi ialah ada yang
bunuh diri seperti yang terjadi di Jambi.
Kegaduhan UN ini telah terjadi
beberapa tahun belakangan, khususnya sejak pemerintah menetapkan sistem nilai
kelulusan ujian akhir secara nasional, tanpa melihat apakah sekolah tersebut
sudah memiliki tenaga-tenaga pendidik yang handal dan fasilitas yang memadai
atau tidak.Semua sekolah harus mengikuti standar nilai yang ditetapkan
Departemen Pendidikan Nasional (Diknas).Akibatnya, tahun ini misalnya, bukan
hanya banyak yang tidak lulus, bahkan lebih 260 sekolah yang satupun muridnya
tidak ada yang lulus.Tak heran, jika sebagian pakar pendidikan dan masyarakat
menilai bahwa UN adalah bentuk teror nasional yang dilancarkan pemerintah
terhadap para siswa.
Sesungguhnya inti persoalannya
bukan pada standar yang ditetapkan Diknas.Menurut beberapa pakar pendidikan,
bahwa standar tersebut sebenarnya biasa-biasa saja; bukan hal yang mustahil
dicapai oleh para siswa. Yang aneh dan perlu mendapat perhatian ialah tentang
cara pandang siswa terhadap ijazah dan terhadap dunia pendidikan itu sendiri.
Dari berbagai sikap yang muncul dalam menghadapi UN, baik yang lulus maupun
yang tidak lulus, tercermin dengan jelas bahwa siswa atau anak didik kita saat
ini sudah kehilangan orientasi hidup yang sebenarnya. Di mata mereka, ijazah
itu seakan segala-galanya.Karena ijazah identik dengan pekerjaan atau perguruan
tinggi. Sebab itu, sikap yang mereka munculkan baik mereka yang lulus maupun
yang tidak lulus sangat memprihatinkan. Faktanya, ratusan ribu pengangguran
adalah orang-orang yang terdidik, bahkan lulusan dari berbagai perguruan tinggi
ternama.
Timbul pertanyaan mendasar:
Siapa yang salah dan berkontribusi terhadap hilangnya orientasi hidup anak-anak
didik kita saat ini? Bukankah mereka itu generasi masa depan yang akan
menentukan baik dan buruknya negeri ini? Perlu kita sadari bahwa sesuai
sunnatullah (ketetapan Allah), bahwa kita akan menuai apa yang kita tanam.
Artinya, kondisi mental dan prilaku sebagian besar anak didik kita yang
memprihatinkan itu adalah hasil apa yang kita tanamkan ke dalam diri mereka
selama bertahun-tahun dan bahkan sejak mereka lahir. Kita telah gagal
menanamkan iman dan taqwa ke dalam diri mereka, dan juga ilmu pengetahuan, baik
dalam rumah tangga, institusi pendidikan dan juga dalam masyarakat.Pemerintah
telah gagal menjadikan pendidikan sebagai lembaga character building (pembentukan
karakter) iman dan taqwa.Akan tetap yang dibentuk adalah karakter sekulerisme
dan materialisme yang amat membahayakan kehidupan generasi kita di dunia dan
apalagi di akhirat kelak. Sebab itu, tidaklah mengherankan bahwa generasi kita
sekarang sedang kehilangan orientasi hidup yang benar yang sesuai dengan apa
yang digariskan oleh Allah Ta’ala sebagai Tuhan Pencipta mereka, Pencipta kita
dan Pencipta Alam semsta.
Kosep pendidikan yang ada
sekarang harus direformasi dan bahkan kalau perlu direvolusi.Lebih dari 60
tahun merdeka, pemerintah hanya melahirkan generasi sekuler dan materialis.
Kondisi seperti ini akan mengancam kehidupan umat Islam di negeri ini. Berbagai
kejahatan yang sudah mengakar saat ini, seperti korupsi, prilaku hedonis, gaya
hidup konsumtif dan sebagainya adalah hasil apa yang ditanamkan dalam
pendidikan masa lalu. Kalau kita serius untuk merubah dan mereformasi kondisi
semrawut seperti sekarang ini, kita harus memulainya dari dunia pendidikan.
Kalau kita gagal mewujudkan pendidikan sebagai wadah dan institusi pembentukan
karakter iman dan taqwa kepada anak didik kita sekarang, maka masa depan negeri
ini akan tetap sepeti apa yang kita saksikan hari ini, dan tidak mustahil lebih
parah lagi.
Timbul pertanyaan mendasar:
Siapa yang salah dan berkontribusi terhadap hilangnya orientasi hidup anak-anak
didik kita saat ini? Bukankah mereka itu generasi masa depan yang akan
menentukan baik dan buruknya negeri ini? Perlu kita sadari bahwa sesuai
sunnatullah (ketetapan Allah), bahwa kita akan menuai apa yang kita tanam.
Artinya, kondisi mental dan prilaku sebagian besar anak didik kita yang
memprihatinkan itu adalah hasil apa yang kita tanamkan ke dalam diri mereka
selama bertahun-tahun dan bahkan sejak mereka lahir.
Kita telah gagal menanamkan
iman dan taqwa ke dalam diri mereka, dan juga ilmu pengetahuan, baik dalam
rumah tangga, institusi pendidikan dan juga dalam masyarakat.Pemerintah telah
gagal menjadikan pendidikan sebagai lembaga character building (pembentukan
karakter) iman dan taqwa.Akan tetap yang dibentuk adalah karakter sekulerisme
dan materialisme yang amat membahayakan kehidupan generasi kita di dunia dan
apalagi di akhirat kelak. Sebab itu, tidaklah mengherankan bahwa generasi kita
sekarang sedang kehilangan orientasi hidup yang benar yang sesuai dengan apa
yang digariskan oleh Allah Ta’ala sebagai Tuhan Pencipta mereka, Pencipta kita
dan Pencipta Alam semsta.
Kosep pendidikan yang ada
sekarang harus direformasi dan bahkan kalau perlu direvolusi.Lebih dari 60
tahun merdeka, pemerintah hanya melahirkan generasi sekuler dan materialis.
Kondisi seperti ini akan mengancam kehidupan umat Islam di negeri ini. Berbagai
kejahatan yang sudah mengakar saat ini, seperti korupsi, prilaku hedonis, gaya
hidup konsumtif dan sebagainya adalah hasil apa yang ditanamkan dalam
pendidikan masa lalu. Kalau kita serius untuk merubah dan mereformasi kondisi
semrawut seperti sekarang ini, kita harus memulainya dari dunia pendidikan.
Kalau kita gagal mewujudkan pendidikan sebagai wadah dan institusi pembentukan karakter
iman dan taqwa kepada anak didik kita sekarang, maka masa depan negeri ini akan
tetap sepeti apa yang kita saksikan hari ini, dan tidak mustahil lebih parah
lagi.
Banyak hal yang perlu kita
benahi dari dunia pendidikan sekarang, di antaranya adalah konsep pendidikan
yang diterapkan.Kita harus mampu merancang sebuah konsep pendidikan yang
efektif dan mampu menanamkan karakter iman dan taqwa kepada anak didik sehingga
mereka memiliki orientasi hidup yang benar yang sesuai dengan maksud dan tujuan
Allah menciptakan mereka. Kalau orientasi itu sudah melenceng dan menyimpang,
maka generasi kita akan menjadi generasi yang tidak kenal Tuhan Penciptanya dan
tidak pula mengenal diri mereka sendiri. Dari sinilah awal malapetaka dan
berbagai penyimpangan manusia itu muncul.
Manusia yang tidak mengenal
Allah dan tidak pengenal dirinya, mereka akan hidup liar di dunia ini dan
merusak kehidupan ini yang pada akhirnya akan merugikan dan mencelakakan orang
lain, termasuk dirinya sendiri. Sebaliknya, manusai yang mengenal Allah dan
dirinya dengan baik, insyaa Allah mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang
sholeh yang bukan hanya mampu memberikan kesholehan (kebaikan) kepada dirinya,
melainkan juga kepada orang lain. Pribadi-pribadi yang sholeh itu tidak lahir
dari konsep pendidikan yang sekuler dan berorientasi duniawi atau
materialistik. Akan tetapi, merka akan lahir dari konsep pendidikan Islam yang
mengajarkan dan menanamkan orientasi hidup manusia yang sebenarnya.[Ustadz Fathuddin Ja’far,Generasi Yang
Kehilangan Orientasi Hidup,Eramuslim.com Kamis, 29/04/2010 20:34 WIB]
Pemuda sebagai agen perubah, yang
tampil ke gelanggang menyerukan kebenaran, yang melakukan perubahan terhadap
ummat dan bangsa bukanlah pemuda sembarangan tapi pemuda yang memang sudah
dipersiapkan sejak awal oleh generasi terdahulu dengan segala bekal, diantaranya
bekal itu adalah jiwa patriotic, optimis dan bekal ilmu pengetahuan, pemuda
bukan hanya harapan orangtua dan calon mertu saja tapi jiga harapan dambaan
bangsa dan negaranya, wallahu a’lam. [Bolai Indah Batam, 10 Rajab
1432.H/ 12 Juni 2011.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar