Rabu, 16 Desember 2015

86. Shahadat



Salah satu syarat seseorang dikatakan telah memeluk agama islam, apabila ia telah mengucapkan kalimah sahadat, kalimat persaksian bahwa,   ”Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad Rasul Allah”. Ucapan ini ialah pengakuan seorang hamba yang secara sadar mengakui ketiadaan sesuatu dan mengakui keberadaan Allah. Konsekwensi logis dari ”Tidak Ada Tuhan Selain Allah   itu ialah mengakui pula;
  1. Tidak ada hukum yang wajib ditaati selain hukum Allah. Apabila mengingkari hukum Allah berari keluar dari persaksian. Surat Al Maidah, ayat 44 menegaskan, ”Siapa yang tidak mau berhukum kepada apa yang diturunkan Allah, mereka termasuk orang-orang kafir”.
  2. Tidak ada yang wajib disembah selain Allah.
  3. Tidak ada kecintaan yang melebihi dari cinta kepada Allah.
  4. Tidak ada yang ditakuti selain dari ancaman Allah.
  5. Tidak ada yang dikagumi selain dari ciptaan Allah.
  6. Tidak ada yang disegani, dihormati, ditaati selain dari pada Allah.

            Dengan persaksian diatas, maka seseorang telah dapat dikatakan bebas merdeka, tidak diikat oleh suatu belenggu apapun, tidak dijajah oleh suatu keterikatan kepada siapapun, selain keterikatan kepada Allah Swt saja, maka ummat yang telah berikrar dengan syahadat itu bebas berbuat, bebas beribadah dan menjalankan hukum Allah sesuai dengan kehendak Allah, dengan segala kemampuan yang dimilikinya.

            Tidaklah mudah untuk mencapai derajat merdeka dan mulia atas dasar ucapan ”Laa Ilaaha Illallah” sebab sangat banyak rintangan yang mencoba menjajah dan membelenggu manusia. Manusia harus memperjuangkan diri untuk lepas dari  belenggu, yang secara lansung atau tidak manusia dijajah oleh alam, masyarakat, tradisi, dan kini belenggu yang modern yaitu tekhnologi.

            Dalam hal ini perhatikanlah sebuah belenggu yang sangat sukar untuk dielakkan, yang telah ada sejak zaman dahulu, yang telah dipraktekkan oleh nenek moyang serta secara turun temurun dan terus diwariskan kepada anak cucunya sebagai generasi pelanjut, mungkin saja kelak akan diturunkan pula kepada generasi muda penerusnya, yaitu belenggu tradisi.

            Tradisi itu dimiliki oleh setiap suku bangsa dengan coraknya masing-masing, yang dikenal dengan sebutan ”kebudayaan nenek moyang”. Pada saat ini sedang hangat-hangatnya agar generasi muda memelihara kelestariannya yang penuh dengan bid’ah, tahyul dan kurafa. Otak tak dapat untuk berfikir, perasaan tak dapat untuk mempertimbangkan lagi, segalanya nampak baik, nampaknya praktek ibadah padahal praktek bid’ah,sehingga terjadilah percampuran antara ibadat dengan adat, yang haq dengan yang bathil. Sedangkan Allah telah memperingatkan dalam surat Al Baqarah ayat 42 sebagai berikut, ”Dan janganlah kamu campur  adukkan yang haq dengan bathil,dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui”.

            Tidak sedikit orang yang mengaku modern tetap bertahan pada prinsip adat peninggalan nenek moyang yang tidak sesuai dengan ajaran agama, baik pedagang, pelajar maupun masyarakat umumnya masih saja mendatangi kuburan tua, atau gunung ataupun laut untuk mencari berkah agar usahanya lancar, studinya sukses dan jabatannya tetap diakui masyarakat.

            Seorang insinyur yang mempunyai ilmu modern mengerahkan usahanya untuk menanam kepala kerbau di dasar bangunan yang sedang dilaksanakan, agar bangunan tersebut dapat kokoh dan bertahan lama. Dengan fikiran yang kiranya dapat dipertimbangkan akal sehat, walau sepuluh kepala kerbau yang dikubur di dasar bangunan itu, tetapi bahan-bahan bangunannya dikorup dan diselewengkan, serta tidak dikerjakan dengan ilmu yang benar, maka bangunan itu akan hancur dalam waktu singkat. Tetapi tanpa kepala kerbau kalau dikerjakan dengan ilmu yang benar, sesuai dengan perhitungan maka dapat dijamin kekokohan bangunan itu.

            Walaupun demikian, tidak masuk akalnya tapi sulit untuk meninggalkan hal yang telah mendarah daging dihati pewaris tradisi, mereka punya prinsif sebagaimana yang dilukiskan Allah dalam surat Al Baqarah ayat 170, ”Dan apabila dikatakan kepada mereka, ”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”, mereka menjawab, ”Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari perbuatan nenek moyang kami”, apakah mereka akan mengikuti juga walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk di jalan yang lurus ”.

            Manusia kini hanya bisa bertaqlid kepada adat nenek moyang yang tidak mendapat petunjuk dari Allah   Swt. Sebagai catatan, bukan berarti semua tradisi adat itu jelek, tetapi ambillah yang baik dan singkirkanlah yang tidak sesuai dengan ajaran islam, lalu  kembalilah kepada ikrar ”Laa Ilaaha Illallah”. Tidak ada kebenaran yang wajib diikuti selain kebenaran yang datang dari Pemilik Kebenaran [Allah].
           
Di dalam kalimat syahadat terkandung aqidah, iman dan keyakinan seseorang kepada Allah dan kepada Rasul serta terhadap seluruh rangkaian rukun iman. Iman tidak sekedar ucapan di bibir tapi harus nampak pada tiga hal yaitu; perkataan dengan ucapan lisannya dapat dibuktikan keimanannya [24;51],iman juga harus terhunjam di hati sanubari yang paling dalam [8;2] serta direalisasikan melalui amal perbuatan sehari-hari [103;1-3, 2;25]

Iman yang terhunjam di hati, terucap di lisan dan teraplikasi melalui amal perbuatan sehari-hari akan membentuk iman yang istiqamah yaitu iman yang kokoh, stabil dan kuat, tidak akan lapuk karena hujan dan tidak akan lekang karena panas, Allah berfirman “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan,”Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan gembirakanlah mereka dengan memperoleh syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” [Fush Shilat 41;30]

Iman yang istiqamah tidak akan tergiur oleh kondisi zaman yang berubah-ubah, ibarat batu karang yang ada di tengah lautan, walaupun dihantam oleh hujan, ombak, badai, cuaca yang tidak menentu, maka dia semakin kokoh, bahkan semakin tegar. Iman yang model begini sulit sekali membentuknya, selain dengan da’wah yang efektif juga harus disertai dengan tarbiyah zhatiyah yaitu pendidikan pribadi, sang pribadi berusaha untuk merubah dirinya dengan belajar secara individu melalui sirah para rasul dan sahabat, mengkaji buku-buku berkualitas serta hidupnya berada dalam lingkungan jama’ah shalihah yaitu lingkungan yang baik.   

Iman yang istiqamah akan membentuk tiga sikap yaitu; syaja’ah artinya jiwa keberanian dalam menghadapi seluruh asfek kehidupan, tidak ada yang dia takuti kecuali rasa takut itu sendiri [5;52], yang kedua membentuk sikap al itmi’nan yaitu ketenangan dalam hidup, tidak ada beban mental dalam menghadapi kehidupan ini, bagi dia hidup harus dijalani apa adanya, derita dan bahagia hanya dinamika hidup yang harus dinikmati, bila mendapat kebahagiaan maka layaklah bila bersyukur dan sebaliknya harus bersabar bila derita dirasakan [13;28] serta membentuk sikap tafaul yaitu sikap hidup yang optimis [24;55]

Orang yang mampu meraih tiga sikap hidup tersebut, inilah model manusia yang akan meraih kebahagiaan hidup di dunia maupun akherat [8;65]
”Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti

Kalimat syahadat bukan saja syarat seseorang masuk Islam tapi memiliki beberapa kepentingan dalam kehidupan seorang mukmin, syahadat merupakan pintu gerbang ke dalam Islam [47;19] sebelum seseorang menggali lebih jauh inti sari ajaran Islam maka terlebih dahulu harus mempelajari kandungan dan isi serta makna syahadat, ibarat sebuah rumah, sebelum masuk kamarnya tentu masuk melalui pintu gerbangnya terlebih dahulu.

Syahadat merupakan inti ajaran Islam [21;25], ayat Al Qur’an dan Hadits Rasul yang jumlahnya sekian ribu, intinya hanya satu yaitu mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah, bahkan seandainya Al Qur’an dan Hadits tidak diturunkan Allah, maka cukuplah Kalimat Syahadat itu saja, sudah mengajak kita ke jalan Allah yang sebenarnya. ”Mereka menjawab: "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main”

Syahadat merupakan dasar perubahan dan dasar pembaharuan ummat, siapa saja yang mau hidupnya baik, maka harus kembali mengamalkan kalimat tauhid ini [6:122] bila tidak dan bahkan mencari kalimat lain tentu saja mereka akan sesat.”Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.”

Syahadat merupakan keutamaan yang agung, Allah menggambarkan bagi orang yang mengamalkan kalimat syahadat seperti pohon yang tegar, akarnya menghunjam ke bumi, daunnya menjulang ke langit dan setiap musim memberikan buah kepada penduduk bumi, dan sebaliknya, orang yang tidak mengamalkan kalimat syahadat seperti pohon yang sudah meranggas, akarnyapun sudah tercerabut sehingga tidak ada manfaatnya [14;24-27]
”Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.”

Syahadat merupakan hakekat da’wah para Rasul, semua Nabi dan Rasul hanya mengibarkan satu bendera yaitu “Laa Ilaaha Illallah” mereka berkewajiban mengajak manusia untuk mengesakan Allah dan menjauhi syirik [3;21, 16;37]    ”Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong”.

Syahadat adalah ucapan ringan dan mudah dilafazkan tapi besar timbangan amalnya, itu baru ucapan apalagi mengamalkannya, zikir yang paling tinggi nilainya adalah kalimat ini, perjuangan yang paling agung adalah menegakkan kalimat ini, itulah makanya Nabi Ibrahim harus berhadapan dengan Namrudz, Nabi Musa harus bersiteru dengan Fir’aun serta Nabi Muhammad harus berlainan aqidah dengan pamannya, dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa yang hadir kepada seorang raja yang zalim untuk menyatakan kebenaran [tauhid] lalu dia dibunuh maka itulah kematian yang mulia”.

Jalan mengantarkan manusia ke syurga juga adalah kalimat syahadat sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari “Barangsiapa yang akhir katanya,”Laa Ilaaha Ilallah”, maka dia akan masuk syurga”. Yang dimaksud dengan hadits ini bukanlah sekedar ucapan, tapi diiringi dengan amal perbuatan, mustahil kiranya orang yang amal hariannya jauh dari kalimat tauhid lalu ketika meninggal dapat membaca kalimat ini, demikian pula sebaliknya orang yang seluruh potensi hidupnya menjalankan kalimat syahadat, lalu saat kematian dia tidak sempat membaca kalimat ini tentu tidak dapat dikatakan hidupnya sia-sia, jangan kita melihat orang meninggal dari sebab kematiannya, walaupun pecah dan hancur tubuhnya kemudian dimakan hewan buas pula, tapi selama ini hidupnya memperjuangkan kalimat ini, maka Insya Allah baiklah kematiannya.

Syahadat merupakan pesan abadi dari Allah, sejak dari zaman Nabi Adam hingga berakhirnya dunia ini [21;25] seluruh ummat yang shaleh mengamalkan, memperjuangkan dan mempertahankan kalimat ini agar tegak dan jaya di bumi Allah ini. “Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku."

Syahadat merupakan tonggak rukun iman, sia-sia rukun iman seseorang bila syahadatnya tidak duduk [4;158] sehingga sepak terjangnya banyak melanggar kalimat ini, dan sekaligus kalimat syahadat merupakan ruh islam [25;23] dengan ini Islam itu hidup hingga bertahan sampai detik ini walaupun segala makar dikerahkan untuk mengalahkan agama  Allah tapi tak berdaya juga menghancurkan Islam dan ummatnya, karena bagi seorang muslim tidak ada kamus kalah dalam perjuangan, mati sekalipun dalam menjalankan kalimat ini adalah sebuah kemenangan.
“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”

Demikian pentingnya kalimat syahadat bagi seorang muslim sehingga layak bila dia tetap mempelajari kalimat ini, mengamalkan dan melandasi perjuangannya dengan kalimat ini. Kenapa ummat islam terlalu banyak menyeleweng  jalan hidupnya ? karena dia belum menghayati kalimat syahadat, kalimat tauhid ini belum duduk di sanubarinya, baru sekedar ucapan belum jadi amal dalam kehidupannya sehari-hari.

Kalimat syahadat ini, dimurnikan oleh Allah dalam beberapa ayat, untuk menghunjamkan tauhid ke dalam hati ummatnya “Katakanlah,’’Dialah Allah yang Maha Esa” Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada –Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan  tidak diperanakkan, dan tidak ada satupun yang setara dengan Dia”[112;1-4] [Solok, 01042000]

Sebenarnya orang-orang kafir Quraisy dahulu juga mengakui Allah sebagai Pencipta [7;52], Pemberi rezeki [10;31-32], Pengatur alam jagad raya [39;4-6], sebagai Penguasa [35;11-14], Maha Perkasa [30;26-30] namun demikian mereka hanya mengakui Allah sebagai “Rabb” saja, tapi menolak Allah sebagai “Ilah”, mereka tidak mau mengakui Allah sebagai Tuhan yang wajib disembah [114;3], sebagai Tuhan yang wajib dicintai [2;165, 9;24] sebagai Tuhan yang berhak ditaati segala aturannya [2;285, 24;51] dan mereka juga menolak Allah sebagai satu-satunya Penolong dalam hidup ini [2;257]

”Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya”.

Itulah pengakuan kafir Quraisy kepada Allah tidak murni, tauhid mereka dicampuri dengan noda-noda syirik, mereka mengenal Allah sebatas apa yang mereka dapat lihat dari hasil perbuatan-Nya tapi tidak mau kenal Allah hingga mendatangkan ketaatan dan ketundukan kepada-Nya.

Seorang mukmin yang telah menyatakan diri sebagai muslim dengan mengucapkan kalimat syahadat dituntut untuk memurnikannya agar syahadat tersebut diterima Allah, bila melanggar aturan Allah otomatis telah merusak tatanan syahadatain, tentu saja syahadatnya batal dan tidak diterima Allah, dimanakah posisi seseorang yang syahadatnya batal dan tidak diterima Allah  ?

Ada beberapa syarat agar syahadat kita diterima Allah dan tercatat sebagai muslim yang tidak hanya formalitas tapi terujud dalam segala asfek kehidupan lalu mengantarkannya ke alam akherat dengan segala kemenangan, syarat yang dimaksud adalah;

Pertama, syahadat akan diterima Allah bila seseorang itu mampu menghindari segala prilaku jahiliyah pada seluruh asfek kehidupan. Yang dimaksud dengan jahiliyah adalah segala tata aturan kehidupan manusia diluar konsep Islam, baik berasal dari adat istiadat, budaya barat maupun pemikiran manusia lainnya, hal ini bisa saja dalam sistim perdagangan yang cendrung menjalankan praktek ribawi, dalam bidang budaya bercorak primitif, dalam pergaulan dengan watak permisiv [serba boleh], dalam bentuk agama bersifat sinkritis [semua agama sama] dan seluruh kehidupan yang jauh dari tata aturan Islam.

Disamping itu orang-orang jahiliyah selain beriman kepada Allah mereka juga mencari tuhan-tuhan lain sebagai tandingan [47;19] yang menghancurkan keimanannya. Bagi seorang muslim dia harus mampu menerapkan Islam dalam seluruh asfek kehidupannya secara kaffah [menyeluruh 2;208].
”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Kedua, keimanan seseorang akan ditolak Allah walaupun telah mengucapkan syhadat bila dalam hatinya terbersit sedikit saja keraguan, ragu dengan hukum Allah, ragu dengan segala ketentuan Allah dan ragu dengan segala aturan yang dirancang Allah melalui wahyu-Nya, sehingga mengharuskan ummat untuk merevisi Al Qur’an bahkan Al Qur’an dikatakan bertentangan dengan zaman, sebenarnya kita tidak perlu ragu dengan segala keimanan kita bila syahadat tersebut telah duduk di hatinya, namun demikian Allah membalas imannya sesuai dengan keyakinannya itu [49;15]
 Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar”.

Ketiga, syahadatain akan diterima Allah bila menjauhi syirik, inilah penyakit terbesar ummat ini, imannya ternoda oleh kemusyrikan sehingga iman demikian tidak ada lagi artinya kecuali mereka bertaubat [31;13], syirik yang paling ringan adalah beribadah bukan karena Allah, ini saja sudah cukup untuk memasukkannya ke neraka dan menggugurkan amaliyah ibadah seluruhnya [98;5], orang yang mampu membersihkan tauhidnyalah yang tidak akan tergiur oleh rayuan dan godaan iblis, karena relung hatinya telah terisi penuh dengan tauhidullah [15;39-40]
”Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka."

Keempat, syahadat kita tidak akan bermakna di sisi Allah bila terselip di hati kita sifat nifaq, yaitu imannya hanya di bibir saja sedangkan hatinya menolak keimanan tersebut [2;8], bila ini terjadi maka sia-sialah keimanan seseorang, ibadah yang dilakukan hanya mendapat letihnya saja tanpa hasil yang dapat dibawa ke akherat. Rasulullah menggambarkan watak munafiq itu dengan tiga ciri; bila berbicara dusta, bila berjanji ingkar dan bila diberi amanat dia khianat.
”Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian, pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.”

Kelima, syahadat akan diterima Allah adalah syahadat yang diiringi dengan amal shaleh ,amal merupakan ujud nyata dari persaksian [8;2], imanpun harus  terhunjam di hati nurani [8;2] dan terucap di lisan [24;51]. Bila iman hanya di hati saja maka Fir’aun juga beriman [10;90], atau syahadat hanya terkesan di bibir saja, maka munafiq lebih beriman dari pada kita [2;8], iman yang hanya terlihat pada amal saja tanpa didorong oleh motivasi hati nurani untuk berbuat maka nilainya sia-sia.
”Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya  Al Baqarah 2;25]

Keenam, syahadat harus teraplikasi melalui ketundukan kepada Allah tanpa dicemari oleh pembangkangan. Secara amal sebenarnya Iblis telah banyak beramal dari pada Nabi Adam bahkan  dialah senioritas dibandingkan makhluk Allah yang lain, hadits Rasulullah juga menginformasikan bahwa tidak ada tanah yang kosong di dunia ini, semuanya telah digunakan oleh Iblis untuk menyembah Allah, tapi penyembahan Iblis tadi tidak diiringi oleh sikap loyalitas yang penuh kepada Allah sehingga begitu Allah memerintahkannya untuk sujud, nampaknya ketika itu Iblis tidak loyal kepada Allah sehingga gugurlah semua ibadahnya dan dia dicap oleh Allah sebagai makhluk yang terlaknat [15;39].

Adapun rukun kalimat syahadat adalah pertama meniadakan seluruh bentuk tuhan-tuhan kecil yang ada di dunia ini, baik tuhan hawa nafsu [25;43], tuhan patung dan berhala [26;69-76], tuhan dari jin dan malaikat [34;40-41], tidak menjadikan para nabi sebagai tuhan [3;79] serta meninggalkan tuhan-tuhan thaghut [2;256].
”Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Sedangkan rukun kedua dari syahadat atau kalimat “Laa ilaaha illallah” adalah menetapkan bahwa Tuhan yang berhak disembah hanyalah Allah semata, dalam surat Al Anbiya’ 21;25 Allah berfirman, ”Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya,”Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.

Bagi orang yang mengucapkan syahadat, mempelajari, menghayati serta memperjuangkan akan mendapat fadhilah yaitu keutamaan; aman dari azab Allah di dunia dan di akherat [6;82] dan merupakan sebaik-baiknya iman sebagaimana sabda Rasulullah,”Iman itu ada 70 cabang, yang penting dan utama adalah Laa Ilaaha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan duri dari jalan”[HR.Muslim], dengan syahadat akan menghapuskan segala dosa dan maksiat yang dilakukan seorang muslim, kalimat ini pula yang menyebabkan kita masuk ke syurga dan tidak kekal di neraka, Rasulullah bersabda,”Allah berfirman,”Barangsiapa menemui-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun maka ia masuk syurga, barangsiapa menemui-Ku dengan sesuatu perbuatan syirik pasti ia masuk neraka”[HR.Muslim].

Itulah sebabnya Lukmanul Hakim sejak dini membersihkan hati anaknya dari noda-noda syirik yang dapat merusak tauhid seseorang [31;13] dan menjadikan pondasi pendidikan itu adalah tauhid yang bersih setelah itu baru yang lain seperti hormat kepada orangtua, shalat, zakat, amar ma”ruf nahi mungkar,
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." walllahu a’lam [Cubadak Solok, 15 Ramadhan 1431.H/ 25 Agustus 2010]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar