Manusia
pada awalnya hanya Nabi Adam dan isterinya Siti Hawa, yang akhirnya berkembang
menjadi sebuah suku dengan berbagai etniknya hingga bangsa dengan beragam budaya bahkan multi bangsa
yang tersebar di seluruh dunia.Perkembangan zaman dan kemajuan kehidupan
manusia yang mulanya berdiam pada sebuah rumah tangga akhirnya menjadi sebuah
negara yang menjadi komunitas besar. Hubungan antar negarapun menimbulkan
konflik yang tidak henti-hentinya saling menguasai satu sama lain, hukum rimba
berlaku, penjajahan terjadi, mempertahankan dan membela negarapun menjadi suatu
kewajiban.
Penjajahan adalah suatu keadaan yang sangat menyedihkan,
tiada lain yang terasa selain penderitaan, keterbelakangan, kebodohan serta
derita lainnya yang sulit dilukiskan sehingga mengusir penjajah adalah suatu
kewajiban setiap warga negara dengan segala daya dan upaya. Sebagaimana gerakan
spontan dari pahlawan islam dalam memperjuangkan Indonesia agar terlepas dari
belenggu penjajah.
Sekalipun para pejuang Indonesia itu mengalami derita dan
pahit yang dirasakan, namun pada akhirnya karena firman Allah dalam surat Al
Baqarah 2;216 selalu mendampingi setiap gerak langkah perjuangan yang berbunyi,
”Telah diwajibkan atas kamu berperang,
padahal itu berat bagi kamu, mungkin kamu membenci sesuatu padahal itu baik
buatmu, dan mungkin kamu menyukai sesuatu padahal itu berabahaya bagi kamu”.
Ummat islam tidak boleh mencari musuh, tetapi tidak boleh
lari darii kejaran musuh. Jika musuh tiba dihadapan haram melarikan diri, tidak
boleh menjadi pengecut demi tegaknya islam dan jayanya kaum muslimin, secara
serempak musuh harus diserang bersama-sama dan harus diusir pulang ke negeri
asal penjajah.
Peperangan memang suatu hal yang sangat dibenci, sesuatu
hal yang sangat memuakkan, suatu hal yang sangat menjemukan, karena harus
menelan korban jiwa dan raga. Namun ada kalanya akan merasakan kenikmatan bagi
siapa saja yang terjun di dalamnya. Dan ada kalanya diantara mereka lari dari
medan pertempuran, itulah suatu perbuatan yang sangat tercela dan membahayakan.
Kehadiran penjajah pada suatu bumi penjajahan bukan
sekedar mengeruk keuntunga materi yang terdapat didalamnya tapi lebih dari itu
bahkan menghancurkan peradaban bangsa yang dijajahnya, baik mereka kapitalis,
sosialis, komunis, salibis dan zionis.
Tradisi
negara-negara komunis yang akan menaklukkan bangsa lain, adalah dengan
menghancurkan akhlak atau moral bangsa yang bersangkutan, hal ini dijalankan
bagi usaha untuk merebut kekuasaan oleh kelompok komunis terahadap pemerintahan
setempat dengan jalan mematangkan dan mengeruhkan situasi dahulu. Kaum komunis
akan memanfaatkan segala ketakstabilan masyarakat dan negara, disamping
pura-pura mempertahankan status quo, sementara dengan jalan parlemen mereka
berusaha menjalankan brain drain terhadap idiologi bangsa setempat, dan juga
dengan cara menghancurkan moral bangsa. Maka mereka sengaja merusak moral
bangsa dengan pornoisme, ikut melegalkan segala yang berbau seks, perjudian,
narkoba dan sebagainya serta segala macam kenakalan remaja.
Bila semua itu telah tercapai maka terjadilah erosi
idiologi asli bangsa setempat. Dan inilah kesempatan yang paling baik untuk
mengembangkan ajaran komunis, karena bilamana moral bangsa telah hancur, maka
lemahlah pertahanan bangsa itu, karena moral bangsa itu termasuk ketahanan
nasionall bangsa tersebut.
Pada abad ke 19 ketika Mesir menjadi korban dari
penjajahan Napleon, yang kemudian juga disusul oleh Turki, masuknya Napoleon ke
Turki dan Mesir, adalah awal usaha untuk melakukan pembaratan terhadap dunia
Islam. Selama Perancis mendiami dan menjajah Mesir, terus menerus mencekoki
masyarakatnya dengan faham sekuler yang amat merusak aqidah islam. Berapa pemikir
[intelektual] melakukan kontak dengan pihak barat. Sehingga mereka termakan
oleh budaya sekuler itu, seperti ilmuan Abdurrahman dan Syaikh Hasan Attar,
yang sudah terpengaruh idiologi sekuler itu, menganjurkan untuk memisahkan
Mesir dari Khilafah Osmaniyyah. Sungguh itu merupakan pengkhianatan
terhadap Islam yang tidak terhingga.
Sampai Perancis melakukan perang melawan kekhalifahan Osmaniyyah, sama seperti
dilakukan orang-orang anti Islam, yaitu Charlemagne yang juga merupakan
penjajah.
Mengangkat martabat dan harkat bangsa di mata dunia
apalagi dari tindasan penjajah bangsa lain, baik penjajah fisik, ekonomi,
politik, budaya dan penjajahan idiologi merupakan kewajiban setiap warga
negara, perbuatan ini disebut dengan jihad fisabilillah, kalau perjuangan
membela bangsa dan negara dilandasi ridha Allah, Allah berfirman dalam surat An
Nisa’ 4;76, ”Orang-orang yang beriman,
berperang dijalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang dijalan thaghut,
sebab itu perangilah kawan-kawan syaithan itu, karena sesungguhnya tipu daya
syaitan itu adalah lemah”.
Jika seseorang menginfaqkan rezeki yang diperolehnya, ia
mengharapkan timbal baliknya, baik dari segi kehormatan atau materi di alam
fana, maka hal itu bukan ”Fisabilillah”
namun bila anda berbuat kebaikan terhadap fakir miskin dengan mengharapkan
keridhaan Allah, jangan disangsikan lagi pekerjaan anda itu mesti akan bernilai
fisabilillah. Dengan demikian fisabilillah adalah setiap pekerjaan dan
cita-cita anak manusia yang ikhlas dijalankan demi keselamatan dan
kesejahteraan sosial dengan mengharapkan ridha Allah tanpa disertai oleh rasa
hawa nafsu dan syahwat.
Silahkan membela kepentingan bangsa dan untuk menegakkan
negara berdaulat dengan segala kekuatan
dan daya upaya melalui profesi, prestasi tapi semata-mata karena Allah, tidak
dibungkus dengan maksud lain. Cinta kepada negara dan bangsa wajar dan boleh
saja tapi terlalu cinta kepada bangsa dan negara tidak dibenarkan dalam islam,
karena bagi ummat Islam tanah ummat Islam bukan Arab atau Indonesia saja,
dimana ada ummat Islam maka disanalah negeri Islam. Tentu maju dan mundurnya
menjadi tanggungjawab seluruh ummat Islam yang ada di dunia i ni. Tanah Islam
jauh membentang, penderitaan yang dialami
ummat Islam Moro, Afghanistan, Chechnya, Bosnia, Kasymir, Dagestan,
Ambon, Aceh sejak dari Maroko sampai Merauke, dari India sampai Palestina
merupakan masalah ummat Islam, walaupun terletak dalam negeri suatu bangsa,
tetapi tanggungjawabnya meliputi seluruh ummat Islam, Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa yang tidak memperhatikan ummat
Islam berarti dia bukanlah ummatku”.
Tentang perjuangan membela negara dan bangsa sesuai
kemampuan yang ada dilandasi dari mencari ridha Allah agar kalimat Allah tegak
di negara itu, untuk itu semua perlu adanya pembinaan pribadi sebagaimana kata
Ustadz Musythafa Mashur, ”Tegakkanlah
Islam itu di dirimu niscaya dia akan
tegak di negaramu”.
Seorang sahabat bertanya kepada Rasul, bagaimana bila ada
orang yang berjuang dan membela agama Allah karena kegagahannya, mengharapkan
ghanimah ? maka Rasulullah mengatakan bahwa pahalanya tidak akan diperoleh,
tapi seluruh aktivitas apa saja dalam rangka mencari ridha Allah, sesuai dengan
ghayah [tujuan], manhaj [sistim] yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya maka dia
akan bernilai ibadah dan mendapat pahala dari-Nya. Jabatan diraih dengan KKN
jelas sebuah kecurangan, walaupun akhirnya diperoleh dan jaya juga maka
dihadapan Allah tidak bernilai,
Kalau kita tengok kembali
perjalanan sejarah bangsa besar ini, kita akan menemukan bahwa peran,
kontribusi dan perjuangan umat Islam terhadap kemerdekaan begitu besar.
Tercatat dalam buku sejarah kita, para pahlawan, syuhada’ dari berbagai pelosok
negeri ini adalah nota bene mereka muslim. Mereka berjihad membela tanah airnya
dan menegakkan agamanya sekaligus.Dengan jiwa dan raga mereka membela negeri
ini. Ada Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah, ada Imam Bonjol di Sumatera, ada
Kapitan Pattimura Ahmad Lussy, ada Cut Nyak Dien, dan sederet nama-nama
pahlawan nasional lainnya, bahkan ada di antara kakek-nenek kita, orang tua
kita yang juga berjuang mengusir penjajah, namun mereka tidak tercatat sebagai
pahlawan dan tidak di makamkan di Taman Makam Pahlawan. Kemudian, para pendiri
negeri ini meneruskan perjuangan mereka dan memproklamirkan kemerdekaannya.
Para pendiri bangsa ini
meletakkan dasar negara Indonesia berasaskan Tauhid (penuturan saksi sejarah
kepada penulis).Itu terbukti secara konstitusional. Paling tidak ada 3 dalil
kanstitusional yang menguatkan hal itu:
Pertama,
bunyi pembukaan UUD 45 Alinia ketiga, “Atas berkat rahmat
Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya
berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini
kemerdekaannya.”Pernyataan tegas itu menunjukkan bahwa para pendiri
negeri ini sadar betul bahwa kemerdekaan ini bukan semata-mata jerih payah
mereka, tapi lebih pada karunia dari Allah swt.Ini sekaligus membuktikan bahwa
para pendiri negeri ini religius dan taat beragama.
Kedua,
adalah bunyi Pasal 29 Ayat 1 Undang-Undang Dasar, “Negara berdasar atas
Ketuhanan Yang Maha Esa.”Sebelum rumusan ini disepakati, bunyi ayat
itu adalah “Negara berdasarkan Ketuhanan dengan
kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.
Delapan kata yang terakhir dicoret, karena umat Islam sangat toleran terhadap
agama lain, dan untuk menggantikan delapan kata itu, disepakatilah satu kata,
yaitu Esa. Kenapa bukan Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Kasih Sayang dst., tapi
mengapa dipilih kata Esa. Karena Esa itu berarti Tauhid.Allah swt.berfirman: “Katakanlah,
Dialah Allah Yang Esa.” (Al-Ikhlas:1).
Ketiga,
adalah pasal 31 ayat 3 (hasil amandemen) tentang Pendidikan Nasional Indonesia.
Berbunyi, “Pemerintah mengusahakan dan
menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional,yang meningkatkan keimanan dan
ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang
diatur dengan undang-undang.”
Jadi kalau kita fair, ketiga
landasan konstitusional itu sudah menjadi bukti bahwa negeri ini didirikan
karena tekad kuat dari para pendirinya untuk maju, membangun dan menjadi negara
yang besar berlandasan tauhid.[Negara
Bertauhid itu Bernama Indonesia ,dakwatuna.com,18/8/2010 | 09 Ramadhan 1431 H].
Walaupun demikian kita tidak pernah
menyebut Negara ini sebagai Negara islam apalagi dizaman sekarang, konsep
Negara islam hanya tersimpan pada hati nurani masing-masing, kitapun tidak mau
mengatakan Negara ini sebagai Negara sekuler karena ada asfek-asfek agama yang
dijalankan oleh Negara, tapi usaha-usaha untuk memisahkan kepentingan Negara
dengan agama berlansung hingga kini apalagi adanya orang-orang sekuler dan
liberal mengupayakan hal itu di tanah air ini. Buya Hamka menyatakan dalam
tulisannya;
Trudeu menulis dalam bukunya, "Bangsa
Yang Terkurung", bahwa asal usul keluar gagasan, "Pemisahan
Negara Dengan Gereja", ini dari kalangan Katholik
Jerman.Sesudah mereka melihat kemenangan kaum Protestan dalam percaturan
politik.
Kaum Katholik memperjuangkan pemisahan itu, karena takut
kalau-kalau kemenangan mayoritas Protestan itu akan menindas hak minoritas
Katholik. Juga kita mengetahui betapa dahsyatnya peperangan yang terjadi antara
Protestan dan Katholik, seperti yang terjadi di Irlandia, yang berlangsung
berpuluh tahun.Bahkan, peperangan antara Protestan-Katholik itu, sampai membawa
raja mereka masing-masing.Kedua agama itu, pengikutnya antara Protestan -
Katholik, saling menghancurkan.
Peperangan antara kedua agama itu, baru berhenti sesudah
berlangsung selama 30 tahun, sesudah adanya perdamaian Westfalia di tahun 1810,
dan kemudian dilanjutkan lagi dengan Convenrentie Weenen
sesudah jatuhnya Napoleon.Esensi perjanjian Westfalia itu, antara lain :
Pertama, persamaan hak antara kerajaan -
kerajaan Eropa, baik dari penganut Katholik atau pun Protestan.
Kedua, hapuskan pengaruh Paus dari
negara.Sehingga, bebaslah negara-negara itu melakukan tindakan sendiri, baik
menentukan agamanya atau menentukan kebijakan politiknya.
Dalam pejanjian itu ditekankan bahwa "Hak-hak
Persamaan", ini hanya terdapat antara kerajaan - kerajaan
Kristen saja.
Sementara itu, terhadap kerajaan-kerajaan Islam, terutama
seperti Kerajaan Ostmasni di Istambul, Kerajaan Islam yang merdeka di Maroko,
tidak masuk dalam hal itu.Pendeknya dipandang tidak ada. Malahan dipandang sebagia
objek yang akan dibagi-bagi. Sementara itu, Convenrentie Weenen
adalah atas undangan Paus sendiri. Dua hasil yang paling pokok dari Konferensi
itu :
Pertama,
perseimbangan kekuatan Eropa.
Kedua,"Sumpah
Suci". Maksudnya ialah memperkokoh seni akhlak Nasrani ke
dalam dan keluar.Kedalam ialah dengan memperkuat masing-masing pemerintahan
negara. Keluar, memperkokoh hubungan diplomasi dan secara rahasia menyatukan
siasat dalam menghadapi Turki Islam!
Lodewiyck XVIII langsung memasuki Persekutuan itu, dan
dengan kembalinya kelaurga Bourbon menduduki Takhta Kerajaan Perancis dan
hancurnya kekaisaran Napoleon.
Belumlah lagi, Kristen sebagai agama ditolak, baik di Eropa
maupun di Amerika.Beberapa negara Eropa masih saja menuliskan undang-undang
dasarnya tentang agamanya yang resmi.Katholik ataupun Protestan.
Protestan dari kalangan Lutheran atau Calvinist.Kepala
Negara atau Raja masi tetap disebut pembela agama, atau memerintah atas "Kehendak
Tuhan".Agma sebagai sumber moral belum pernah mereka
tolak.Yang mereka tolak hanyalah Kekuasaan Paus se bagai Daulat Yang Maha
Tinggi, Pemegang Kunci Surga.Atau yang mereka tolak ialah campur tangan
golongan pendeta di setiap negara.
Salah satu yang direvolusikan oleh Perancis terhadap
Kerajaan Dynasti Bourbon ialah Perdana Menteri seorang Kardinal.Dan dari waktu
itu pulalah terdengar propaganda harus ada "toleransi",
karena perbedaan agama.Karena ketika itu kebencian memuncak diantara Protestan
dan Katholik msih sangat dirasakan.Sampai terjadi perang antara pengikut
Protestan dan Katholik di Irlandia, yang berlangsung dalam waktu yang panjang.
Para ahli fikir dan ahli-ahli negara merekapun masih
berpendapat dalam bentuk Kristen yang sekarang, adalah agama moral, bukan agama
yang mengandung syari'at.Selanjutnya, dalam perkembangannya, gagasan "Pemisahan
Negara dengan Gereja", (bukan dengan agama), kitapun dapat
menyaksikan bagaimana kegiatan Negara-negara Barat itu menyebarkan agamanya ke
negeri-negeri Muslim yang mereka jajah atau mereka pengaruhi.
Begitulah di semua negeri, dahulu di zaman penjajahan, dan
sekarang setelah negeri-negeri itu merdeka, usaha pengkristenan itu lebih
berlipat ganda lagi.Di luar dikampanyekan :"Tirulah kami!".
Pisahkan agamamu dengan negaramu! Menurut mereka menyebarkan agama Kristen ke
negeri-negeri Muslim , adalah "Mission Sacre" (Kewajiban
Rohani) yang sangat luhur.
Sedang di dalam negara mereka, mereka menuliskan :"Pemisahan Negara
dengan Gereja."Ajaran
yang bathil itu sekarang mau dicangkokkan kepada kaum Muslimin di negeri-negeri
Muslim dengan kekuatan mereka[Buya
Hamka, Kenalilah Esensi Ajaran Pemisahan Negara dengan Agama, eramuslim,
Senin, 09/05/2011 12:31 WIB].
Allah ciptakan mahluk dan
Allah sertakan bersama mereka nabi-nabi dan rasul-rasul sebagai utusan yang
menerangkan dan menjelaskan konsep tatanan hidup selama berada di alam yang
serba cepat dan fana ini, Allah turunkan pula kitab-kitab-Nyabersama para
utusan-utusan itu, sebagai aturan main di dalam dunia, baik hubungan sesama
mahluk, lebih-lebih hubungan mahluk dengan penciptanya. Di antara kitab-kitab
yang Allah turunkan ialah Al-Qur'an, mu’jizat nabi mulia yang menjelaskan
tuntunan Allah, aturan terakhir penutup para nabi dan rasul.
“Sesungguhnya kami telah pengutusmu (muhammad) dengan kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan”. (Al-Baqarah: 119).
Allah turunkan Al-Qur’an untuk
menyelesaikan masalah-masalah di antara mereka dan juga untuk mengingatkan
mereka akan yaumul mii’aad yaitu hari pembalasan terhadap apa-apa yang telah
dilakukan oleh para penghuni alam dunia.
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”. (An-Nalh: 44).
Akan tetapi di balik semua
itu, realita yang terjadi, kita sering dan teramat sering dikejutkan dan dibuat
prihatin dengan musibah yang acap kali menimpa negeri ini. Masih terngiang
ditelinga kita peristiwa gempa bumi yang terjadi beberapa waktu yang lalu, yang
memakan korban manusia dan memaksa mengungsi dari tempat-tempat mereka, banjir
yang berulang kali terjadi di beberapa tempat, padahal baru kemarin kita
merasakan beratnya kemarau panjang, gunung di beberapa tempat sudah mulai aktif
dan memuntahkan isi kandungannya, huru-hara terjadi diberbagai kota diiringi
hancurnya tempat-tempat tinggal dan pusat-pusat keramaian dengan kobaran api
yang melalap baik materi maupun sosok-sosok jiwa sebagai pelengkapnya,
pembantaian yang telah dan terus berlangsung secara biadab terjadi di beberapa
tempat dan entah berapa tempat lagi yang akan terjadi di belahan negeri ini,
busung lapar anak manusia negeri ini sering kita dengar meskipun katanya kita
berada di negeri subur nan tropis, dengan disusul jatuhnya nilai rupiah yang
mengakibatkan krisis moneter yang berdampak kemiskinan, pengangguran dan
kelaparan masih saja kita rasakan, penyakit-pernyakit aneh dan kotor mulai
merebak dan meng-gerogoti penduduk negeri ini dan berbagai musibah yang telah
menghadang di hadapan mata, termasuk di dalam hancurnya generasi-generasi muda
penerus bangsa ini disebabkan terha-nyut dan tenggelam bersama obat-obat setan
yang terlarang.
Apakah adzab telah mengintai
negeri ini, sebagaimana yang tersurat di dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaffat ayat
25, kaum Nuh yang Allah tenggelamkan dikarenakan mendustakan seorang rasul,
atau kaum Tsamud yang disebabkan tak beriman, membusungkan dada dan menantang
datangnya adzab, Allah jadikan mereka mayat-mayat yang bergelimpangan dengan
gempa yang mengguncang mereka, atau seperti kaum Luth yang dikarenakan
perzinaan sesama jenis, homosexsual, Allah hujani mereka dengan batu, atau
seperti kaum Madyan yang Allah jadikan mereka mayat-mayat yang bergelimpangan
disebabkan curang dalam takaran dan timbangan serta membuat kerusakan dimuka
bumi dan menghalangi orang untuk beriman, atau seperti kaum ‘Aad yang
disebabkan tidak memurnikan tauhid dan bersujud kepadaNya, Allah kirim kepada
mereka angin yang sangat panas yang memusnahkan mereka.
Kaum-kaum terdahulu Allah hancurkan dan luluh lantahkan
disebabkan satu dua kemungkaran yang dikepalai kesyirikan, sekarang bagaimana
dengan kita, apa yang kita saksikan dan alami sekarang ini, apa yang terjadi
ditempat kita, lingkungan kita, dikota kita, dan bahkan di seantero negeri
kita?, maksiat terjadi dimana-mana, pergaulan lawan jenis dan perzinaan yang
keluar dari norma-norma agama semakin menggila, ditambah lagi media-media masa
visual dan non-visual ikut melengkapi ajang syaitan ini dengan dalih seni dan
hak-hak manusia, padahal Allah dan RasulNya telah jelas-jelas mengharamkan hal
tersebut,[ Syafaruddin, Khutbah Jum’at; Maksiat Penduduk Negeri, Sumber; www.alsofwah.or.id/khutbahPosted By http://ichsanmufti.wordpress.com].
Sebuah Negara atau negeri dipimpin oleh orang-orang yang
diamanahi untuk mengurusi rakyatnya dengan adil dan demi mensejahterakan
penduduknya, itu kalau penguasanya orang-orang yang baik, punya cita-cita luhur
dan kerja mulia mengemban amanah itu, bukan orang-orang yang dikendalikan oleh
rezim yang mencelakan masyarakatnya dengan berbagai kesusahan dan penderitaan.
Apa jadinya pemba-ngunan dan roda pemerintahan di daerah
bila para rezimnya menjadi terdakwa korupsi? Mungkin kalau hanya satu dua
kepala daerah tak masalah.Tapi kalau lebih dari 50 persen, kepala daerah
terpilih kini memegang gelar 'terdakwa korupsi'?
Sebuah data terbaru meng-ungkapkan, sepanjang tahun 2010 ada
244 pemilihan umum kepala daerah (pemilu kada).Dari jumlah tersebut, 148 kepala
daerah di antaranya terlibat kasus korupsi.Angkanya berarti mencapai 60 persen.Tentu
ini bukan angka sembarangan dan tak mungkin hanya faktor pribadi/individu.
Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengakui, kasus korupsi
yang selama ini membelit kepala daerah tak lepas dari besarnya dana kampanye
yang digelontorkan saat pemilu kada. Bayangkan, pemerintah sampai harus
mengeluarkan uang se-besar Rp 55 trilyun untuk men-danai 244 pemilu kada
tersebut. Itu belum termasuk uang yang dikeluarkan oleh masing-masing pasangan
kandidat kepala daerah
Bahkan, salah satu bupati di daerah Jawa Tengah rela
mengeluarkan puluhan milyar demi meraih kemenangan dalam pe-milu kada. Bupati
terpilih Kutai Kartanegara, Rita Widyasari, bah-kan mengakui dalam kampanye
pemilu kada lalu ia menghabis-kan biaya sekitar Rp 5 milyar – Rp 10 milyar.
Dana itu paling besar digunakan untuk tim sukses, pembuatan banner, dan iklan.
Sanggupkah itu ditutupi dari gaji
yang mereka peroleh setelah menjabat?Gaji gubernur per bulannya hanya sekitar
Rp 9 juta, sedangkan bupati atau walikota sekitar Rp 6 juta.Itu tentu tidak
seimbang dengan jumlah pengeluaran mereka sebelum pemilu yang jumlahnya bisa
mencapai ratusan milyar untuk pasangan calon gubernur-wakil gubernur. Inilah
yang menurut Direktur Jenderal Kesa-tuan Bangsa dan Politik (Kes-bangpol)
Kementerian Dalam Negeri RI (Kemendagri) A Tanri-bali Lamo menjadi penyebab
timbulnya tindakan-tindakan tidak terpuji, seperti korupsi.
Pengamat politik dari Uni-versitas Muhammadiyah Yog-yakarta
Suswanta menyatakan, tidak mungkin para kepala daerah terpilih mampu
me-ngembalikan biaya kampa-nyenya yang jumlahnya milyaran rupiah itu kalau
tidak korupsi dan kolusi.“Jadi saya yakin bukan hanya 148 tetapi semuanya
melakukan korupsi. Jadi inilah, awal dari cara rekrutmennya saja sudah salah,
sudah mendorong orang untuk manipulatif, korup-tif, sehingga sangat wajar
mem-buat banyak kepala daerah men-jadi tersangka,“ katanya kepada Media Umat..[Rezim
para koruptor, Media Ummat, Monday, 14 March 2011 08:12].
Negara yang dikelola
oleh sekumpulan orang yang disebut dengan kabinet atau
rezim seharusnya menjadikan Negara ini menjadi semakin baik, baik prilaku
penduduknya, sejahtera kehidupan rakyatnya, adil penegakkan hokum di dalamnya,
aman hidup di Negara ini karena jauh dari gangguan yang mengancan ketenangan
dan kehidupan, memang Negara ini harus dikelola oleh para penguasa yang amanah,
jujur dan punya hati nurani sehingga mereka mengajak dirinya dengan
ungkapan,”Tanyakanlah kepada dirimu apa yang sudah engkau berikan untuk Negara
ini jangan engkau tanyakan apa sudah engkau terima dari Negara”, sebenarnya
sudah banyak yang kita terima dari tanah dan air atau Negara kita ini kepada
kita tapi kadangkala tidak kita sadari sehingga kita masih mengambil juga yang
bukan hak kita dari Negara ini, wallahu a’lam [Geylang Lorong 12 Singapura, 08 Rajab 1432.H/ 10 Juni 2011.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar