Jasanya
sungguh tidak dapat dibalas, mengandung, melahirkan dan membesarkan anak
manusia, itulah beban yang diberikan ke pundaknya, lelaki tidak mampu memikul
amanah yang begitu berat.Ada yang memanggilnya ibu, emak, mama atau ibunda,
hakekatnya tidaklah berbeda yaitu panggilan yang mengandung makna, panggilan
kasih dan saying dari seorang anak kepada ibunya.
Karena
demikian besarnya pengorbanan seorang ibu kepada sang anak sehingga Allah
memberikan tuntunan yang sesuai dengan fithrah manusia itu.Karena sesungguhnya
berbakti kepada kedua orang tua adalah kewajiban seorang anak. Sebagaimana
firman Allah swt: “Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah melainkan
hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Dan jika
salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut dalam
pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah kamu membentak keduanya. Dan
ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia, dan rendahkanlah dirimu terhadap
keduanya dengan penuh kasih saying dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah
mereka keduanya sebagaimana keduanya telah menyayangi aku waktu kecil.”
(QS. Al-Isra’: 23-24)
Dari ayat di atas dijelaskan bahwa berbakti kepada kedua
orang tua menduduki peringkat kedua setelah mentauhidkan (meng-Esakan) Allah
swt.Khususnya berbakti kepada ibu yang telah mengandung kita selama kurang
lebih sembilan bulan serta membesarkan kita dengan penuh perjuangan.Maka,
pantaskah kiranya jika seorang anak menelantarkan ibunya seorang diri?
Jika diingat lagi masa-masa seorang anak dilahirkan ke
bumi ini maka akan terucaplah sebuah do’a yang tulus dari kedua orang tua agar
si anak menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Serta sebuah do’a dan harapan
yang juga diberikan oleh sanak saudara dan kerabat yang menginginkan kita
menjadi anak kebanggaan orang tua, tunas harapan orang tua di masa tua dan
membahagiakan mereka di hari tua. Sebagaimana Allah swt berfirman: Dan
Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya telah
mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua
tahun; (dengan yang demikian) bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu
bapamu; dan (ingatlah), kepada Akulah jua tempat kembali (untuk menerima
balasan). (QS. Luqman:14)
Dengan demikian, jika ingin mendapatkan surge Allah swt dan jika ingin mendapatkan kebajikan maka harus mendahulukan ama-amal yang paling utama di antaranya birrul walidain (berbakti kepada orang tua). Dan jika orang tua kita sudah meninggal dunia, maka do’akan lah mereka karena do’a anak yang sholeh dan sholehah akan menjadi jembatan bagi orang tua menuju surga Allah swt, sebagaimana Rasulullah saw bersabda, “Apabila seorang anak Adam meninggal maka terputuslah amalnya kecuali karena tiga hal,(yaitu) Shadaqah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan Anak saleh yang mendoakannya.” (HR.Muslim)[Padangtoday,Rahma Yanti Muliakanlah Ibumu Kamis, 16/09/2010 01:49 WIB].
Allah mengajarkan
kepada kita agar berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua. Untuk
mengatakan kepada keduanya "ah" ( perkataan yang dapat menyakiti hati
keduanya ) saja kita tidak diperkenankan apalagi yang lebih dari itu. Pernah
suatu ketika datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw, ia bertanya kepada
Rasulullah saw," Ya Rasulullah, siapa dari manusia yang paling berhak aku
utamakan? Rasulullah saw bersabda "Ibumu". Laki-laki tersebut
bertanya kembali, "kemudian siapa lagi?" Rasulullah saw bersabda,
"kemudian ibumu". Laki-laki tersebut betanya kembali, "kemudian
siapa lagi?"Rasulullah bersabda, "kemudian ibumu"."Kemudian
siapa lagi?"Rasulullah bersabda, "kemudian ayahmu". (HR Muslim
).
Imam Al-Qurthubi
dalam tafsirnya "Al-Jami'ul Al-Ahkamil Qur'an" mangatakan bahwasanya
hadits tersebut menunjukan tiga kecintaan dan pengorbanan seorang ibu.Ketiga
perakara itu, pertama adalah pengorbanan seorang ibu ketika dalam keadaan hamil,
kedua adalah pengorbanan ketika melahirkan, dan ketika adalah pengorbanan
ketika menyusui serta mendidik anak.Ketiga perkara tersebut dilakukannya
seorang diri.
Perkara pertama,
hamilnya seorang ibu. Saat seorang ibu hamil tubuhnya menjadi rentan akan
'bahaya'. Berat tubuhnya menjadi dua kali lipat, karena memebawa kita di dalam
rahimnya.Hal itu berlangsung kurang lebih selama Sembilan bulan. Kecintaannya
kepada kita telah dicurahkannya sejak saat itu, ia selalu mendahulukan
keselamatan bayinya daripada dirinya sendiri. Ia tidak pedulikan berat beban
tubuhnya yang bertambah karena kehdiran kita di rahimnya.
Perkara kedua, saat
ibu melahirkan.Saat-saat inilah yang dinantikan oleh seorang ibu. Saat dimana
ia dapat melihat buah hatinya setelah selama kurang lebih sembilan bulan
mengandungnya. Namun saat-saat ini juga merupakan saat-saat yang paling
beresiko tinggi dalam hidupnya.Karena melahirkan rentan sekali dengan kematian.
Tak sedikit ibu yang rela mengorbankan nyawanya demi lahirnya sang buah hati.
Perakara ketiga,
saat menyusui dan mendidik.Setelah melewati masa-masa kritis ketika
melahirkan.Tugas seorang ibu tidak lantas selesai begitu saja.Ia haruslah
menyusui bayinya sebagai makanan pertama si bayi. Dalam benaknya hanya ada
bagaimana agar bayinya tumbuh sehat.Paling tidak kebutuhan jasadiahnya
terpenuhi. Setelah lewat masa menyusi dan bayinya tumbuh dewasa ia harus
mendidiknya agar kelak menjadi anak yang soleh dan solehah. Mendidik dengan
cinta kasih dan kesabaran yang bagai sang surya menyinari dunia.
Ketiga perkara tersebut yang menjadikan seorang ibu mempunyai tiga keutamaan daripada seorang ayah. Dan ketiga perkara tersebut tidak pernah bisa kita balas sepanjang hayat kita walaupun dengan emas permata seluruh dunia.[Padangtoday, Virani Akbar, Tiga Keutamaan Ibu,Monday, 28 March 2011 08:25 WIB].
Demikian
mulianya kedudukan seorang ibu dalam Islam sehingga mengalahkan posisi kaum
lelaki, tapi kemajuan zaman yang menuntut perubahan seharusnya tidak merubah
nilai-nilai kebenaran yang hakiki antara tanggungjawab seorang ibu yang harus
mengandung, melahirkan, menyusukan dan membesarkan anaknya.
Hak
kesetaraan gender antara wanita dan pria kian dengungkan, hingga terkesan kini
apapun yang terbiasa dilakukan oleh kaum lelaki, kaum wanita pun dapat
melakukannya. Hal ini kontras dengan keadaan wanita di zaman dulu, yaitu zaman
kebodohan, yang bisa dibilang wanita kala itu tidak dihormati, bahkan menjadi
barang komoditi dan eksploitasi.Hingga Islam lahir dengan menembus kegelapan
dengan cahaya kebenaran, dan tak ada lagi wanita yang dijadikan sebagai budak.
Sekarang
para wanita bersekolah, menuntut ilmu untuk bisa meraih gelar profesi sebagai
dokter, perawat, arsitek, penerjemah, guru, dan lainnya.Mereka berkarier seolah
ingin dikatakan tak kalah cerdas dengan kaum lelaki.Namun para wanita bahkan
notabene muslimah, kadang terlupa dengan kodrat yang Allah SWT berikan yaitu
tentang peran, sebagai istri, ibu dan pendidik.
Seorang
wanita ketika memilih untuk menikah, seharusnya telah mempersiapkan dirinya
pula untuk bersedia menjadi seorang ibu.Akan tetapi yang ironis adalah banyak
yang tidak mau untuk menjalankan peran sebagai ibu.Banyak alasan yang mereka beberkan
mengapa peran yang sangat mulia ini mereka hindari. Dari alasan karier itu
tadi, takut melahirkan, alasan fisik yang nantinya tak lagi ramping setelah
melahirkan, hingga tak mau repot dengan urusan mendidik anak-anak mereka
nantinya.
Padahal
ada keutamaan-keutamaan dalam menjalankan peran muslimah sebagai seorang ibu.
Tentu kita ingat sabda Rasulullah saw bahwa “Surga berada di bawah telapak kaki
ibu”, ini menunjukkan tingkat derajat kemuliaan seorang ibu. Bukan main-main,
rasa cinta dan hormat akan diberikan oleh anak-anak mereka dan ridha sang ibu
atas anak-anak berbuah surga untuk mereka semua.
Memang
melakoni peran Ibu tidak lah mudah, apalagi dengan ditambah kesibukan seorang
muslimah di luar rumah sebagai wanita karier.Namun, semua itu bukan alasan
untuk tidak bisa atau pun tidak mau menjadi seorang ibu.Semua bisa dipelajari
dan mau memulainya dengan tekad untuk belajar.
Mungkin
bisa dikatakan bahwa muslimah yang memilih untuk menjadi wanita karier baik
sebelum menikah maupun sesudahnya ada kiranya mereka ingin menunjukkan
keeksistensian mereka, atau untuk membantu suami mencari nafkah. Tentu hal ini
diperbolehkan, akan tetapi kita harus ingat bahwa wanita sebelum kawin,
nafkahnya diwajibkan atas keluarganya dan setelah kawin suami lah yang bertanggung
jawab sepenuhnya, walaupun wanita tersebut adalah orang kaya. Hal ini pun
merujuk pada arahan bahwa tetap peran wanita di dalam rumah sangat
diharapkan, melahirkan dan mendidik anak-anak mereka etika dan pengetahuan.
Bagaimanapun juga peran para ibu di rumah sangatlah penting, karena itu Allah memuliakan tugas mereka jika mereka mengemban amanah tersebut dengan baik.Sah-sah saja jika mereka ingin memilih untuk berkarier, namun perimbangan dalam mengurus urusan keluarga di rumah juga harus tetap diupayakan. Dengan begitu kebahagian menjadi seorang ibu tak terabaikan.[Khairun Nisa, pengamatlangit@gmail.com]
Ibunda
sebagai seorang ibu dari anak-anaknya tidak bisa lepas perannya sebagai wanita
yang mengatur rumah tangganya yang diamanahkan untuk menata sebaik-baiknya agar
rumah itu menjadi syurga bagi suami dan anak-anaknya.
Islamlah
yang selalu mengajarkan supaya wanita itu dihormati, diantaranya dengan sabda
Nabi Muhammad Saw, ”Syurga itu berada di
bawah telapak kaki kaum wanita”.
Hadits ini mempunyai pengertian yang sangat luas sekali
dan dapat diartikan berdasarkan salah satu segi kehidupan. Syorga itu adalah
kata yang memberikan pengertian abstrak, sesuatu yang dihayati, yang tidak cukup dengan kata-kata untuk melukiskan
penghayatan dan perasaan yang terkandung di dalamnya.
Secara kasar dapat kita rumuskan, bahwa syurga adalah
sesuatu keadaan kejiwaan, yang dapat digambarkan dengan kata-kata ketenangan,
kebahagiaan, kesenangan dan keberuntungan. Secara fisiologis [ilmu fungsi tubuh
manusia], ciri khas dari ketenangan adalah denyut nadi tenang, nafas teratur
dengan frekuensi normal dan tekanan darah tidak tinggi. Apapun yang dapat
memberikan ketenangan, maka orang tersebut akan mengalami syurga, jiw tidak
gelisah.
Nabi Besar Muhammad Saw memberikan penghargaan yang
sangat tinggi kepada wanita yang dapat memberikan ketenangan kepada suaminya,
perhatikanlah hadits berikut;
”Sesungguhnya nabi ketika ditanya tentang perempuan manakah yang terbaik, beliau
menjawab, ialah yang menyenangkan bila dilihat suaminya, diikutinya suruhan
suaminya dan tidak diselewengkannya dirinya dan harta suaminya ke jalan yang
tidak disukainya”.
Hadits ini menggambarkan seorang wanita yang tahu harga
diri dan tahu fungsi dirinya terhadap suaminya. Pakaian bersih, dandanan
teratur dan rapi, tentu akan menyenangkan suami, dapat menimbulkan nafsu
syahwat suami sewaktu-waktu yang akan membawa hubungan yang lebih rapat dan
dapat pula memberikan ketenangan yang lebih sempurna.
Isteri yang shalehah berarti seorang wanita yang tahu
kewajibannya terhadap Tuhannya dan terhadap suaminya, sehingga si suami
betul-betul merasa yakin bahwa isterinya hanyalah buat dirinya sendiri saja.
Segala yang dilakukannya adalah untuk memberikan kesenangan dan ketenangan
suaminya. Badan yang lelah pulang kerja dapat dikuatkan di dalam rumah tangga
oleh isteri yang shalehah. Rumah tangga yang rapi, makan yang teratur dan
sesuai dengan selera. Si isteri tahu bahwa sebagai perangsang seksual. Ia tidak
akan berpakaian yang mencolok di hadapan
laki-laki lain yang bukan suaminya, sehingga menjadi teransang olehnya. Tingkah
lakunya, cara ia berbicara, tidak akan menggoda laki-laki lain.
Apabila wanita berantakan, maka rumah tangga akan
berantakan dan negara juga akan berantakan. Karena rumah tangga adalah kesatuan
kecil dari masyarakat dan negara. Presiden mempunyai rumah tangga dan isteri,
menteri-menteri mempunyai rumah tangga, rakyatpun mempunyai rumah tangga,
disana wanita memainkan peranan utama. Itulah sebabnya nabi Muhammad Saw
bersabda, ” Wanita adalah tiang negara,
bila ia baik maka baiklah negara dan bila ia rusak maka rusaklah negara”.
Dan sejarah kehidupan bangsa-bangsa memperlihatkan kebenaran sabda Nabi
Muhammad Saw ini.
Suatu kisah sederhana dibawah ini menggambarkan sebuah
tipe kedudukan wanita sebagai ibu rumah tangga karena ia dituntut suatu
kesiapan dan persiapan diri dengan berbagai ilmu yang dapat dijangkaunya.
Didalam problem rumah dibutuhkan dasar-dasar ilmu kesehatan, ilmu ekonomi, keuangan,
pendidikan, pengajaran, masak memasak, keterampilan serta seni mengurus rumah
tangga.
Sekelumit kisah Asma binti Abu Bakar As Siddiq, isteri Az
Zubair bin Awwam. Asma saudara kandung Aisyah mendapat gelar ”Zatun Nitaqain” dari Rasulullah. Ia menyatakan
tentang dirinya, ”Saya melayani Zubair
dalam segala urusan rumah tangga saya yang melatih kudanya, memberikannya makan
dan minum, menjahit timba yang bocor, menyiram tanaman serta memanggulnya
sendiri kacang-kacangan”. Itulah Asma yang terkenal peranannya dalam
sejarah Hijrah Nabi Saw sebagai Dzatun Nitaqain yang merobek stagennya
menjadikan dua bagian, satu bagian sebagai pengikat bekal makanan untuk nabi
dan ayahnya yang sedang singgah hijrah di gua Tsur, dan stagen satu lagi untuk
dirinya.
Tidak diragukan lagi bahwa rumah tangga muslim adalah
inti dari masyarakat yang baik, maka wajiblah diperhatikan dengan memelihara
ikatan perkawinan islam dengan ikatan yang benar jauh dari kesan sia-siaan
untuk mewujudkan tujuan-tujuan luhur yang penuh kasih sayang dan ketenangan
jiwa yang sekaligus merupakan salah satu kebesaran Allah yang menunjukkan
kesempurnaan kekuasaan-Nya sebagaimana gambaran firman Allah, ”Dan diantara tanda-tanda-Nya bahwa ia
menjadikan isteri bagimu yang sebangsa denganmu , supaya boleh kamu diam
bersama dia serta saling mengasihi dan mencintai” [Ar Rum;21].
Prinsip-prinsip pengaturan rumah tangga dan segenap
peraturannya bersumber dari syariat Islam, maka oleh karenanya tidaklah ia
tunduk pada masa permulaan kepada suatu perubahan asing dan pengaruh pemerintah
disaat rumah tangga islam terjaga oleh aqoid keimanan pada setiap muslim. Telah
nampak sekarang bahwa tidaklah rumah tangga bisa terjaga kecuali bila
dipersenjatai dengan senjata ilmu agama dan aqoid keimanan yang menyangku
syariat sehingga dengan demikian ia tetap terlindung dari gelombang-gelombang
atheisme dan penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan orang-orang yang
berusaha menyebarkan kerusakan di bumi, ”Pastilah
Allah menolong barangsiapa yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi
Gagah Perkasa”.
Hendaknya kita kaum muslimin memperhatikan pendidikan
kepada rumah tangga tentang aqoid keimanan agama yang benar dan
mempersenjatainya dengan senjata taqwa supaya berpegang teguh pada sebab yang kuat
dari akhlak yaitu rasa malu, kesucian diri dan harga diri sehingga
terbentuklah masyarakat yang baik.
Walaupun
wanita tampil di luar sebagai anggota masyarakat dengan jabatan lain yang cukup
penting, maka kedudukannya sebagai pengatur rumah tangga tempat berteduhnya
anggota keluarga tidak dapat ditinggalkan. Itulah sebabnya sebagai anak diwajibkan
untuk memuliakan dan menyantuni orangtuanya lebih-lebih khusus sang ibu yang
telah menyediakan syurga baginya, syurga di dunia dan syurga di akherat, tidak
ada tempat yang menyenangkan bagi kehidupan manusia di dunia ataupun akherat
selain syurga.
Orang tua, terutama ibu harus selalu kita hormati sepanjang
hidup kita.Walaupun itu bukan orang tua kita sendiri.Kalau kita menghormati
semua orang tua, berarti kita menghormati orang tua kita.Begitu juga bila kita
memaki orang tua yang bukan orang tua kandung, maka berarti kita memaki orang
tua kita sendiri.
Memuliakan orang tua kita bukan dengan memberinya harta yang
berlimpah.Tetapi akhlak yang baik dari anak-anaknya sudah membuat orang tua
kita damai dan senang.Harta tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan akhlak
yang baik.
Kita sebagai anak harus memohon, berjuang sekuatnya kepada
Allah bila orang tua kita belum mendapat hidayah dari Allah. Dan kita harus
selalu menerima segala kekurangan orang tua kita dengan lapang dada.[Manajemen
Kalbu, Keutamaan dan Kasih Sayang Ibu,K.H. Abdullah
Gymnastiar].
Kemanapun kita
pergi, orang yang paling merindukan kehadiran kita adalah ibunda, yang selalu
menyediakan makanan terlezat untuk suami dan anak-anaknya adalah ibunda kita,
kemana lagi kita akan cari kasih saying yang tulus, pengabdian yang ikhlas,
pengorbanan yang benar, semuanya ada pada ibunda, wallahu a’lam [Mengkoang
Pahang Malaysia, 02 Juni 2011M/ 29 Jumadil Akhir 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar