Senin, 25 Januari 2016

129. Usia



Batas waktu yang kita terima untuk hidup di dunia ini, sejak dari kelahiran hingga wafat sangat terbatas sekali, semuanya sudah ditentukan Allah menurut jatah masing-masing, ada yang berumur hanya tiga atau empat hari bahkan ada yang meninggal masih dalam kandungan, ada yang berumur panjang sampai seratus tahun bahkan lebih, ada juga yang rata-rata pada usia 50 sampai 60 tahun. Itulah usia yang diberikan Allah kepada kita untuk mengisi dan mengelolanya dengan baik.

Ustadz Aidh Abdullah al-Qarni menyampaikan pesannya agar kita mengisi usia dengan banyak berbuat baik agar hidup itu bermakna;
Tiap-tiap sesuatu dapat dicari penggantinya,kecuali usia. Dan, tiap-tiap sesuatu bila telah lenyap, adakalanya dapat dikembalikan melalui suatu jalan atau lainnya, kecuali usia. Karena apa yang telah berlalu dari usia tidak dapat dikembalikan dan ia pergi untuk selamanya.Apa yang sudah berlalu dari usia, berarti lenyap yang diharapkan masih belum pasti, dan bagimu hanyalah saat sekarang yang sedang dijalani.
Allah Ta'alaberfirman :"Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?" (QS. Fathir [35] : 37)

Huruf ma disebutkan dalam penggunaannyadakalanya sebagai huruf maushul yang berarti: "Dalam yang cukup untuk berpikir" atau sebagai huruf mashdar yang berarti: "Untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir" dalam kehidupan ini.
Allah Ta'alaberfirman :"Allah bertanya: 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggi di bumi?' Mereka menjawab: 'Kami tinggal di (dibumi) sehari atau setengah hari'." (QS. Al-Mu'muninun [23] : 112-113)
Allah Ta'alaberfirman :"Kamu tidak tinggal (di bumi), melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui. Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya, tidak ada tuhan(yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) Arsy yang mulia." (QS. Al-Mu'muninun [23] : 114-116)

Ibnu Abbas ra telah menceritakan bahwa Rasulullah shallahu alaihi was sallam pernah bersabda: "Ada dua nikmat yang keduanya memperdaya kebanyakan manusia,yaitu sehat dan waktu luang." (HR. Muslim)
Hal yang paling menyia-nyiakan usia adalah melakukan kedurhakan. Ulama salaf yang shalih sangat antusias dalam memelihara usia dan menggunakan sebaik-baiknya. Apabila menggunakan usianya untuk maksiat, berarti lenyaplah dunia dan akhiratnya.Semoga Allah melindungi kita dari kedurhakaan.

Sesungguhnya ulama salaf dahulu menjauhi banyak hal yang diperbolehkan karna kawatir terjerumus ke dalam hal yang dimakruhkan.Berbeda dengan kita sekarang, sesungguhnyakit tidak ragu lagi mengerjakan kedurhakaan, bukan lagi sekadar hal-hal yang diperbolehkan.Semoga Allah mengampuni kita semua.

Pernah dikatakan kepada Kanzun Ibnu Wabrah, salah seorang ahli ibadah: "Duduklah bersama kami", maka ia menjawab: "Tahanlah matahari!" Yakni agar tidak datang dan pergi menggerogoti usia.[Jangan Sia-Siakan Usiamu, Eramuslim.com.Minggu, 05/06/2011 15:09 WIB].

Sepanjang usia yang diberikan Allah untuk kita hidup menapaki dunia ini maka sepanjang itu pula pengalaman yang dirasakan, sebagaimana pepatah mengatakan, lama berjalan banyak yang dilihat, lama hidup banyak yang dirasai. Diantara senang dan susah, bahagia dan bencana,  gagal dan berhasil mengandung hikmah yang besar sekali bagi kehidupan ini.

Setiap manusia pasti pernah merasakan kegagalan, tapi bukan berati kegagalan menjadi sebuah nilai yang tak berarti bagi sebuah kesuksesan. Untuk merubah sebuah kegagalan mejadi sebuah keberhasilan, maka dibutuhkan proses, waktu, usaha dan kesungguhan. Seperti yang kita ketahui bahwa waktu memiliki tiga bagian: Masa lulu, Masa sekarang dan Masa yang akan datang.

Pertama: masa lalu. Dari masa lalu ini lah kita bisa mengambil hikmahnya dan menjadikan sebuah pelajaran agar nantinya tidak jatuh kembali ke lubang yang sama.

Kedua, masa sekarang. Masa sekarang adalah hal yang paling penting dan merupakan sebuah proses dan proses ini pula yang akan menentukan sukses dan gagalnya seseorang dimasa yang akan datang, karena masa depan dimulai dari sekaarang.

Ketiga, masa yang akan datang, masa yang dinanti-nanti oleh setiap manusia, masa ini yang akan menetukan, siapa yang akan menjadi juara, serta mampu meraih mimpi dan cita-cita.

Maka ada sebuah pepatah mengatakan, "Kita hanya memiliki dua pilihan, kita yang akan melewati waktu ataukah waktu yang akan melewati kita?"Jika waktu dilihat dari segi grametikal kebahasaan, waktu memiliki beberapa istilah tersendiri.

  Dari sekian banyaknya bahasa yang di gunakan di setiap negara, pada sejatinya waktu hanyalah satu.Begitupun dengan jumlah bilangannya. Waktu sehari semalam di Indonesia adalah 24 jam, demikin pula di inggris, Australia, eropa dan di nagara-negar lalainya. Semuanya mendapatkan porsi yang sama yaitu 24 jam.
Waktu yang begitu berharganya, sampai setiap orang memiliki persepsi masing-masing terhadap waktu:

    * Bagi orang barat waktu adalah uang.
* Bagi seorang pelukis waktu adalah karya
 * Bagi seorang pelajar waktu adalah ilmu
* Bagi seorang pekerja kuli bangunan waktu adalah upah dan
 * Bagi seorang pejabat nakal waktu adalah kesempatan.

Waktu pula bagaikan sebuah pedang, jika kita tidak bisa mengunakanya, maka ia akan menebas leher kita. Waktu pun bagaikan sebuah kendaraan, jika kita tidak bisa mengunakanya, maka kita akan terlindas olehnya.
Dari semua istilah dan persepsi yang digunakan, pada hakekatnya waktu akan kembali pada satu kepastian dan satu kenyataan. Atau mungkin waktu hanya sebuah angin lalu yang memindahkan seseorang dari masa lalu ke masa yang akan datang, tidak ada hasil, tidak ada karya, waktu tercecer begitu saja di berbagai tempat, di warung, di terminal, di jalan ataupun di tempat-tempat lainnya.[Didi Suardi,Hikmah Pagi: Waktu, Kesempatan, dan Satu Kepastian, Republika.co.id.Senin, 03 Januari 2011, 07:05 WIB].

Alangkah sia-sianya bila usia kita habis dengan berserakan begitu saja tanpa ada karya yang dapat dibanggakan di dunia ini, apalagi karya yang akan dipersembahkan untuk akherat padahal setiap usia yang kita miliki terancam akan berakhir dengan kematian, bijak menggunakan usia adalah hidayah dari Allah.

Suatu hari, anak laki-laki Umar bin Khattab pulang sambil menangis. Sebabnya, anak sang khalifah itu selalu diejek teman-temannya karena bajunya jelek dan robek. Umar lalu menghiburnya. Berganti hari, ejekan teman-temannya itu terjadi lagi, dan sang anak pun pulang dengan menangis.

Setelah terjadi beberapa kali, rasa ibanya sebagai ayah mulai tumbuh.Tak cukup nasihat, anak itu meminta dibelikan baju baru.Tapi, dari mana uangnya?Umar bingung, gajinya sebagai khalifah tidak cukup untuk membeli baju baru. Setelah berpikir, ia pun punya ide. Umar menyurati baitul mal (bendahara negara).

Isi surat itu, (kira-kira bunyinya begini): "Kepada Kepala Baitul Mal, dari Khalifah Umar. Aku bermaksud meminjam uang untuk membeli baju buat anakku yang sudah robek.Untuk pembayarannya, potong saja gajiku sebagai khalifah setiap bulan.Semoga Allah merahmati kita semua."

Mendapati surat dari sang Khalifah Umar, kepala baitul mal pun memberikan surat balasan. Bunyinya, kurang lebih begini: "Wahai Amirul Mukminin, surat Anda sudah kami terima, dan kami maklum dengan isinya. Engkau mengajukan pinjaman, dan pembayarannya agar dipotong dari gaji engkau sebagai khalifah setiap bulan.Tetapi, sebelum pengajuan itu kami penuhi, tolong jawab dulu pertanyaan ini, dari mana engkau yakin bahwa besok engkau masih hidup?"

Membaca balasan surat itu, bergetarlah hati Umar. Tubuhnya seakan lemas tak bertulang. Umar tidak bisa membuktikan bahwa esok hari ia masih hidup. Ia sadar telah berbuat salah. Ia bersujud sambil beristigfar memohon ampun kepada Allah.

Setelah memohon ampun, ia pun memanggil anaknya. "Wahai anakku, maafkan ayahmu.Aku tak sanggup membelikan baju baru untukmu.Ketahuilah, kemuliaan seseorang bukan diukur dari bajunya, melainkan dari kemuliaan akhlaknya.Sekarang, pergilah engkau ke sekolah, dan katakan saja kepada teman-temanmu bahwa ayahmu tak punya uang untuk membeli baju baru."

Alangkah luar biasanya perhatian dan kewaspadaan seorang pemimpin dan bawahan.Mereka saling memberikan nasihat dan peringatan. Kisah ini menohok kesadaran kita tentang perilaku para pemimpin sekarang di negeri ini.[Moeflich Hasbullah, Umar dengan Umur, Republika.co.id.Senin, 30 Mei 2011 08:02 WIB].

Dan akhiR hidup seseORang ditentukan Oleh baik-dan buRuknya akhiR peRjalanan hidupnya, yang telah Allah Subhanahu wata’ala tentukan dalam taqdiRnya. Dalam Riwayat Ahmad dengan sanad yang shahih daRi 'Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah beRsabda,
“Sesungguhnya seseORang benaR-benaR melakukan peRbuatan penghuni suRga, sedangkan dia dicatat sebagai penghuni neRaka. Maka sebelum kematian menjemput, ia beRubah dan mengeRjakan peRbuatan penghuni neRaka, kemudian ia mati, maka masuklah ia ke dalam neRaka. Dan sesungguhnya seseORang benaR-benaR melakukan peRbuatan penghuni neRaka sedangkan dia dicatat sebagai penghuni suRga. Maka sebelum kematian menjemput, ia beRubah dan melakukan peRbuatan penghuni suRga, kemudian ia mati, maka masuklah ia ke dalam suRga.”. 

Dalam Riwayat lain yang beRsumbeR daRi Ali bin Abi Thalib, diceRitakan ada seORang laki-laki beRtanya kepadanya:
“SeseORang lelaki beRtanya, Wahai Rasulullah!, apakah kita tidak pasRah teRhadap taqdiR (ketentuan)Allah Ta'ala teRhadap kita dan meninggalkan amalan? Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “BeRamalah kalian! Maka setiap ORang akan dimudahkan sebagaimana apa yang ditakdiRkan baginya.” Adapun ORang yang ditakdiRkan bahagia, maka ia akan dimudahkan untuk melakukan peRbuatan gOlOngan ORang-ORang yang bahagia. Sedangkan ORang yang ditakdiRkan sengsaRa, maka ia pun akan dimudahkan untuk melakukan peRbuatan gOlOngan ORang-ORang yang sengsaRa. Kemudian beliau membaca ayat, “Adapun ORang yang membeRikan (haRtanya di jalan Allah) dan beRtaqwa, (QS. al-Lail : 5) 

Dalam hadits-hadits di atas telah menunjukkan bahwa kebahagiaan dan kesengsaRaan di akhiR hayat telah Allah Ta'ala tentukan di dalam kitabNya (taqdiRnya). Dan yang demikian beRdasaRkan amalnya yang meRupakan sebab keduanya. Maka akhiR hidup yang baik atau sebaliknya ditentukan dengan keadaan akhiR amalannya. sebagaimana Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam beRsabda dalam Riwayat yang lain daRi Sahl bin Said:“Sesungguhnya segala amal itu teRgantung dengan akhiRnya.”

Maka baRangsiapa yang yang telah mengikuti tuntunan Allah Ta'ala dan NabiNya, maka akhiR hayatnya adalah meRupakan akhiR hayat yang baik, sebaliknya baRangsiapa dalam hidupnya senantiasa mengikuti hawa nafsu dan syaithan, maka niscaya dia akan mendapatkan akhiR hidup yang tidak baik, kaRena dOsa-dOsa yang dia lakukan selama hidupnya, sebagaimana peRnah dikisahkan Oleh Abdul Aziz bin Rawad yang dinukil Oleh Ibnu Rajab dalam kitabnya, suatu haRi dia menjumpai seORang yang akan meninggal dunia, kemudian ditalqinkan untuk mengucapkan kalimat Tauhid, namun teRnyata dia tidak bisa mengucapkan, dan dia beRkata pada akhiR peRkataannya: Dia telah mengkufuRi kalimat teRsebut. Dan meninggal dalam kekufuRan. Kemudian Abdul Azis menanyakan tentang dia, maka dikatakan dia adalah seORang peminum khamR. Kemudian Abdul Aziz mengatakan “BeRhati-hatilah kalian teRhadap segala (bentuk) dOsa dan maksiat, kaRena dOsa-dOsa itulah yang menyebabkannya.” [Khusnul Yaqin ARba’in, Khutbah Jum’at; AkhiR Hidup yang Baik,Compiled by oRiDo™].

Jangankan usia kita yang relative singkat, sedangkan saat terjadinya kiamat saja dikatakan sangat dekat waktunya, hanya tinggal beberapa saat saja lagi. Untuk itulah kita dituntut untuk mempersiapkan bekal  untuk menghadapi akhir kehidupan ini dengan amal shaleh.

Hari Kiamat disebut dengan 'hari esok' karena begitu dekat saat kedatangannya.Berdasarkan penjelasan Imam Ali ash-Shabuni ini, jelas bahwa terjadinya Hari Kiamat sangatlah cepat. Hal ini bisa dipahami karena usia kehidupan manusia di dunia ini sesungguhnya amatlah singkat dibandingkan kehidupannya nanti di akhirat yang abadi. Usia manusia di dunia saat ini rata-rata berkisar 60-70 tahun. Bahkan Rasulullah SAW dan generasi para Sahabat yang hidup lima belas abad yang lalu pun usianya berkisar di angka tersebut. Betapa singkatnya. Bayangkan, mereka yang telah wafat lima belas abad yang lalu itu, rata-rata hidup di dunia ini tidak lebih dari 70 tahun. Artinya, jika dihitung sampai hari ini, masa hidupnya di dunia yang rata-rata 70 tahun itu jauh lebih singkat dibandingkan dengan masa penantiannya yang 'panjang' di alam kuburnya.

Bandingkan pula rata-rata umur manusia di dunia ini dengan umur benda-benda langit yang konon menurut para ahli diciptakan oleh Allah SWT milyaran tahun yang lalu.Para astronom memperkirakan bahwa di alam raya ini terdapat milyaran galaksi dengan sekitar 1.000 trilyun planet dan bintang.Di antara bintang-bintang itu ada yang berukuran ribuan kali besar matahari, yang jaraknya dari bumi adalah jutaan tahun cahaya. Satu tahun cahaya kira-kira 9.416 milyar km atau sekitar 10.000 tahun! Mustahil jarak tersebut bisa dilampaui manusia yang usianya super pendek itu.

Lalu bagimana jika usia manusia di dunia yang super singkat itu dibandingkan dengan keabadian kehidupannya di akhirat nanti? Tentu tak ada apa-apanya.Namun demikian, justru kehidupan yang sangat singkat di dunia inilah yang menentukan apakah manusia bahagia (masuk surga) atau sengsara (masuk neraka) di kehidupan akhirat nanti.Akhirat itulah yang Allah SWT sebut dengan 'hari esok'.Sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk menyongsong 'hari esok' yang amat dekat waktunya itu?![Menyiapkan Bekal Untuk 'Hari Esok',media ummat.com.Saturday, 02 April 2011 15:53].

Menyia-nyiakan  usia untuk hidup di dunia ini dengan sibuk urusan dunia, atau sibuk tidak menentu, menghabiskan waktu dan tanpa berbuat yang bermanfaat untuk dirinya, untuk keluarga, masyarakat dan bangsa, tidak meraup pahala yang terdapat pada sekian ibadah yang dituangkan Allah, usianya habis dan hilang tanpa kesan, hidupnya melenyapkan segalanya, maka alangkah meruginya orang yang demikian, diberi usia tapi diabaikan, pasti kelak akan sangat  menyesal bila akherat sudah dihadapinya, tapi penyesalan itu tidak akan mengembalikan lagi ke dunia ini,  wallahu a’lam [Cubadak Solok, 4 Agustus 2011.M/ 4 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar