Rabu, 09 Desember 2015

38. Muslim



Awal pribadi manusia itu mulia, baik dan suci sebagaimana yang disampaikan Allah dan Rasul-Nya; “Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan”[Al Isra’ 17;70] “Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya “[At Tiin 95 ;4]’Tidak dilahirkan seorang  anak melainkan dalam keadaan suci dari dosa”[HR.Muslim]

            Akan tetapi karena bisikan syaitan dan ajakan hawa nafsu, kemuliaan, baik dan kesucian manusia tadi ternoda;
            “Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.’[At Tiin 95;5-6]

            Orang-orang yang selamat dari derajat yang rendah di hadapan Allah adalah mereka yang mampu menampilkan diri sebagai pribadi yang islami. Adalah pribadi yang mampu merealisir nilai-nilai islam dalam kehidupannya, bukan sekedar slogan dan dekorasi atau simbul semata, namun secara substansial dan esensial, jiwa dan raganya adalah islam. Pemikirannya terbingkai oleh ide-ide cemerlang yang dishibghah [dicelup] oleh celupan Allah. Adapun   karakter orang yang memiliki kepribadian islam itu adalah;
           
            Pertama, adalah kepribadian yang beriman kepada Allah, dengan keimanan yang terhunjam di hati [8;2], terucap melalui lisan [24;51] serta teraplikasikan dalam amal-amal shaleh [2;25]. Inilah iman yang istiqamah yaitu iman yang kokoh, stabil dan mantap; “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar”[Al Hujurat 49;15]

            Iman tanpa istiqamah adalah imannya orang munafiq, iman tanpa pengorbanan omong kosong belaka. Kepribadian yang  istiqamah dan siap untuk berjihadlah dengan harta dan jiwa, inilah kepriadian yang benar imannya.
            Iman yang hanya sekedar terhunjam di hati tanpa terucap dilisan dan tidak teraplikasi melalui amal perbuatan, inilah imannya Fir’aun dan iblis [10;90, 15;39-40]. Iman yang hanya terucap di bibir tanpa terhunjam di hati, tanpa goresan amal, maka inilah imannya orang-orang munafiq [2;8]. Iman yang hanya melalui amal tanpa dimotivasi cetusan hati, jauh dari hiasan bibir, inilah imannya orang-orang zhalim dan fasiq.

            Kedua, kepribadian islami itu adalah kepribadian seseorang yang memiliki iman yang stabil tapi berusaha terus meningkatkan kualitas imannya menjadi muhsin, mukhlis dan muttaqin. Yang dimaksud dengan muttaqin adalah orang yang bertaqwa kepada Allah dengan kualitas prima melakukan pengabdian dan berupaya pula menyingkirkan segala dosa dan maksiat dari dirinya. Umar bin Khattab mengabarkan taqwa dengan istilah berhati-hati dalam seluruh asfek kehidupan, sedangkan Imam Al Gazali mengartikan taqwa itu dengan empat huruf singkatan yaitu T, singkatan arti  “Tawakkal” yaitu sikap hidup menyerahkan diri segala urusan kepada Allah setelah ikhtiar seoptimal mungkin, huruf Q, singkatan dari “Qanaah” yaitu sikap hidup menerima segala pemberian dari Allah baik berupa materi maupun non materi, tapi tetap berusaha untuk meningkatkan jumlahnya tanpa memaksakan dirinya, huruf W yaitu “Wara’” artinya sikap pribadi yang berhati-hati terhadap barang yang syubhat, dan huruf Y, yaitu “yakin”, sikap hidup semakin mantap keimanannya.

            Orang yang bertaqwa kepada Allah selalu dibimbing hidupnya dengan hidayah Allah sehingga tidak ada persoalan hidup ini yang tidak dapat diselesaikan, semuanya ada solusi yang terbaik dari Allah Swt;“….barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar.Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya’[Ath Thalaq 65;2-3]

            Ketiga, kepribadian islami adalah kepribadian yang mampu mengislamisasi diri  pada seluruh sektor tindakannya bahkan hingga denyut nadinyapun demikian. Selaku muslim hatinya jauh dari sifat-sifat yang dapat merusak keimanannya, seperti nifaq, syirik, fasiq, zhalim, kibir dan sifat-sifat lainnya yang merendahkan martabatnya. Fikirannya tidak terkontaminasi oleh pemikiran dari luar bingkai islam seperti   permisiv, sinkritis, materialis, komunis, orientalis dan pemikiran pemikiran lainnya yang merupakan perpanjangan tangan dari isme-isme yang tidak suka dengan islam, Allah berfirman dalam surat Al Baqarah 2;208 “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”

            Konsekwensi dari iman  dan taqwa adalah siapnya menjadikan diri ini sebagai muslim yang “kaffah” yaitu integral. Bila iman tidak kaffah otomatis masuk dalam lingkungan syaitan, otomatis pula disesatkan karena syaitan itu sesat dan terlaknat. Yang dimaksud kaffah disini bukanlah kuantitas tapi kualitas pribadi yang ditargetkan, apalah artinya kuantitas menggembirakan tapi kualitas ibarat buih di lautan, idealnya kualitas yang diiringi dengan kuantitas.

            Keempat, yang dimaksud dengan kepribadian islami adalah pribadi muslim yang mampu menggunakan dirinya untuk berjihad di jalan Allah pada seluruh sektor kehidupan manusia baik dengan harta, jiwa, tenaga, fikiran,ekonomi bahkan politik demi untuk tegaknya islam dengan kalimat Allah yang haq. Sayid Qutb mengatakan bahwa tegaknya islam ini di dunia karena semangat jihad ummat yang masih berkobar,dan sebaliknya hancurnya ummat ini karena jihad telah ditinggalkan. Ini yang disinyalir oleh Rasulullah bahwa ummat ini akan hancur berantakan ibarat makanan yang terhidang diatas meja, direbut oleh semua manusia, dikarenakan sudah tidak punya izzah lagi, apalagi telah terjangkit pula oleh penyakit wahn, yaitu penyakit mental, “terlalu cinta kepada dunia dan terlalu takut dengan kematian”. Allah berfirman;“Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar”[At Taubah 9;111]

            Untuk menciptakan pribadi militan tersebut tidaklah mudah, perlu usaha dan kerja dan pengerahan tenaga, dengan da’wah yang terprogram dan terencana yang dilakukan secara bertahap dan terus menerus. Mustahil pribadi demikian akan terujud dalam sebuah rumah tangga dan masyarakat, bila hanya berpangku tangan dan mengandalkan pembinaan anak melalui sekolah dan pengajian saja, harus ada pengerahan potensi semaksimal mungkin dari seluruh lapisan; baik orangtua, guru, tokoh masyarakat dan dukungan pemerintah, Allah berfirman;“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”[Ali Imran 3;104]

Ummat yang telah mengakui Allah sebagai Tuhan yang wajib disembah dan Muhammad sebagai Uswah Hasanah yaitu teladan yang baik dalam kehidupan memiliki kepribadian yang islami, selain itu merekapun memiliki watak dasar sebagai muslim diantaranya;

1.Allah mencintai mereka dan merekapun dicintaiNya
         Watak dasar pribadi muslim itu adalah mencintai Allah dan merekapun  dicintai Allah karena  salah satu bentuk keimanan dan  pengabdian manusia kepada yang disembahnya adalah cinta, siapa saja yang menyembah sesuatu maka dia ujudkan dalam bentuk mencintai sesuatu itu, begitu pula keimanan dan pengabdian seorang muslim kepada Allah harus disertai cinta yang mendalam, kecintaan Allah kepada ummatnya dan sebaliknya itu tergambar dalam beberapa firman-Nya di bawah ini;  "Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh'' [Ash Shaf 61;4]  "Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).[Al Baqarah 2;165]

       " Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" [Ali Imran 3;31]

2.Bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin                                       
           Watak dasar pribadi muslim adalah orang yang lembah lembut terhadap orang-orang mukmin yang terpupuk dalam kehidupan ukhuwah islamiyyah, Allah berfirman dalam surat Ali Imran 3;159, ”Maka disebabkan rahmat Allah dan karena Allahlah kamu berlaku  lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itulah maafkan mereka, mohonlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya’.

Sikap lunak, santundan baik sesama muslim akan merajut keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya di Kota Madinah Al Munawarah; "Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman" [Asy Syu'ara 26;215]

3.Bersikap keras terhadap orang-orang kafir                                                          
            Orang yang mempunyai kepribadian yang islami walaupun bersikap lemah lembut kepada orang-orang beriman tidak berarti  menjadikan mereka lemah terhadap orang kafir, kekafiran adalah bentuk keingkaran kepada Allah sehingga mereka tetap bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir karena sudah jelas batas keimanan dan kekafiran, kekafiran tidak bisa dilawan dengan lembah lembut, harus dihadapi dengan ketegasan dan sikap yang keras sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah;“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. [Al Fath 48;29]

Ayat dibawah ini adalah sikap Rasul dikala dia diajak untuk kompromi dengan kekafiran, maka jawaban yang tepat adalah ketegasan dalam keimanan;"Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,  Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."[Al Kafirun 109;1-6]

4.Berjihad dijalan Allah
               Ujud keimanan dan merupakan kepribadiannya  adalah iman yang siap untuk berjihad di jalan Alah  dengan segala potensi yang dimiliki, ketakutan terhadap jihad ini akhirnya orang-orang yang phobi terhadap islam menjadikan jihad sebagai kelompok yang keras, kasar dan gerombolan teroris sehingga makna jihad sudah diartikan sangat negatif, padahal jihad adalah agenda suci seorang muslim yang masih baik imannya, bila tidak mau berjihad maka Allah akan mencari orang lain yang akan menegakkan jihad itu, benar apa yang dikatakan oleh Sayid Qutb,"Jayanya islam karena menegakkan jihad dan hancurnya islam karena meninggalkan jihad".
          Sebenarnya diri seorang mukmin itu sudah dibeli Allah dengan harga yang luar biasa yaitu syurga dengan segala kenikmatannya, padahal apa yang kita miliki belum mencukupi untuk memberi syurga itu, jihadlah jalan mudah untuk meraih syurga yang dijanjikan Allah itu; "Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?  (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui" [Ash Shaf 61;10-11]

            ’’Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar” [At Taubah 9;111]

5.Tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela
            Untuk menegakkan kebenaran, menyampaikan da'wah bahkan posisi sebagai muslimpun akan dilemahkan melalui shock terapy melalui pencitraan yang negatif dengan caci-maki, celaan dan kalimat yang merendahkan muslim. Orang-orang yang murtad dari agama ini akan mudah sekali timbul rasa takutnya kalau ada orang yang mencela terhadap keimanannya, sedangkan watak pribadi muslim yang akan tampil ke depan adalah  yang tidak takut terhadap celaaan orang yang mencela sekalipun yang mencela itu sekaliber Fir'aun;“Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku, Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas,  Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut".[Thaha 20;42-44]

"Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. jika kamu bersabar dan bertakwa, Maka Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan" [Ali Imran 3;186]

6.Memberi wala'nya kepada Allah, Rasul dan Mukmin
            Ketika menyatakan diri sebagai muslim maka pribadi yang ideal itu telah disandang seharusnya yaitu menyerahkan wala' atau loyalitas hanya kepada Allah, Rasul dan orang-orang beriman, selain itu berarti telah keluar dari shahadatain, yang otomatis mengeluarkannya dari keislaman;"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya" [An Nisa' 4;59]

Keteaatan kepada Allah harus diiringi dengan ketaatan kepada Rasul dan tidak boleh bertentangan antara satu dengan lainnya, sedangkan ketaatan kepada ulil amri adalah ketaatan yang bersyarat yaitu apabila ulil amri tersebut dari kalanganmu yaitu pemimpin ummat ini, yang mengajak kepada kebenaran dan keadilan dengan loyalitas hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, bila ulil amri bertentangang dengan loyalitas kepada Allah dan Rasul-nya maka tidaklah wajib untuk diikuti dan dipatuhi bahkan sebaiknya ditentang dengan jihad fisabilillah.           

Seorang muslim yang baik, memiliki rasa malu, dan rasa malu  adalah sifat positif yang dimiliki manusia selama ditempatkan pada hal-hal yang baik, orang yang tidak mudah bergaul karena sesuatu hal disebut dengan pemalu, menghindari perbuatan buruk berarti orang itu ada sifat malu, melakukan perbuatan buruk berarti tidak punya malu, sebagai muslim tidak mau melaksanakan shalat berarti memalukan, tidak tahu diri sama dengan malu-maluin.  Yang positif adalah malu berbuat negatif atau karena ada hal-hal yang tidak baik pada dirinya atau mungkin juga karena berhadapan dengan hal-hal prinsif ;

Episode Pertama;
            Ketika Nabi Muhammad Saw melakukan Isra' Mi'raj, beliau menerima wahyu  untuk melaksanakan shalat lima puluh kali sehari semalam, disaat bertemu dengan para nabi tidak ada yang menanyakan kecuali nabi Musa saat berada di langit ke enam, terjadilah dialog;
Musa               ; Apa yang diperintahkan Allah kepadamu Muhammad ?
Muhammad     ; Saya diperintahkan shalat limapuluh kali sehari semalam.
Musa               ;Ummat engkau tidak akan sanggup melakukan shalat sebanyak itu,demi Allah aku telah berpengalaman, kembalilah ke atas minta keringanan kepada Allah.
Nabi Muhamamd kembali menghadap Allah meminta keringanan, tapi nabi Musa menyuruh kembali meminta keringanan padahal hanya tinggal lima kali saja lagi shalat sehari semalam, akhirnya nabi Muhammad menjawab; "Aku telah mohon keringanan kepada Allah sehingga aku merasa malu, tetapi aku rela menerimanya dengan baik".

Episode kedua;
            Sewaktu Rasulullah bersama para sahabat sedang memperbaiki selubuh Ka'bah yang robek, lalu angin yang kencang menyibakkan gamis beliau sehingga menampakkan betis beliau. Dengan peristiwa itu beliau lari dari keramaian dengan wajah merah padam karena malu. Beliau tidak mau betisnya terlihat oleh orang lain padahal batas aurat lelaki itu adalah antara pusar dan lutut, itulah rasa malu yang dmiliki oleh Rasulullah.

Episode  ketiga;
            Pada tahun 1946 Jepang kembali ke Tokio karena kalah perang melawan sekutu, dengan rasa malu mereka tinggalkan Indonesia setelah tiga setengah tahun dijajah, ketika meninggalkan negara jajahannya ini salah seorang pimpinannya berkata,"Sekarang kami kembali ke Tokio, tetapi dalam waktu duapuluh tahun kami akan kembali ke Indonesia".
            Tahun 1956 Jepang kembali menjajah Indonesia dalam bentuk lain yaitu melalui kebudayaannya seperti Karate, Sumo, Yudo dan lain-lain. Melalui produksi modernya seperti Kawasaki, Suzuki, Yamaha, Honda dan lain-lain.

Tanda-tanda masih ada rasa malu;
1.Kepada yang baik didorongnya ke depan seperti shalat dan giat belajar
2.kepada yang mungkar ditahannya seperti mencuri dan judi

Abu Hasan Al Mawardi membagi malu menjadi tiga yaitu;

1.Al Haya Minallah; malu kepada Allah
            Hidup diberikan bukan hanya kepada manusia saja, tetapi diberikan juga kepada hewan dan tumbuh-tumbuhan, yang diperlengkapi dengan berbagai alat kehidupan seperti udara, air dan cahaya matahari. Kesemuanya itu dapat diperoleh dengan gratis, tanpa harus membayar kepada yang memberi hidup ini.

Hidup adalah kurnia Ilahi kepada setiap makhluk, terutama manusia, tidak seorangpun boleh merampasnya, kecuali dengan ketentuan-ketentuan yang lain, Allah berfirman dalam surat Al Hijr 15;23, "Dan Sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan kami (pulalah) yang mewarisi".

Dari nikmat itu maka selayaknya seorang muslim untuk mensyukurinya dengan banyak beribadah, apakah tidak malu kepada Allah bila kita mengkufuri nikmat-Nya dengan berbuat yang dilarang-Nya. Al haya minallah yaitu malu kepada Allah dapat memotivasi kita untuk berbuat baik selamanya.

2.Al Haya Minannas; malu kepada manusia
            Malu kepada manusia membuat kita bersikap santun dengan kepribadian menarik lainnya, tidak mudah menyinggung dan memperlakukan manusia seenak kita. Ada orang-orang yang dekat dengan kita yang harus diperhatikan kehidupannya yaitu anak, isteri, ayah, ibu dan saudara lainnya, merekapun senantiasa memperhatikan seluruh gerak-gerik kehidupan yang kita lakoni, dikala perbuatan baik dan prestasi bagus yang kita hasilkan mereka sangat bangga, tapi kalau kejahatan yang dilakukan maka mereka sangat menyesal sekali, rasa malu kepada manusia inilah yang menjaga kita untuk berhati-hati menapaki kehidupan ini.
                       
3.Al Haya minannafsi; malu kepada diri sendiri
            Sifat malu yang ada pada diri manusia bukan hanya malu kepada orang lain saja tapi juga malu kepada diri sendiri membuat orang untuk berhati-hati dalam hidup, tidak menyia-nyiakan dirinya, dia akan menjaga dirinya untuk kemaslahatan pribadi, keluarga dan masyarakat.
Orang yang baik adalah yang menjaga diri dan keluarga dari api neraka, orang yang lengah adalah orang yang menjaga dirinya sendiri lalu melupakan keluarganya, dan orang yang bodoh adalah orang yang hanya menyelamatkan dirinya saja. Sifat malu yang ada pada diri seseorang mendorong dia untuk menyelamatkan semuanya yaitu menyelamatkan dirinya dan juga menyelamatkan keluarganya, pada sebuah hadits diceritakan oleh Nabi ada seorang ayah yang akan masuk ke dalam syurga tapi dihalangi oleh anaknya karena waktu di dunia sang ayah walaupun orang yang shaleh tapi dia mengabaikan pendidikan agama anaknya.

Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah, yaitu mengkader ummatnya dengan tempaan islam yang kontinyu tanpa mengenal lelah sehingga melahirkan kualitas muslim yang prima, kepribadian islami yang luar biasa seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Bilal bin Rabah serta ratusan kader-kader militan dengan kepribadian islam yang prima. Apa yang salah pada da’wah kita hari ini sehingga tidak muncul pribadi sebagaimana orang-orang terdahulu, jangankan setipe mereka, pengganti Buya Hamka dan Buya Natsir saja sulit untuk menemukannya, sebagai renungan bagi kita, benar apa yang dikatakan oleh seorang ulama,”Untuk memperbaiki ummat agar sama kualitasnya dengan ummat terdahulu maka harus meniru bagaimana Rasulullah mengkader ummat ini”, bila tidak demikian jangan berharap banyak untuk munculnya pribadi yang betul-betul islami, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 19 Ramadhan 1431.H/ 29 Agustus 2010]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar