Awal pribadi manusia itu mulia, baik dan
suci sebagaimana yang disampaikan Allah dan Rasul-Nya; “Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut
mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan
kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk
yang Telah kami ciptakan”[Al Isra’ 17;70] “Sesungguhnya
kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya “[At Tiin 95
;4]’’Tidak dilahirkan seorang anak melainkan dalam keadaan suci dari
dosa”[HR.Muslim]
Akan tetapi
karena bisikan syaitan dan ajakan hawa nafsu, kemuliaan, baik dan kesucian
manusia tadi ternoda;
“Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang
serendah-rendahnya (neraka),Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.’[At Tiin 95;5-6]
Orang-orang
yang selamat dari derajat yang rendah di hadapan Allah adalah mereka yang mampu
menampilkan diri sebagai pribadi yang islami. Adalah pribadi yang mampu
merealisir nilai-nilai islam dalam kehidupannya, bukan sekedar slogan dan
dekorasi atau simbul semata, namun secara substansial dan esensial, jiwa dan
raganya adalah islam. Pemikirannya terbingkai oleh ide-ide cemerlang yang
dishibghah [dicelup] oleh celupan Allah. Adapun karakter orang yang memiliki kepribadian
islam itu adalah;
Pertama, adalah kepribadian yang
beriman kepada Allah, dengan keimanan yang terhunjam di hati [8;2], terucap
melalui lisan [24;51] serta teraplikasikan dalam amal-amal shaleh [2;25].
Inilah iman yang istiqamah yaitu iman yang kokoh, stabil dan mantap; “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu
hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya,
Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan
jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar”[Al Hujurat
49;15]
Iman
tanpa istiqamah adalah imannya orang munafiq, iman tanpa pengorbanan omong
kosong belaka. Kepribadian yang istiqamah
dan siap untuk berjihadlah dengan harta dan jiwa, inilah kepriadian yang benar
imannya.
Iman
yang hanya sekedar terhunjam di hati tanpa terucap dilisan dan tidak
teraplikasi melalui amal perbuatan, inilah imannya Fir’aun dan iblis [10;90,
15;39-40]. Iman yang hanya terucap di bibir tanpa terhunjam di hati, tanpa
goresan amal, maka inilah imannya orang-orang munafiq [2;8]. Iman yang hanya
melalui amal tanpa dimotivasi cetusan hati, jauh dari hiasan bibir, inilah
imannya orang-orang zhalim dan fasiq.
Kedua, kepribadian islami itu adalah
kepribadian seseorang yang memiliki iman yang stabil tapi berusaha terus
meningkatkan kualitas imannya menjadi muhsin, mukhlis dan muttaqin. Yang
dimaksud dengan muttaqin adalah orang yang bertaqwa kepada Allah dengan kualitas
prima melakukan pengabdian dan berupaya pula menyingkirkan segala dosa dan
maksiat dari dirinya. Umar bin Khattab mengabarkan taqwa dengan istilah
berhati-hati dalam seluruh asfek kehidupan, sedangkan Imam Al Gazali
mengartikan taqwa itu dengan empat huruf singkatan yaitu T, singkatan arti “Tawakkal” yaitu sikap hidup menyerahkan diri
segala urusan kepada Allah setelah ikhtiar seoptimal mungkin, huruf Q, singkatan dari “Qanaah” yaitu sikap
hidup menerima segala pemberian dari Allah baik berupa materi maupun non
materi, tapi tetap berusaha untuk meningkatkan jumlahnya tanpa memaksakan
dirinya, huruf W yaitu “Wara’”
artinya sikap pribadi yang berhati-hati terhadap barang yang syubhat, dan huruf
Y, yaitu “yakin”, sikap hidup semakin
mantap keimanannya.
Orang
yang bertaqwa kepada Allah selalu dibimbing hidupnya dengan hidayah Allah
sehingga tidak ada persoalan hidup ini yang tidak dapat diselesaikan, semuanya
ada solusi yang terbaik dari Allah Swt;“….barangsiapa
bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar.Dan
memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang
bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya’[Ath
Thalaq 65;2-3]
Ketiga, kepribadian islami adalah
kepribadian yang mampu mengislamisasi diri
pada seluruh sektor tindakannya bahkan hingga denyut nadinyapun
demikian. Selaku muslim hatinya jauh dari sifat-sifat yang dapat merusak
keimanannya, seperti nifaq, syirik, fasiq, zhalim, kibir dan sifat-sifat
lainnya yang merendahkan martabatnya. Fikirannya tidak terkontaminasi oleh
pemikiran dari luar bingkai islam seperti
permisiv, sinkritis, materialis, komunis, orientalis dan pemikiran
pemikiran lainnya yang merupakan perpanjangan tangan dari isme-isme yang tidak
suka dengan islam, Allah berfirman dalam surat Al Baqarah 2;208 “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu
ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.
Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”
Konsekwensi
dari iman dan taqwa adalah siapnya
menjadikan diri ini sebagai muslim yang “kaffah” yaitu integral. Bila iman
tidak kaffah otomatis masuk dalam lingkungan syaitan, otomatis pula disesatkan
karena syaitan itu sesat dan terlaknat. Yang dimaksud kaffah disini bukanlah kuantitas
tapi kualitas pribadi yang ditargetkan, apalah artinya kuantitas menggembirakan
tapi kualitas ibarat buih di lautan, idealnya kualitas yang diiringi dengan
kuantitas.
Keempat, yang dimaksud dengan
kepribadian islami adalah pribadi muslim yang mampu menggunakan dirinya untuk
berjihad di jalan Allah pada seluruh sektor kehidupan manusia baik dengan
harta, jiwa, tenaga, fikiran,ekonomi bahkan politik demi untuk tegaknya islam
dengan kalimat Allah yang haq. Sayid Qutb mengatakan bahwa tegaknya islam ini
di dunia karena semangat jihad ummat yang masih berkobar,dan sebaliknya
hancurnya ummat ini karena jihad telah ditinggalkan. Ini yang disinyalir oleh
Rasulullah bahwa ummat ini akan hancur berantakan ibarat makanan yang terhidang
diatas meja, direbut oleh semua manusia, dikarenakan sudah tidak punya izzah
lagi, apalagi telah terjangkit pula oleh penyakit wahn, yaitu penyakit mental,
“terlalu cinta kepada dunia dan terlalu takut dengan kematian”. Allah
berfirman;“Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta
mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah;
lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari
Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati
janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang
Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar”[At Taubah 9;111]
Untuk
menciptakan pribadi militan tersebut tidaklah mudah, perlu usaha dan kerja dan
pengerahan tenaga, dengan da’wah yang terprogram dan terencana yang dilakukan
secara bertahap dan terus menerus. Mustahil pribadi demikian akan terujud dalam
sebuah rumah tangga dan masyarakat, bila hanya berpangku tangan dan
mengandalkan pembinaan anak melalui sekolah dan pengajian saja, harus ada
pengerahan potensi semaksimal mungkin dari seluruh lapisan; baik orangtua,
guru, tokoh masyarakat dan dukungan pemerintah, Allah berfirman;“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan
umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah
dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”[Ali Imran 3;104]
Ummat yang telah
mengakui Allah sebagai Tuhan yang wajib disembah dan Muhammad sebagai Uswah
Hasanah yaitu teladan yang baik dalam kehidupan memiliki kepribadian yang
islami, selain itu merekapun memiliki watak dasar sebagai muslim diantaranya;
1.Allah
mencintai mereka dan merekapun dicintaiNya
Watak dasar pribadi muslim itu adalah
mencintai Allah dan merekapun dicintai
Allah karena salah satu bentuk keimanan
dan pengabdian manusia kepada yang
disembahnya adalah cinta, siapa saja yang menyembah sesuatu maka dia ujudkan
dalam bentuk mencintai sesuatu itu, begitu pula keimanan dan pengabdian seorang
muslim kepada Allah harus disertai cinta yang mendalam, kecintaan Allah kepada
ummatnya dan sebaliknya itu tergambar dalam beberapa firman-Nya di bawah ini;
"Sesungguhnya Allah menyukai orang
yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka
seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh'' [Ash Shaf 61;4] "Dan diantara manusia ada orang-orang
yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya
sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman amat sangat
cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu
mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu
kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya
mereka menyesal).[Al Baqarah 2;165]
" Katakanlah: "Jika kamu
(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" [Ali
Imran 3;31]
2.Bersikap
lemah Lembut terhadap orang yang mukmin
Watak dasar pribadi muslim adalah
orang yang lembah lembut terhadap orang-orang mukmin yang terpupuk dalam
kehidupan ukhuwah islamiyyah, Allah berfirman dalam surat
Ali Imran 3;159, ”Maka disebabkan rahmat
Allah dan karena Allahlah kamu berlaku
lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi keras,
tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itulah maafkan
mereka, mohonlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam
urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal
kepada-Nya’.
Sikap lunak, santundan baik sesama muslim akan merajut keharmonisan dalam
kehidupan bermasyarakat sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para
sahabatnya di Kota Madinah Al Munawarah; "Dan rendahkanlah dirimu
terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman"
[Asy Syu'ara 26;215]
3.Bersikap
keras terhadap orang-orang kafir
Orang yang mempunyai kepribadian
yang islami walaupun bersikap lemah lembut kepada orang-orang beriman tidak
berarti menjadikan mereka lemah terhadap
orang kafir, kekafiran adalah bentuk keingkaran kepada Allah sehingga mereka
tetap bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir karena sudah jelas batas
keimanan dan kekafiran, kekafiran tidak bisa dilawan dengan lembah lembut,
harus dihadapi dengan ketegasan dan sikap yang keras sebagaimana yang
dicontohkan oleh Rasulullah;“Muhammad itu
adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. [Al Fath
48;29]
Ayat dibawah
ini adalah sikap Rasul dikala dia diajak untuk kompromi dengan kekafiran, maka
jawaban yang tepat adalah ketegasan dalam keimanan;"Katakanlah:
"Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan
kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi
penyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu
tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu,
dan untukkulah, agamaku."[Al Kafirun 109;1-6]
4.Berjihad
dijalan Allah
Ujud
keimanan dan merupakan kepribadiannya
adalah iman yang siap untuk berjihad di jalan Alah dengan segala potensi yang dimiliki,
ketakutan terhadap jihad ini akhirnya orang-orang yang phobi terhadap islam
menjadikan jihad sebagai kelompok yang keras, kasar dan gerombolan teroris
sehingga makna jihad sudah diartikan sangat negatif, padahal jihad adalah
agenda suci seorang muslim yang masih baik imannya, bila tidak mau berjihad
maka Allah akan mencari orang lain yang akan menegakkan jihad itu, benar apa
yang dikatakan oleh Sayid Qutb,"Jayanya islam karena menegakkan jihad dan
hancurnya islam karena meninggalkan jihad".
Sebenarnya diri seorang mukmin itu
sudah dibeli Allah dengan harga yang luar biasa yaitu syurga dengan segala
kenikmatannya, padahal apa yang kita miliki belum mencukupi untuk memberi
syurga itu, jihadlah jalan mudah untuk meraih syurga yang dijanjikan Allah itu;
"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan
yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan
RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih
baik bagimu, jika kamu Mengetahui" [Ash Shaf 61;10-11]
’’Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang
mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka
berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah
menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan
siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka
bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah
kemenangan yang besar” [At Taubah 9;111]
5.Tidak
takut kepada celaan orang yang suka mencela
Untuk
menegakkan kebenaran, menyampaikan da'wah bahkan posisi sebagai muslimpun akan
dilemahkan melalui shock terapy melalui pencitraan yang negatif dengan
caci-maki, celaan dan kalimat yang merendahkan muslim. Orang-orang yang murtad
dari agama ini akan mudah sekali timbul rasa takutnya kalau ada orang yang
mencela terhadap keimanannya, sedangkan watak pribadi muslim yang akan tampil
ke depan adalah yang tidak takut
terhadap celaaan orang yang mencela sekalipun yang mencela itu sekaliber
Fir'aun;“Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah
kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku, Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun,
Sesungguhnya Dia telah melampaui batas,
Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah
lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut".[Thaha 20;42-44]
"Kamu sungguh-sungguh
akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan
mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang
yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. jika
kamu bersabar dan bertakwa, Maka Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan
yang patut diutamakan" [Ali Imran 3;186]
6.Memberi wala'nya kepada Allah, Rasul dan Mukmin
Ketika
menyatakan diri sebagai muslim maka pribadi yang ideal itu telah disandang
seharusnya yaitu menyerahkan wala' atau loyalitas hanya kepada Allah, Rasul dan
orang-orang beriman, selain itu berarti telah keluar dari shahadatain, yang
otomatis mengeluarkannya dari keislaman;"Hai orang-orang yang
beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu.
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia
kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman
kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan
lebih baik akibatnya" [An Nisa' 4;59]
Keteaatan
kepada Allah harus diiringi dengan ketaatan kepada Rasul dan tidak boleh
bertentangan antara satu dengan lainnya, sedangkan ketaatan kepada ulil amri
adalah ketaatan yang bersyarat yaitu apabila ulil amri tersebut dari kalanganmu
yaitu pemimpin ummat ini, yang mengajak kepada kebenaran dan keadilan dengan
loyalitas hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, bila ulil amri bertentangang dengan
loyalitas kepada Allah dan Rasul-nya maka tidaklah wajib untuk diikuti dan
dipatuhi bahkan sebaiknya ditentang dengan jihad fisabilillah.
Seorang muslim yang baik, memiliki rasa malu, dan rasa malu adalah sifat positif yang dimiliki manusia
selama ditempatkan pada hal-hal yang baik, orang yang tidak mudah bergaul
karena sesuatu hal disebut dengan pemalu, menghindari perbuatan buruk berarti
orang itu ada sifat malu, melakukan perbuatan buruk berarti tidak punya malu,
sebagai muslim tidak mau melaksanakan shalat berarti memalukan, tidak tahu diri
sama dengan malu-maluin. Yang
positif adalah malu berbuat negatif atau karena ada hal-hal yang tidak baik
pada dirinya atau mungkin juga karena berhadapan dengan hal-hal prinsif ;
Episode Pertama;
Ketika Nabi
Muhammad Saw melakukan Isra' Mi'raj, beliau menerima wahyu untuk melaksanakan shalat lima puluh kali sehari semalam, disaat
bertemu dengan para nabi tidak ada yang menanyakan kecuali nabi Musa saat
berada di langit ke enam, terjadilah dialog;
Musa ; Apa
yang diperintahkan Allah kepadamu Muhammad ?
Muhammad ; Saya
diperintahkan shalat limapuluh kali sehari semalam.
Musa ;Ummat engkau tidak akan sanggup
melakukan shalat sebanyak itu,demi Allah aku telah berpengalaman, kembalilah ke
atas minta keringanan kepada Allah.
Nabi Muhamamd kembali menghadap Allah
meminta keringanan, tapi nabi Musa menyuruh kembali meminta keringanan padahal
hanya tinggal lima
kali saja lagi shalat sehari semalam, akhirnya nabi Muhammad menjawab; "Aku
telah mohon keringanan kepada Allah sehingga aku merasa malu, tetapi aku rela
menerimanya dengan baik".
Episode kedua;
Sewaktu
Rasulullah bersama para sahabat sedang memperbaiki selubuh Ka'bah yang robek,
lalu angin yang kencang menyibakkan gamis beliau sehingga menampakkan betis
beliau. Dengan peristiwa itu beliau lari dari keramaian dengan wajah merah
padam karena malu. Beliau tidak mau betisnya terlihat oleh orang lain padahal
batas aurat lelaki itu adalah antara pusar dan lutut, itulah rasa malu yang
dmiliki oleh Rasulullah.
Episode ketiga;
Pada tahun 1946 Jepang kembali ke
Tokio karena kalah perang melawan sekutu, dengan rasa malu mereka tinggalkan
Indonesia setelah tiga setengah tahun dijajah, ketika meninggalkan negara
jajahannya ini salah seorang pimpinannya berkata,"Sekarang kami kembali ke
Tokio, tetapi dalam waktu duapuluh tahun kami akan kembali ke Indonesia".
Tahun 1956 Jepang kembali menjajah
Indonesia dalam bentuk lain yaitu melalui kebudayaannya seperti Karate, Sumo,
Yudo dan lain-lain. Melalui produksi modernya seperti Kawasaki, Suzuki, Yamaha,
Honda dan lain-lain.
Tanda-tanda masih
ada rasa malu;
1.Kepada yang baik
didorongnya ke depan seperti shalat dan giat belajar
2.kepada yang
mungkar ditahannya seperti mencuri dan judi
Abu Hasan Al Mawardi
membagi malu menjadi tiga yaitu;
1.Al Haya
Minallah; malu kepada Allah
Hidup diberikan bukan hanya kepada manusia saja,
tetapi diberikan juga kepada hewan dan tumbuh-tumbuhan, yang diperlengkapi
dengan berbagai alat kehidupan seperti udara, air dan cahaya matahari.
Kesemuanya itu dapat diperoleh dengan gratis, tanpa harus membayar kepada yang
memberi hidup ini.
Hidup adalah kurnia Ilahi kepada setiap makhluk, terutama manusia, tidak
seorangpun boleh merampasnya, kecuali dengan ketentuan-ketentuan yang lain,
Allah berfirman dalam surat Al Hijr 15;23, "Dan
Sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan kami
(pulalah) yang mewarisi".
Dari nikmat itu maka selayaknya seorang muslim untuk mensyukurinya dengan
banyak beribadah, apakah tidak malu kepada Allah bila kita mengkufuri
nikmat-Nya dengan berbuat yang dilarang-Nya. Al haya minallah yaitu malu kepada
Allah dapat memotivasi kita untuk berbuat baik selamanya.
2.Al Haya
Minannas; malu kepada manusia
Malu kepada manusia membuat kita bersikap santun
dengan kepribadian menarik lainnya, tidak mudah menyinggung dan memperlakukan
manusia seenak kita. Ada orang-orang yang dekat dengan kita yang harus
diperhatikan kehidupannya yaitu anak, isteri, ayah, ibu dan saudara lainnya,
merekapun senantiasa memperhatikan seluruh gerak-gerik kehidupan yang kita
lakoni, dikala perbuatan baik dan prestasi bagus yang kita hasilkan mereka
sangat bangga, tapi kalau kejahatan yang dilakukan maka mereka sangat menyesal
sekali, rasa malu kepada manusia inilah yang menjaga kita untuk berhati-hati
menapaki kehidupan ini.
3.Al Haya
minannafsi; malu kepada diri sendiri
Sifat malu yang ada pada diri manusia
bukan hanya malu kepada orang lain saja tapi juga malu kepada diri sendiri
membuat orang untuk berhati-hati dalam hidup, tidak menyia-nyiakan dirinya, dia
akan menjaga dirinya untuk kemaslahatan pribadi, keluarga dan masyarakat.
Orang yang baik
adalah yang menjaga diri dan keluarga dari api neraka, orang yang lengah adalah
orang yang menjaga dirinya sendiri lalu melupakan keluarganya, dan orang yang
bodoh adalah orang yang hanya menyelamatkan dirinya saja. Sifat malu yang ada
pada diri seseorang mendorong dia untuk menyelamatkan semuanya yaitu
menyelamatkan dirinya dan juga menyelamatkan keluarganya, pada sebuah hadits
diceritakan oleh Nabi ada seorang ayah yang akan masuk ke dalam syurga tapi
dihalangi oleh anaknya karena waktu di dunia sang ayah walaupun orang yang
shaleh tapi dia mengabaikan pendidikan agama anaknya.
Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah,
yaitu mengkader ummatnya dengan tempaan islam yang kontinyu tanpa mengenal
lelah sehingga melahirkan kualitas muslim yang prima, kepribadian islami yang
luar biasa seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Bilal bin Rabah serta ratusan
kader-kader militan dengan kepribadian islam yang prima. Apa yang salah pada
da’wah kita hari ini sehingga tidak muncul pribadi sebagaimana orang-orang
terdahulu, jangankan setipe mereka, pengganti Buya Hamka dan Buya Natsir saja
sulit untuk menemukannya, sebagai renungan bagi kita, benar apa yang dikatakan
oleh seorang ulama,”Untuk memperbaiki ummat agar sama kualitasnya dengan
ummat terdahulu maka harus meniru bagaimana Rasulullah mengkader ummat ini”,
bila tidak demikian jangan berharap banyak untuk munculnya pribadi yang
betul-betul islami, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 19 Ramadhan 1431.H/ 29 Agustus 2010]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar