Selasa, 19 Januari 2016

117. Ibunda



Jasanya sungguh tidak dapat dibalas, mengandung, melahirkan dan membesarkan anak manusia, itulah beban yang diberikan ke pundaknya, lelaki tidak mampu memikul amanah yang begitu berat.Ada yang memanggilnya ibu, emak, mama atau ibunda, hakekatnya tidaklah berbeda yaitu panggilan yang mengandung makna, panggilan kasih dan saying dari seorang anak kepada ibunya.

Karena demikian besarnya pengorbanan seorang ibu kepada sang anak sehingga Allah memberikan tuntunan yang sesuai dengan fithrah manusia itu.Karena sesungguhnya berbakti kepada kedua orang tua adalah kewajiban seorang anak. Sebagaimana firman Allah swt:  “Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah kamu membentak keduanya. Dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia, dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih saying dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah mereka keduanya sebagaimana keduanya telah menyayangi aku waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 23-24)

            Dari ayat di atas dijelaskan bahwa berbakti kepada kedua orang tua menduduki peringkat kedua setelah mentauhidkan (meng-Esakan) Allah swt.Khususnya berbakti kepada ibu yang telah mengandung kita selama kurang lebih sembilan bulan serta membesarkan kita dengan penuh perjuangan.Maka, pantaskah kiranya jika seorang anak menelantarkan ibunya seorang diri?

            Jika diingat lagi masa-masa seorang anak dilahirkan ke bumi ini maka akan terucaplah sebuah do’a yang tulus dari kedua orang tua agar si anak menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Serta sebuah do’a dan harapan yang juga diberikan oleh sanak saudara dan kerabat yang menginginkan kita menjadi anak kebanggaan orang tua, tunas harapan orang tua di masa tua dan membahagiakan mereka di hari tua. Sebagaimana Allah swt berfirman:  Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun; (dengan yang demikian) bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapamu; dan (ingatlah), kepada Akulah jua tempat kembali (untuk menerima balasan). (QS. Luqman:14)

Dengan demikian, jika ingin mendapatkan surge Allah swt dan jika ingin mendapatkan kebajikan maka harus mendahulukan ama-amal yang paling utama di antaranya birrul walidain (berbakti kepada orang tua). Dan jika orang tua kita sudah meninggal dunia, maka do’akan lah mereka karena do’a anak yang sholeh dan sholehah akan menjadi jembatan bagi orang tua menuju surga Allah swt, sebagaimana Rasulullah saw bersabda, “Apabila seorang anak Adam meninggal maka terputuslah amalnya kecuali karena tiga hal,(yaitu) Shadaqah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan Anak saleh yang mendoakannya.” (HR.Muslim)[Padangtoday,Rahma Yanti Muliakanlah Ibumu Kamis, 16/09/2010 01:49 WIB].

Allah mengajarkan kepada kita agar berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua. Untuk mengatakan kepada keduanya "ah" ( perkataan yang dapat menyakiti hati keduanya ) saja kita tidak diperkenankan apalagi yang lebih dari itu. Pernah suatu ketika datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw, ia bertanya kepada Rasulullah saw," Ya Rasulullah, siapa dari manusia yang paling berhak aku utamakan? Rasulullah saw bersabda "Ibumu". Laki-laki tersebut bertanya kembali, "kemudian siapa lagi?" Rasulullah saw bersabda, "kemudian ibumu". Laki-laki tersebut betanya kembali, "kemudian siapa lagi?"Rasulullah bersabda, "kemudian ibumu"."Kemudian siapa lagi?"Rasulullah bersabda, "kemudian ayahmu". (HR Muslim ).

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya "Al-Jami'ul Al-Ahkamil Qur'an" mangatakan bahwasanya hadits tersebut menunjukan tiga kecintaan dan pengorbanan seorang ibu.Ketiga perakara itu, pertama adalah pengorbanan seorang ibu ketika dalam keadaan hamil, kedua adalah pengorbanan ketika melahirkan, dan ketika adalah pengorbanan ketika menyusui serta mendidik anak.Ketiga perkara tersebut dilakukannya seorang diri.
Perkara pertama, hamilnya seorang ibu. Saat seorang ibu hamil tubuhnya menjadi rentan akan 'bahaya'. Berat tubuhnya menjadi dua kali lipat, karena memebawa kita di dalam rahimnya.Hal itu berlangsung kurang lebih selama Sembilan bulan. Kecintaannya kepada kita telah dicurahkannya sejak saat itu, ia selalu mendahulukan keselamatan bayinya daripada dirinya sendiri. Ia tidak pedulikan berat beban tubuhnya yang bertambah karena kehdiran kita di rahimnya.

Perkara kedua, saat ibu melahirkan.Saat-saat inilah yang dinantikan oleh seorang ibu. Saat dimana ia dapat melihat buah hatinya setelah selama kurang lebih sembilan bulan mengandungnya. Namun saat-saat ini juga merupakan saat-saat yang paling beresiko tinggi dalam hidupnya.Karena melahirkan rentan sekali dengan kematian. Tak sedikit ibu yang rela mengorbankan nyawanya demi lahirnya sang buah hati.

Perakara ketiga, saat menyusui dan mendidik.Setelah melewati masa-masa kritis ketika melahirkan.Tugas seorang ibu tidak lantas selesai begitu saja.Ia haruslah menyusui bayinya sebagai makanan pertama si bayi. Dalam benaknya hanya ada bagaimana agar bayinya tumbuh sehat.Paling tidak kebutuhan jasadiahnya terpenuhi. Setelah lewat masa menyusi dan bayinya tumbuh dewasa ia harus mendidiknya agar kelak menjadi anak yang soleh dan solehah. Mendidik dengan cinta kasih dan kesabaran yang bagai sang surya menyinari dunia.

Ketiga perkara tersebut yang menjadikan seorang ibu mempunyai tiga keutamaan daripada seorang ayah. Dan ketiga perkara tersebut tidak pernah bisa kita balas sepanjang hayat kita walaupun dengan emas permata seluruh dunia.[Padangtoday, Virani Akbar, Tiga Keutamaan Ibu,Monday, 28 March 2011 08:25 WIB].

                Demikian mulianya kedudukan seorang ibu dalam Islam sehingga mengalahkan posisi kaum lelaki, tapi kemajuan zaman yang menuntut perubahan seharusnya tidak merubah nilai-nilai kebenaran yang hakiki antara tanggungjawab seorang ibu yang harus mengandung, melahirkan, menyusukan dan membesarkan anaknya.
Hak kesetaraan gender antara wanita dan pria kian dengungkan, hingga terkesan kini apapun yang terbiasa dilakukan oleh kaum lelaki, kaum wanita pun dapat melakukannya. Hal ini kontras dengan keadaan wanita di zaman dulu, yaitu zaman kebodohan, yang bisa dibilang wanita kala itu tidak dihormati, bahkan menjadi barang komoditi dan eksploitasi.Hingga Islam lahir dengan menembus kegelapan dengan cahaya kebenaran, dan tak ada lagi wanita yang dijadikan sebagai budak.

Sekarang para wanita bersekolah, menuntut ilmu untuk bisa meraih gelar profesi sebagai dokter, perawat, arsitek, penerjemah, guru, dan lainnya.Mereka berkarier seolah ingin dikatakan tak kalah cerdas dengan kaum lelaki.Namun para wanita bahkan notabene muslimah, kadang terlupa dengan kodrat yang Allah SWT berikan yaitu tentang peran, sebagai istri, ibu dan pendidik.

Seorang wanita ketika memilih untuk menikah, seharusnya telah mempersiapkan dirinya pula untuk bersedia menjadi seorang ibu.Akan tetapi yang ironis adalah banyak yang tidak mau untuk menjalankan peran sebagai ibu.Banyak alasan yang mereka beberkan mengapa peran yang sangat mulia ini mereka hindari. Dari alasan karier itu tadi, takut melahirkan, alasan fisik yang nantinya tak lagi ramping setelah melahirkan, hingga tak mau repot dengan urusan mendidik anak-anak mereka nantinya.

Padahal ada keutamaan-keutamaan dalam menjalankan peran muslimah sebagai seorang ibu. Tentu kita ingat sabda Rasulullah saw bahwa “Surga berada di bawah telapak kaki ibu”, ini menunjukkan tingkat derajat kemuliaan seorang ibu. Bukan main-main, rasa cinta dan hormat akan diberikan oleh anak-anak mereka dan ridha sang ibu atas anak-anak berbuah surga untuk mereka semua.

Memang melakoni peran Ibu tidak lah mudah, apalagi dengan ditambah kesibukan seorang muslimah di luar rumah sebagai wanita karier.Namun, semua itu bukan alasan untuk tidak bisa atau pun tidak mau menjadi seorang ibu.Semua bisa dipelajari dan mau memulainya dengan tekad untuk belajar.

Mungkin bisa dikatakan bahwa muslimah yang memilih untuk menjadi wanita karier baik sebelum menikah maupun sesudahnya ada kiranya mereka ingin menunjukkan keeksistensian mereka, atau untuk membantu suami mencari nafkah. Tentu hal ini diperbolehkan, akan tetapi kita harus ingat bahwa wanita sebelum kawin, nafkahnya diwajibkan atas keluarganya dan setelah kawin suami lah yang bertanggung jawab sepenuhnya, walaupun wanita tersebut adalah orang kaya. Hal ini pun merujuk pada arahan  bahwa tetap peran wanita di dalam rumah sangat diharapkan, melahirkan dan mendidik anak-anak mereka etika dan pengetahuan. 

Bagaimanapun juga peran para ibu di rumah sangatlah penting, karena itu Allah memuliakan tugas mereka jika mereka mengemban amanah tersebut dengan baik.Sah-sah saja jika mereka ingin memilih untuk berkarier, namun perimbangan dalam mengurus urusan keluarga di rumah juga harus tetap diupayakan. Dengan begitu kebahagian menjadi seorang ibu tak terabaikan.[Khairun Nisa,
pengamatlangit@gmail.com]

Ibunda sebagai seorang ibu dari anak-anaknya tidak bisa lepas perannya sebagai wanita yang mengatur rumah tangganya yang diamanahkan untuk menata sebaik-baiknya agar rumah itu menjadi syurga bagi suami dan anak-anaknya.
Islamlah yang selalu mengajarkan supaya wanita itu dihormati, diantaranya dengan sabda Nabi Muhammad Saw, ”Syurga itu berada di bawah telapak kaki kaum wanita”.

            Hadits ini mempunyai pengertian yang sangat luas sekali dan dapat diartikan berdasarkan salah satu segi kehidupan. Syorga itu adalah kata yang memberikan pengertian abstrak, sesuatu yang dihayati, yang  tidak cukup dengan kata-kata untuk melukiskan penghayatan dan perasaan yang terkandung di dalamnya.
                                                                                                             
            Secara kasar dapat kita rumuskan, bahwa syurga adalah sesuatu keadaan kejiwaan, yang dapat digambarkan dengan kata-kata ketenangan, kebahagiaan, kesenangan dan keberuntungan. Secara fisiologis [ilmu fungsi tubuh manusia], ciri khas dari ketenangan adalah denyut nadi tenang, nafas teratur dengan frekuensi normal dan tekanan darah tidak tinggi. Apapun yang dapat memberikan ketenangan, maka orang tersebut akan mengalami syurga, jiw tidak gelisah.

            Nabi Besar Muhammad Saw memberikan penghargaan yang sangat tinggi kepada wanita yang dapat memberikan ketenangan kepada suaminya, perhatikanlah hadits berikut; ”Sesungguhnya nabi ketika ditanya tentang perempuan manakah yang terbaik, beliau menjawab, ialah yang menyenangkan bila dilihat suaminya, diikutinya suruhan suaminya dan tidak diselewengkannya dirinya dan harta suaminya ke jalan yang tidak disukainya”.

            Hadits ini menggambarkan seorang wanita yang tahu harga diri dan tahu fungsi dirinya terhadap suaminya. Pakaian bersih, dandanan teratur dan rapi, tentu akan menyenangkan suami, dapat menimbulkan nafsu syahwat suami sewaktu-waktu yang akan membawa hubungan yang lebih rapat dan dapat pula memberikan ketenangan yang lebih sempurna.

            Isteri yang shalehah berarti seorang wanita yang tahu kewajibannya terhadap Tuhannya dan terhadap suaminya, sehingga si suami betul-betul merasa yakin bahwa isterinya hanyalah buat dirinya sendiri saja. Segala yang dilakukannya adalah untuk memberikan kesenangan dan ketenangan suaminya. Badan yang lelah pulang kerja dapat dikuatkan di dalam rumah tangga oleh isteri yang shalehah. Rumah tangga yang rapi, makan yang teratur dan sesuai dengan selera. Si isteri tahu bahwa sebagai perangsang seksual. Ia tidak akan berpakaian yang  mencolok di hadapan laki-laki lain yang bukan suaminya, sehingga menjadi teransang olehnya. Tingkah lakunya, cara ia berbicara, tidak akan menggoda laki-laki lain.

            Apabila wanita berantakan, maka rumah tangga akan berantakan dan negara juga akan berantakan. Karena rumah tangga adalah kesatuan kecil dari masyarakat dan negara. Presiden mempunyai rumah tangga dan isteri, menteri-menteri mempunyai rumah tangga, rakyatpun mempunyai rumah tangga, disana wanita memainkan peranan utama. Itulah sebabnya nabi Muhammad Saw bersabda, ” Wanita adalah tiang negara, bila ia baik maka baiklah negara dan bila ia rusak maka rusaklah negara”. Dan sejarah kehidupan bangsa-bangsa memperlihatkan kebenaran sabda Nabi Muhammad Saw ini.

            Suatu kisah sederhana dibawah ini menggambarkan sebuah tipe kedudukan wanita sebagai ibu rumah tangga karena ia dituntut suatu kesiapan dan persiapan diri dengan berbagai ilmu yang dapat dijangkaunya. Didalam problem rumah dibutuhkan dasar-dasar ilmu kesehatan, ilmu ekonomi, keuangan, pendidikan, pengajaran, masak memasak, keterampilan serta seni mengurus rumah tangga.

            Sekelumit kisah Asma binti Abu Bakar As Siddiq, isteri Az Zubair bin Awwam. Asma saudara kandung Aisyah mendapat gelar ”Zatun Nitaqain” dari Rasulullah. Ia menyatakan tentang dirinya, ”Saya melayani Zubair dalam segala urusan rumah tangga saya yang melatih kudanya, memberikannya makan dan minum, menjahit timba yang bocor, menyiram tanaman serta memanggulnya sendiri kacang-kacangan”. Itulah Asma yang terkenal peranannya dalam sejarah Hijrah Nabi Saw sebagai Dzatun Nitaqain yang merobek stagennya menjadikan dua bagian, satu bagian sebagai pengikat bekal makanan untuk nabi dan ayahnya yang sedang singgah hijrah di gua Tsur, dan stagen satu lagi untuk dirinya.

            Tidak diragukan lagi bahwa rumah tangga muslim adalah inti dari masyarakat yang baik, maka wajiblah diperhatikan dengan memelihara ikatan perkawinan islam dengan ikatan yang benar jauh dari kesan sia-siaan untuk mewujudkan tujuan-tujuan luhur yang penuh kasih sayang dan ketenangan jiwa yang sekaligus merupakan salah satu kebesaran Allah yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan-Nya sebagaimana gambaran firman Allah, ”Dan diantara tanda-tanda-Nya bahwa ia menjadikan isteri bagimu yang sebangsa denganmu , supaya boleh kamu diam bersama dia serta saling mengasihi dan mencintai” [Ar Rum;21].

            Prinsip-prinsip pengaturan rumah tangga dan segenap peraturannya bersumber dari syariat Islam, maka oleh karenanya tidaklah ia tunduk pada masa permulaan kepada suatu perubahan asing dan pengaruh pemerintah disaat rumah tangga islam terjaga oleh aqoid keimanan pada setiap muslim. Telah nampak sekarang bahwa tidaklah rumah tangga bisa terjaga kecuali bila dipersenjatai dengan senjata ilmu agama dan aqoid keimanan yang menyangku syariat sehingga dengan demikian ia tetap terlindung dari gelombang-gelombang atheisme dan penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan orang-orang yang berusaha menyebarkan kerusakan di bumi, ”Pastilah Allah menolong barangsiapa yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Gagah Perkasa”.

            Hendaknya kita kaum muslimin memperhatikan pendidikan kepada rumah tangga tentang aqoid keimanan agama yang benar dan mempersenjatainya dengan senjata taqwa supaya berpegang teguh pada sebab  yang kuat  dari akhlak yaitu rasa malu, kesucian diri dan harga diri sehingga terbentuklah masyarakat yang baik.

Walaupun wanita tampil di luar sebagai anggota masyarakat dengan jabatan lain yang cukup penting, maka kedudukannya sebagai pengatur rumah tangga tempat berteduhnya anggota keluarga tidak dapat ditinggalkan. Itulah sebabnya sebagai anak diwajibkan untuk memuliakan dan menyantuni orangtuanya lebih-lebih khusus sang ibu yang telah menyediakan syurga baginya, syurga di dunia dan syurga di akherat, tidak ada tempat yang menyenangkan bagi kehidupan manusia di dunia ataupun akherat selain syurga.

Orang tua, terutama ibu harus selalu kita hormati sepanjang hidup kita.Walaupun itu bukan orang tua kita sendiri.Kalau kita menghormati semua orang tua, berarti kita menghormati orang tua kita.Begitu juga bila kita memaki orang tua yang bukan orang tua kandung, maka berarti kita memaki orang tua kita sendiri.

Memuliakan orang tua kita bukan dengan memberinya harta yang berlimpah.Tetapi akhlak yang baik dari anak-anaknya sudah membuat orang tua kita damai dan senang.Harta tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan akhlak yang baik.

Kita sebagai anak harus memohon, berjuang sekuatnya kepada Allah bila orang tua kita belum mendapat hidayah dari Allah. Dan kita harus selalu menerima segala kekurangan orang tua kita dengan lapang dada.[Manajemen Kalbu, Keutamaan dan Kasih Sayang Ibu,K.H. Abdullah Gymnastiar].
Kemanapun kita pergi, orang yang paling merindukan kehadiran kita adalah ibunda, yang selalu menyediakan makanan terlezat untuk suami dan anak-anaknya adalah ibunda kita, kemana lagi kita akan cari kasih saying yang tulus, pengabdian yang ikhlas, pengorbanan yang benar, semuanya ada pada ibunda, wallahu a’lam [Mengkoang Pahang Malaysia, 02 Juni 2011M/ 29 Jumadil Akhir 1432.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar