Ketika Nabi Adam As diturunkan Allah ke
dunia ini sebagai Khalifah Allah untuk memakmurkan dunia dengan segala isinya
untuk menerapkan nilai-nilai tauhid dalam seluruh asfek kehidupannya, sejak
dari anak cucunya sampai akhir zaman. Sepanjang sejarah kehidupan manusia sejak
dari lahir hingga alam akherat dapat diidentikasi tentang keberhasilannya
sebagai hamba dan khalifah Allah yaitu;
Ada
yang mampu mencapai keberhasilan dengan bahagia di dunia tapi gagal di akherat
karena seluruh fasilitas hidup yang diberikan kepadanya tidak mampu difungsikan
sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah. Sebagian manusia ada yang hidupnya
di dunia dapat dikatakan hina dipandangan manusia karena tidak punya fasilitas
yang diharapkan tapi mereka mulia di akherat sebab pengabdiannya kepada Allah
tidak diragukan.
Ada
yang mampu meraih bahagia di dunia tapi juga bahagia di akherat, orang ini
mampu meraih dua dimensi alam sekaligus karena menjadikan ladang dunia untuk
mencapai kampung baqa di akherat, inilah idealnya seorang mukmin, namun tidak
sedikit pula manusia yang hina di dunia dan sengsara pula diakherat, seluruh
kegagalan dialaminya, sangat prihatin dan menyedihkan posisi orang ini.
Dari
empat kriteria manusia diatas maka beruntunglah orang yang dapat meraih
keberhasilan dunia dan akherat, paling tidak sebagai muslim kita mampu meraih
bahagia di akherat walaupun derita dan kesengsaraan kita rasakan, karena memang
kehidupan yang sebenarnya kehidupan adalah akherat bukan dunia, dunia hanya
tempat singgah sementara bagi manusia.
Kehadiran
manusia di dunia ini tidaklah dibiarkan demikian saja tapi dibekali dengan
perlengkapan hidup dan modal untuk menggarap alam ini dengan ikhtiar
masing-masing, Allah menciptakan manusia dan Dia mengetahui maslahat dan
kebutuhannya, semua itu sebagai modal dasar hadirnya manusia, untuk saling
berlomba-lomba mencari keberhasilan dengan prestasi masing-masing, memang Allah
tidak menuntut keberhasilan kita, tapi
yang dituntut adalah usaha maksimal kita dalam usaha dan bekerja, inilah
bekal manusia yang iberikan Allah;
Pertama,
Allah menciptakan jasad yang membutuhkan makanan dan minuman, agar jasad
tersebut tumbuh dan berkembang sebagaimana ia juga membutuhkan pakaian dan
tempat tinggal. Dia menciptakan untuknya akal yang membutuhkan ilmu pengetahuan
dan teknologi supaya bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan melaksanakan
tugas-tugas dan menjadi kewajibannya berupaya memakmurkan bumi sebagai
khalifah.
Dengan
jasad yang kuat akal yang cerdas manusia dituntut untuk berbuat dan beramal
untuk kemaslahatan dirinya dan masyarakat bahkan bumi keseluruhan sesuai dengan
kemampuan masing-masing. Allah berfirman dalam surat Al A’raf 7;42 ”Dan
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, kami tidak
memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya,
mereka Itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.”
Kedua,
Allah memberikan bekal kepada manusia dengan diciptakan-Nya ruh yang
membutuhkan petunjuk dan hidayah, agar kehidupan manusia menjadi lurus di dunia
dan akherat, karena manusia disebut sebagai manusia bukanlah karena jasadnya
tapi karena ruhnya yang terpimpin oleh petunjuk Allah.
Ketiga,
perangkat jasad, akal dan ruh saja tidaklah cukup maka kemudian Allah
menanggung dan memenuhi seluruh kebutuhan manusia, karena memang manusia tidak
memiliki sesuatupun; ”Dan dia menciptakan
di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. dia memberkahinya dan dia
menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa.
(Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.”[Fushilat
41;10] Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang
dikehendakinya dari gedung-gedung yang Tinggi dan patung-patung dan
piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di
atas tungku). Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan
sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.’[Saba’ 35;13]
Keempat,
untuk kehidupan manusia di bumi ini perlu adanya rezeki dan Allah menjamin
rezeki manusia dan menjadikannya mudah untuk didapat di atas bumi ini. Tidak ada seharusnya bagi seorang
muslim rasa was-was dan khawatir tentang rezekinya, yang penting mau berusaha,
sedangkan ulat di dalam batu saja selalu diberikan rezeki oleh Allah yang tidak
putus-putusnya. Bila Allah menentukan jumlah manusia di dunia ini tiga milyat,
tentu Dia menyediakan persediaan rezeki lebih dari itu untuk seumur dunia ini ; ”Dialah
yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya
dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan Hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali
setelah) dibangkitkan’’[Al Mulk 67;15].
Sebagian
orang mengasosiasikan rezeki itu adalah gaji, honor atau hasil usahanya saja yang dapat diukur dengan jumlah
materi, semua itu adalah bagian terkecil dari rezeki, makna rezeki itu luas
sekali bahkan orang yang tidak punya gaji atau honor dan penghasilan tetap
hidup dengan rezeki Allah yang datangnya tidak berpintu.
Kelima,
bekal manusia di dunia ini perlu perkembangan dan dinamika hidup sesuai dengan
perkembangan masanya, semua itu membutuhkan ilmu pengetahuan. Allah menjamin
ilmu pengetahuan yang dibutuhkan akal serta membekali manusia alat dan sarana
untuk mendapatkannya,dijelaskan dalam firman Allah surat An Nahl 16;78” Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut
ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
Keenam,
manusia tidak bisa hidup tanpa bimbingan wahyu dan petunjuk-Nya, terlalu banyak
penyimpangan yang dilakukan manusia bahkan keluar dari eksistensinya sebagai
makhluk Allah ketika tidak mengacu kepada petunjuk Allah. Untuk itulah makanya
dikirim nabi dan rasul untuk memberikan petunjuk kepada manusia, yang petunjuk
tadi tidak sembarangan orang dapat menerimanya sehingga muncullah golongan
kafir, fasiq dan zhalim sebagai ujud pembangkangan mereka terhadap petunjuk
Allah itu.
Orang
yang mampu menerima hidayah tersebut adalah manusia yang punya hati nurani yang
disertai rohani yang tunduk kepada kebenaran. Dengan kekuasaannya Allah
menjamin hidyah yang dibutuhkan oleh ruh. Maka diutuslah para nabi dan rasul
untuk menunjuki jalan yang lurus; ”Dan
sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", Maka di antara
umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di
antaranya orang-orang yang Telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu
dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan
(rasul-rasul)”[An Nahl 16;36].
Demikian
banyaknya bekal yang diberikan Allah kepada manusia untuk mengelola, memimpin
dan memakmurkan dunia ini dengan segala potensi yang dimiliki, selayaknya
manusia tidak mengabaikan nikmat tersebut untuk mencapai keberhasilan hidup di
dunia hingga akherat.Semua nikmat yang telah diberikan Allah diatas adalah
bekal hidup manusia, agar selalu berjalan di atas rel kebenaran, agar manusia
memanfaatkannya dalam rangka beribadah kepada Allah dalam seluruh asfek
kehidupan.
Islam bukan sekedar hubungan ubudiyah kepada Allah tapi juga mengatur
segala asfek kehidupan, esensi ajaran Islam tidak hanya sekedar dijadikan
landasan dasar dan barometer bagi aktivitas-aktivitas ketuhanan yakni yang
bersift vertikal, tetapi termasuk juga
yang bersifat horizontal, karena agama itu adalah sumber tasyrik dan sumber
dari segala sumber hukum. Untuk menjaga kedua hubungan tersebut sehingga
tercipta kehidupan hasanah di dunia dan hasanah di akherat maka manusia harus
memiliki modal hidup yang baik sebagai individu, masyarakat maupun sebagai
hamba dari Khaliq, modal hidup tersebut yaitu Iman, Ilmu, Amal dan Akhlak.
1.Iman
Bila orang hanya memiliki ilmu
yang sarat dengan pengetahuan, sehingga derajatnya di hadapan manusia
terpandang, beramal banyak dihiasi pula dengan akhlak terpuji tanpa beriman
kepada Allah maka kehidupannya akan goyang ibarat sebuah pohon besar yang
menjulang ke langit dengan buahnya lebat berguna untuk kehidupan, daunnya
rindang dapat sebagai tempat berteduh tapi akarnya tidak kuat tentu saja dalam
waktu singkat pohon itu akan rubuh.
Ilmu tanpa dilandasi
dengan iman akan mencetak manusia pintar perusak karena ilmunya digunakan untuk
kehancuran dan pemikirannya cendrung mendewakan akal. Amal usaha manusia
sebagaimanapun banyaknya tidak akan dinilai Allah sebagai pahala karena Allah
hanya akan membalas perbuatan orang beriman. Orang yang berbuat sesuatu tanpa
dilandasi iman akan berbuat dengan motivasi di luar tuntunan agama, karena kebiasaan
, memberi bantuan karena hiba atau mengharapkan balasan. Akhlak yang tidak
dilandasi dengan iman bukanlah akhlak, dia disebut dengan moral,etika, susila
atau kata lain yang sebangsa itu.
Akhlak
adalah tuntunan kehidupan yang datang dari wahyu Allah dengan teladan Nabi
Muhammad Saw, berdasarkan Al Qur’an dan Hadits, kehadirannya bagi seorang
muslim adalah pencerminan dari iman sehingga mustahil seseorang yang tidak
beriman akan mampu berakhlak sebagaimana orang-orang yang beriman kepada Allah.
Iman
merupakan modal dasar dari hidup; berapa banyak manusia yang mampu bertahan
menghadapi gelombang kehidupan ini karena masih mempunyai iman, dan tidak
sedikit manusia lari dari kehidupan dengan meninggalkan eksistensi dirinya
sebagaimana seorang Profesor bernama Paul Fahrenfest; seorang intelek, ia
berasal dari keluarga yang baik-baik, ia telah mendapat pelajaran dan didikan
yang teratur menurut cara didikan yang sebaik-baiknya. Otaknya yang amat tajam
itu telah menukik menggali rahasia ilmu yang dapat dicapai oleh manusia
dizamannya pula…tak pernah terdengar ia melakukan sesuatu pekerjaan yang
tercela, pergaulannya selalu dengan orang baik-baik pula,akhlaknya baik
penyayang dan disayangi
Kenapakah
sekarang ia melakukan sesuatu perbuatan yang
lebih buas dan ganas sifatnya dari perbuatan seorang penjahat, membunuh
anak sendiri, dan setelah membunuh dirinya pula. Perbuatan yang dilakukan
Profesor Paul Fahrenfest dengan membunuh diri bukan karena kurang ilmu atau
sedikit amal dan bukan pula tidak bermoral, dia disenangi dalam pergaulan lagi
terhormat, bunuh diri yang dilakukannya karena imannya tidak ada, rohaninya
kosong, jiwanya hampa dari petunjuk.
2.Ilmu
Seseorang
mungkin saja memiliki iman yang kuat bak kuatnya karang di tengah lautan,
amalnya banyak, akhlaknya juga terpuji tapi tidak berilmu maka kehidupannya
akan senjang. Islam mengharapkan pemeluknya agar mencari ilmu yang baik untuk
kehidupan akherat maupun dalam kehidupan di dunia ini sebagaimana yang
tergambar dalam hadits Nabi Saw, “Jadilah engkau orang yang mengajar, atau orang yang belajar, atau orang yang mendengar
atau orang yang cintai kepada ilmu dan jangan jadi orang yang kelima maka
celaka kamu”. Buya M. Natsir dalam bukunya Capita Selecta menyebutkan bahwa
mengajarkan kepada seseorang yang hendak menjadi seorang muslim atau muslimah
beberapa hal:
- Agama Islam menghormati akal manusia, meletakkan akal pada tempat yang terhormat, menyuruh manusia mempergunakan akal itu untuk memeriksa dan memikirkan keadaan alam.
b.Agama
Islam mewajibkan tiap-tiap pemeluknya, lelaki dan perempuan menuntut ilmu dan
menghormati mereka yang mempunyai ilmu.
c. Agama Islam
melarang orang bertaqlid buta, menerima sesuatu sebelum diperiksa, walaupun
datangnya dari kalangan sebangsa dan seagama, atau dari ibu bapak dan nenek
moyang sekalipun.
d. Agama Islam menggembirakan pemeluknya supaya
selalu berusaha mengadakan barang yang belum ada, merintis jalan yang belum
ditempuh, membuat inisiatif dalam hal keduniaan yang memberi manfaat kepada
masyarakat.
e. Agama Islam
menggemarkan pemeluknya supaya selalu berusaha pergi meninggalkan kampung dan
halaman, berjalan ke negeri lain, memperkembangkan silaturahim dengan bangsa
dan golongan lain, saling bertukar pengetahuan, pandangan-pandangan dan
perasaan.
Orang yang telah mampu beriman yang
kuat, beramal yang banyak serta berakhlak terpuji tanpa memiliki ilmunya yaitu
ilmu agama maka nilainya kurang, bahkan orang tidak akan mampu menaklukkan
dunia tanpa ada ilmu sebagai penunjangnya.
3.Amal
Beriman,
berilmu, berakhlak tapi tidak ada amal maka terasa kurang dalam hidup ini,
seperti pohon besar yang tumbuh kuat tapi tidak berbuah walaupun bermanfaat
namun minimal sekali fungsinya, jangankan untuk orang lain sedangkan untuk diri
sendnri kurang.
Kehidupan
dunia hanya sementara, segala kemegahan yang diraih akan hancur bila masanya
sampai sedangkan kehidupan akherat dapat ditempuh hanya dengan amal bukan
karena pangkat atau derajat yang diperoleh di dunia. Amal adalah persiapan,
pembela dan penyelamat kehidupan di akherat, walaupun kita dapat meraih
kesenangan di dunia dengan maksimal tapi berapa lamakah kesenangan itu
dirasakan, palinglama 60 tahun, setelah itu mau kemana ?
4.Akhlak
Iman,
ilmu, amal tak ada akhlak maka rusaklah kehidupan manusia. Iman yang rusak bila
tidak ada akhlak, ilmu mencelakakan kalau tidak berakhlak. Amal akan sia-sia bila akhlak bejat. Akhlak
merupakan kesempurnaan iman. Iman yang sempurna akan melahirkan kesempurnaan
akhlak. Dengan perkataan lain bahwa kerendahan akhlak adalah manifestasi dari
pada kesempurnaan iman. Sebaliknya tidaklah dipandang orang itu beriman dengan
sungguh-sungguh jika akhlaknya buruk. Dalam hubungan ini Abu Hurairah
meriwayatkan penegasan Rasulullah, ”Orang mukmin yang paling sempurna imannya
ialah yang terbaik akhlaknya”[Turmuzi].
Manusia memang tidak minta hidup di
dunia tapi Allahlah menjadikannya untuk hidup sehingga segala arah pemikiran,
perasaan, ucapan, tingkah laku dan asfek kehidupan manusia harus pula
berpolakan aturan Allah agar kehidupan yang pasti dilalui yaitu dunia dan akherat
dapat diselesaikan sesuai dengan konsep tata aturan Allah. Untuk menyelamatkan
kehidupan itulah manusia harus memiliki modal yaitu iman, ilmu, amal dan
akhlak. Hidup berilmu, berama dan berakhlak tapi tidak ada iman akan menemukan
kebinasaan baik di dunia maupun di akherat. Hidup beriman, beramal dan
berakhlak tanpa adanya ilmu maka akan senjang, dalam menempuh dunia akan meraba
dan memasuki akherat tak tahu jalan. Hidup mempunyai iman, ilmu, dan akhlak
tapi tidak beramal maka ibarat pohon tidak berbuah. Hidup dengan iman, ilmu,
amal tapi tanpa akhlak akan menemukan kerusakan.
Sebagai manusia yang diberi nikmat oleh Allah dengan berbagai karunia-Nya
selayaknya kita bersyukur, apalagi jumlah nikmat itu tidak terkira,bahkan Allah
menyatakan bahwa dikala manusia mencoba untuk menghitung jumlah nikmat yang
diberikan-Nya maka sungguh tidak akan terhitung, sejak dari bangun tidur sampai
kita tidur lagi, apalagi sejak lahir hingga wafat. Kita tidak akan bisa
menghitung sudah berapa fasilitas hidup yang diterima dari Allah, maka nikmat
hidup, kemerdekaan dan nikmat iman adalah nikmat yang besar yang perlu
disyukuri. Salah satu wujud syukur itu adalah agar kita hidup berprestasi di
dunia ini.
Sebagian ummat manusia terlalu sibuk dengan urusan duniawi sehingga
mereka lupa bahwa mereka harus mempersiapkan bekal untuk di hari akhirat nanti.
Apa yang akan kita bawa menghadap Ilahi Rabbi di kampung akherat kelak.
Diperlukan kesadaran diri tentang bekal menuju hari akhir tersebut yaitu iman
dan amal shaleh dengan jalan mendekatkan diri kepada Allah melalui sejumlah
aktivitas ibadah.
Bagi seorang muslim, yang dimaksud
dengan ibadah itu bukan hanya ibadah khusus semisal shalat, puasa, zakat dan
haji saja, semua kegiatan muslim yang mengacu kepada tiga hal dapat dikategorikan
dengan ibadah. Pertama kegiatan ini diniatkan karena Allah semata dengan
istilah ikhlas atau Lillah. Kedua manhaj yakni sistim atau cara beraktivitas
itu mengacu kepada apa yang diicontohkan Allah melalui Rasul-Nya dengan istilah
Ittibaur rasul, dan yang ketiga tujuan ibadah itu hanya mencari ridha Allah
semata, walaupun mendapatkan ridha yang lain.
Imam Al Ghazali suatu ketika pernah
berkata,”Barangsiapa yang mencari dunia semata maka ia akan menemukan dunia
itu, tapi barangsiapa yang mencari akhirat maka ia akan mendapatkankan dunia
dan akherat”, kegiatan apa saja yang menyeleweng dari salah satunya atau
semuanya bukanlah ibadah walaupun lahirnya nampak ibadah, seperti menunaikan
ibadah haji dalam rangka mencari ridha tetangga, atau semata-mata karena
politik, maka ini bukanlah ibadah tapi malah dapat dikategorikan dengan maksiat
kepada Allah.
Rasa tanggungjawab adalah kewajiban
seorang pemimpin, bahkan Umar bin Khattab menyatakan, ”Seandainya ada
keledai yang terperosok diperjalanan maka itu adalah tanggungjawabku kenapa
tidak memperbaiki jalan untuknya”, Khalifah yang satu ini luar biasa
wujud tanggungjawabnya terealisasi
kepada rakyatnya, tapi dia juga menghabiskan waktu di depan Allah dengan
munajad, do’a, shalat malam, tilawah qur’an, shaum sunnah yang intinya
menenggelamkan diri dengan taqarrub kepada Khaliqnya. Demikian pula terujd
kepada seorang Gubernur yang dihujat oleh rakyatnya karena tidak mau mengurus
mereka di malam hari, maka disidangkanlah Gubernur ini di Madinah di hadapan
Umar bin Khattab. Dengan penuh wibawa dia menjawab, ”Waktu saya untuk mengurus
rakyat disiang hari, sedangkan malam hari adalah waktu saya untuk Allah”, sikap
Gubernur ini dibenarkan oleh Umar, biar sibuk mengurus rakyat tapi tidak lupa
mengisi rohani dengan ibadah kepada-Nya.
Dengan hidup ini kita memang
dituntut untuk berprestasi, baik prestasi amaliyah dunia apalagi aktivitas
untuk akherat. Dalam surat 103 Allah menjelaskan ”Demi masa, sesungguhnya
manusia itu dalam keadaan merugi kecuali orang-orang yang beriman dan beramal
shaleh dan yang berwasiat dengan kebenaran dan berwasiat dengan kesabaran”.
Dari sekian tahun yang diberikan Allah untuk hidup dengan segala aktivitasnya
perlu diisi hanya dengan tiga hal,
pertama isilah waktu kita untuk meningkatkan kualitas iman dengan berbagai
kegiatan. Kedua kita berkewajiban mengisi waktu hidup ini dengan amaliyah
ibadah shalih yang idealnya memang banyak dan berkualitas, yaitu ibadah yang
jauh dari syirik, bid’wah, kurafat dan tahyul sebagaimana yang dipesankan Rasul
kita, ”Barangsiapa yang beribadah tidak sesuai dengan sistim yang kami
ajarkan maka dia tertolak, dan mukmin yang baik itu adalah yang menggunakan
waktunya seefisien mungkin”, Nabi
Muhammad adalah orang yang sibuk mengurus rakyatnya, tapi dari segi ibadah tak
ada diantara sahabat yang mampu menandinginya apalagi kita.
Ketiga, kita tidak termasuk orang
yang merugi sebagaimana disinyalir-Nya bila waktu kita gunakan untuk berda’wah
dengan metode menanamkan kebenaran dan kesabaran kepada ummat ini. Da’wah
bukanlah sebatas tabligh tapi pembinaan terhadap ummat, walaupun seorang ulama
sudah puluhan tahun berceramah, jika tidak membina ummat maka rugilah
dia....sebagaimana sabda Rasul, ”Siapa yang karena dia seseorang memperoleh
hidayah maka lebih baik dari pada dunia dengan segala isinya”. Disini
tergambar bahwa da’wah mengandalkan kualitas bukan kuantitas saja. Silahkan
kita sibuk dengan segala aktivitas dan urusan masyarakat, tapi jangan sampai
diperbudak oleh kesibukan sehingga lupa untuk membina anak isteri untuk
mengenal Allah, shalat terabaikan, mendalami agama tidak ada waktu. Sudahkah kita ummat yang berprestasi dalam
hidup ? jawabannya terpulang kepada diri kita masing-masing. [Cubadak Solok, 19
Ramadhan 1431.H/ 29 Agustus 2010.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar