Semua orang tidak suka dengan yang satu
ini, kata ini menakutkan manusia sehingga untuk mendengar saja kita berupaya
untuk menjauhkannya dari pendengaran, kita tidak mau melihat adanya jenazah
yang diantar ke kuburan, walaupun terlihat tapi kita berupaya untuk tidak
memikirkannya sehingga kematian itu dianggap biasa, hanya yang akan dialami
oleh orang lain saja, seolah-olah kita tidak terlibat didalamnya. Itulah
kematian, dia ditakuti tapi pasti akan dialami oleh manusia bahkan makhluk
hidup lainnya akan mengalami hal yang sama, ketika ajal datang maka saat itulah
kematian terjadikkemanapun lari tidak bisa kita jauh darinya, walaupun kita
sibuk dengan urusan dunia beserta pernak-perniknya tapi saatnya kelak kita akan
direnggut dari semua itu untuk meninggalkan segala keadaan hari ini untuk
memasuki keadaan yang lebih pasti yaitu kematian.
Saat ini, banyak orang yang hidup
sesukanya hingga melupakan Allah SWT dan Rasul-Nya. Dalam menjalani hidup, ia
tak peduli halal-haram. Dalam kamus hidupnya hanya satu: yang penting enak,
nikmat! Mereka antara lain pelaku seks bebas, pemabuk/penikmat narkoba dan
tentu saja kalangan hedonis lainnya. Setiap hari yang mereka kejar hanyalah
kesenangan.Mereka tak mau dipusingkan oleh masalah.
Saat ini pun tak sedikit orang yang
begitu dalam cintanya kepada seseorang; entah kepada pasangan hidupnya, pujaan
hatinya, anak-anaknya, kedua orang-tuanya, dll.Begitu dalamnya cintanya kepada
seseorang tersebut hingga melebihi cintanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Akibatnya, ia menomorduakan Allah SWT dan Rasul-Nya serta menomor-satukan
seseorang yang ia cintai. Bukan-kah tak sedikit orang mengorbankan agama demi
menyenangkan orang-orang yang ia cintai. Bukankah banyak orang mau mengorbankan
apa saja, termasuk agamanya, demi menyenangkan dan membahagiakan pasangan hidup
yang dia cintai? Banyak pula orang yang tergila-gila mencintai sesuatu; entah
harta-kekayaan, jabatan, pangkat, kehormatan, hobi dll. Begitu cintanya
pada sesuatu itu, ia pun tak jarang melupakan Allah SWT dan Rasul-Nya. Bukankah
tak sedikit orang yang menggadaikan agamanya demi mengejar kekayaan, jabatan,
pangkat, kehormatan atau bahkan hobi?Bukankah ada orang yang nekad melakukan
suap-menyuap demi pangkat/jabatan; melaku-kan manipulasi demi meraih
gelar/kehor-matan; atau menghabiskan waktu berjam-jam seharian (juga tenaga,
pikiran dan tentu saja uang) demi memuaskan hobi-nya hingga lupa shalat, baca
Alquran atau berzikir kepada Allah SWT?
Jika kita termasuk ke dalam
orang-orang yang semacam ini, layaklah kita merenungkan sebuah hadits,
sebagaimana yang dituturkan Sahal bin Saad, bahwa Nabi SAW pernah bersabda:
Jibril pernah berkata, ”Muhammad, hiduplah sesukamu, namun sesungguhnya
akhir kehidupanmu adalah kematian; cintailah siapa saja sekehendakmu, tetapi
sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya; lakukanlah apa saja semaumu, namun
sesungguhnya engkau akan diberi balasan.” (HR al-Hakim, al-Haitsami dan
ath-Thabrani).[Kematian, Perpisahan dan Penghisaban,Media Ummat; Thursday, 20
May 2010 18:20].
Di dunia ini, menurut al-Ghazali, tak
ada yang pasti, kecuali kematian.Hanya kematian yang pasti, lainnya tak ada
yang pasti.Namun, manusia tak pernah siap menghadapi maut dan cenderung lari
darinya."Sesungguhnya, kematian yang kamu lari daripadanya, sesungguhnya
kematian itu akan menemui kamu." (QS Al-Jumu'ah [62]: 8).
Bagi al-Ghazali, kematian tidak bermakna tiadanya hidup (nafi al-hayah), tetapi perubahan keadaan (taghayyur hal).Dengan kematian, hidup bukan tidak ada, melainkan bertransformasi dalam bentuknya yang lebih sempurna.Diakui, banyak orang semasa hidup mereka tertidur (tak memiliki kesadaran), tetapi justru setelah kematian, meraka bangun (hidup)."Al-Nas niyam, fa idza matu intabihu," demikian kata Imam Ali.
Dalam Alquran, ada beberapa istilah yang dipergunakan Allah SWT untuk mengartikan kematian. Pertama, kata al-maut (kematian) itu sendiri. Kata ini dalam bentuk kata benda diulang sebanyak 35 kali.Al-maut menunjuk pada terlepasnya (berpisah) ruh dari jasad manusia.Kepergian ruh membuat badan tak berdaya dan kemudian hancur-lebur menjadi tanah.
Allah SWT berfirman, "Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu, dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain." (QS Thaha [20]: 55).
Kedua, kata al-wafah (wafat). Kata ini dalam bentuk fi`il diulang sebanyak 19 kali. Al-Wafah memiliki beberapa makna, antara lain sempurna atau membayar secara tunai. Jadi, orang mati dinamakan wafat karena ia sesungguhnya sudah sempurna dalam menjalani hidup di dunia ini. Oleh sebab itu, kita tak perlu berkata, sekiranya tak ada bencana alam si fulan tidak akan mati.
Ketiga, kata al-ajal.Kata ini dalam Alquran diulang sebanyak 21 kali.Kata ajal sering disamakan secara salah kaprah dengan umur.Sesungguhnya, ajal berbeda dengan umur. Umur adalah usia yang kita lalui, sedangkan ajal adalah batas akhir dari usia (perjalanan hidup manusia) di dunia. Usia bertambah setiap hari; ajal tidak. (QS Al-A'raf [7]: 34).
Keempat, kata al-ruju' (raji').Kata ini dalam bentuk subjek diulang sebanyak empat kali, dan mengandung makna kembali atau pulang.Kematian berarti perjalanan pulang atau kembali kepada asal, yaitu Allah SWT. Karena itu, kalau ada berita kematian, kita baiknya membaca istirja', Inna Lillah wa Inna Ilaihi Raji'un (QS Al-Baqarah [2]: 156).
Sesungguhnya, kematian itu sama dengan mudik, yaitu perjalanan pulang ke kampung kita yang sebenarnya, yaitu negeri akhirat. Mudik itu menyenangkan.Dengan satu syarat, yakni membawa bekal yang cukup, berupa iman dan amal saleh."Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya (dalam perkenan dan rida-Nya), hendaklah ia mengerjakan amal saleh." (QS Al-Kahfi [18]: 110).[Republika Co.id,Dr A Ilyas Ismail,Ingatlah Saat Kematian Mu!Kamis, 11 November 2010, 10:53 WIB].
Bagi al-Ghazali, kematian tidak bermakna tiadanya hidup (nafi al-hayah), tetapi perubahan keadaan (taghayyur hal).Dengan kematian, hidup bukan tidak ada, melainkan bertransformasi dalam bentuknya yang lebih sempurna.Diakui, banyak orang semasa hidup mereka tertidur (tak memiliki kesadaran), tetapi justru setelah kematian, meraka bangun (hidup)."Al-Nas niyam, fa idza matu intabihu," demikian kata Imam Ali.
Dalam Alquran, ada beberapa istilah yang dipergunakan Allah SWT untuk mengartikan kematian. Pertama, kata al-maut (kematian) itu sendiri. Kata ini dalam bentuk kata benda diulang sebanyak 35 kali.Al-maut menunjuk pada terlepasnya (berpisah) ruh dari jasad manusia.Kepergian ruh membuat badan tak berdaya dan kemudian hancur-lebur menjadi tanah.
Allah SWT berfirman, "Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu, dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain." (QS Thaha [20]: 55).
Kedua, kata al-wafah (wafat). Kata ini dalam bentuk fi`il diulang sebanyak 19 kali. Al-Wafah memiliki beberapa makna, antara lain sempurna atau membayar secara tunai. Jadi, orang mati dinamakan wafat karena ia sesungguhnya sudah sempurna dalam menjalani hidup di dunia ini. Oleh sebab itu, kita tak perlu berkata, sekiranya tak ada bencana alam si fulan tidak akan mati.
Ketiga, kata al-ajal.Kata ini dalam Alquran diulang sebanyak 21 kali.Kata ajal sering disamakan secara salah kaprah dengan umur.Sesungguhnya, ajal berbeda dengan umur. Umur adalah usia yang kita lalui, sedangkan ajal adalah batas akhir dari usia (perjalanan hidup manusia) di dunia. Usia bertambah setiap hari; ajal tidak. (QS Al-A'raf [7]: 34).
Keempat, kata al-ruju' (raji').Kata ini dalam bentuk subjek diulang sebanyak empat kali, dan mengandung makna kembali atau pulang.Kematian berarti perjalanan pulang atau kembali kepada asal, yaitu Allah SWT. Karena itu, kalau ada berita kematian, kita baiknya membaca istirja', Inna Lillah wa Inna Ilaihi Raji'un (QS Al-Baqarah [2]: 156).
Sesungguhnya, kematian itu sama dengan mudik, yaitu perjalanan pulang ke kampung kita yang sebenarnya, yaitu negeri akhirat. Mudik itu menyenangkan.Dengan satu syarat, yakni membawa bekal yang cukup, berupa iman dan amal saleh."Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya (dalam perkenan dan rida-Nya), hendaklah ia mengerjakan amal saleh." (QS Al-Kahfi [18]: 110).[Republika Co.id,Dr A Ilyas Ismail,Ingatlah Saat Kematian Mu!Kamis, 11 November 2010, 10:53 WIB].
Ada sabda Nabi saw. sebagai
berikut:Siapa saja yang suka dilapangkan rezekinya dan ditambah umurnya
hendaklah ia bersilaturahmi.(HR al-Bukhari, Muslim, Abu dan Ahmad).
Juga ada beberapa hadis
semisalnya.Dalam hal ini, yang dimaksud dengan pertambahan umur bukanlah
penundaan ajal. Yang bertambah tidak lain adalah keberkahan umurnya dalam
ketaatan kepada Allah. Bisa juga maknanya adalah bukan pertambahan umur
biologis, tetapi umur sosiologis, yakni peninggalan, jejak atau atsar
al-‘umri-nya yang terus mendatangkan manfaat dan pahala setelah kematian
biologisnya. Abu Darda menuturkan bahwa Rasul saw. pernah bersabda:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengakhirkan (kematian) seseorang jika
telah datang ajalnya. Sesungguhnya bertambahnya umur itu dengan keturunan salih
yang Allah karuniakan kepada seorang hamba, lalu mereka mendoakannya sesudah
kematiannya sehingga doa mereka menyusulinya di kuburnya. Itulah pertambahan
umur.(HR Ibn Abi Hatim dikutip oleh al-Hafizh Ibn Katsir di dalam
tafsirnya QS. Fathir [35] : 11).Selain anak salih, hadis lain menyatakan bahwa ilmu yang bermanfaat, sedekah jariah dan sunnah hasanah juga akan memperpanjang umur sosiologis seseorang. Pelakunya, meski telah mati secara biologis, seakan ia tetap hidup dan beramal dengan semua itu serta mendapat pahala karenanya.
Dengan demikian, tidak ada gunanya lari dari maut.Maut juga tidak selayaknya ditakuti karena pasti datangnya. Sikap takut akan mati dan berupaya lari dari maut yang pasti datang bisa dikatakan sebagai sikap bodoh dan upaya yang sia-sia.
Yang harus dilakukan adalah mempersiapkan diri
menyongsong datangnya maut dan memelihara diri supaya maut itu datang dalam
kondisi kita sedang menunaikan ketaatan sehingga kita mendapatkan husnul
khatimah.Inilah sikap cerdas dan upaya yang berdaya guna. Orang yang paling
cerdas adalah orang yang paling banyak dan paling baik persiapannya dalam
menyongsong datangnya maut.[Eramuslim, Antara Rezeki, Jodoh dan Ajal,Senin,
29/11/2010 13:37 WIB,Adi Victoria,Al_ikhwan1924@yahoo.com].
Sakratulmaut adalah bahasa Al-Qur’an yang terdiri dari dua kata “sakrotan”; pecahan dari kata : سكر – يسكر – سكرا (sakiro – yaskaru – sakran) yang berarti “mabuk atau teler”. Kata “maut”; pecahan dari kata : مات – يموت – موتا (maata – yamuutu - mautan) yang berarti “mati”. Maka Sakratulmaut berarti “kondisi mabuk menghadapi saat kematian’.
Sakratulmaut juga dapat dikatakan sebagai warming up (pemanasan) kematian.Karena kematian itu sulit, berat dan amat sakit maka diperlukan pemanasan. Di samping itu, sebagaimana kehidupan pertama manusia memerlukan proses dan tahapan, maka kematian juga memerlukan proses dan tahapan agar bisa memasuki alam lain bernama Barzakh; sebuah alam yang jauh lebih besar dan sangat berbeda situasi, kondisi dan lingkungannya dengan bumi saat kita hidup di dunia.
Sakratulmaut adalah sesuatu yang ditakuti manusia.Faktanya, berbagai riset dan upaya telah dilakukan manusia untuk menghindarinya seperti, menciptakan obat-obatan untuk memperpanjang umur. Hal tersebut digambarkan Allah dalam firman-Nya :
Saat datanglah Sakaratulmaut dengan sebenar-benarnya.Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. (Q.S. Qaf: 19 )
Pertanyaan berikutnya ialah, apakah manusia mampu menghindari Sakratulmaut?Jawabannya tentu ‘mustahil’. Karena Sakratulmaut adalah voucher manusia untuk masuk ke Alam Barzakh, tempat penginapan mereka yang ketiga yang sudah disiapkan oleh Pencipta, Raja dan Pemilik alam semesta ini, yakni Allah Rabbul ‘Alamin, setelah kehidupan dalam rahim ibu mereka dan kehidupan di atas bumi. Mereka tidak akan dapat mengelak dan lari dari keharusan melewati sakratulmaut, sebagaimana mereka tidak bisa mengelak dan menghindar dari ketentuan dan kehendak-Nya ketika mereka diciptakan sebelumnya dari tidak ada menjadi ada.
Sebab itu, sebelum Sakratulmaut datang menghampiri kita, Allah sebagai Pemilik dan Pengendali jagad raya mengajak kita memikirkan dan menyaksikan kehendak, keputusan dan sistem-Nya tentang Sakratulmaut yang telah menjadi kenyataan sehari-hari yang kita saksikan seperti yang tercantum dalam surat Al-Waqi’ah berikut ini:
“Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, (83) padahal kamu ketika itu menyaksikan (orang yang sedang sekarat itu) (84) dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu.Tetapi kamu tidak melihatnya (85) maka kalaulah kamu tidak tunduk (pada Kehendak Allah) (86) (pastilah) kamu (mampu) mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya semula) jika kamu adalah orang-orang yang benar?”(Q.S. Al-Waqi’ah: 83 – 87)
Tentang kondisi Sakraulmaut tersebut, Sayyid Qutb menjelaskannya dengan begitu indah dan menarik dalam tafsirnya “Fii Zhilal Al-Qur’an”, sebagai berikut :
Apa gerangan yang akan Anda lakukan ketika nyawa telah berada di tenggorokan? Anda sedang berada di persimpangan jalan yang majhul (tidak diketahui). Kemudian, penggambaran Al-Qur’an yang inspiratif yang melukiskan semua dimensi sikap dalam sentuhan-sentuahan yang cepat, mengungkapkan semua kondisi yang sedang dihadapi, latar belakangnya dan semua yang akan menginspirasikannya… Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat (orang yang sedang sekarat itu) dan Kami (dengan malaikat-malaikat) lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihatnya…
Kita seakan mendengar suara tenggorokan orang yang sedang sekarat dan melihat tatapan wajahnya, merasakan bencana dan kesulitan (yang dihadapinya) lewat firman Allah, “Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan”. Sebagimana kita juga bisa melihat tatapan wajah yang tak berdaya, putus asa yang dalam raut muka orang-orang yang hadir (di sekitar orang sedang sekarat itu) lewat firman-Nya “ padahal kamu ketika itu melihat (orang yang sedang sekarat itu)”.
Di sini, pada momen ini, sungguh ruh (nyawa) itu telah selesai dengan urusan dunia.Ia telah meninggalkan bumi dan seisinya. Ia akan menyambut dunia yang belum pernah ditempatinya…Ia tidak akan mampu lagi menguasai sesuatu selain dari apa yang pernah ia tabung sebelumnya… berupa kebaikan atau kejahatan yang dilakukannya…
Di sini, ia melihat, tapi ia tidak mampu membicarakan apa yang dilihatnya… Ia telah terpisah dari orang-orang yang ada di sekitarnya dan apa saja yang ada di sekelilingya…Hanya fisiknya yang bisa disaksikan oleh yang hadir di sekitarnya…Mereka hanya melihat begitu saja sedangkan mereka tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi dan tidak punya kuasa terhadapnya barang sedikitpun….
Di sini, kemampuan manusia terhenti… Ilmu pengetahuan manusia juga tidak berguna sebagaimana peran manusia juga tidak ada…Di sini, mereka mengerti, tapi tidak bisa membantahnya. Mereka lemah,…. lemah…..terbatas….terbatas…. Di sini layar diturunkan tanpa mereka lihat, tanpa sepengetahuan mereka dan tanpa kemampuan bergerak/berbuat.
Di sini, yang berperan hanya Qudrat Ilahiyah (Kekuasaan Allah)… Ilmu Ilahi…(Ilmu Allah)….Semua urusan murni milik Allah tanpa sedikitpun keraguan, tanpa bantahan dan tanpa ada kiat-kiat apapun. “dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu”. Di sini, terjadi kebesaran sikap yang membesarkan Kebesaran Allah… Kewibawaan dan kehadiran-Nya –Subhanahu Wata’ala – sedangkan Dia hadir setiap waktu. Ungkapan itu membangunkan perasaan akan suatu hakikat (kenyataan) yang dilupakan manusia.. Maka tiba-tiba, majlis yang menghadiri kematian merasakan seramnya (suasana) karena didominasi oleh ketakutan, kehadiran dan kebesaran-Nya…Yang mendominasi ialah ketidakberdayaan, ketakutan, keterputusan dan perpisahan…
Dalam kondisi liputan perasaan yang gemetaran, berdebar, putus asa, dan duka lara, datanglah tantangan (Keputusan Allah) yang memotong semua perkataan dan mengakhiri semua perdebatan : “. Maka jika kamu tidak tunduk (pada Kehendak Allah), (pastilah) kamu (mampu) mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?” Jika sekiranya masalahnya seperti yang kamu katakan : “sesungguhnya tidak ada perhitungan dan tidak ada balasan”, berarti kamu orang-orang yang bebas tanpa ada pembalasan dan perhitungan? Jika demikian, kamu mampu mengembalikan nyawa – yang sudah sampai di tenggorokan itu – agar kamu hindarkan ia dari kondisnya yang sedang menuju perhitungan dan balasan itu…Padahal kamu berada di sekitarnya dan sedang menyaksikannya, sedangkan ia berlalu menuju dunia yang besar, dan kamu diam saja dan tidak berdaya…
Di sini, gugurlah semua alasan, habislah semua argumentasi, punahlah semua kiat dan habislah bantahan…Dan tekanan hakikat (kenyataan) ini membebani diri manusia. Sebab itu, mereka tidak akan mampu bertahan,(dengan kondisi pembangkangannnya kepada Tuhan Pencipta) kecuali jika mereka tetap menyombongkan diri tanpa bukti dan argumentasi”[Eramuslim, Fathuddin Ja'far,Merancang Kematian,Jumat, 08/01/2010 09:02 WIB].
Hasan al-Basri menasihati anak-anak dan murid-muridnya, “Kematian mengeruhkan kehidupan dunia, sehingga tidak menyisakan secuilpun kegembiraan pada mereka yang punya hati”, cetusnya.“Para pembesuk datang menjenguk orang yang sakit, tetapi mati itu dialami oleh orang yang membesuk dan yang dibesuk”, tambahnya.
Kisah riwayat hidup Ar-Rabi’ bin Khaitsam, ahli zuhud dan ahli ibadah, dikisahkan bahwa suatu kali ia jatuh sakit, lalu orang-orang bertanya, “Tidakkah perlu kami panggil dokter?”, tanyanya. Khaitsam menjawab, “Awalnya saya sudah berpikir untuk memanggil seorang dokter, tetapi dokter dan pasiennya sama-sama akan mati”, ucapnya.
Dari Abu Bakar Ash-Siddiq ra, yang shahih dituturkan bahwa ketika ia sedang sekarat, orang-orang berkumpul di dekatnya. “Wahai Khalifah Rasulullah, tidakkah perlu kami penggilkan seroan tabib?”, tanya mereka. “Sudah.Sudah ada tabib yang datang melihat kondisiku”, jawabnya. “Lalu apa katanya”, tanya mereka. Katanya, “Aku berbuat sekehendak-Ku”, jawab Khalifah.
Kemudian,di dalam kitab Washaayal-Ulama Indal-Maut (Wasiat Para Ulama Menjelang Kematian), disebutkan sebuah riwayat dari Abu Darda’ra, saat ia berjuang menghadapi sakaratul maut, “Adakah orang yang beramal untuk persiapan menghadapi kematian yang amat berat ini? Adakah oran gyang beramal untuk persiapan menghadapi sakitnya kematian? Adakah orang yang beramal untuk persiapan di kala ia terbaring tidak berdaya di atas pembaringan seperti ini?”
“Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah.Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan)”.(QS : Al-Baqarah : 281)
Sungguh kebanyakan, manusia terlena dan mabuk, mereka tidak menyadari tentang akan datangnya kematian, yang pasti menghampiri mereka. Di mana mereka tidak dapat lagi dari kematian yang akan merenggut nyawanya. Tidak ada satupun manusia yang dapat lari dari kematian yang akan tiba itu.
Fiman-Nya :
“Dan Dialah penguasa mutlak atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga kematian datang kepada salah seorang diantara kamu, melaikat-malaikat Kami mencabaut nyawanya, dan mereka tidak melalaikan tugasnya.Kemudian mereka (hamba-hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, penguasa mereka yang sebenarnya.Ketahuilah bahwa segala hukum (pada hari itu) ada pada-Nya.Dan Dialah pembuat perhitungan yang paling tepat”. (QS : Al-An’am : 61-62)
Pemusnah kenikmatan ad alah mati, yang memisahkan kumpulan, merenggut anak-anak.Kematian datang dengan bencana dan petaka, lalu meninggalkan mereka tergeletak dalam kegelapan.Begitulah kematian.Manusia banyak yang melalaikannya. Mereka seakan tak pernah akan menghadapi kematian. Mereka berpesta dengan kehidupannya.saat menjemut maut/al-qalam.[Eramuslim, Aidh Al-Qarni,Menghadapi Detik-Detik Terakhir Kehidupan,Senin, 18/10/2010 13:12 WIB]
Semua yang kita miliki di dunia ini, ketika itu
tidak dapat membantu dan kita akan datang sendiri-sendiri, lihatlah kejadian
ketika kematian datang, orang yang mengatakan mencintai kita, dikala kematian
dating walaupun dengan isak tangis dan kesedihan tapi mereka yang lebih keras
injakan kakinya saat tanah kuburan menutup sang jenazah, harta yang kita simpan
selama ini, fasilitas yang tersedia akan jadi rebutan orang yang tinggal,
keramaian kerabat, teman yang banyak, dukungan publik yang tidak sedikit akan
meninggalkan kita, yakinlah kita akan dating sendiri-sendiri.
Tak ada yang akan dapat menolong kita kelak. Siapapun.Semuanya sibuk dengan
urusan sendiri-sendiri. Mereka sudah tidak ada lagi kesempatan memikirkan orang
lain. Seorang ayah tidak lagi dapat menolong anaknya, isterinya, saudaranya,
dan sebaliknya.Semuanya harus sendiri-sendiri.Ketika menghadap Rabbul
Alamin.Inilah kehidupan di akhirat, kelak.Orang-orang yang terbiasa dengan pertolongan orang lain, ketika masih di dunia, pasti akan kecewa di akhirat. Tidak mungkin lagi dapat mengharapkan bantuan dari orang lain, yang selama di dunia sering menolongnya. Tidak ada tempat bergantung.Semuanya manusia yang menjadi tempat gantungannya putus.Semuanya tak berarti apa-apa.Di akhirat nanti manusia hanya dapat bergantung dengan amalannya selama di dunia.Itulah satu-satu tempat bergantung.
Manusia akan mengeluh, bersedih, dan menderita, yang sifatnya kekal. Mereka akan menerima musibah, bencana, dan hukuman, semuanya bagian dari kehidupannya di dunia. Seperti digambarkan dalam surah al-Waqi’ah, bagi golongan ‘kiri’ (ashabul syimal), yang akan menerima ‘raport’ (cataran) kehidupannya selama di dunia dengan wajah yang sangat masam, sedih.
Gambaran bagi orang-orang yang menolak agama Allah, mendustakan, dan berbuat durhaka.Di dunia tak merasakannya.Mereka hidup dengan gantungan orang-orang yang dianggap kuat, memberikan perlindungan, kebahagiaan, dan serba lengkap dan melengkapi kebutuhan dan keinginan hidupnya, sampai tidak lagi mempercayai Rabbul Alamin.
Tidak guna lagi menangis.Bersedih.Meratap dengan nada yang pilu. Akibat dari apa yang sudah diperbuatnya selama hidup di dunia. Mereka sangat asyik dengan kehidupan dunia.Penuh dengan tawa.Lalai kewajibannya. Lalai akan nikmatnya. Lalai akan pemberian yang diberikan Rabbul Alamin. Merasa segala yang didapatkan adalah hasil pribadinya.Karena itu tak pernah merasa besyukur.Naluri hidupnya hanyalah mengikuti hawa nafsunya. Tiba-tiba mereka harus mempertanggungjawabkan segala apa yang sudah diperbuat selama di dunia. Sendiri-sendiri.
Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bersabda :
“Kamu menangis atau tidak sama saja.Demi Allah yang menggenggam jiwaku, hai Jabir, para malaikat terus menaungi ayahmu dengan sayap mereka mengangkatnya.Demi Allah yang menggenggam jiwaku, hai Jabir sungguh Allah berbicara dengan ayahmu tanpa perantara. Dia berfirman : “Berharaplah!” Dia berkata : “Saya berharap Engkau mengembalikan saya ke dunia agar terbunuh lagi di jalan-Mu”. Allah berfirman ; “Tapi Aku telah menetapkan bahwa yang mati tidak dapat kembali ke dunia lagi. Berharaplah (yang lain)!” Dia berkata : “ Saya berharap Engkau ridho kepadaku sebab saya telah ridha kepada-Mu. Allah berfirman : “Aku telah memberi keridhaan-Ku kepadamu. Aku tidak akan murka kepadamu selamanya”.
Di akhirat nanti hanyalah orang-orang yang mendapatkan ridha-Nya yang akan mendpatkan kebahagiaan. Bukan manusia-manusia yang selama hidupnya mencari ridha manusia.Menjadikan manusia sebagai sesembahan.Menjadikan manusia tempat bergantung dan meminta pertolongan. Manusia yang telah menempatka manusia lainnya, sebagai sesembahan dan tempat bergantung hidupnya, dia tidak akan pernah mendpatkan ridha dari Allah Rabbul Alamin, di akhirat kelak.[Eramuslim, Mashadi,Yakinilah Engkau Akan Datang Sendiri-Sendiri,Kamis, 18/11/2010 15:41 WIB]
Karena
kematian itu pasti kita lalui, walaupun
melaluinya sendiri-sendiri sejak sakarat menyerang hingga memasuki alam kubur
apalagi ketika akherat terjadi, tak
satupun orang yang dapat membantu dan menemani kita, maka sejak di dunia kita
tanamkan iman yang tauhid dan amal shaleh yang banyak agar tumbuh keberanian
untuk menghadapinya, wallahu a’lam [Cheras Kuala Lumpur Malaysia, 03 Rajab 1432.H/ 05
Juni 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar