Kamis, 17 Desember 2015

99. Musibah



Sejak kelahiran manusia di dunia ini bahkan ketika berada dalam kandungan ibunyapun sudah diancam oleh berbagai ujian, penderitaan dan musibah yang dilaluinya, ada yang keguguran ketika masih dalam rahim, mengalami kematian dikala proses kelahiran hingga berbagai macam malapetaka akan menghampirinya hingga berakhirnya kehidupan ini, itulah kehidupan mesti dekat dengan musibah. 

Musibah datang silih berganti melanda negeri.Korban jiwa dan harta benda tak terhitung lagi.Semua terjadi di negeri ini.Ada yang mengatakan, bencana datang karena ulah tangan-tangan rakus kita sendiri.Tangan-tangan rakus kita yang berlumur dosa ini, telah menjadi penyebab kehancuran sebagian wilayah negeri ini.Tangan-tangan rakus berlumur dosa ini, telah menjadi penyebab datangnya penderitaan bagi sebagian saudara-saudara kita di negeri ini. 

Pertanyaannya, tangan-tangan rakus berlumur dosa itu milik siapa?Milik pemimpin kita yang berpesta pora dengan harta hasil korupsi? Milik petinggi negeri yang berlaku zalim pada para ulama dengan menuduh sebagai teroris, memenjarakan, bahkan membunuhnya tanpa proses hukum? Atau, milik rakyat biasa yang juga gemar berbuat dosa dan segala bentuk kemaksiatan? 

Allah SWT menyatakan: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar),” (QS ar-Ruum 41). Jadi, penyebab utama terjadinya bencana di muka bumi, termasuk yang terjadi di Indonesia secara beruntun akhir-akhir ini, karena kesalahan manusia sendiri, karena dosa-dosa yang dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri. Yakni, dosa-dosa yang telah dilakukan terhadap Allah, Rasul saw, dosa pada sesama manusia, dan alam sekitarnya. 

Musibah yang beruntun ini, mulai dari tabrakan kereta api, angin puting beliung, kebakaran, banjir di Jabodetabek, banjir Wasior, tsunami di Mentawai, dan meletusnya Merapi, saya berharap semua ini merupakan peringatan dari Allah SWT agar kita bertaubat. Sayangnya, media massa belum ada yang mengarahkan pada publik bahwa penyebab utama terjadinya bencana ini karena perbuatan dosa kita sendiri. 
Kita tidak usah menuduh pada salah satu kelompok atau golongan, tapi mari kita akui, kita sadari, bahwa dosa-dosa ini adalah dosa kita semua. Semua orang Indonesia, dari semua level, kelompok, golongan, harus berani mengakui dan menyadari bencana ini merupakan akibat dari perbuatan dosa kita semua. Yakni dosa atas perbuatan maksiat kita pada Allah SWT, pada Rasul saw, pada sesama manusia, dan pada alam sekitarnya, sehingga Allah SWT pun menurunkan musibah pada kita. [Dr Muslih Abdul Karim: Bagi Para Pendosa, Bencana adalah Azab Allah,Cyber Sabili, Kamis, 25 November 2010 14:27 Dwi Hardianto].

Dalam Al-Quran surat Al-Anfaal [8] ayat 25, Allah SWT berfirman, "Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya."  

Ayat di atas menyiratkan bahwa siksaan atau azab yang ditimpakan Allah sebagai balasan atas kezaliman yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok kecil orang tidak saja menimpa si pelaku kezaliman tetapi bisa juga menimpa orang-orang lain yang tidak bersalah atau tidak terlibat dalam kezaliman tersebut.
Orang-orang yang tidak bersalah sering harus turut menanggung penderitaan yang timbul sebagai azab atas kezaliman yang dilakukan orang lain.  

Dalam kasus penyebaran penyakit AIDS, misalnya, fakta mengungkapkan bahwa sebagian besar korban penularan AIDS di Indonesia justru ibu-ibu dan anak-anak yang sama sekali tidak pernah melakukan perbuatan yang berisiko tinggi terkena AIDS.
Ibu-ibu tersebut tertular AIDS dari suami-suami mereka sendiri dan kemudian melanjutkan penularannya kepada anak-anak mereka.

Dalam Malam Renungan AIDS Nasional 2010 di Lapangan Taman Silang Monas Jakarta Pusat pada hari Sabtu malam tanggal 12 Juni 2010, lalu Ibu Nafsiah Mboi, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2006), menyatakan bahwa delapan puluh persen penderita HIV/AIDS adalah istri-istri baik-baik yang tertular AIDS lewat suami-suami mereka yang berpetualang seks di luar rumah tanpa berkondom. 

Lebih menyedihkan lagi jika melihat bayi-bayi dan anak-anak yang tertular AIDS karena perbuatan ayah-ayah mereka yang tidak bertanggung jawab.Bayangkan, jiwa-jiwa suci tanpa dosa itu sudah harus menanggung penderitaan berat ketika mereka baru saja memulai hidup.  

Contoh lain bisa kita dapatkan dari banyaknya orang yang meninggal atau menderita penyakit karena menjadi perokok pasif. Dalam laporannya, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organisation (WHO) menyatakan bahwa jumlah kematian akibat merokok pasif adalah sekitar 600.000 orang per tahun.
Sementara, jumlah penderita penyakit akibat merokok pasif, walaupun tidak dapat disebutkan secara spesifik, bisa dipastikan mencapai jutaan orang jika dibandingkan dengan jumlah kematian di atas dan tingkat konsumsi rokok saat ini.

 Korupsi dan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan adalah bentuk kezaliman lain yang berakibat serupa. Para pelakunya mendapatkan "kenikmatan" dan "kemakmuran" di atas penderitaan masyarakat banyak.
Contoh lain dalam skala global adalah kemiskinan global yang timbul sebagai akibat dari pendistribusian kemakmuran dunia yang tidak proporsional. Sebagai ilustrasi, 20 negara terkaya di dunia menguasai lebih dari 60% kekayaan dunia, sedangkan jumlah seluruh penduduk kedua puluh negara tersebut tidak lebih dari 20% jumlah seluruh penduduk dunia. 

Meskipun banyak pihak menyatakan prihatin atas ketimpangan yang tajam ini, belum banyak tindakan nyata yang telah diambil untuk mengatasinya.Sejumlah negara tampak masih enggan untuk berbagi.
Mereka mengemukakan berbagai alasan dan pertimbangan, antara lain karena mereka perlu mempertahankan tingkat kemakmuran dan kesejahteraan mereka sendiri.  Proporsionalitas pendistribusian kekayaan (kemakmuran) sebenarnya telah diamanatkan oleh Allah dalam Al-Quran surat Al-Hasyr [59] ayat 7.
Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan pembagian harta rampasan kepada semua orang yang berhak supaya harta itu tidak beredar di antara orang-orang kaya saja di antara masyarakat.
Beberapa abad kemudian, Francis Bacon (1561-1626), filsuf Inggris, memberikan pernyataan yang menegaskan amanat Al-Quran tersebut: "Above all things, good policy is to be used so that the treasures and monies in a state be not gathered into a few hands. Money is like muck, not good except it be spread." (Terjemahan bebasnya: "Di atas segalanya, kebijakan yang baik harus diterapkan sehingga perbendaharaan harta dan uang di satu negara tidak dikuasai oleh segelintir anggota masyarakat. Uang itu seperti pupuk kandang, tidak baik kecuali jika disebarkan.").[Yoga Taruna  , Tersebar Luasnya Bencana Akibat Kezaliman, Views].

Kalau kita mentadabburkan ayat-ayat Al-Qura’an terkait bencana alam yang menimpa berbagai umat sebelum kita, sejak zaman nabi Nuh, Ibrahim, Luth, Syu’aib, Sholeh, Musa dan sebagainya, kita akan menemukan dua cara pandang manusia terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di atas bumi ini.

Pertama, cara pandang orang-orang kafir dan ingkar pada Allah dan Rasul-Nya. Cara pandang orang-orang yang sombong pada Allah dan tidak mengenal Tuhan Pencipta alam yang sebenarnya.Cara pandang orang-orang sekular yang tidak mampu melihat kaitan antara Tuhan dengan hamba, antara agama dengan kehidupan dan antara dunia dan akhirat.

Manusia semacam ini adalah manusia yang tidak pernah mau dan tidak mampu menjadikan berbagai peristiwa alam tersebut sebagai pelajaran dan sebagai bukti kekuasaan dan kebesaran Allah.Mereka bukannya mengoreksi diri dan kembali kepada Allah, melaikan semakin bertambah kesombongan dan pembangkangan mereka pada Allah dan Rasul-Nya. Hal seperti ini dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an, dii antaranya dalam surat Ghafir / 40 : 21 – 27 :
"Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka.Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi maka Allah mengazab mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari azab Allah" (21)
Yang demikian itu adalah karena telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata lalu mereka kafir; maka Allah mengazab mereka. Sesungguhnya Dia Maha Kuat lagi Maha Keras hukuman-Nya (22)

Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata,(23) kepada Fir'aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: "(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta."(24)

Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata: "Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersama dengan dia dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka." Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka) (25)
Dan berkata Fir'aun (kepada pembesar-pembesarnya): "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi."(26) Dan Musa berkata: "Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab."(27) (Q.S. Ghafir : 21 -27)

Kedua, cara pandang orang-orang beriman kepada Allah dan para Rasulnya. Apa saja peristiwa alam yang terjadi mereka kembalikan semuanya kepada kehendak dan kekusaan Allah, mereka hadapi dengan hati yang penuh iman, tawakakal, sabar dan tabah sert amereka lihat sebagai sebuah ujian dan musibah untuk menguji kualitas keimanan dan kesabaran mereka, atau bisa jiag sebagai teguran Allah atas kelalaian dan dosa yang mereka lakukan.

Selain itu, semua peristiwa yang menimpa manusai mereka jadikan sebagai momentum terbaik untuk mengoreksi diri (taubat) agar lebih dekat kepada Allah dan sistem Allah dan Rasul-Nya. Pada saat yang sama merekapun meninggalkan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya.
Mereka adalah orang-orang yang sukses dalam beriteraski dengan alam dan dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan semasa hidup di dunia dan juga di akhirat kelak. Allah menjelasakannya dalam Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 155 – 157 :
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(155) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun (seusngguhnya kami milik Allah dan sesunnguhnya kami sedang menuju kemabali kepada-Nya) (156) Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (157) (Q.S. Al-Baqoroh / 2 : 155 -157) [Fathuddin Jafar,Hakikat Bencana Alam dalam Al-Quran, Eramuslim, Senin, 09/11/2009 16:45 WIB].

            Sebenarnya ujian yang diberikan kepada manusia bukan saja yang bercorak musibah dan malapetaka, bahkan kesenangan dan kebahagiaanpun merupakan ujian dari Allah, itulah makanya Rasulullah menyatakan kepada ummatnya untuk tidak terlalu sedih dikala mendapat musibah dan tidak terlalu gembira ketika ada kesenangan, sikapi semuanya dengan iman.

istilah bala’ (ujian/cobaan) yang dipakai-Nya di dalam Alquran ternyata mempunyai dua sisi makna, yaitu musibah dan nikmat.  Sungguh, akidah atau teologi mengenai bala’ yang terdapat di dalam Alquran ini di luar dugaan kita sebelumnya yang mengaitkan bala’ pada musibah saja.  Untuk bala’ yang berarti musibah, di ayat 155 surat Al-Baqarah itu, Allah menyatakan dengan tegas bahwa Dia akan memberikan cobaan kepada kita semua, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.

Sementara bala’ yang bermakna nikmat, Anda bisa melihatnya di dalam QS. An-Naml: 40. Ayat ini semacam penegasan dari ayat-ayat sebelumnya yang dimulai sejak ayat 15, di mana rangkaian firman Allah itu menceritakan kenikmatan-kenikmatan yang diberikan kepada Nabi Sulaiman, yaitu ilmu, bala tentara dari jin-manusia-burung, kemampuan mendengarkan bahasa semut, dan yang paling fantastik ialah tatkala Sulaiman melihat singgasana Ratu Balqis sekejap mata sudah terletak di hadapannya.

Nah, di ayat 40 itulah, Sulaiman menyadari melalui ungkapan tauhid rububiyahnya, bahwa semua kenikmatan yang diterimanya itu semata-mata merupakan anugerah Rabb (Tuhan)-nya, sekaligus ’ujian’ (bala’) baginya: apakah dia bersyukur atau kufur. Coba, para pembaca, Anda perhatikan, ayat ini menyebut kenikmatan sebagai bala’ juga!

Apa yang kita dapatkan dari teologi bala’ (ujian) tersebut?Ya, para pembaca, kehidupan ini memang berisi dua hal itu, musibah dan nikmat. Tidak ada yang lain. Kalau tidak tertimpa musibah, seseorang itu dalam hidupnya menerima nikmat. Keduanya datang silih berganti seperti silih bergantinya malam dan siang (QS  Ali Imran [3]: 190). Karena itu, manusia harus menyadari bahwa keduanya merupakan ujian.

Allah sendiri pun sejak awal telah menyadarkan kita akan dua macam bala’ (ujian) itu: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (QS  Al-Anbiyaa’ [21]: 35).

Musibah disebut ujian, karena memang banyak manusia yang tidak sabar ketika musibah mulai menimpa dirinya.Ketidaksabaran itu karena saking tidak kuatnya menanggung musibah.Ada yang mengeluh dan ada pula yang sampai nekad bunuh diri.

Sementara itu, kenikmatan yang dirasakan oleh sebagian manusia juga bisa disebut ujian, alasannya sama dengan musibah tadi, yaitu semata-mata karena sikap manusia yang menerima kenikmatan itu. Jika dalam menghadapi musibah banyak orang yang tidak sabar, maka dalam menghadapi kenikmatan banyak orang yang tidak bisa bersyukur.Tandanya bisa kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang serba cukup banyak yang jatuh dalam dosa atau kemaksiatan kepada Allah.[Achmad Sjamsudin,
Hikmah: Teologi Ujian,Republika OnLine,Kamis, 17 Februari 2011, 09:30 WIB].

                Ketika mendapat ujian berupa bencana dan musibah banyak orang yang mampu menerimanya dengan kesabaran dan do’a sehingga dia berhasil bertahan dengan kondisi sulit sekalipun,tapi kalau diberi ujian berupa kesenangan banyak yang gagal, tidak bersyukur kepada Allah dan melupakan ibadah dan doa kepada-Nya, padahal ujian itu harus disikapi dengan syukur, sabar dan do’a.

Dalam perspektif spiritual, setidaknya kita perlu memadukan tiga energi kehidupan.
Energi syukur, sabar dan doa. Di dalam tiga hal tersebut terkandung kekuatan yang akan memberikan kita ketenangan dalam bertindak dan menyikapi berbagai musibah, bencana dan persoalan hidup yang mendera.
Pertama, tidak sedikit manusia ketika diberi nikmat oleh Allah SWT tidak pandai bersyukur.Ketika diberikan kesehatan, seringkali kita tidak menyadari nikmat kesehatan adalah anugerah paling berharga dalam kehidupan.Tubuh yang sehat bisa menjadikan kita mampu melakukan aktivitas dan pekerjaan sehari-hari, bisa mencari nafkah untuk diri maupun keluarga.

Setiap kelapangan yang diberikan Allah SWT, hendaklah kita syukuri dan berupaya selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.Namun, tanpa kita sadari pula letak persoalannya.Seringkali kita lihat kelalaian manusia sebagai makhluk disebabkan karena terlena dengan nikmat dan amanah yang diberikan Allah SWT kepadanya.Harta, pangkat dan jabatan serta berbagai bentuk kesenangan duniawi lainnya membuat manusia terlena.Padahal, jika kita menyadari semuanya itu amanah Allah SWT yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya.

Kedua, bersabar. Mengutip pandangan Muhammad bin Shalih Al-Munajjid, sabar ialah bertahan dalam mengerjakan perintah Allah dan menahan diri dari amal perbuatan yang dilarang Allah.  Dalam sabar terkandung makna mencegah, bersikeras dan sifat enggan.Mencegah dan menghindarkan diri dari perbuatan yang dilarang agama.

Sabar tidak berarti kita hanya pasrah dengan keadaan.Melalui sabar justru kita berusaha tekun dan bersungguh-sungguh berusaha, bekerja dan beribadah semata-mata mencari ridho Allah SWT.Kesabaran bisa mengundang kasih sayang Allah kepada kita.Ketika kita meng hadapi ujian dan musibah, ketenangan menghadapinya terlahir dari sikap sabar menyikapi musibah tersebut.Maka, bersabarlah untuk menghadapi cobaan tersebut dengan hati lapang seraya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ketiga; hal yang tidak kalah penting adalah kekuatan doa dalam setiap ibadah kita. Doa merupakan senjata orang beriman dalam meng hadapi berbagai persoalan hidup.
Menjadi relevan keterkaitan hablumminallah (hubungan manusia dengan Allah).Allah SWT menyerukan kepada manusia untuk beribadah dan mengabdi kepada-Nya, sudah seharusnya kita sebagai makhluk menyambut seruan-Nya dengan segera. Di sanalah letak pertolongan Allah SWT melalui kekuatan doa yang akan menyelamatkan kita dari bencana[MLuthfi Munzir, Manajemen Spritual Bencana, Jumat, 01 April 2011].

Bagaimanapun juga kita akan mendapat ujian dari Allah sesuai dengan kadar keimanan yang kita miliki, ujian itu dalam rangka untuk meninggikan level iman kita dan menaikkan derajat taqwa, yang penting kita siapkan segalanya untuk menghadapi ujian itu, setitnglah diri kita dengan syukur, sabar dan doa, insya Allah akan lulus dari segala musibah yang datang,  wallahua’lam    [Geylang Lorong 12 Singapura,  07 Rajab 1432.H/ 09 Juni 2011.M].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar