Batas waktu yang kita terima untuk hidup
di dunia ini, sejak dari kelahiran hingga wafat sangat terbatas sekali,
semuanya sudah ditentukan Allah menurut jatah masing-masing, ada yang berumur
hanya tiga atau empat hari bahkan ada yang meninggal masih dalam kandungan, ada
yang berumur panjang sampai seratus tahun bahkan lebih, ada juga yang rata-rata
pada usia 50 sampai 60 tahun. Itulah usia yang diberikan Allah kepada kita
untuk mengisi dan mengelolanya dengan baik.
Ustadz Aidh Abdullah al-Qarni
menyampaikan pesannya agar kita mengisi usia dengan banyak berbuat baik agar
hidup itu bermakna;
Tiap-tiap sesuatu dapat dicari penggantinya,kecuali usia.
Dan, tiap-tiap sesuatu bila telah lenyap, adakalanya dapat dikembalikan melalui
suatu jalan atau lainnya, kecuali usia. Karena apa yang telah berlalu dari usia
tidak dapat dikembalikan dan ia pergi untuk selamanya.Apa yang sudah berlalu
dari usia, berarti lenyap yang diharapkan masih belum pasti, dan bagimu
hanyalah saat sekarang yang sedang dijalani.
Allah Ta'alaberfirman :"Dan apakah Kami tidak
memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau
berpikir dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?"
(QS. Fathir [35] : 37)
Huruf ma disebutkan dalam penggunaannyadakalanya sebagai
huruf maushul yang berarti: "Dalam yang cukup untuk berpikir" atau
sebagai huruf mashdar yang berarti: "Untuk berpikir bagi orang yang mau
berpikir" dalam kehidupan ini.
Allah Ta'alaberfirman :"Allah bertanya:
'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggi di bumi?' Mereka menjawab: 'Kami tinggal
di (dibumi) sehari atau setengah hari'." (QS. Al-Mu'muninun [23] :
112-113)
Allah Ta'alaberfirman :"Kamu tidak tinggal
(di bumi), melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui. Maka
apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main
(saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Mahatinggi
Allah, Raja yang sebenarnya, tidak ada tuhan(yang berhak disembah) selain Dia,
Tuhan (yang mempunyai) Arsy yang mulia." (QS. Al-Mu'muninun [23] :
114-116)
Ibnu Abbas ra telah menceritakan bahwa Rasulullah shallahu
alaihi was sallam pernah bersabda: "Ada dua nikmat yang keduanya
memperdaya kebanyakan manusia,yaitu sehat dan waktu luang." (HR.
Muslim)
Hal yang paling menyia-nyiakan usia adalah melakukan
kedurhakan. Ulama salaf yang shalih sangat antusias dalam memelihara usia dan
menggunakan sebaik-baiknya. Apabila menggunakan usianya untuk maksiat, berarti
lenyaplah dunia dan akhiratnya.Semoga Allah melindungi kita dari kedurhakaan.
Sesungguhnya ulama salaf dahulu menjauhi banyak hal yang
diperbolehkan karna kawatir terjerumus ke dalam hal yang dimakruhkan.Berbeda
dengan kita sekarang, sesungguhnyakit tidak ragu lagi mengerjakan kedurhakaan,
bukan lagi sekadar hal-hal yang diperbolehkan.Semoga Allah mengampuni kita
semua.
Pernah dikatakan kepada Kanzun Ibnu Wabrah, salah seorang
ahli ibadah: "Duduklah bersama kami", maka ia menjawab:
"Tahanlah matahari!" Yakni agar tidak datang dan pergi menggerogoti
usia.[Jangan Sia-Siakan Usiamu,
Eramuslim.com.Minggu, 05/06/2011 15:09 WIB].
Sepanjang usia yang diberikan Allah untuk kita hidup
menapaki dunia ini maka sepanjang itu pula pengalaman yang dirasakan,
sebagaimana pepatah mengatakan, lama berjalan banyak yang dilihat, lama hidup
banyak yang dirasai. Diantara senang dan susah, bahagia dan bencana, gagal dan berhasil mengandung hikmah yang
besar sekali bagi kehidupan ini.
Setiap manusia
pasti pernah merasakan kegagalan, tapi bukan berati kegagalan menjadi sebuah
nilai yang tak berarti bagi sebuah kesuksesan. Untuk merubah sebuah kegagalan
mejadi sebuah keberhasilan, maka dibutuhkan proses, waktu, usaha dan
kesungguhan. Seperti yang kita ketahui bahwa waktu memiliki tiga bagian: Masa
lulu, Masa sekarang dan Masa yang akan datang.
Pertama: masa lalu.
Dari masa lalu ini lah kita bisa mengambil hikmahnya dan menjadikan sebuah
pelajaran agar nantinya tidak jatuh kembali ke lubang yang sama.
Kedua, masa
sekarang. Masa sekarang adalah hal yang paling penting dan merupakan sebuah
proses dan proses ini pula yang akan menentukan sukses dan gagalnya seseorang
dimasa yang akan datang, karena masa depan dimulai dari sekaarang.
Ketiga, masa
yang akan datang, masa yang dinanti-nanti oleh setiap manusia, masa ini yang
akan menetukan, siapa yang akan menjadi juara, serta mampu meraih mimpi dan
cita-cita.
Maka ada sebuah
pepatah mengatakan, "Kita hanya memiliki dua pilihan, kita yang akan
melewati waktu ataukah waktu yang akan melewati kita?"Jika waktu dilihat
dari segi grametikal kebahasaan, waktu memiliki beberapa istilah tersendiri.
Dari sekian banyaknya bahasa yang di
gunakan di setiap negara, pada sejatinya waktu hanyalah satu.Begitupun dengan
jumlah bilangannya. Waktu sehari semalam di Indonesia adalah 24 jam, demikin
pula di inggris, Australia, eropa dan di nagara-negar lalainya. Semuanya
mendapatkan porsi yang sama yaitu 24 jam.
Waktu yang begitu berharganya, sampai
setiap orang memiliki persepsi masing-masing terhadap waktu:
* Bagi orang barat waktu adalah uang.
*
Bagi seorang pelukis waktu adalah karya
* Bagi seorang pelajar waktu adalah ilmu
*
Bagi seorang pekerja kuli bangunan waktu adalah upah dan
* Bagi seorang pejabat nakal waktu adalah
kesempatan.
Waktu pula bagaikan sebuah pedang, jika
kita tidak bisa mengunakanya, maka ia akan menebas leher kita. Waktu pun
bagaikan sebuah kendaraan, jika kita tidak bisa mengunakanya, maka kita akan
terlindas olehnya.
Dari semua istilah dan persepsi yang
digunakan, pada hakekatnya waktu akan kembali pada satu kepastian dan satu
kenyataan. Atau mungkin waktu hanya sebuah angin lalu yang memindahkan
seseorang dari masa lalu ke masa yang akan datang, tidak ada hasil, tidak ada
karya, waktu tercecer begitu saja di berbagai tempat, di warung, di terminal,
di jalan ataupun di tempat-tempat lainnya.[Didi Suardi,Hikmah
Pagi: Waktu, Kesempatan, dan Satu Kepastian, Republika.co.id.Senin, 03
Januari 2011, 07:05 WIB].
Alangkah sia-sianya bila usia kita habis
dengan berserakan begitu saja tanpa ada karya yang dapat dibanggakan di dunia
ini, apalagi karya yang akan dipersembahkan untuk akherat padahal setiap usia
yang kita miliki terancam akan berakhir dengan kematian, bijak menggunakan usia
adalah hidayah dari Allah.
Suatu hari, anak laki-laki Umar bin
Khattab pulang sambil menangis. Sebabnya, anak sang khalifah itu selalu diejek
teman-temannya karena bajunya jelek dan robek. Umar lalu menghiburnya. Berganti
hari, ejekan teman-temannya itu terjadi lagi, dan sang anak pun pulang dengan
menangis.
Setelah terjadi beberapa kali, rasa
ibanya sebagai ayah mulai tumbuh.Tak cukup nasihat, anak itu meminta dibelikan
baju baru.Tapi, dari mana uangnya?Umar bingung, gajinya sebagai khalifah tidak
cukup untuk membeli baju baru. Setelah berpikir, ia pun punya ide. Umar
menyurati baitul mal (bendahara negara).
Isi surat itu, (kira-kira bunyinya
begini): "Kepada Kepala Baitul Mal, dari Khalifah Umar. Aku bermaksud
meminjam uang untuk membeli baju buat anakku yang sudah robek.Untuk
pembayarannya, potong saja gajiku sebagai khalifah setiap bulan.Semoga Allah
merahmati kita semua."
Mendapati surat dari sang Khalifah Umar,
kepala baitul mal pun memberikan surat balasan. Bunyinya, kurang lebih begini:
"Wahai Amirul Mukminin, surat Anda sudah kami terima, dan kami maklum
dengan isinya. Engkau mengajukan pinjaman, dan pembayarannya agar dipotong dari
gaji engkau sebagai khalifah setiap bulan.Tetapi, sebelum pengajuan itu kami
penuhi, tolong jawab dulu pertanyaan ini, dari mana engkau yakin bahwa besok
engkau masih hidup?"
Membaca balasan surat itu, bergetarlah
hati Umar. Tubuhnya seakan lemas tak bertulang. Umar tidak bisa membuktikan
bahwa esok hari ia masih hidup. Ia sadar telah berbuat salah. Ia bersujud
sambil beristigfar memohon ampun kepada Allah.
Setelah memohon ampun, ia pun memanggil
anaknya. "Wahai anakku, maafkan ayahmu.Aku tak sanggup membelikan baju
baru untukmu.Ketahuilah, kemuliaan seseorang bukan diukur dari bajunya,
melainkan dari kemuliaan akhlaknya.Sekarang, pergilah engkau ke sekolah, dan
katakan saja kepada teman-temanmu bahwa ayahmu tak punya uang untuk membeli
baju baru."
Alangkah luar biasanya perhatian dan
kewaspadaan seorang pemimpin dan bawahan.Mereka saling memberikan nasihat dan
peringatan. Kisah ini menohok kesadaran kita tentang perilaku para pemimpin
sekarang di negeri ini.[Moeflich Hasbullah, Umar dengan Umur, Republika.co.id.Senin,
30 Mei 2011 08:02 WIB].
Dan akhiR hidup seseORang ditentukan
Oleh baik-dan buRuknya akhiR peRjalanan hidupnya, yang telah Allah Subhanahu
wata’ala tentukan dalam taqdiRnya. Dalam Riwayat Ahmad dengan sanad yang shahih
daRi 'Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah beRsabda,
“Sesungguhnya seseORang benaR-benaR
melakukan peRbuatan penghuni suRga, sedangkan dia dicatat sebagai penghuni
neRaka. Maka sebelum kematian menjemput, ia beRubah dan mengeRjakan peRbuatan
penghuni neRaka, kemudian ia mati, maka masuklah ia ke dalam neRaka. Dan
sesungguhnya seseORang benaR-benaR melakukan peRbuatan penghuni neRaka
sedangkan dia dicatat sebagai penghuni suRga. Maka sebelum kematian menjemput,
ia beRubah dan melakukan peRbuatan penghuni suRga, kemudian ia mati, maka
masuklah ia ke dalam suRga.”.
Dalam Riwayat lain yang beRsumbeR daRi Ali bin Abi
Thalib, diceRitakan ada seORang laki-laki beRtanya kepadanya:
“SeseORang
lelaki beRtanya, Wahai Rasulullah!, apakah kita tidak pasRah teRhadap taqdiR
(ketentuan)Allah Ta'ala teRhadap kita dan meninggalkan amalan? Lalu Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “BeRamalah kalian! Maka setiap ORang
akan dimudahkan sebagaimana apa yang ditakdiRkan baginya.” Adapun ORang yang
ditakdiRkan bahagia, maka ia akan dimudahkan untuk melakukan peRbuatan gOlOngan
ORang-ORang yang bahagia. Sedangkan ORang yang ditakdiRkan sengsaRa, maka ia
pun akan dimudahkan untuk melakukan peRbuatan gOlOngan ORang-ORang yang
sengsaRa. Kemudian beliau membaca ayat, “Adapun ORang yang membeRikan (haRtanya
di jalan Allah) dan beRtaqwa, (QS. al-Lail : 5)
Dalam hadits-hadits di atas telah
menunjukkan bahwa kebahagiaan dan kesengsaRaan di akhiR hayat telah Allah
Ta'ala tentukan di dalam kitabNya (taqdiRnya). Dan yang demikian beRdasaRkan
amalnya yang meRupakan sebab keduanya. Maka akhiR hidup yang baik atau
sebaliknya ditentukan dengan keadaan akhiR amalannya. sebagaimana Rasulullah
Shallallaahu 'alaihi wasallam beRsabda dalam Riwayat yang lain daRi Sahl bin
Said:“Sesungguhnya segala amal itu
teRgantung dengan akhiRnya.”
Maka baRangsiapa yang yang telah
mengikuti tuntunan Allah Ta'ala dan NabiNya, maka akhiR hayatnya adalah
meRupakan akhiR hayat yang baik, sebaliknya baRangsiapa dalam hidupnya
senantiasa mengikuti hawa nafsu dan syaithan, maka niscaya dia akan mendapatkan
akhiR hidup yang tidak baik, kaRena dOsa-dOsa yang dia lakukan selama hidupnya,
sebagaimana peRnah dikisahkan Oleh Abdul Aziz bin Rawad yang dinukil Oleh Ibnu
Rajab dalam kitabnya, suatu haRi dia menjumpai seORang yang akan meninggal
dunia, kemudian ditalqinkan untuk mengucapkan kalimat Tauhid, namun teRnyata
dia tidak bisa mengucapkan, dan dia beRkata pada akhiR peRkataannya: Dia telah
mengkufuRi kalimat teRsebut. Dan meninggal dalam kekufuRan. Kemudian Abdul Azis
menanyakan tentang dia, maka dikatakan dia adalah seORang peminum khamR.
Kemudian Abdul Aziz mengatakan “BeRhati-hatilah
kalian teRhadap segala (bentuk) dOsa dan maksiat, kaRena dOsa-dOsa itulah yang
menyebabkannya.” [Khusnul Yaqin ARba’in, Khutbah
Jum’at; AkhiR Hidup yang Baik,Compiled by oRiDo™].
Jangankan usia kita yang relative singkat, sedangkan saat
terjadinya kiamat saja dikatakan sangat dekat waktunya, hanya tinggal beberapa
saat saja lagi. Untuk itulah kita dituntut untuk mempersiapkan bekal untuk menghadapi akhir kehidupan ini dengan
amal shaleh.
Hari Kiamat disebut dengan 'hari esok' karena begitu dekat
saat kedatangannya.Berdasarkan penjelasan Imam Ali
ash-Shabuni ini, jelas bahwa terjadinya Hari Kiamat sangatlah cepat. Hal ini
bisa dipahami karena usia kehidupan manusia di dunia ini sesungguhnya amatlah
singkat dibandingkan kehidupannya nanti di akhirat yang abadi. Usia manusia di
dunia saat ini rata-rata berkisar 60-70 tahun. Bahkan Rasulullah SAW dan
generasi para Sahabat yang hidup lima belas abad yang lalu pun usianya berkisar
di angka tersebut. Betapa singkatnya. Bayangkan, mereka yang telah wafat lima
belas abad yang lalu itu, rata-rata hidup di dunia ini tidak lebih dari 70
tahun. Artinya, jika dihitung sampai hari ini, masa hidupnya di dunia yang
rata-rata 70 tahun itu jauh lebih singkat dibandingkan dengan masa penantiannya
yang 'panjang' di alam kuburnya.
Bandingkan pula rata-rata umur manusia di dunia ini dengan
umur benda-benda langit yang konon menurut para ahli diciptakan oleh Allah SWT
milyaran tahun yang lalu.Para astronom memperkirakan bahwa di alam raya ini
terdapat milyaran galaksi dengan sekitar 1.000 trilyun planet dan bintang.Di
antara bintang-bintang itu ada yang berukuran ribuan kali besar matahari, yang
jaraknya dari bumi adalah jutaan tahun cahaya. Satu tahun cahaya kira-kira
9.416 milyar km atau sekitar 10.000 tahun! Mustahil jarak tersebut bisa
dilampaui manusia yang usianya super pendek itu.
Lalu bagimana jika usia manusia di dunia yang super singkat
itu dibandingkan dengan keabadian kehidupannya di akhirat nanti? Tentu tak ada
apa-apanya.Namun demikian, justru kehidupan yang sangat singkat di dunia inilah
yang menentukan apakah manusia bahagia (masuk surga) atau sengsara (masuk
neraka) di kehidupan akhirat nanti.Akhirat itulah yang Allah SWT sebut dengan
'hari esok'.Sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk menyongsong 'hari esok'
yang amat dekat waktunya itu?![Menyiapkan Bekal Untuk 'Hari Esok',media
ummat.com.Saturday, 02 April 2011 15:53].
Menyia-nyiakan usia
untuk hidup di dunia ini dengan sibuk urusan dunia, atau sibuk tidak menentu,
menghabiskan waktu dan tanpa berbuat yang bermanfaat untuk dirinya, untuk
keluarga, masyarakat dan bangsa, tidak meraup pahala yang terdapat pada sekian
ibadah yang dituangkan Allah, usianya habis dan hilang tanpa kesan, hidupnya
melenyapkan segalanya, maka alangkah meruginya orang yang demikian, diberi usia
tapi diabaikan, pasti kelak akan sangat
menyesal bila akherat sudah dihadapinya, tapi penyesalan itu tidak akan
mengembalikan lagi ke dunia ini, wallahu a’lam
[Cubadak Solok, 4 Agustus 2011.M/ 4 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar