Salah satu syarat seseorang dikatakan telah
memeluk agama islam, apabila ia telah mengucapkan kalimah sahadat, kalimat
persaksian bahwa, ”Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad Rasul Allah”. Ucapan
ini ialah pengakuan seorang hamba yang secara sadar mengakui ketiadaan sesuatu
dan mengakui keberadaan Allah. Konsekwensi logis dari ”Tidak Ada Tuhan Selain Allah ”
itu ialah mengakui pula;
- Tidak ada hukum yang wajib ditaati selain hukum Allah. Apabila mengingkari hukum Allah berari keluar dari persaksian. Surat Al Maidah, ayat 44 menegaskan, ”Siapa yang tidak mau berhukum kepada apa yang diturunkan Allah, mereka termasuk orang-orang kafir”.
- Tidak ada yang wajib disembah selain Allah.
- Tidak ada kecintaan yang melebihi dari cinta kepada Allah.
- Tidak ada yang ditakuti selain dari ancaman Allah.
- Tidak ada yang dikagumi selain dari ciptaan Allah.
- Tidak ada yang disegani, dihormati, ditaati selain dari pada Allah.
Dengan
persaksian diatas, maka seseorang telah dapat dikatakan bebas merdeka, tidak
diikat oleh suatu belenggu apapun, tidak dijajah oleh suatu keterikatan kepada
siapapun, selain keterikatan kepada Allah Swt saja, maka ummat yang telah
berikrar dengan syahadat itu bebas berbuat, bebas beribadah dan menjalankan hukum
Allah sesuai dengan kehendak Allah, dengan segala kemampuan yang dimilikinya.
Tidaklah
mudah untuk mencapai derajat merdeka dan mulia atas dasar ucapan ”Laa Ilaaha Illallah” sebab sangat
banyak rintangan yang mencoba menjajah dan membelenggu manusia. Manusia harus
memperjuangkan diri untuk lepas dari
belenggu, yang secara lansung atau tidak manusia dijajah oleh alam,
masyarakat, tradisi, dan kini belenggu yang modern yaitu tekhnologi.
Dalam
hal ini perhatikanlah sebuah belenggu yang sangat sukar untuk dielakkan, yang
telah ada sejak zaman dahulu, yang telah dipraktekkan oleh nenek moyang serta
secara turun temurun dan terus diwariskan kepada anak cucunya sebagai generasi
pelanjut, mungkin saja kelak akan diturunkan pula kepada generasi muda penerusnya,
yaitu belenggu tradisi.
Tradisi
itu dimiliki oleh setiap suku bangsa dengan coraknya masing-masing, yang
dikenal dengan sebutan ”kebudayaan nenek
moyang”. Pada saat ini sedang hangat-hangatnya agar generasi muda
memelihara kelestariannya yang penuh dengan bid’ah, tahyul dan kurafa. Otak tak
dapat untuk berfikir, perasaan tak dapat untuk mempertimbangkan lagi, segalanya
nampak baik, nampaknya praktek ibadah padahal praktek bid’ah,sehingga
terjadilah percampuran antara ibadat dengan adat, yang haq dengan yang bathil.
Sedangkan Allah telah memperingatkan dalam surat Al Baqarah ayat 42 sebagai
berikut, ”Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan bathil,dan janganlah
kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui”.
Tidak
sedikit orang yang mengaku modern tetap bertahan pada prinsip adat peninggalan
nenek moyang yang tidak sesuai dengan ajaran agama, baik pedagang, pelajar
maupun masyarakat umumnya masih saja mendatangi kuburan tua, atau gunung
ataupun laut untuk mencari berkah agar usahanya lancar, studinya sukses dan
jabatannya tetap diakui masyarakat.
Seorang
insinyur yang mempunyai ilmu modern mengerahkan usahanya untuk menanam kepala
kerbau di dasar bangunan yang sedang dilaksanakan, agar bangunan tersebut dapat
kokoh dan bertahan lama. Dengan fikiran yang kiranya dapat dipertimbangkan akal
sehat, walau sepuluh kepala kerbau yang dikubur di dasar bangunan itu, tetapi
bahan-bahan bangunannya dikorup dan diselewengkan, serta tidak dikerjakan
dengan ilmu yang benar, maka bangunan itu akan hancur dalam waktu singkat.
Tetapi tanpa kepala kerbau kalau dikerjakan dengan ilmu yang benar, sesuai
dengan perhitungan maka dapat dijamin kekokohan bangunan itu.
Walaupun
demikian, tidak masuk akalnya tapi sulit untuk meninggalkan hal yang telah
mendarah daging dihati pewaris tradisi, mereka punya prinsif sebagaimana yang
dilukiskan Allah dalam surat Al Baqarah ayat 170, ”Dan apabila dikatakan kepada mereka, ”Ikutilah apa yang telah
diturunkan Allah”, mereka menjawab, ”Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa
yang telah kami dapati dari perbuatan nenek moyang kami”, apakah mereka akan
mengikuti juga walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun,
dan tidak mendapat petunjuk di jalan yang lurus ”.
Manusia
kini hanya bisa bertaqlid kepada adat nenek moyang yang tidak mendapat petunjuk
dari Allah Swt. Sebagai catatan, bukan
berarti semua tradisi adat itu jelek, tetapi ambillah yang baik dan
singkirkanlah yang tidak sesuai dengan ajaran islam, lalu kembalilah kepada ikrar ”Laa Ilaaha Illallah”. Tidak ada kebenaran yang wajib diikuti
selain kebenaran yang datang dari Pemilik Kebenaran [Allah].
Di dalam kalimat syahadat terkandung
aqidah, iman dan keyakinan seseorang kepada Allah dan kepada Rasul serta
terhadap seluruh rangkaian rukun iman. Iman tidak sekedar ucapan di bibir tapi
harus nampak pada tiga hal yaitu; perkataan dengan ucapan lisannya dapat
dibuktikan keimanannya [24;51],iman juga harus terhunjam di hati sanubari yang
paling dalam [8;2] serta direalisasikan melalui amal perbuatan sehari-hari
[103;1-3, 2;25]
Iman yang terhunjam di hati, terucap di
lisan dan teraplikasi melalui amal perbuatan sehari-hari akan membentuk iman
yang istiqamah yaitu iman yang kokoh, stabil dan kuat, tidak akan lapuk karena
hujan dan tidak akan lekang karena panas, Allah berfirman “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan,”Tuhan kami ialah Allah”
kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada
mereka dengan mengatakan “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa
sedih, dan gembirakanlah mereka dengan memperoleh syurga yang telah dijanjikan
Allah kepadamu” [Fush Shilat 41;30]
Iman yang istiqamah tidak akan tergiur
oleh kondisi zaman yang berubah-ubah, ibarat batu karang yang ada di tengah
lautan, walaupun dihantam oleh hujan, ombak, badai, cuaca yang tidak menentu,
maka dia semakin kokoh, bahkan semakin tegar. Iman yang model begini sulit
sekali membentuknya, selain dengan da’wah yang efektif juga harus disertai
dengan tarbiyah zhatiyah yaitu pendidikan pribadi, sang pribadi berusaha untuk
merubah dirinya dengan belajar secara individu melalui sirah para rasul dan
sahabat, mengkaji buku-buku berkualitas serta hidupnya berada dalam lingkungan
jama’ah shalihah yaitu lingkungan yang baik.
Iman yang istiqamah akan membentuk tiga sikap yaitu; syaja’ah artinya jiwa keberanian dalam menghadapi seluruh asfek
kehidupan, tidak ada yang dia takuti kecuali rasa takut itu sendiri [5;52],
yang kedua membentuk sikap al itmi’nan
yaitu ketenangan dalam hidup, tidak ada beban mental dalam menghadapi kehidupan
ini, bagi dia hidup harus dijalani apa adanya, derita dan bahagia hanya
dinamika hidup yang harus dinikmati, bila mendapat kebahagiaan maka layaklah
bila bersyukur dan sebaliknya harus bersabar bila derita dirasakan [13;28] serta
membentuk sikap tafaul yaitu sikap
hidup yang optimis [24;55]
Orang yang mampu meraih tiga sikap hidup
tersebut, inilah model manusia yang akan meraih kebahagiaan hidup di dunia
maupun akherat [8;65]
”Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua
puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua
ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya
mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan
orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti”
Kalimat syahadat bukan saja syarat
seseorang masuk Islam tapi memiliki beberapa kepentingan dalam kehidupan
seorang mukmin, syahadat merupakan pintu
gerbang ke dalam Islam [47;19] sebelum seseorang menggali lebih jauh inti
sari ajaran Islam maka terlebih dahulu harus mempelajari kandungan dan isi
serta makna syahadat, ibarat sebuah rumah, sebelum masuk kamarnya tentu masuk
melalui pintu gerbangnya terlebih dahulu.
Syahadat merupakan inti ajaran Islam [21;25], ayat Al Qur’an dan Hadits Rasul
yang jumlahnya sekian ribu, intinya hanya satu yaitu mengajak manusia untuk
mentauhidkan Allah, bahkan seandainya Al Qur’an dan Hadits tidak diturunkan
Allah, maka cukuplah Kalimat Syahadat itu saja, sudah mengajak kita ke jalan
Allah yang sebenarnya. ”Mereka
menjawab: "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah
kamu termasuk orang-orang yang bermain-main”
Syahadat merupakan dasar perubahan dan
dasar pembaharuan ummat, siapa saja yang mau hidupnya baik, maka harus kembali
mengamalkan kalimat tauhid ini [6:122] bila tidak dan bahkan mencari kalimat
lain tentu saja mereka akan sesat.”Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami
berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan
di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada
dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?
Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah
mereka kerjakan.”
Syahadat merupakan keutamaan yang agung, Allah menggambarkan bagi orang yang
mengamalkan kalimat syahadat seperti pohon yang tegar, akarnya menghunjam ke
bumi, daunnya menjulang ke langit dan setiap musim memberikan buah kepada
penduduk bumi, dan sebaliknya, orang yang tidak mengamalkan kalimat syahadat
seperti pohon yang sudah meranggas, akarnyapun sudah tercerabut sehingga tidak
ada manfaatnya [14;24-27]
”Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat
yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke
langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.
Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu
ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah
dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak)
sedikitpun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang
teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan
orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.”
Syahadat merupakan hakekat da’wah para
Rasul, semua Nabi dan
Rasul hanya mengibarkan satu bendera yaitu “Laa Ilaaha Illallah” mereka
berkewajiban mengajak manusia untuk mengesakan Allah dan menjauhi syirik [3;21,
16;37] ”Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka
sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan
sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong”.
Syahadat adalah ucapan ringan dan mudah
dilafazkan tapi besar timbangan amalnya, itu baru ucapan apalagi mengamalkannya, zikir
yang paling tinggi nilainya adalah kalimat ini, perjuangan yang paling agung
adalah menegakkan kalimat ini, itulah makanya Nabi Ibrahim harus berhadapan
dengan Namrudz, Nabi Musa harus bersiteru dengan Fir’aun serta Nabi Muhammad
harus berlainan aqidah dengan pamannya, dalam sebuah hadits Rasulullah
bersabda, ”Barangsiapa yang hadir kepada seorang raja yang zalim untuk
menyatakan kebenaran [tauhid] lalu dia dibunuh maka itulah kematian yang
mulia”.
Jalan mengantarkan manusia ke syurga juga
adalah kalimat syahadat sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari “Barangsiapa yang akhir katanya,”Laa Ilaaha
Ilallah”, maka dia akan masuk syurga”. Yang dimaksud dengan hadits ini
bukanlah sekedar ucapan, tapi diiringi dengan amal perbuatan, mustahil kiranya
orang yang amal hariannya jauh dari kalimat tauhid lalu ketika meninggal dapat
membaca kalimat ini, demikian pula sebaliknya orang yang seluruh potensi hidupnya
menjalankan kalimat syahadat, lalu saat kematian dia tidak sempat membaca
kalimat ini tentu tidak dapat dikatakan hidupnya sia-sia, jangan kita melihat
orang meninggal dari sebab kematiannya, walaupun pecah dan hancur tubuhnya
kemudian dimakan hewan buas pula, tapi selama ini hidupnya memperjuangkan
kalimat ini, maka Insya Allah baiklah kematiannya.
Syahadat merupakan pesan abadi dari Allah, sejak dari zaman Nabi Adam hingga
berakhirnya dunia ini [21;25] seluruh ummat yang shaleh mengamalkan, memperjuangkan
dan mempertahankan kalimat ini agar tegak dan jaya di bumi Allah ini. “Dan Kami tidak mengutus
seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya:
"Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah
olehmu sekalian akan Aku."
Syahadat
merupakan tonggak rukun iman, sia-sia rukun iman seseorang bila
syahadatnya tidak duduk [4;158] sehingga sepak terjangnya banyak melanggar
kalimat ini, dan sekaligus kalimat
syahadat merupakan ruh islam [25;23] dengan ini Islam itu hidup hingga
bertahan sampai detik ini walaupun segala makar dikerahkan untuk mengalahkan
agama Allah tapi tak berdaya juga
menghancurkan Islam dan ummatnya, karena bagi seorang muslim tidak ada kamus
kalah dalam perjuangan, mati sekalipun dalam menjalankan kalimat ini adalah
sebuah kemenangan.
“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal
itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”
Demikian pentingnya kalimat syahadat bagi
seorang muslim sehingga layak bila dia tetap mempelajari kalimat ini,
mengamalkan dan melandasi perjuangannya dengan kalimat ini. Kenapa ummat islam
terlalu banyak menyeleweng jalan
hidupnya ? karena dia belum menghayati kalimat syahadat, kalimat tauhid ini
belum duduk di sanubarinya, baru sekedar ucapan belum jadi amal dalam
kehidupannya sehari-hari.
Kalimat syahadat ini, dimurnikan oleh
Allah dalam beberapa ayat, untuk menghunjamkan tauhid ke dalam hati ummatnya “Katakanlah,’’Dialah Allah yang Maha Esa”
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada –Nya segala sesuatu. Dia tidak
beranak dan tidak diperanakkan, dan
tidak ada satupun yang setara dengan Dia”[112;1-4] [Solok, 01042000]
Sebenarnya orang-orang kafir Quraisy
dahulu juga mengakui Allah sebagai Pencipta [7;52], Pemberi rezeki [10;31-32],
Pengatur alam jagad raya [39;4-6], sebagai Penguasa [35;11-14], Maha Perkasa
[30;26-30] namun demikian mereka hanya mengakui Allah sebagai “Rabb” saja, tapi
menolak Allah sebagai “Ilah”, mereka tidak mau mengakui Allah sebagai Tuhan
yang wajib disembah [114;3], sebagai Tuhan yang wajib dicintai [2;165, 9;24]
sebagai Tuhan yang berhak ditaati segala aturannya [2;285, 24;51] dan mereka
juga menolak Allah sebagai satu-satunya Penolong dalam hidup ini [2;257]
”Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain.
Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan
sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami
berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia
dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah
berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah
datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih,
maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir.
Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi
Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya”.
Itulah pengakuan kafir Quraisy kepada
Allah tidak murni, tauhid mereka dicampuri dengan noda-noda syirik, mereka
mengenal Allah sebatas apa yang mereka dapat lihat dari hasil perbuatan-Nya
tapi tidak mau kenal Allah hingga mendatangkan ketaatan dan ketundukan
kepada-Nya.
Seorang mukmin yang telah menyatakan diri
sebagai muslim dengan mengucapkan kalimat syahadat dituntut untuk memurnikannya
agar syahadat tersebut diterima Allah, bila melanggar aturan Allah otomatis
telah merusak tatanan syahadatain, tentu saja syahadatnya batal dan tidak
diterima Allah, dimanakah posisi seseorang yang syahadatnya batal dan tidak
diterima Allah ?
Ada beberapa syarat agar syahadat kita
diterima Allah dan tercatat sebagai muslim yang tidak hanya formalitas tapi
terujud dalam segala asfek kehidupan lalu mengantarkannya ke alam akherat
dengan segala kemenangan, syarat yang dimaksud adalah;
Pertama, syahadat akan diterima
Allah bila seseorang itu mampu menghindari segala prilaku jahiliyah pada
seluruh asfek kehidupan.
Yang dimaksud dengan jahiliyah adalah segala tata aturan kehidupan manusia
diluar konsep Islam, baik berasal dari adat istiadat, budaya barat maupun
pemikiran manusia lainnya, hal ini bisa saja dalam sistim perdagangan yang
cendrung menjalankan praktek ribawi, dalam bidang budaya bercorak primitif,
dalam pergaulan dengan watak permisiv [serba boleh], dalam bentuk agama
bersifat sinkritis [semua agama sama] dan seluruh kehidupan yang jauh dari tata
aturan Islam.
Disamping itu orang-orang jahiliyah selain
beriman kepada Allah mereka juga mencari tuhan-tuhan lain sebagai tandingan
[47;19] yang menghancurkan keimanannya. Bagi seorang muslim dia harus mampu
menerapkan Islam dalam seluruh asfek kehidupannya secara kaffah [menyeluruh
2;208].
”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan,
dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu
musuh yang nyata bagimu.”
Kedua, keimanan seseorang akan
ditolak Allah walaupun telah mengucapkan syhadat bila dalam hatinya terbersit
sedikit saja keraguan,
ragu dengan hukum Allah, ragu dengan segala ketentuan Allah dan ragu dengan
segala aturan yang dirancang Allah melalui wahyu-Nya, sehingga mengharuskan
ummat untuk merevisi Al Qur’an bahkan Al Qur’an dikatakan bertentangan dengan
zaman, sebenarnya kita tidak perlu ragu dengan segala keimanan kita bila
syahadat tersebut telah duduk di hatinya, namun demikian Allah membalas imannya
sesuai dengan keyakinannya itu [49;15]
”Sesungguhnya orang-orang yang
beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan
Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad)
dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang
benar”.
Ketiga, syahadatain akan diterima
Allah bila menjauhi syirik, inilah penyakit terbesar ummat ini, imannya ternoda oleh kemusyrikan
sehingga iman demikian tidak ada lagi artinya kecuali mereka bertaubat [31;13],
syirik yang paling ringan adalah beribadah bukan karena Allah, ini saja sudah
cukup untuk memasukkannya ke neraka dan menggugurkan amaliyah ibadah seluruhnya
[98;5], orang yang mampu membersihkan tauhidnyalah yang tidak akan tergiur oleh
rayuan dan godaan iblis, karena relung hatinya telah terisi penuh dengan
tauhidullah [15;39-40]
”Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa
aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat)
di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali
hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka."
Keempat, syahadat kita tidak akan
bermakna di sisi Allah bila terselip di hati kita sifat nifaq, yaitu imannya hanya di bibir saja
sedangkan hatinya menolak keimanan tersebut [2;8], bila ini terjadi maka
sia-sialah keimanan seseorang, ibadah yang dilakukan hanya mendapat letihnya
saja tanpa hasil yang dapat dibawa ke akherat. Rasulullah menggambarkan watak
munafiq itu dengan tiga ciri; bila berbicara dusta, bila berjanji ingkar dan
bila diberi amanat dia khianat.
”Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan
Hari kemudian, pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.”
Kelima, syahadat akan diterima
Allah adalah syahadat yang diiringi dengan amal shaleh ,amal merupakan ujud nyata dari persaksian
[8;2], imanpun harus terhunjam di hati
nurani [8;2] dan terucap di lisan [24;51]. Bila iman hanya di hati saja maka
Fir’aun juga beriman [10;90], atau syahadat hanya terkesan di bibir saja, maka
munafiq lebih beriman dari pada kita [2;8], iman yang hanya terlihat pada amal
saja tanpa didorong oleh motivasi hati nurani untuk berbuat maka nilainya
sia-sia.
”Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat
baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di
dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka
mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu."
Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada
isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya” Al
Baqarah 2;25]
Keenam, syahadat harus teraplikasi
melalui ketundukan kepada Allah tanpa dicemari oleh pembangkangan. Secara amal sebenarnya Iblis telah
banyak beramal dari pada Nabi Adam bahkan
dialah senioritas dibandingkan makhluk Allah yang lain, hadits
Rasulullah juga menginformasikan bahwa tidak ada tanah yang kosong di dunia
ini, semuanya telah digunakan oleh Iblis untuk menyembah Allah, tapi penyembahan
Iblis tadi tidak diiringi oleh sikap loyalitas yang penuh kepada Allah sehingga
begitu Allah memerintahkannya untuk sujud, nampaknya ketika itu Iblis tidak
loyal kepada Allah sehingga gugurlah semua ibadahnya dan dia dicap oleh Allah
sebagai makhluk yang terlaknat [15;39].
Adapun rukun kalimat syahadat adalah
pertama meniadakan seluruh bentuk tuhan-tuhan kecil yang ada di dunia ini, baik
tuhan hawa nafsu [25;43], tuhan patung dan berhala [26;69-76], tuhan dari jin
dan malaikat [34;40-41], tidak menjadikan para nabi sebagai tuhan [3;79] serta
meninggalkan tuhan-tuhan thaghut [2;256].
”Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas
jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar
kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, maka
sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak
akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Sedangkan rukun kedua dari syahadat atau
kalimat “Laa ilaaha illallah” adalah menetapkan bahwa Tuhan yang berhak
disembah hanyalah Allah semata, dalam surat Al Anbiya’ 21;25 Allah berfirman, ”Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun
sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya,”Bahwasanya tidak ada Tuhan
melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.
Bagi
orang yang mengucapkan syahadat, mempelajari, menghayati serta memperjuangkan
akan mendapat fadhilah yaitu keutamaan; aman dari azab Allah di dunia dan di
akherat [6;82] dan merupakan sebaik-baiknya iman sebagaimana sabda Rasulullah,”Iman itu ada 70 cabang, yang penting dan
utama adalah Laa Ilaaha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan duri
dari jalan”[HR.Muslim], dengan syahadat akan menghapuskan segala dosa dan
maksiat yang dilakukan seorang muslim, kalimat ini pula yang menyebabkan kita
masuk ke syurga dan tidak kekal di neraka, Rasulullah bersabda,”Allah berfirman,”Barangsiapa menemui-Ku
dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun maka ia masuk syurga,
barangsiapa menemui-Ku dengan sesuatu perbuatan syirik pasti ia masuk neraka”[HR.Muslim].
Itulah
sebabnya Lukmanul Hakim sejak dini membersihkan hati anaknya dari noda-noda
syirik yang dapat merusak tauhid seseorang [31;13] dan menjadikan pondasi
pendidikan itu adalah tauhid yang bersih setelah itu baru yang lain seperti
hormat kepada orangtua, shalat, zakat, amar ma”ruf nahi mungkar,
“Dan (ingatlah) ketika Luqman
berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai
anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan
(Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." walllahu a’lam [Cubadak Solok, 15
Ramadhan 1431.H/ 25 Agustus 2010]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar