Semua
manusia merasa dirinya yang mulia lagi terpandang bahkan orang yang hina sekalipun
tidak mau dikatakan hina, mereka ingin diletakkan sebagai orang yang mulia
sesuai dengan kapasitasnya, memang manusia membutuhkan kemuliaan hidup di dunia
dan itu merupakan fithrahnya bahkan kemuliaan juga merupakan hak yang harus
diperjuangkan.
Kemuliaan
yang disandang manusia diperoleh dari berbagai keistimewaan yang dimiliki,
orang bisa mulia karena harta yang banyak, karena jabatan yang diembannya
bahkan secara fisik kemuliaan itu juga dapat disebutkan karena gagah atau cantik atau karena tubuh yang perkasa,
demikian banyak peluang mulia yang bisa kita rebut di dunia ini sehingga kita
jadi orang yang mulia di hadapan manusia sekitarnya. Tapi dengan adil tanpa
membedakan atribut kemuliaan lainnya, Allah meletakkan kemuliaan itu
berdasarkan ketaqwaan;
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal.Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah
ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.Sesungguhnya Allah Maha mengetahui
lagi Maha Mengenal.” [Al Hujurat 49;13].
Pribadi
yang mampu menampilkan ketaqwaan akan melahirkan keluarga dan masyarakat hingga
ummat yang mulia pula karena untuk menciptakan kemuliaan kolektif berawal dari
kemuliaan pribadi-pribadi.
Bila
kita telah mengetahui bahwa kita diciptakan sebagai umat yang dimuliakan Oleh
Allah a dengan beRbagai keutamaan yang beRlimpah daRipada umat yang lain
sepeRti pemimpin, syaRiat, kitab suci, dan yang lainnya, maka sudahkah kita
meRasakan, dan menemukan kemuliaan dan keutamaan itu pada diRi kita? Sudah-kah
kita menyadaRinya dan teRus mempeRtahankan seRta mempeRjuangkannya? Bila tidak
kita temukan, tidak kita Rasakan, apalagi menyadaRinya, mana mungkin kita mampu
untuk mempeRtahankan dan mempeRjuangkannya?
Jika kOndisi kita
sepeRti ini, yaitu tidak tahu akan kedudukan dan kemuliaan yang dianugeRahkan
Allah kepada diRi kita, dan bahkan sebagian kita melakukan tindakan yang tidak
patut sebagai umat yang mulia, melaksanakan laRangan yang sehaRusnya dijauhi
atau meninggalkan peRintah yang mestinya ditaati, maka maRilah kita beRtaubat
dengan segeRa, mulai saat ini juga, selagi kesempatan untuk beRtaubat masih teRbuka
lebaR di hadapan kita!
Bukti kemuliaan kita sebagai umat pilihan adalah kita dianu-geRahi Kitab yang sempuRna dan Relevan sepanjang zaman yaitu al-QuR`an yang suci, dan kita diwajibkan menaatinya, memahaminya, dan kita haRus menggunakan akal kita untuk mentadabbuRinya, Allah ta’ala beRfiRman,
"Kitab yang kami tuRunkan kepadamu penuh
dengan beRkah supaya meReka mempeRhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat
pelajaRan ORang-ORang yang mempunyai pikiRan." (Shad: 29)
Itulah bukti
kemuliaan kita sebagai umat Islam, Allah Ta’ala beR-fiRman,
"Dan
ORang-ORang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyem-bahnya dan kembali
kepada Allah, bagi meReka beRita gembiRa; sebab itu sampaikanlah beRita itu
kepada hamba-hamba-Ku, yang mende-ngaRkan peRkataan lalu mengikuti apa yang
paling baik di antaRa-nya.MeReka itulah ORang-ORang yang telah dibeRi petunjuk Oleh
Allah dan meReka itulah ORang- ORang yang mempunyai akal." (Az-ZumaR : 17-18)
Namun sudahkah kita mendapatkan kemuliaan itu?
Kita haRus mengakui bahwa masih sangat sedikit di antaRa
kita yang mendapatkan kemuliaan itu, dan Allah Ta’ala adalah Dzat yang tiada
peRnah beRbuat zhalim sedikitpun kepada hambaNya, apalagi kepada hamba yang
beRiman dan beRtakwa kepadaNya.
"MeReka beRgiRang hati dengan nikmat dan
kaRunia yang besaR daRi Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala
ORang-ORang yang beRiman." (Ali-ImRan: 171).
Maka sebagai umat yang jujuR, maRilah kita mengakui bahwa
kita secaRa mayORitas belum melakukan amal shalih atau belum melaksanakan pOkOk
kemuliaan umat ini yaitu melakukan nasihat menuju kepada Allah dan kitab
suciNya al-QuR`an. Nasihat menuju kepada Allah q aRtinya beRamal ibadah dengan
sebaik-baiknya ke-pada Allah Ta’ala, ikhlas, meneladani, dan menaati RasulNya
Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala beRfiRman,
"Hai
ORang-ORang beRiman, penuhilah seRuan Allah dan seRuan Rasul apabila Rasul
menyeRu kamu kepada suatu yang membeRi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah
bahwa sesungguhnya Allah membatasi antaRa manusia dan hatinya, dan sesungguhnya
kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan." (Al-Anfal : 24).
Itulah janji Allah jika kita telah memenuhi seRuan Allah dengan sesungguhnya, janji yang beRupa kebahagiaan hidup di dunia dan di akhiRat kelak. Namun kenyataan yang ada sekaRang sungguh sangat menyedihkan, di mana mayORitas umat muslim telah melalaikan peRintah yang telah digaRiskan Oleh Sang pencipta, sehingga kebahagiaan yang dijanjikan menjauh daRi pRibadi-pRibadi meReka.[ Waznin Mahfud,Menjadi Umat yang Mulia, Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, DaRul Haq JakaRta]
Kemuliaan
ummat islam akan tergambar pada praktek hidup sehari-hari melalui akhlkul
karimah yaitu akhlak yang mulia. Nabi bersabda, ”Sesempurna-sempurn a orangyang beriman imannya, ialah yang lebih baik
akhlaknya” [HR. Turmuzi]. Artinya; iman tidak bisa men jadi sempurna kalau
tidak disertai akhlak yang mulia, sehingga seorang mukmin belum dianggap
sempurna imannya kalau akhlaknya tidak baik. Dengan akhlak baik, apapun yang
dilakukan sekalipun membangun fisik kehidupan peradaban dunia akan menghasilkan
bangunan yang mampu bertahan sekian tahun.
Akhlak tersebut juga hampir sama
dengan budi pekerti, etika, moral dan tata susila, sebenarnya akhlak tidaklah
identik dengan semua itu karena orang yang berakhlak bertaggungjawab kepada
Allah sebagai sumber humum, sedangkan budi pekerti dan sebangsanya produk dan
pertanggungjawabannya kepada manusia. Terlepas dari perbedaan tersebut bila
seseorang telah berakhlak berarti telah melaksanakan tugas kehidupan di tengah
masyarakat dengan pedoman ajaran yang diwahyukan Allah dan bertanggungjawab
kepada-Nya. Karena akhlak memegang peranan penting dalam segi kehidupan maka
dapat dijadikan ukuran sampai dimana tinggi rendahnya pribadi seseorang, sehingga pembinaan akhlak penting bagi kehidupan
manusia, Rasulullah bersabda, ”Aku diutus
untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” [HR. Ahmad].
Bahkan status bangsapun ditentukan
oleh akhlak rakyatnya sebagaimana syair yang digubah oleh Sauqi Bey, “Satu bangsa terkenal lantaran budinya,
kalau budinya tidak ada lagi, nama bangsa itupun hilanglah”. Dalam ajaran
Islam bila seseorang berakhlak tercela bukan saja dibenci dan merugikan orang
lain tapi menanggung dosa dan kesalahan, sebab timbulnya dosa dan kesalahan
salah satunya sempitnya lapangan hidup sehingga dia tidak melihat orang lain melainkan mementingkan
dirinya saja, inilah yang disebut dengan egoistis, tidak diperhatikan kalau
akhlaknya itu [tercela] merugikan orang lain.
Orang-orang yang berakhlak tinggipun
kadangkala membuat kesalahan, bukan kepada orang lain tapi kepada dirinya
sendiri, dia berusaha memperbaiki akhlak masyarakat namun melupakan keselamatan
dan kesehatan pribadi sebagai mana Socrates
yang terkenal itu, terlalu banyak memikirkan dan memperbaiki manusia kearah
yang lebih manusiawi lalu dia mengurus diri sendiri. Sayid Jamaluddin Al Afghani lantaran hendak memperbaiki ummat Islam
seluruh dunia ini, dia lupa memikirkan kepentingan dirinya sehingga tidak
sempat mendirikan rumah tangganya karena tidak menikah hingga akhir hayatnya.
Akhlak diperlukan oleh semua ummat
Islam dalam rangka hidup bermasyarakat
dengan landasan syariat agama dengan contoh teladan Nabi Muhammad Saw, dia bukan diperlukn oleh para ulama dan orang
terkemuka saja tapi siapapun, jabatan apapun disandangnya, baik sebagai
pemegang dan pengendali roda pemerintahan. Bila mereka berakhlak mulia tentu
rakyat tentram, tidak akan terjadi penyelewengan kekuasaan yang merugikan
bangsa.
Pengusaha yang berakhlak akan
memperlakukan karyawannya dengan baik, usahanya bergerak bukan sekedar mencari
keuntungan saja tapi berwawasan lingkungan, memperhitungkan baik buruk, untung
dan rugi yang diderita masyarakat karena perusahaannya, udara, bumi dan polusi
suara yang mendatangkan pencemaran pada lingkungan.
Seorang saudagar bila mempunyai akhlak akan mencari laba sesuai dengan
ajaran Islam, tidak akan mempermainkan harga dan tidak akan mengicuh dalam
timbangan, takaran dan sukatan. Dalam profesi apapun, sejak dari guru, dokter,
pengacara dan pengarang harus memiliki akhlak, dia menjalankan profesi bukan
sekedar rutinitas dalam gerak kehidupan untuk memenuhi tuntutan duniawi tapi
mengandung ibadah kepada Allah, karena ibadah secara luas artinya segala
aktivitas hamba demi mencari keridhaan Allah dan jalan banyak untuk menggapai
ridha itu. Sungguh terlalu banyak jenis pekerjaan yang dapat dilakukan manusia,
tidaklah ada pekerjaan yang hina asal halal, tiap-tiap pekerjaan ada gunanya
selama membawa faedah kepada dirinya sendiri, memberi faedah pula kepada
masyarakat lalu berpahala asal didukung oleh akhlak yang luhur dengan landasan
iman.
Akhlak memiliki standard dan teladan yang dapat dijadikan
sebagai ukuran dan contoh dalam kehidupan tapi moral, etika dan sebangsanya
sulit mencari ukuran dan figur yang layak diikuti karena dibuat oleh manusia,
bersifat lokal dan teoritis lebih banyak dari pada praktis, namun akhlak bagi
seorang muslim mempunyai standard dan
figur yang dapat dijadikan teladan dalam kehidupan yaitu pribadi Nabi Muhammad
Saw dan para sahabatnya. Manusia lain dapat dan boleh ditiru dalam kebaikan
tentu saja ada kekurangannya pasa satu sisi lain tercela tidak ada manusia yang
sempurna karena dia memang tempat dosa dan kesalahan tapi pribadi Nabi Muhammad
segala asfek gerak hidupnya terjaga dari kesalahan dan dosa, inilah pribadi
agung yang dikirim Allah untuk manusia dari pengawasan wahyu yang disampaikan
bukan melalui teori dan pendapat manusia.
Munculnya akhlak mulia yang
tergambar pada setiap gerak dan sikap seorang muslim diawali dari keimanan yang
tauhid, yaitu iman yang bersih dari segala noda syirik.Tidak akan pernah ada, siapapun
yang dapat memberikan kemuliaan kepada manusia, kecuali manusia hanya dengan
bertauhid. Tauhidlah yang akan membangkitkan kekuatan dan harga diri
penganutnya.
Hanya Allah saja Yang Maha Kuat, dan hanya Allah saja Yang Maha
Perkasa.Hanya Allah saja yang berhak di sembah dan dibadahi.Hanya Allah saja,
yang layak dimintai pertolongan.Tak ada seorangpun manusia yang dapat
menandinginya.Seorang penganut “aqidah tauhid” tidak mau menjadi hamba sahaya dari siapapun.Penguasa manapun.Raja dan Presiden manapun.Apalagi menghamba kepada Raja dan Presiden yang zalim.Hakekatnya mereka adalah orang-orang yang lemah.Tidak memiliki kekuatan apa-apa. Karena itu, manusia yang menyembah manusia, meminta pertolongan, meminta perlindungan, menggantungkan hidupnya kepada sesama manusia, maka mereka akan tersungkur ke dalam lembah kehinaan.
Betapa banyaknya manusia hari ini yang menjadi hamba hina-dina, karena mereka memperlakukan manusia yang lemah itu, sebagai sesembahan mereka.Menjadi mereka tempat bergantung dan meminta pertolongan.Mereka menganggap yang namanya Raja dan Presiden mempunyai kekuasaan dan kekuatan yang dapat menjadi tempat mereka bergantung.
Mengagung-agung manusia dengan status yang dimilikinya, dan menafikan kekuasaan dan keesaan AllahTa’ala, maka manusia akan masuk ke dalam lubang kesesatan, yang tak mungkin dapat mengangkat dirinya kepda kemuliaan di hadapan Allah Ta’ala. Mereka menjadi manusia yang paling lemah, dan hina,baik dihadapan manusia dan dihadan Allah Rabbul Alamin.
Hari-hari ini Allah Azza Wa Jalla memperlihatkan dan membuktikan kepada manusia di seluruh muka bumi, bahwa manusia yang selama disangka kuat dan dengan kekuasaannya, bisa menjadi tempat bergantung dan melindungi mereka, satu demi satu berguguran dan tersungkur. Sekarang Allah perlihatkan kelemahan mereka dengan terang benderang.Seperti terangnya matahari di siang hari.
Para Raja dan Presiden yang disangka sebagai manusia yang paling ‘super’ dengan kekuasaan yang dimilikinya, kini berguguran, tanpa dapat menunda-nunda lagi.Mereka pergi dengan hina. Manusia-manusia yang selama ini telah menyatakan kesombongannya, dan tidak mau tunduk dengan Allah Rabbul Alamin, sekarang dipelihatkan akan datangnya kekuasaan Allah dihadapan mereka.
Aqidah tauhid menimbulkan harga diri yang amat tinggi dalam jiwa pemeluknya. Tidak ada orang-orang mukmin yang benar “haqqan” menjadi hina dina. Karena seluruh jiwa raganya hanya bersedia tunduk kepada Allah.Maka apapun yang terjadi dalam kehidupannya, tidak pernah mereka risaukan.
Seorang yang beriman wajib thaat kepada Raja, Presiden dan Sultan, hanya selama mereka masih menjalankan keadilan.Karena hanya Allah yang menyuruh berbuat adil, dan taat kepada keadilan. Seorang mukmin tidak akan pernah tunduk kepada kezaliman dan kebathilan. Karena Allah yang melarang kazaliman dan kebathilan.Dalam bentuk apapun.
Seorang mukmin tidak wajib tunduk kepada penguasa yang sombong dan angkuh.Karena yang memiliki kesombongan dan keangkuhan itu hanyalah Allah semata.Bukan manusia.
Orang-orang mukmin dibolehkan hormat dan menghormati kepada penguasa, seperti Raja, Presiden dan Sulthan, selama mereka masih berlaku adil, selama masih ber- “amar ma’ruf, nahyi munkar”, karena hanya itulah yang sesuai dengan kalimat : La ilaha illal Lah”[Mashadi, Hanya Dengan Tauhid Manusia Mendapat Kemuliaan, Eramuslim, Thursday, 03/03/2011 11:34 WIB]
Walaupun salah satu ujud mulia itu terletak pada kekayaan tapi tanpa kekayaan juga bisa meraih kemuliaan, artinya untuk mulia tidak harus menunggu kaya, untuk mulia tidak harus menunggu jadi penguasa.Ini sebuah kisah nyata: ada dua orang wanita yang tinggal serumah. Keduanya selalu menyisihkan sebagian harta yang dititipkan Allah pada mereka dengan cara berinfak. Hal ini mungkin bukan sesuatu yang menarik untuk dibicarakan.Tetapi tunggu, ulama tersebut melanjutkan kisahnya.
Siapakah kedua wanita yang tinggal dalam satu atap itu?Mereka bukanlah anak dan ibu atau kakak beradik.Lalu, siapakah gerangan mereka? Keduanya tak lain adalah seorang majikan dan pembantunya.
Tanpa diketahui oleh masing-masing, sang pembantu selalu menyisihkan rezeki yang diperoleh setiap kali menerima gaji, demikian pula dengan sang majikan. Secara logika kita pastinya berfikir bahwa penghasilan sang majikan lebih besar dari sang pembantu, maka infaknya pun tentu akan lebih besar. Sang pembantu, berapalah ia mampu infakkan, apalagi harus berbagi dengan kebutuhan hidup dan biaya pendidikan anak-anaknya.
Namun, Allah mempunyai matematika lain. Dengan gaji tak seberapa plus dipotong infak, ia hidup cukup. Anak-anaknya bersekolah sampai jenjang tertinggi.
Tentu saja bagi orang beriman yang mengakui bahwa hanya Allah yang berkuasa memberi rezeki, tak kan pernah heran atau terlontar tanya seperti demikian. Karena sudah jelas tercantum firman-Nya dalam Alquran:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 261).
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka, dan mereka akan mendapat pahala yang mulia.” (QS Al-Hadid: 18)
Demikianlah, Allah telah banyak menunjukkan salah satu contoh kekuasaan-Nya melalui kisah serupa.Sebagai sebuah pelajaran supaya cukuplah Allah tempat kita menyandarkan keyakinan sepenuhnya atas rezeki yang diberikan-Nya.Di samping itu kita tidak perlu merasa khawatir untuk bersedekah atau menginfakkan sebagian rezeki yang Allah titipkan tersebut karena janji Allah pastilah benar adanya.Kita pun tak perlu menunggu menjadi orang kaya untuk berbagi rezeki demi mendapatkan kemuliaan di hadapan-Nya.
“.... Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS Al Hujuraat [49]:13).[Ratna Utami,Menjadi Mulia Tak Perlu Menunggu KayaRepublika OnLine,Jumat, 11 Maret 2011, 07:28 WIB].
Kita boleh mulia karena berbagai ikatan, apakah ikatan darah karena keturunan raja atau orang ningrat, ikatan bisnis karena bekerja sama dalam mengembangkan usaha atau ikatan materi lainnya, semua ikatan itu tidaklah abadi tanpa diikat oleh iman dan taqwa, ikatan ini dapat mempersatukan manusia dari lapisan manapun.
Orang-orang yang menjadikan materi dan kepentingan dunia sebagai ikatan (tali buhul), maka hanyalah akan menyebabkan kehinaan dan kehancuran. Sejarah sudah membuktikan secara imperik, fakta-fakta kehancuran bagi siapa saja, yang membuat ikatan berdasarkan materi dan kepentingan dunia.Terjadi sepanjang sejarah kehidupan umat manusia.
Sejarah memberikan gambaran yang jelas, bagi siapa saja yang menyadarkan ikatannya dengan materi dan kepentingan dunia, akhirnya hanya terjatuh ke jurang kehinaan, dan menjadi manusia yang tidak berharga dihadapan sejarah umat manusia, dan juga kelak di akhirat.Tidak bisa lari dari kondisi itu.Ikatan yang mereka bangun hanya semu (artifisial), bahkan al-Qur’an menggambarkan seperti ‘sarang labah-labah’ (al-ankabut).
Dalam fase tertentu manusia satu sama lainnya, yang diikat berdasarkan ikatan materi dan kepentingan dunia, pasti akan diuji dengan nafsu masing-masing, nafsu yang tidak pernah dapat memuaskan siapapun. Manusia itu sendiri.Karena itu, ikatan yang mula-mula nampak kokoh dan kuat, kemudian menjadi porak-poranda. Manusia satu sama lainnya akan berebut dengan materi dan kenikmatan dunia. Akhirnya yang ada hanyalah permusuhan, seperti saling menfitnah, saling menuduh, saling menghancurkan, dan saling membunuh.
Mereka pasti akan memperebutkan sekerat materi dan kenikmatan dunia, yang menjadi kepentingan dan ittijah (orientasi) hidup mereka. Diantara mereka yang sudah memiliki materi tidak akan pernah terpuaskan dengan materi yang dimilikinya. Diantara mereka yang sudah berkuasa akan mempertahankan kekuasaannya dengan segala cara. Tanpa peduli. Mereka yang belum mendapatkan kekuasaan dengan segala cara akan mendapatkan kekuasaan. Masing-masing berebut.Tidak pernah usai.Terus belangsung sepanjang kehidupan ini. Sampai sebuah kehancuran yang akan menjadi sebuah fakta kehidupan.
Kisah yang paling tua, cerita tentang ‘Habil-Qabil’, hanya karena seorang wanita, yang akhirnya diantara kakak beradik itu tega membunuh.Padahal diantara mereka adalah saudara. Kalau yang menjadi tujuan dan ittijah adalah materi dan kepentingan dunia, maka rasa persaudaraan menjadi hilang, dan tidak ada yang mau mengalah, dan salah satunya harus memenangkan, dan demi mendapatkan yang menjadi tujuannya.
Kepentingan materi dan kepentingan dunia, hanyalah melahirkan permusuhan, kebencian, dendam, dan saling mendurhaka.Tidak ada ketulusan dalam hubungan.Semuanya hanyalah berdasarkan kepura-puraan. Satu sama lainnya, saling bersiasat dan mensiasati, dan ingin menguasai. Mereka yang dianggap tidak sesuai dengan tujuan dan yang menjadi kepentingan mereka akan disingkirkan. Ini sudah menjadi bagian dari sebuah sejarah, terutama mereka yang ikatannya berdasarkan kepentingan materi dan kenikmatan dunia.
Al-Qur’an memperagakan kisah yang sangat luar biasa bagi kehidupan ini.Terutama kisah ‘Triumvirat’, yang pernah berkuasa di Mesir kuno. Yaitu Fir’aun, Haman, dan Qarun. Triumvirat ‘Fir’aun, Haman, dan Qarun’, menyatu menjadi sebuah oligarki kekuasaan yang solid. Satu sama lain saling menopang dan menyokong. Seakan mereka itu menjadi simbul kekuatan kekuasaan, yang maha kuat, dan kokoh. Tak aneh bila sang penguasa yang adi daya ‘Fir’aun’, sampai berani dengan sikapnya yang sangat sombong, mengatakan, ‘Ana robbukumul ‘a’la’ (Aku tuhanmu yang maha tinggi).
Manusia yang sudah memiliki materi dan kekuasaan yang lebih, lalu pasti akan berlaku sombong, tidak mengingat asal kejadiannya, dan kemudian menapikan yang menciptakannya, yaitu Allah Rabbul Alamin.[Mashadi, Ikatan Berdasarkan Materi Hanya Membuat Kehinaan, Eramuslim, Rabu, 21/07/2010 14:40 WIB].
Begitu indahnya ajaran Islam yang diberikan Allah kepada hamba-Nya, Dia meletakkan posisi kemuliaan kepada manusia bukan karena ikatan materi, bukan pada paras yang cantik dan tidak pula pada keturunan seseorang, tapi terletak pada ketaqwaannya, lihatlan bagaimana mulianya Bilal bin Rabah dan Zaid bin Haritsah di mata Allah karena tingginya nilai taqwa mereka dengan pengorbanan yang tinggi terhadap islam, padahal mereka dahulu adalah budak hitam yang dipandang hina oleh orang-orang jahiliyyah, Allah tidak memandang paras dan penampilan fisik kita tapi yang dipandang itu adalah iman dan amal shaleh yang kita lakukan, wallahu a’lam [Batu Berendam Malaka Malaysia, 06 Rajab 1432.H/ 08 Juni 2011.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar