Islam mengajarkan kepada kita agar
ibadah yang dikerjakan hanya semata-mata ditujukan kepada Allah, jangan
menserikatkan-Nya dengan apapun, do'a yang dipanjatkan lansung kepada-Nya tanpa
perantara dengan siapapun, apakah orang shaleh, orang pintar ataupun dukun dan
masjid digunakan untuk aktivitas ritual dan keumatan, sedangkan kuburan tempat
bersemayamnya orang-orang yang sudah meninggal bukan tempat yang dikeramatkan,
bukan tempat ibadah dan bukan pula tempat meminta, dan tidak pula tempat
memohon do'a;
“Dan apabila
hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku
adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon
kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan
hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”[Al Baqarah 2;186]
Manusia adalah makhluk yang dhaif [lemah] yang
membutuhkan kekuatan diluar kekuatan yang dimilikinya yaitu kekuatan Ilahi yang
kita kenal dengan do’a. Dalam Al Qur’an kita dapati 203 ayat yang menyebut kata
do’a yang artinya bermacam-macam; ibadah, memanggil, memohon, memuji dan
lain-lain.
Do’a yang dimaksud disini adalah menyeru, memohon dan
mengharap sesuatu dari Allah yang Maha Pencipta. Landasan dan tali yang
dimaksud itu ialah do’a disamping itu dia merupakan salah satu konsekwensi dari
ma’na syahadat yaitu “Tidak ada yang
dapat mengabulkan do’a kecuali Allah”
Berdo’a adalah suatu kebutuhan ruhaniah yang diperlukan
manusia dalam kehidupan ini, lebih-lebih tatkala ditimpa kesusahan, kesulitan
dan malapetaka. Ada ulama yang mengibaratkan do’a itu laksana obat bagi
penyakit ruhaniah, berupa penyakit takut, cemas, resah, ragu-ragu dan sebagainya.
Ziarah
kubur yang disyari’atkan dalam Islam adalah berziarah ke kubur Muslimin, dan
mengucapkan salam atas mereka, mendo’akan untuk mereka agar diberi ampunan dan
maghfirah, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits. Dan hendaklah kamu
mengambil pelajaran (i’tibar) dengan keadaan mereka dahulunya bahwa mereka dulu
begini dan begitu, mereka adalah nabi -nabi, wali-wali, orang-orang shalih,
raja-raja, umara’ (pemimpin pemerintahan) dan orang-orang kaya. Mereka telah
mati, telah dipendam, telah menjadi tanah, dan mereka telah menjumpai apa yang
telah mereka perbuat baik berupa kebaikan atau keburukan.
Jadi,
ziarah kubur itu tidak untuk mengambil pelajaran dan menebalkan sikap
meterialistis yang mementingkan kehidupan dunia ini. Karena kehidupan di dunia
ini adalah tipuan dan tidak kekal, sedangkan kita semua akan mati dan akan
dikubur. Maka sebaiknya kita tidak tertipu oleh gebyar dan kesenangan
dunia.Inilah hakikat ziarah kubur yang syar’i itu.
Adapun
ziarah kubur yang syirkiyah atau menyekutukan Allah dan sangat dilarang dalam
Islam adalah apabila peziarah menciumi kuburan, atau sujud di atasnya, atau
mengusap-usapnya, atau memanggil-manggil penghuninya, atau minta pertolongan
padanya (istighatsah dengan kubur), atau minta keselamatan (istinjad) padanya,
atau bernadzar (misalnya kalau sukses usahanya maka akan mengadakan
penyembelihan) untuk kubur, atau menyangka/ meyakini bahwa (mayit) yang dikubur
itu bisa memberi manfaat atau mudharat padanya.Ziarah kubur yang model ini
adalah bertentangan dengan hikmah disyari’atkannya ziarah kubur itu
sendiri.Bahkan itu adalah kenyataan yang dulunya diperbuat oleh ahli
jahiliyah.Oleh karena itu dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang
ziarah kubur.
Allah
memerintahkan semua manusia agar memurnikan ibadahnya hanya untuk Allah, sedang
Dia menciptakan seluruh manusia hanyalah untuk beribadah kepadaNya dengan
ikhlas. Sebagaimana Allah firmankan, artinya: “Dan Aku tidak menciptakan
jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.” (Adz-Dzaariyaat/
51:56).
Ketahuilah
bahwa ibadah itu tidak sah kecuali bersama tauhid (mengesakan Allah
Ta’ala).Sebagaimana shalat itu tidak sah kecuali beserta thaharah (suci) dan
wudhu’.Maka apabila kemusyrikan masuk ke dalam ibadah pasti rusaklah ibadah
itu, seperti halnya hadats apabila masuk ke dalam wudhu’ maka rusaklah
wudhu’nya.
Syirik itu jika
mencampuri ibadah maka merusak ibadah , dan menghapus pahala ketaatan, hingga
pelakunya termasuk penghuni neraka yang kekal di dalamnya.
Ketahuilah bahwa
di antara hal-hal penting yang wajib diketahui adalah: mengetahui syirik. Siapa
yang tidak tahu syirik boleh jadi dia terjatuh di dalam kemusyrikan, sedangkan
dia tidak tahu! Allah Ta’ala berfirman,artinya: “Sesungguhnya Allah tidak
akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari
(syirik) itu bagi siapa yang dikehendakiNya.” (QS An-Nisaa’: 48, 116).
Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala menjelaskan bahwa Dia tidak mengampuni hamba yang mati dalam keadaan musyrik. Dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi hambaNya yang Ia kehendaki.Ayat di atas menunjukkan bahwa syirik adalah sebesar-besar dosa.Karena Allah menjelaskan bahwa Dia tidak mengampuni dosa syirik bagi orang yang belum bertobat (sebelum kematiannya). Sedangkan dosa selain syirik maka ada di bawah kehendak Allah, jika Dia berkehendak, maka Dia akan mengampuni, dan jika Dia berkehendak, Dia akan menyiksanya karena dosanya itu. Dengan demikian wajib bagi setiap hamba untuk takut pada kemusyrikan yang merupakan dosa terbesar itu.
Wajib
sama sekali atas setiap Muslim mengetahui dan menghindari syirik itu. firman
Allah, artinya: “Sesungguhnya barangsiapa menyekutukan Allah maka pasti
Allah mengharamkan kepadanya Surga dan tempatnya adalah neraka, dan tidak ada seorang
pun penolong bagi orang-orang yang dhalim.” (QS Al-Maidah: 72).
Dari Abdullah, ia berkata, aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dosa apa yang paling besar di sisi Allah? Nabi bersabda: “(Dosa terbesar) adalah engkau menjadikan tandingan (sekutu) bagi Allah sedangkan Dia lah yang menciptakanmu.”(HR Al-Bukhari dan Muslim).
Syaikh
Muhammad Al-Utsaimin menjeaskan firman Allah yang artinya: “Dan sembahlah
Allah dan janganlah kamu menyekutukanNya dengan sesuatu pun.” (An-Nisaa’:
36).
Dalam
ayat ini Allah memerintahkan agar manusia beribadah kepadaNya serta melarang
berbuat syirik.Dan ini mengandung pengertian bahwa penyembahan itu hanyalah
milik Allah semata.Barangsiapa tidak menyembah Allah maka dia kafir dan
sombong.Barangsiapa menyembah Allah tetapi juga menyembah selainNya, maka dia
kafir dan musyrik.Barangsiapa menyembah Allah saja, maka dia orang Muslim yang
sesungguhnya.[Kemusyrikan dan Ziarah Kubur,www.alsofwah.or.id 20 April 2010].
Ketika al-Hasan bin al-Hasan bin
Ali meninggal dunia, istrinya membuat kubah di atas kuburnya selama satu tahun,
kemudian dibongkar. Lalu, mereka mendengar seseorang berteriak, "Apakah
mereka tidak menjumpai apa yang hilang itu?" Kemudian ada orang lain yang
menjawab, "Bahkan mereka sudah putus asa, kemudian kembali". Sebuah
tuntutan agar kuburan tidak disalah fungsikan menjadi sesuatu tempat yang
dikeramatkan.Nabipun tidak membenarkan kalau kuburan dijadikan tempat yang
tidak pada tempatnya walaupun nampaknya baik dan bernuansa ibadah.
Aisyah
r.a. mengatakan bahwa dalam keadaan sakit yang membawa kepada kematian, Nabi
saw bersabda, "Allah mengutuk orang-orang Yahudi dan Nasrani karena
mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid." Aisyah berkata,
"Seandainya tidak karena sabda itu, niscaya mereka menampakkan kuburan
beliau. Hanya saja aku khawatir (dalam satu riwayat: beliau khawatir atau
dikhawatirkan kuburan itu dijadikan
masjid."
Bila
masjid sudah dijadikan sebagai masjid, maka banyaklah hal-hal yang tidak
sesusai dengan ajaran islam dilakukan disana diantaranya pengkultusan terhadap
yang meninggal, memuja dan meminta sesuatu kepada si mayat, hal itu tidak
dibenarkan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang nasrani, Aisyah r.a.
berkata, "Ketika Nabi sakit (yakni yang menyebabkan kematian beliau),
ada sebagian di antara istri beliau menyebut-nyebut perihal gereja yang pernah
mereka lihat di negeri Habasyah yang diberi nama gereja Mariyah. Ummu Salamah
dan Ummu Habibah pernah datang ke negeri Habasyah.Kemudian mereka menceritakan
keindahannya dan beberapa lukisan (patung) yang ada di gereja itu. Setelah
mendengar uraian itu, beliau mengangkat kepalanya, lalu bersabda,
"(Sesungguhnya mereka itu, jika ada
orang yang saleh di antara mereka meninggal dunia, mereka mendirikan masjid
(tempat ibadah) di atas kuburnya. Lalu, mereka membuat berbagai lukisan dalam
masjid itu.Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah (pada hari
kiamat].
Kekhawatiran itu akhirnya menjadi
kenyataan, disetiap kuburan orang-orang shaleh, orang-orang yang dianggap
berjasa terhadap pengembangan agama ini apalagi dianggap wali Allah maka kubur
mereka dijadikan tempat memanjatkan doa, tempat membaca Al Qur'an, tempat
bernazar dan dijadikan sebagai wasilah [perantara] untuk menyampaikan maksud
dari peziarah sehingga ziarah kubur yang dibolehkan dalam rangka untuk zikrul
maut [mengingat kematian] jadi arena ritual syirik yang tidak dibenarkan dalam
agama tauhid ini, tidak beda dengan orang-orang jahiliyyah ketika mereka
menyembah berhala, mereka mengatakan bahwa hal itu bukanlah bentuk penyembahan
tapi sebagai perantara semata.
Ini adalah
kepercayaan yang tidak diajarkan dalam islam
walaupun nampaknya kegiatan ini islami yaitu mengadakan perantara untuk
mendekatkan diri kepada Allah dengan anggapan manusia adalah makhluk yang penuh
dengan dosa dan kesalahan sehingga tidak pantas beribadah lansung kepada Allah
karena tidak akan diterima ibadahnya itu oleh Allah. Seperti berwasilah kepada
arwah orang yang dianggap shaleh sehingga mendatangi kuburannya untuk
menyampaikan hal itu. Bahkan ada yang menjadikan benda sebagai wasilah seperti
batu besar, gunung-gunung dan pohon-pohon besar. Segala bentuk wasilah apapun
alasannya maka itu adalah syirik sebagaimana Allah berfirman dalam surat Az
Zumar 39;3;
"Ingatlah, Hanya kepunyaan Allah-lah agama yang
bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah
(berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka
mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya
Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih
padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan
sangat ingkar".
Muhammad bin Sulaiman At Tamimi berkata; "Berdo'a
kepada wali untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah syirik...do'a kepada
wali dan menjadikan mereka pemberi syafaat disisi Allah adalah syirik".
Tiga bentuk tawasul
menurut Ibnu Taimiyyah, dua tawasul yang dibolehkan yang pertama yaitu seperti
tawasul dengan jalan iman, melaksanakan yang wajib dan yang sunnah melalui
ibadah, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Maidah 5;35; " Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan
diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat
keberuntungan".
Kedua tawasul dengan syafaat nabi Muhammad, ini juga
dilakukan dengan lansung bukan kekuburan nabi, Allah sendiri mengajak ummatNya
untuk berdo'a lansung kepada-Nya tidak ada perantara;"Dan Tuhanmu
berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk
neraka Jahannam dalam keadaan hina dina"[Mukmin 40;60].
Sedangkan tawasul yang
tidak dibolehkan menurut Ibnu Taimiyyah
yaitu dengan jalan meminta kepada
orang-orang shaleh agar disampaikan maksudnya kepada Allah;"Katakanlah:
"Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, Maka mereka
tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak
pula memindahkannya." Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri
mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat
(kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya;
Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti". [Al
A'raf 7;56-57].
Ada tawasul yang
tidak berasal dari syariat berarti hal ini tidak dibenarkan seperti tawasul
syirik yaitu bersumpah dan berdo'a selain kepada Allah dalam rangka untuk melenyapkan
bahaya dengan pakai jimat atau menyembelih hewan bukan atas nama Allah dan lain
sebagainya. Tawasul bid'ah adalah tawasul dengan ucapan "Aku bertawasul
dengan kemuliaan si Anu bin si Anu" melalui kuburan dan memuja-muja wali
dan syaitan.[HM.As'ad
El Hafidy, Kangker Tauhid, Media Da'wah Jakarta, 1990].
Mengagungkan orang shaleh yang ia jadikan sebagai wasilah
atau penghubung dan pemberi syafaat juga terjadi kepada agama lain. Pada surat
At Taubah ayat 30 Allah berfirman;”Orang-orang
Yahudi menjadikan Uzair anak Allah, dan orang Nasrani menjadikan [Isa] Al Masih
sebagai anak Allah, itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka, meniru ucapan
orang-orang kafir terdahulu. Allah mengutuk mereka, mereka menjadikan
pendeta-pendeta dan paderinya sebagai Tuhan selain dari Allah”.
Ziarkah kubur yang mencemari tauhid sebagaimana yang
dibicarakan diatas tidak dibenarkan, tapi bila ziarah kubur dalam rangka untuk
zikrul maut, mengingat kematian, menimbulkan kesadaran diri bahwa kita semua
akan meninggal dunia sehingga perlu adanya persialan untuk itu maka sangat
dianjurkan bahkan sebagian dari sunnah Rasulullah.
Diriwayatkan dari Maimun bin
Mahram, ahli zuhud yang ahli ibadah dan alim, bahwa ia menggali sebuah lubang
kubur di dalam rumahnya. Setiap malam ia masuk ke dalam kubur itu sambil
menangis dan membaca al-Qur’an. Lalu, ia keluar lagi dan berujar kepada diri
sendiri. ”Maimun sekarang engkau telah kembali ke dunia, kerjakanlah amal
shaleh”, bisiknya dalam hati.
Mengingat mati bisa dilakukan
dengan berziarah kubur.Seiring dengan berkembangnya peradaban, perkembangan
budaya, berbagai macam godaan syahwat, ragam makanan yang lezat, corak pakaian
dan barang-barang perabot, maka ziarah kubur jarang-jarang dilakukan.Akibatnya,
kamatian pun dilupakan.
Ziarah kubur, mengucapkan
salam kepada para penghuni makam, dan mendoakan mereka. Merenungi bagaimana
pemusnah kenikmatan merenggut mereka, memasukkan mereka ke dalam liang yang
gelap. Menarik mereka keluar dari rumah, gedung dan istana. Dahulu mereka makan
minum, berfoya-foya, tertawa-tawa, mengendarai mobil mewah, menduduki jabatan
tinggi, membangun gedung-gedung pencakar langit, dikawal tentara, dikerumuni
banyak orang, bendera berkibar diatas kepala mereka, tetapi akhirnya semua
direnggut dari tangan mereka, dan mereka dikuburkan ke dalam lubang-lubang yang
sempti.
Dalam shahih Bukhari, Ibnu
Umar ra, berkata Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam menarik pundakku, “Di
dunia ini jadilah engkau seperti orang yang asing atau musafir”. Hanya
orang-orang yang segera bertobat yang bersiap-siap menghadapi kematian.
Sa’id
Ibnu Musayyib, ketika sekarat berujar, “Alhamdulillah. Selama empat puluh
tahun, saya selalu berada di masjid Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam,
ketika muazin mengumandang azan”, ucapnya.[Aidh Al-Qarni, Seringlah Berziarah Kubur, Senin, 25/10/2010 08:49
WIB].
Bahkan
ziarah kubuh itu dilakukan pada waktu-waktu tertentu seperti memasuki Ramadhan
atau datangnya Idul Fithri, padahal untuk ziarah kubur tidak mesti ditentukan
begitu waktunya, dalam rangka zikrul maut kita bisa kapan saja berziarah ke
kubur.Mengkhususkan waktu ziarah kubur tidaklah dibenarkan apalagi ada unsur
mistiknya.
Kita lihatlah
bagaimana ummat islam ketika masuk bulan Ramadhan mereka dating ke kubur untuk
melakukan ziarah kubur dengan membakar kemenyan, mengirim kembang kepada arwah
dan berbagai minuman serta makanan yang dikirim untuk arwah yang ada di alam
ghaib., semuanya mengandung syirik, bid’ah dan kurafat yang membawa kepada
kesesatan. Banyak kesesatan yang nampak dalam melakukan ziarah kubur
diantaranya;
Ketika
mengiring jenazah atau berziarah kubur, sebagian orang ada yang tidak
memperhatikan jalan yang mesti dilaluinya, sehingga disana sini menginjak-injak
kuburan dengan tanpa rasa hormat sedikitpun kepada yang sudah meninggal.
Dan yang menunggu pemakaman jenazah dengan seenaknya duduk di atas kuburan,
pemandangan seperti ini sering terlihat di masyarakat, padahal Rasullah
Shallallaahu alaihi wa Salam mengancam akan hal yang semacam itu.
Abu Hurairah Radhiallaahu anha berkata, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam
bersabda; “Sungguh seseorang dari kalian duduk di atas bara api sehingga
terbakar bajunya hingga tembus ke kulitnya, hal itu lebih baik baginya daripada
duduk di atas kuburan.” (HR. Muslim ).
Kepercayaan bahwa para wali yang telah meninggal dunia dapat memenuhi hajat,
serta membebaskan manusia dari berbagai kesulitan adalah syirik.Karena
kepercayan ini, mereka lalu meminta pertolongan dan bantuan kepada para wali
yang telah meninggal dunia.Padahal mereka meminta tolong kepada Allah dalam
setiap shalatnya namun dalam prakteknya mereka meminta realisasinya kepada
selain Allah.
Firman Allah dalam Al-Qur’an:“Hanya kepadaMu-lah kami menyembah dan hanya
kepadaMu-lah kami meminta pertolongan.” (Al-Fatihah: 5).
Termasuk dalam katagori menyembah kuburan adalah memohon kepada orang-orang
yang telah meninggal, baik para nabi, orang-oarng shalih atau lainnya untuk
mendapatkan syafa’at atau melepaskan diri dari berbagai kesukaran hidup.
Sebagian mereka, bahkan membiasakan dan mentradisikan menyebut nama syaikh atau
wali tertentu, baik dalam keadaan berdiri maupun duduk atau ketika ditimpa
musibah atau kesukaran hidup.
Di antaranya ada yang menyeru: Wahai Muhammad “. Ada lagi yang menyebut “Wahai
Ali” Yang lainnya menebut: Wahai Syaikh” atau Wahai Syaikh Abdul Qadir
Jaelani”, Kemudian ada yang menyebut: “Wahai Syadzali”.Dan masih banyak lagi
sebutan lainnya.
Allah Subhannahu wa Ta'ala
berfirman “Sesungguhnya orang-orang yang kamu seru selain Allah itu
adalah makhluk (yang lemah) yang serupa dengan kamu”. (Al-A’raaf:
194).
Sebagian penyembah kuburan ada yang berthawaf (menge-lilingi) kuburan tersebut,
mencium setiap sudutnya ada juga yang mencium pintu gerbang kuburan dan
melumuri wajahnya dengan tanah dan debu dari kuburan sebagian ada yang bersujud
ketika memandangnya, berdiri didepannya dengan penuh khusyu, merendahkan diri
dan menghinakan diri seraya mengajukan permintaan dan memohon hajat.
Mencari berkah di kuburan tidaklah asing bagi sebagian orang lebih-lebih di
masa sekarang ini dimana kebutuhan yang penting harus dipenuhi namun jalan
untuk mengaisnya sangatlah sulit kemudian mereka memakai jalan pintas yaitu
dengan bersemedi dan tafakur di kuburan dengan harapan akan dibukakan jalan
baginya. Kemudian ada yang meminta sembuh dari sakit, mendapatkan keturunan,
digam-pangkan urusannya dan tak jarang di antara mereka yang menyeru: Ya
Sayyidy aku datang kepadamu dari negeri yang jauh maka janganlah engkau
kecewakan aku “ Dan ada juga yang mengatakan “Ya Sayyidy aku ini adalah hamba
yang hina dina dan engkau hamba yang mulia maka sampaikanlah hajat hamba kepada
Tuhanmu”
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: “Dan siapakah yang lebih sesat
daripada orang yang menyem-bah sembahan-sembahan selain Allah yang tidak dapat
mengabulkan (do’a)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhati-kan
do’a mereka.” (Al- Ahqaf: 5).
Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam besabda:“Barangsiapa yang
meninggal dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah niscaya akan masuk
kedalam Neraka” (HR. Al-Bukhari, 8/176).
Sebagian mereka, mencukur rambutnya di pekuburan dan ada yang membawa buku yang
berjudul: Manasikul Hajjil Masyahid” (Tata cara Beribadah Haji di Kuburan
Keramat), sebelum mereka menunaikan ibadah haji ditanah suci Mekkah, mereka
terlebih dahulu menunaikan haji di Tanah Pekuburan Keramat.[Tedy Haryono, Dosa
Seputar Mayyit Dan Kuburan, www.alsofwah.or.id/khutbah].
Praktek
syirik inilah yang menyibukkan ummat Islam, baik di desa hingga kota ketika
ilmu agama tidak ada, keislaman hanya dari warisan nenek moyang tanpa mau
belajar lagi menggali lebih dalam, bahkan ironinya yang melakukan tersebut
banyak sarjana dan pejabat yang tidak menggunakan akalnya untuk menimbang salah
dan benarnya, hal itu lebih diyakini lagi karena yang melakukan adalah
orang-orang yang tahu dengan agama seperti kiayi, ulama dan ustadz sehingga
terjadilah sesat dan menyesatkan, wallahu a’lam [Cubadak
Solok, 4 Agustus 2011.M/ 4 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar