Sejak kelahiran
manusia di dunia ini bahkan ketika berada dalam kandungan ibunyapun sudah
diancam oleh berbagai ujian, penderitaan dan musibah yang dilaluinya, ada yang
keguguran ketika masih dalam rahim, mengalami kematian dikala proses kelahiran
hingga berbagai macam malapetaka akan menghampirinya hingga berakhirnya
kehidupan ini, itulah kehidupan mesti dekat dengan musibah.
Musibah datang silih berganti melanda
negeri.Korban jiwa dan harta benda tak terhitung lagi.Semua terjadi di negeri
ini.Ada yang mengatakan, bencana datang karena ulah tangan-tangan rakus kita
sendiri.Tangan-tangan rakus kita yang berlumur dosa ini, telah menjadi penyebab
kehancuran sebagian wilayah negeri ini.Tangan-tangan rakus berlumur dosa ini,
telah menjadi penyebab datangnya penderitaan bagi sebagian saudara-saudara kita
di negeri ini.
Pertanyaannya, tangan-tangan rakus berlumur dosa
itu milik siapa?Milik pemimpin kita yang berpesta pora dengan harta hasil
korupsi? Milik petinggi negeri yang berlaku zalim pada para ulama dengan menuduh
sebagai teroris, memenjarakan, bahkan membunuhnya tanpa proses hukum? Atau,
milik rakyat biasa yang juga gemar berbuat dosa dan segala bentuk
kemaksiatan?
Allah SWT menyatakan: “Telah nampak kerusakan
di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah
merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka
kembali (ke jalan yang benar),” (QS ar-Ruum 41). Jadi, penyebab utama
terjadinya bencana di muka bumi, termasuk yang terjadi di Indonesia secara beruntun
akhir-akhir ini, karena kesalahan manusia sendiri, karena dosa-dosa yang
dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri. Yakni, dosa-dosa yang telah dilakukan
terhadap Allah, Rasul saw, dosa pada sesama manusia, dan alam sekitarnya.
Musibah yang beruntun ini, mulai dari tabrakan
kereta api, angin puting beliung, kebakaran, banjir di Jabodetabek, banjir
Wasior, tsunami di Mentawai, dan meletusnya Merapi, saya berharap semua ini
merupakan peringatan dari Allah SWT agar kita bertaubat. Sayangnya, media massa
belum ada yang mengarahkan pada publik bahwa penyebab utama terjadinya bencana
ini karena perbuatan dosa kita sendiri.
Kita tidak usah menuduh pada salah satu kelompok
atau golongan, tapi mari kita akui, kita sadari, bahwa dosa-dosa ini adalah
dosa kita semua. Semua orang Indonesia, dari semua level, kelompok, golongan,
harus berani mengakui dan menyadari bencana ini merupakan akibat dari perbuatan
dosa kita semua. Yakni dosa atas perbuatan maksiat kita pada Allah SWT, pada
Rasul saw, pada sesama manusia, dan pada alam sekitarnya, sehingga Allah SWT
pun menurunkan musibah pada kita. [Dr Muslih Abdul Karim: Bagi Para
Pendosa, Bencana adalah Azab Allah,Cyber Sabili, Kamis, 25
November 2010 14:27 Dwi Hardianto].
Dalam
Al-Quran surat Al-Anfaal [8] ayat 25, Allah SWT berfirman, "Dan
peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim
saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya."
Ayat di
atas menyiratkan bahwa siksaan atau azab yang ditimpakan Allah sebagai balasan
atas kezaliman yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok kecil orang tidak
saja menimpa si pelaku kezaliman tetapi bisa juga menimpa orang-orang lain yang
tidak bersalah atau tidak terlibat dalam kezaliman tersebut.
Orang-orang
yang tidak bersalah sering harus turut menanggung penderitaan yang timbul
sebagai azab atas kezaliman yang dilakukan orang lain.
Dalam
kasus penyebaran penyakit AIDS, misalnya, fakta mengungkapkan bahwa sebagian
besar korban penularan AIDS di Indonesia justru ibu-ibu dan anak-anak yang sama
sekali tidak pernah melakukan perbuatan yang berisiko tinggi terkena AIDS.
Ibu-ibu
tersebut tertular AIDS dari suami-suami mereka sendiri dan kemudian melanjutkan
penularannya kepada anak-anak mereka.
Dalam Malam Renungan
AIDS Nasional 2010 di Lapangan Taman Silang Monas Jakarta Pusat
pada hari Sabtu malam tanggal 12 Juni 2010, lalu Ibu Nafsiah Mboi, Sekretaris
Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (yang dibentuk berdasarkan Peraturan
Presiden Nomor 75 Tahun 2006), menyatakan bahwa delapan puluh persen penderita
HIV/AIDS adalah istri-istri baik-baik yang tertular AIDS lewat suami-suami
mereka yang berpetualang seks di luar rumah tanpa berkondom.
Lebih
menyedihkan lagi jika melihat bayi-bayi dan anak-anak yang tertular AIDS karena
perbuatan ayah-ayah mereka yang tidak bertanggung jawab.Bayangkan, jiwa-jiwa
suci tanpa dosa itu sudah harus menanggung penderitaan berat ketika mereka baru
saja memulai hidup.
Contoh
lain bisa kita dapatkan dari banyaknya orang yang meninggal atau menderita
penyakit karena menjadi perokok pasif. Dalam laporannya, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health
Organisation (WHO) menyatakan bahwa jumlah kematian akibat merokok pasif
adalah sekitar 600.000 orang per tahun.
Sementara,
jumlah penderita penyakit akibat merokok pasif, walaupun tidak dapat disebutkan
secara spesifik, bisa dipastikan mencapai jutaan orang jika dibandingkan dengan
jumlah kematian di atas dan tingkat konsumsi rokok saat ini.
Korupsi
dan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan adalah bentuk kezaliman lain
yang berakibat serupa. Para pelakunya mendapatkan "kenikmatan" dan
"kemakmuran" di atas penderitaan masyarakat banyak.
Contoh
lain dalam skala global adalah kemiskinan global yang timbul sebagai akibat
dari pendistribusian kemakmuran dunia yang tidak proporsional. Sebagai ilustrasi, 20 negara terkaya di dunia menguasai lebih dari 60%
kekayaan dunia, sedangkan jumlah seluruh penduduk kedua puluh negara tersebut
tidak lebih dari 20% jumlah seluruh penduduk dunia.
Meskipun
banyak pihak menyatakan prihatin atas ketimpangan yang tajam ini, belum banyak
tindakan nyata yang telah diambil untuk mengatasinya.Sejumlah negara tampak
masih enggan untuk berbagi.
Mereka
mengemukakan berbagai alasan dan pertimbangan, antara lain karena mereka perlu
mempertahankan tingkat kemakmuran dan kesejahteraan mereka sendiri.
Proporsionalitas pendistribusian kekayaan (kemakmuran) sebenarnya telah
diamanatkan oleh Allah dalam Al-Quran surat Al-Hasyr [59] ayat 7.
Dalam
ayat tersebut, Allah memerintahkan pembagian harta rampasan kepada semua orang
yang berhak supaya harta itu tidak beredar di antara orang-orang kaya saja di
antara masyarakat.
Beberapa
abad kemudian, Francis Bacon (1561-1626), filsuf Inggris, memberikan pernyataan yang
menegaskan amanat Al-Quran tersebut: "Above all things, good policy is
to be used so that the treasures and monies in a state be not gathered into a
few hands. Money is like muck, not good except it be spread."
(Terjemahan bebasnya: "Di atas segalanya, kebijakan yang baik harus
diterapkan sehingga perbendaharaan harta dan uang di satu negara tidak dikuasai
oleh segelintir anggota masyarakat. Uang itu seperti pupuk kandang, tidak baik
kecuali jika disebarkan.").[Yoga
Taruna , Tersebar Luasnya Bencana Akibat Kezaliman, Views].
Kalau kita mentadabburkan ayat-ayat Al-Qura’an
terkait bencana alam yang menimpa berbagai umat sebelum kita, sejak zaman nabi
Nuh, Ibrahim, Luth, Syu’aib, Sholeh, Musa dan sebagainya, kita akan menemukan
dua cara pandang manusia terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di atas bumi
ini.
Pertama, cara pandang orang-orang kafir dan
ingkar pada Allah dan Rasul-Nya. Cara pandang orang-orang yang sombong pada
Allah dan tidak mengenal Tuhan Pencipta alam yang sebenarnya.Cara pandang
orang-orang sekular yang tidak mampu melihat kaitan antara Tuhan dengan hamba,
antara agama dengan kehidupan dan antara dunia dan akhirat.
Manusia semacam ini adalah manusia yang tidak
pernah mau dan tidak mampu menjadikan berbagai peristiwa alam tersebut sebagai
pelajaran dan sebagai bukti kekuasaan dan kebesaran Allah.Mereka bukannya
mengoreksi diri dan kembali kepada Allah, melaikan semakin bertambah
kesombongan dan pembangkangan mereka pada Allah dan Rasul-Nya. Hal seperti ini
dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an, dii antaranya dalam surat Ghafir / 40 : 21 – 27
:
"Dan apakah mereka tidak mengadakan
perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang
sebelum mereka.Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan
(lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi maka Allah mengazab mereka
disebabkan dosa-dosa mereka. Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari
azab Allah" (21)
Yang demikian itu adalah karena telah datang
kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata lalu
mereka kafir; maka Allah mengazab mereka. Sesungguhnya Dia Maha Kuat lagi Maha
Keras hukuman-Nya (22)
Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan
membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata,(23) kepada Fir'aun, Haman dan
Qarun; maka mereka berkata: "(Ia) adalah seorang ahli sihir yang
pendusta."(24)
Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa
kebenaran dari sisi Kami mereka berkata: "Bunuhlah anak-anak orang-orang
yang beriman bersama dengan dia dan biarkanlah hidup wanita-wanita
mereka." Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia
(belaka) (25)
Dan berkata Fir'aun (kepada
pembesar-pembesarnya): "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia
memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar
agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi."(26) Dan Musa berkata:
"Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang
yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab."(27)
(Q.S. Ghafir : 21 -27)
Kedua, cara pandang orang-orang beriman kepada
Allah dan para Rasulnya. Apa saja peristiwa alam yang terjadi mereka kembalikan
semuanya kepada kehendak dan kekusaan Allah, mereka hadapi dengan hati yang
penuh iman, tawakakal, sabar dan tabah sert amereka lihat sebagai sebuah ujian
dan musibah untuk menguji kualitas keimanan dan kesabaran mereka, atau bisa
jiag sebagai teguran Allah atas kelalaian dan dosa yang mereka lakukan.
Selain itu, semua peristiwa yang menimpa manusai
mereka jadikan sebagai momentum terbaik untuk mengoreksi diri (taubat) agar
lebih dekat kepada Allah dan sistem Allah dan Rasul-Nya. Pada saat yang sama
merekapun meninggalkan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya.
Mereka adalah orang-orang yang sukses dalam
beriteraski dengan alam dan dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan semasa
hidup di dunia dan juga di akhirat kelak. Allah menjelasakannya dalam Al-Qur’an
surat Al-Baqoroh ayat 155 – 157 :
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu,
dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.
Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(155) (yaitu)
orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna
lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun (seusngguhnya kami milik Allah dan
sesunnguhnya kami sedang menuju kemabali kepada-Nya) (156) Mereka itulah yang
mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka
itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (157) (Q.S. Al-Baqoroh / 2 : 155
-157) [Fathuddin Jafar,Hakikat
Bencana Alam dalam Al-Quran, Eramuslim, Senin, 09/11/2009 16:45 WIB].
Sebenarnya
ujian yang diberikan kepada manusia bukan saja yang bercorak musibah dan
malapetaka, bahkan kesenangan dan kebahagiaanpun merupakan ujian dari Allah,
itulah makanya Rasulullah menyatakan kepada ummatnya untuk tidak terlalu sedih
dikala mendapat musibah dan tidak terlalu gembira ketika ada kesenangan, sikapi
semuanya dengan iman.
istilah bala’ (ujian/cobaan) yang
dipakai-Nya di dalam Alquran ternyata mempunyai dua sisi makna, yaitu musibah
dan nikmat. Sungguh, akidah atau teologi
mengenai bala’ yang terdapat di dalam Alquran ini di luar dugaan kita
sebelumnya yang mengaitkan bala’ pada musibah saja. Untuk bala’ yang
berarti musibah, di ayat 155 surat Al-Baqarah itu, Allah menyatakan dengan
tegas bahwa Dia akan memberikan cobaan kepada kita semua, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.
Sementara
bala’ yang bermakna nikmat, Anda bisa melihatnya di dalam QS. An-Naml:
40. Ayat ini semacam penegasan dari ayat-ayat sebelumnya yang dimulai sejak
ayat 15, di mana rangkaian firman Allah itu menceritakan kenikmatan-kenikmatan
yang diberikan kepada Nabi Sulaiman, yaitu ilmu, bala tentara dari
jin-manusia-burung, kemampuan mendengarkan bahasa semut, dan yang paling
fantastik ialah tatkala Sulaiman melihat singgasana Ratu Balqis sekejap mata
sudah terletak di hadapannya.
Nah, di ayat 40 itulah, Sulaiman menyadari melalui ungkapan tauhid rububiyahnya, bahwa semua kenikmatan yang diterimanya itu semata-mata merupakan anugerah Rabb (Tuhan)-nya, sekaligus ’ujian’ (bala’) baginya: apakah dia bersyukur atau kufur. Coba, para pembaca, Anda perhatikan, ayat ini menyebut kenikmatan sebagai bala’ juga!
Apa yang kita dapatkan dari teologi bala’ (ujian) tersebut?Ya, para pembaca, kehidupan ini memang berisi dua hal itu, musibah dan nikmat. Tidak ada yang lain. Kalau tidak tertimpa musibah, seseorang itu dalam hidupnya menerima nikmat. Keduanya datang silih berganti seperti silih bergantinya malam dan siang (QS Ali Imran [3]: 190). Karena itu, manusia harus menyadari bahwa keduanya merupakan ujian.
Allah sendiri pun sejak awal telah menyadarkan kita akan dua macam bala’ (ujian) itu: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (QS Al-Anbiyaa’ [21]: 35).
Musibah disebut ujian, karena memang banyak manusia yang tidak sabar ketika musibah mulai menimpa dirinya.Ketidaksabaran itu karena saking tidak kuatnya menanggung musibah.Ada yang mengeluh dan ada pula yang sampai nekad bunuh diri.
Sementara itu, kenikmatan yang dirasakan oleh sebagian manusia juga bisa disebut ujian, alasannya sama dengan musibah tadi, yaitu semata-mata karena sikap manusia yang menerima kenikmatan itu. Jika dalam menghadapi musibah banyak orang yang tidak sabar, maka dalam menghadapi kenikmatan banyak orang yang tidak bisa bersyukur.Tandanya bisa kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang serba cukup banyak yang jatuh dalam dosa atau kemaksiatan kepada Allah.[Achmad Sjamsudin, Hikmah: Teologi Ujian,Republika OnLine,Kamis, 17 Februari 2011, 09:30 WIB].
Nah, di ayat 40 itulah, Sulaiman menyadari melalui ungkapan tauhid rububiyahnya, bahwa semua kenikmatan yang diterimanya itu semata-mata merupakan anugerah Rabb (Tuhan)-nya, sekaligus ’ujian’ (bala’) baginya: apakah dia bersyukur atau kufur. Coba, para pembaca, Anda perhatikan, ayat ini menyebut kenikmatan sebagai bala’ juga!
Apa yang kita dapatkan dari teologi bala’ (ujian) tersebut?Ya, para pembaca, kehidupan ini memang berisi dua hal itu, musibah dan nikmat. Tidak ada yang lain. Kalau tidak tertimpa musibah, seseorang itu dalam hidupnya menerima nikmat. Keduanya datang silih berganti seperti silih bergantinya malam dan siang (QS Ali Imran [3]: 190). Karena itu, manusia harus menyadari bahwa keduanya merupakan ujian.
Allah sendiri pun sejak awal telah menyadarkan kita akan dua macam bala’ (ujian) itu: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (QS Al-Anbiyaa’ [21]: 35).
Musibah disebut ujian, karena memang banyak manusia yang tidak sabar ketika musibah mulai menimpa dirinya.Ketidaksabaran itu karena saking tidak kuatnya menanggung musibah.Ada yang mengeluh dan ada pula yang sampai nekad bunuh diri.
Sementara itu, kenikmatan yang dirasakan oleh sebagian manusia juga bisa disebut ujian, alasannya sama dengan musibah tadi, yaitu semata-mata karena sikap manusia yang menerima kenikmatan itu. Jika dalam menghadapi musibah banyak orang yang tidak sabar, maka dalam menghadapi kenikmatan banyak orang yang tidak bisa bersyukur.Tandanya bisa kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang serba cukup banyak yang jatuh dalam dosa atau kemaksiatan kepada Allah.[Achmad Sjamsudin, Hikmah: Teologi Ujian,Republika OnLine,Kamis, 17 Februari 2011, 09:30 WIB].
Ketika mendapat ujian berupa bencana dan
musibah banyak orang yang mampu menerimanya dengan kesabaran dan do’a sehingga
dia berhasil bertahan dengan kondisi sulit sekalipun,tapi kalau diberi ujian
berupa kesenangan banyak yang gagal, tidak bersyukur kepada Allah dan melupakan
ibadah dan doa kepada-Nya, padahal ujian itu harus disikapi dengan syukur,
sabar dan do’a.
Dalam
perspektif spiritual, setidaknya kita perlu memadukan tiga energi kehidupan.
Energi syukur, sabar dan doa. Di dalam tiga hal tersebut terkandung kekuatan yang akan memberikan kita ketenangan dalam bertindak dan menyikapi berbagai musibah, bencana dan persoalan hidup yang mendera.
Energi syukur, sabar dan doa. Di dalam tiga hal tersebut terkandung kekuatan yang akan memberikan kita ketenangan dalam bertindak dan menyikapi berbagai musibah, bencana dan persoalan hidup yang mendera.
Pertama, tidak sedikit
manusia ketika diberi nikmat oleh Allah SWT tidak pandai bersyukur.Ketika
diberikan kesehatan, seringkali kita tidak menyadari nikmat kesehatan adalah
anugerah paling berharga dalam kehidupan.Tubuh yang sehat bisa menjadikan kita
mampu melakukan aktivitas dan pekerjaan sehari-hari, bisa mencari nafkah untuk
diri maupun keluarga.
Setiap kelapangan yang diberikan Allah SWT, hendaklah kita syukuri dan berupaya selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.Namun, tanpa kita sadari pula letak persoalannya.Seringkali kita lihat kelalaian manusia sebagai makhluk disebabkan karena terlena dengan nikmat dan amanah yang diberikan Allah SWT kepadanya.Harta, pangkat dan jabatan serta berbagai bentuk kesenangan duniawi lainnya membuat manusia terlena.Padahal, jika kita menyadari semuanya itu amanah Allah SWT yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya.
Kedua, bersabar. Mengutip pandangan Muhammad bin Shalih Al-Munajjid, sabar ialah bertahan dalam mengerjakan perintah Allah dan menahan diri dari amal perbuatan yang dilarang Allah. Dalam sabar terkandung makna mencegah, bersikeras dan sifat enggan.Mencegah dan menghindarkan diri dari perbuatan yang dilarang agama.
Sabar tidak berarti kita hanya pasrah dengan keadaan.Melalui sabar justru kita berusaha tekun dan bersungguh-sungguh berusaha, bekerja dan beribadah semata-mata mencari ridho Allah SWT.Kesabaran bisa mengundang kasih sayang Allah kepada kita.Ketika kita meng hadapi ujian dan musibah, ketenangan menghadapinya terlahir dari sikap sabar menyikapi musibah tersebut.Maka, bersabarlah untuk menghadapi cobaan tersebut dengan hati lapang seraya mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ketiga; hal yang tidak kalah penting adalah kekuatan doa dalam setiap ibadah kita. Doa merupakan senjata orang beriman dalam meng hadapi berbagai persoalan hidup.
Menjadi relevan keterkaitan hablumminallah (hubungan manusia dengan Allah).Allah SWT menyerukan kepada manusia untuk beribadah dan mengabdi kepada-Nya, sudah seharusnya kita sebagai makhluk menyambut seruan-Nya dengan segera. Di sanalah letak pertolongan Allah SWT melalui kekuatan doa yang akan menyelamatkan kita dari bencana[MLuthfi Munzir, Manajemen Spritual Bencana, Jumat, 01 April 2011].
Bagaimanapun juga kita
akan mendapat ujian dari Allah sesuai dengan kadar keimanan yang kita miliki,
ujian itu dalam rangka untuk meninggikan level iman kita dan menaikkan derajat
taqwa, yang penting kita siapkan segalanya untuk menghadapi ujian itu,
setitnglah diri kita dengan syukur, sabar dan doa, insya Allah akan lulus dari
segala musibah yang datang, wallahua’lam [Geylang Lorong 12
Singapura, 07 Rajab 1432.H/ 09 Juni
2011.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar