Selasa, 19 Januari 2016

113. Kartini




Semua rakyat Indonesia khususnya tidak ada yang tidak kenal dengan nama ini, apalagi para pelajar karena setiap tahun diperingati hari kelahiran, dialah Kartini, bahkan lagu yang didendangkan para pelajar menyebutkan bahwa Kartini itu memiliki nama yang “harum”. Dia dianggap sebagai tokoh pembela wanita, yang menjadi inspirasi kebebasan wanita dari segala bentuk penjajahan dan banyak lagi kebaikan Kartini yang menjadi perhatiannya kepada wanita khususnya wanita Indonesia.
Setiap tahun pada tanggal 21 April pemerintah memperingati Hari Kartini.Peringatan ini merujuk pada sosok Raden Ajeng Kartini (1879-1904), anak priyai Jawa yang dianggap sebagai pelopor kemajuan perempuan Indonesia.

Hampir setiap tahun, peringatan ini diiringi dengan berbagai kegiatan, terutama kegiatan-kegiatan yang mengusung tema emansipasi wanita.Kalangan liberal pun tak mau ketinggalan, peringatan Hari Kartini dijadikan momen untuk mengampanyekan kesetaraan gender, feminisme, dan emansipasi perempuan.Kartini pun menjadi idola wanita Indonesia.

Padahal, jika mau jujur pada kenyataan sejarah, tanpa menihilkan gagasan-gagasannya, apa yang dilakukan oleh Kartini baru sebatas surat menyurat, sebatas wacana, belum pada tingkatan aksi, seperti yang lebih dulu dilakukan oleh Rohana Kudus di Sumatera Barat, dengan mendirikan sekolah untuk memajukan pendidikan perempuan.

Surat menyurat Kartini yang dianggap berisi gagasan-gagasan tentang kemajuan perempuan pribumi, diterbitkan oleh Kartini Fonds, sebuah lembaga yang dibentuk di negeri Belanda. Kumpulan surat-surat Kartini yang dibukukan dan diberi judul ”Door Duisternis tot Licht” kemudian diterbitkan pada 1917, 14 tahun pasca wafatnya Kartini pada 1904. Kumpulan surat tersebut kemudian diterjemahkan oleh Armijn Pane, sastrawan penganut Theosofi dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Sebagian isi surat surat Kartini, terutama tentang kondisi kebatinan dan pemahaman kegamaannya, sangat beraroma pluralisme. Kartini bahkan pernah mengatakan, bahwa agama sesungguhnya adalah kebatinan.Tak ada data-data dan keterangan yang jelas, bahwa di akhir hayatnya, Kartini mengoreksi pemahamannya yang sangat bercorak Theosofi.

Meskipun di akhir hayatnya, dalam rentang waktu pada 1903, ia mengaku bertemu dan belajar agama dengan seorang kiai di Demak yang bernama Kiai Sholeh Darat. Pertemuan dengan kiai itu pun berlangsung singkat, karena pada tahun yang sama sang kiai meninggal dunia. Dan, setahun kemudian Kartini menyusul meninggal dunia pula.

Jika merujuk pada pertemuan dengan Kiai Sholeh Darat dan pengakuan Kartini bahwa ia baru mengenal Al-Qur’an setelah bertemu dengan kiai tersebut, maka rentang waktu ia mengenal Al-Qur’an dan belajar keislaman hanya berlangsung setahun.Jauh sebelum itu, pikiran-pikiran Kartini dan pemahaman keagamaannya sangat kental dengan nuansa kebatinan Theosofi, sebuah aliran kebatinan yang didirikan oleh perempuan berdarah Yahudi, Helena Petrovna Blavatsky.

Setelah bertemu dengan kiai itu, sekali lagi, tak ada keterangan bahwa ia mengoreksi pemahamannya yang bercorak sinkretisme atau pluralisme agama sebagaimana tercermin dalam surat-suratnya.
Sebagai seorang Muslim tentu kita berharap, Kartini meninggal dalam keadaan sempurna keislamannya, tanpa ada lagi noda-noda pemahaman yang mengganggap semua agama sama. Namun, fakta sejarah bahwa surat-surat yang ditulisnya sangat mengandung ajaran pluralisme agama, harus tetap diungkapkan.[Republika Online, Artawijaya,Surat-Surat Pluralisme Kartini,Rabu, 20/04/2011 09:04 WIB]

Armin Pane mengumpulkan surat-surat Kartini dengan titel “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Sebenarnya kalimat itu berasal dari surat Al Baqarah ayat 257 minadz dzulumati ilannur, keluar dari kegelapan [jahiliyah] menuju cahaya [Islam].

Kartini menuntut agar wanita juga diberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan sebagaimana lelaki, dia juga mendobrak benteng adat yang sangat jauh dari nilai-nilai Islam, manusia diukur dari status sosial atau keningratan, persamaan hak dalam perlakuan antara lelaki dan wanita yang diketahui Kartini asalnya dari semboyan Revolusi Perancis. Kartini ingin melepaskan diri dari segala bentuk keningratan sebagai ajaran dari adat.

kalau Kartini yang kita peringati setiap tahunnya dan kita sebagai wanita mengakui perjuangannya dan dia berhasil melepaskan dirinya dari bentuk keningratan sementara kita tidak menentang keningratan-keningratan baru dalam bentuk titel, jabatan dan ekonomi. Bahkan sebagian besar dari kita  menjadi pemujanya, kalau tidak boleh dikatakan menjadi abdinya yang setia dan siap untuk menjadi korbannya. Kartini berkata dalam surat yang dikirimkannya kepada Stella 18 Agusus 1899;” Bagi saya hanya ada dua macam keningratan; keningratan fikiran [fikrah] dan keningratan budi [akhlak]. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya dari pada melihat orang membanggakan asal keturunannya. Apakah sudah berarti beramal shaleh orang yang bergelar Graaf atau Baron ? Tidak dapat dimengerti oleh fikiranku yang picik ini.”

emansipasi yang diperjuangkan oleh Kartini bukan sebagai pesaing lelaki tapi mitra lelaki, sebab bagaimanapun juga keberadaan lelaki dan wanita sama-sama melengkapi yang sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Dari beberapa surat Kartini tergambar bahwa dia adalah seorang muslimah yang baik dan ingin menjadi muslimah yang taat hanya kepada Allah, tapi orang-orang yang berada di sekitarnya berusaha mempengaruhi Kartini seperti Nyonya Abendanon, Atellah dan Snock Hogrunye serta Dr Adriani seorang pendeta yang bertugas menyebarkan agama Kristen di tengah suku Toraja, Sulawesi Selatan. Orang-orang inilah yang berusaha untuk memerangi pemikiran Kartini agar jauh dari fikrah islami dan mengingkari ajaran Islam.

            Kartini suatu ketika mendapat kesempatan mempelajari Al Qur’an bukan sekedar membacanya tapi juga mengartikan serta memahami isi kandungan Al Qur’an melalui pengajian Kiyai Shaleh Darat, tapi sayang sang kiyai Darat cepat meninggal dunia. Kalau saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam maka tidak mustahil ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua hal yang dituntut Islam terhadap kemuslimahannya [termasuk jilbab].

            Saat mempelajari Al Islam  lewat Al Qur’an terjemahan berbahasa Jawa itu, Kartini menemukan dalam surat Al Baqarah ayt 257 bahwa Allahlah yang telah membimbing orang-orang yang beriman dari gelap kepada cahaya [minazh zhulumaati ilan nuur]. Rupanya Kartini terkesan dengan kata-kata minazh zhulumati ilan nuur yang berarti dari gela kepada cahaya. Hal ini karena Kartini merasakan sendiri proses perubahan dirinya, dari pemikiran jahiliyah kepada pemikiran hidayah.

            Kalau sebelum Kartini mengenal Islam dia selalu menyanjung keberadaan Barat, tai setelah nur kebenaran Islam masuk ke dalam kalbunya, maka sikapnya terhadap Barat mulai berubah sebagaimana komentarnya kepada Ny E.E Abendanon;, ”Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah itu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna ? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah di dalam masyarakat ibu terdapat hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?”

lembaran sejarah yang pernah diukir oleh wanita-wanita muslimah dizamannya yang sebelumnya ia mengemukakan bagaimana kelam dan rusaknya kedudukan wanita sehingga dianggap sebagai pembawa malapetaka, yang memasukkan lelaki ke dalam neraka jahanam, demikian pendapat non muslim. Bahkan seorang tokoh Barat pernah melontarkan pendapat bahwa wanita itu adalah makhluk nomor dua atau makhluk yang belum selesai. Marthin Luther, seorang penganjur besar dari Protestan, telah sengaja membongkar habis-habisan segala macam bid’ah dan khurafat dalam agama Katolik sangat merendahkan derajat wanita.

            Sebelum Islam datang [jahiliyah], wanita diperlakukan lebih kejam lagi.Mereka dikubur hidup-hidup.Dikisahkan seorang sahabat ketika jahiliyah dia pernah mengubur putrinya.Dia ajak anak itu ke suatu tempat dengan riangnya sambil bercanda-canda dalam perjalanan. Sesampainya di sebuah lubang yang telah dipersiapkan, sang ayah berkata, “Wahai anakku, lihatlah ke lubang ini, alangkah indahnya”, sang anak menjawab “Mana ayah, saya juga ingin melihatnya”, ketika kepala sang anak sampai di tepi lubang,dengan cepat sang ayah mendorongnya ke lubang itu. Raungan tangis sang anak menyentak nurani sang bapak. Tapi dia harus tetap melakukan penguburan karena tuntutan adat. Walau jiwanya tak membenarkan.

            Walau demikian, buram kusamnya,masa lalu wanita, terdapat beberapa tokoh yang patut diteladani seperti kisah anak gadis Nabi Syu’aib. yang tak mau berbaur dengan laki-laki.dia sangat tahu batas-batas pergaulan laki-laki dan perempuan.

            Asiyah adalah isteri Fir’aun yang tak mengakui keberadaan Fir’aun sebagai Tuhan. Keimanannya yang mendalam mengatakan bahwa Tuhan itu hanya Allah. Walaupun hidup dalam istana dengan kemewahan yang menggiurkan, dia lebih suka memohon kepada Allah agar dimasukkan ke dalam syurga-Nya. Konsekwensi dari keimanan Asiyah kepada Allah dan pengingkarannya kepada Fir’aun akhirnya dia harus dipancung oleh suaminya sendiri.

            Ibunda Khadijah adalah tipe wanita yang siap mengorbankan harta dan jiwanya demi tegaknya da’wah Rasulullah Saw, dalam salah satu perbincangan dengan Rasulullah beliau berkata, ”Wahai Khadijah apakah kau bersedih karena hartamu telah habis untuk berda’wah ?” Khadijah menjawab, ”Ya Rasulullah, aku sedih bukan karena hartaku habis tapi karena tidak ada lagi yang harus aku berikan di jalan Allah, wahai suamiku, seandainya nanti aku telah wafat sedangkan engkau mengalami kesulitan untuk menyeberangkan da’wahmu ke seberang, maka engkau galilah kuburku, lalu sambung-sambunglah tulangku, jadikanlah sebagai jembatan”, demikian hebatnya pengorbanan ibunda Khadijah untuk menegakkan isalm.[Diskusi Panel panel ”Fungsi dan Kedudukan Wanita dalam Melanjutkan Cita-Cita Kartini” di kampus Sekolah Menengah Pekerja Sosial [SMPS] Solok, jum’at 14 April 1995majalah Ishlah, nomor 41/ Tahun III, 1995].

            Akhir-akhir ini banyak suara yang menggugat tentang ketenaran dan keterlibatan sejarah gemilang Indonesia tentang keberadaan wanita yang bernama Kartini ini, bahkan ada yang menyatakan ketidakpantasan Kartini sebagai figure wanita yang diagung-agungkan di Indonesia karena masih ada wanita lain yang layak untuk menyandang nama besar itu.

Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita”.  Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini.“Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda.Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut,” tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University.

Harsja juga menggugat dengan halus, mengapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia.Ia menunjuk dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya, tulis Harsja, dua wanita itu tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut.

Padahal, papar Harsja, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa.Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengatetahuan.Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu.Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat.Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda  untuk menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya.Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675.Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita.

Tokoh wanita kedua yang disebut Harsja Bachriar adalah Siti Aisyah We Tenriolle.  Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle.Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita.

Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.[Adian Husaini, Depok, 20 April 2009/www.hidayatullah.com,Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah ,Rabu, 21 April 2010 03:50].

            Bahkan kehadiran Kartini di panggung sejarah Indonesia tidak lepas dari rekayasa dari Yahudi Belanda, scenario itu mampu menampilkan figure seorang wanita didikan Belanda sebagai tokoh yang diagung-agungkan padahal tidak sedikit pula tokoh wanita yang lebih baik dari Karini, perjuanganya tidak lepas dari nilai-nilai islam padahal Kartini tidak jelas keislaman yang dianutnya.

Kartini selalu mendapatkan buku baru dari teman korespondensinya.Tak salah kemudian kalau Kartini berpikir begitu progresif, melampaui kebudayaan Jawanya.Bahkan, Kartini masuk dalam pola pemikiran teosofi yang digerakkan kaum Yahudi dalam membangun jejaring konspirasi global.Snouck menginginkan agar Kartini menjadi tokoh perempuan yang tercerahkan lewat pemikiran Barat, bukan dari akar budayanya sendiri.Dengan begitu, maka Belanda seolah berjasa dalam pembentukan nalar anak bangsa.Ini wajar karena saat itu Belanda sedang menjalankan program politik etis. 

Jejaring yang dibangun Snouck itulah jejaring Yahudi yang juga terlibat dalam kelompok rahasia bernama Freemason; sebuah aliran misterius kaum Yahudi yang memandang baik dan buruk dari nuraninya sendiri.Freemason merupakan aliran misterius yang tidak bisa terlacak.Yang tahu adalah para anggotanya sendiri.Dalam novel-novel karya Dan Brown dan Orhan Pamuk, Freemason banyak dikupas sebagai gerakan misterius yang mengguncang peradaban Barat.Freemason inilah yang merepotkan jejaring global dalam membangun perdamaian karena anggota Freemason selalu menebarkan virus misterius yang sulit dimengerti.

Pengaruh konspirasi Yahudi terlihat jelas dalam surat-surat Kartini.Lihat saja suratnya kepada EC Abendanon, 15 Agustus 1902, "Tuhan kami adalah nurani, neraka dan surga kami adalah nurani.Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami.Dengan melakukan kebajikan, nurani kamilah yang memberi kurnia." Surat ini hampir sama dengan surat Kartini kepada Ny Nellie Van Kol, 20 Agustus 1902, "Kebaikan dan Tuhan adalah satu." Surat ini jelas mengindikasikan Kartini masuk dalam jaringan pemikiran teosofi Freemason.

Dari surat-surat inilah, apakah konspirasi Yahudi-Freemason juga menikam Kartini pada usia mudanya sehingga ia meninggal sesaat setelah melahirkan? Yang pasti, Snocuk memang mengagendakan untuk "menjebak" perempuan bernama Kartini untuk menenggelamkan tokoh perempuan Indonesia yang lain, seperti Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Dewi Sartika, dan Rohana Kudus. Kartini sejatinya ingin bersama-sama kaum perempuan Indonesia berjuang memberdayakan kaum hawa, tetapi Snouck tak ingin gemuruh gerakan perempuan membuat Belanda panik dengan kekuasaannya.[KOMPAS.com ,Siti Muyassarotul Hafidzoh,Kartini dalam Konspirasi Yahudi ,Kamis, 19 Mei 2011 | 01:03 WIB];

            Setiap tahun kita memperingati hari Kartini sebagai hari kebangkitan wanita Indonesia, setiap tahun pula kita menanamkan nilai-nilai kepada wanita Indonesia untuk meneladani figure yang satu ini, padahal keberadaan Kartini tidak beda denga wanita lainnya, kelebihannya hanya menampilkan pemikiran Sekulerisme dan Pluralime yang tidak cocok dengan dunia wanita muslimah, sejarah Kartini tidak lepas dari konspirasi orang-orang diluar islam untuk mengaburkan nilai-nilai kebenaran di negeri ini, silahkan setiap tahun kita memperingati hari Kartini dalam rangka mencerdaskan wanita Indonesia dengan mengungkapkan sejarah sebenarnya bahwa masih ada Kartini lain yang lebih berkualitas dari Kartini, wallahu a’lam [Cheras Kuala Lumpur Malaysia, 03 Rajab 1432.H/ 05 Juni 2011.M].



Tidak ada komentar:

Posting Komentar