Temperamen
manusia tidaklah sama walaupun lahir dalam keadaan kembar, bahkan waktu juga
mempengaruhi kondisi dan situasi
seseorang. Ada orang yang mempunyai temperamen tenang dan sabar, ada juga yang
punya emosi yang sulit untuk dikendalikan. Orang yang bertemperamen emosi mudah
sekali marah dan sulit untuk bisa diajak bicara secara baik dan benar, emosinya
akan naik, apalagi menyinggung harga dirinya. Terus terang, orang yang emosi
yang kemudian memperturutkan sifat ini akan jadi orang yang emosional, sulit dapat teman yang baik apalagi sahabat, banyak
orang yang menjauhinya sekalipun ada urusan yang penting, lebih baik tidak ada
urusan dengan orang yang mudah emosi.
Orang
yang mudah emosi diekspresikan melalui kemarahan, marahnya nampak pada mata
yang melotot, hidung berdengus, tangan mengepal, kaki menendang dan mulut yang
selalu mengoceh, mengata-ngatai semua orang.Itu dilakukan memang diluar
keinginannya tapi temperamen emosionalnya dipelihara dengan kemarahan yang
selalu dinampakkan.
Suatu
waktu Ibnu Umar radhiya Allahu 'anhu bertanya kepada Rasulullah SAW, ''Apa yang
bisa menjauhkan aku dari murka Allah 'Azza wa Jalla?'' Rasul langsung menjawab,
''Jangan marah!'' Dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang yang menahan marah
padahal dia sanggup melampiaskannya, akan dipanggil Allah di hadapan semua
makhluk dan disuruh memilih bidadari yang mana saja dia suka.
Lain
waktu, Rasulullah SAW sampai mengulang tiga kali sabdanya, ketika salah seorang
sahabat meminta nasihat kepada beliau.''Jangan marah!''Bahkan, beliau
menyampaikan kabar gembira bagi orang yang mampu menahan marah.''Dan bagimu
adalah surga!''Subhanallah, karena kita bisa menahan marah ternyata surga
dengan semua kenikmatan di dalamnya adalah balasan kita.
Marah
adalah nyala api dari neraka. Seseorang pada saat marah, mempunyai kaitan erat
dengan penghuni mutlak kehidupan neraka, yaitu setan saat ia mengatakan, ''Saya
lebih baik darinya (Adam--Red); Engkau ciptakan saya dari api sedangkan dia
Engkau ciptakan dari tanah.'' (QS Al-A'raf: 12). Tabiat tanah adalah diam dan
tenang, sementara tabiat api adalah bergejolak, menyala, bergerak, dan
berguncang.
Marah
berarti mendidih dan bergolaknya darah hati yang terlampiaskan. Oleh sebab itu,
bila sedang marah, api amarah menyala dan mendidihkan darah hatinya lalu
menyebar ke seluruh tubuh. Bahkan, hingga naik ke bagian atas seperti naiknya
air yang mendidih di dalam bejana.Karena itulah, wajah, mata, dan kulit yang
sedang marah tampak memerah.Semua itu menunjukkan warna sesuatu yang ada di
baliknya seperti gelas yang menunjukkan warna sesuatu yang ada di dalamnya.
Jika
seseorang marah, tapi tidak bisa dilampiaskan, karena tidak ada kemampuan,
misalnya, kepada atasan atau pimpinan, maka darah justru akan menarik diri dari
bagian luar kulit ke dalam rongga hati. Sehingga, ia berubah menjadi kesedihan.
Karenanya, biasanya warnanya pun menguning dan muka pun berubah murung.
Manusia
bila ditilik dari sifat marah ada empat kelompok.Pertama , cepat marah, cepat
sadar (ini merupakan sesuatu yang buruk). Kedua , lambat marah, lambat
sadar (ini kurang terpuji). Ketiga , cepat marah, lambat sadar (adalah
sifat yang terburuk). Dan terakhir, lambat marah, cepat sadar (inilah yang
baik).
Orang
yang lambat marah tapi segera sadar adalah sosok Mukmin yang terpuji. Karena ia
berusaha mencerna dan mengelolanya dengan baik, sehingga di akhir kemarahannya
yang singkat itu ada proses mengingatkan dan pelajaran.[Republika Online, Ustaz
Muhammad Arifin Ilham, Rahasia di Balik Amarah, Jumat, 07 Mei 2010,
10:29 WIB].
Ibnu Hajar dalam Fathul
Bani menjelaskan makna hadis itu: "AlKhath thabi berkata, "Arti
perkataan Rasu lullah SAW 'jangan marah' adalah menjauhi sebab-sebab marah dan
hendaknya menjauhi sesuatu yang meng arah kepadanya." Menurut
'Al-Khaththabi, marah itu tidaklah terlarang, karena itu adalah tabiat yang tak
akan hilang dalam diri manusia.
Nah, apa yang harus
dilakukan seorang Muslim ketika marah? Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid
Nada dalam kitab Mausuu'atul Aadaab alIslamiyah, mengungkapkan hendak nya
seorang Muslim memperhatikan adab-abad yang berkaitan dengan marah. Berikut
adab-adab yang perlu diperhatikan terkait marah.
Pertama, jangan marah,
kecuali karena Allah SWT. Menurut Syekh Sayyid Nada, marah karena Allah
merupakan sesuatu yang disukai dan mendapatkan amal. Misalnya, marah ketika
menyaksikan perbuatan haram merajalela.Seorang Muslim yang marah karena hukum
Allah diabaikan merupakan contoh marah karena Allah."Seorang Muslim hendaknya menjauhi kemarahan karena urusan dunia
yang tak mendatangkan pahala," tutur Syekh Sayyid Nada. Rasulullah
SAW, kata dia, tak pernah marah karena dirinya, tapi marah karena Allah SWT.
Nabi SAW pun tak pernah dendam, kecuali karena Allah SWT.
Kedua, berlemah lembut
dan tak marah karena urusan dunia.Syekh Sayyid Nada mengungkapkan, sesungguhnya
semua kemarahan itu buruk, kecuali karena Allah SWT.Ia mengingatkan, kemarahan
kerap berujung dengan pertikaian dan perselisihan yang dapat menjerumuskan
manusia ke dalam dosa besar dan bisa pula memutuskan silaturahim.
Ketiga, mengingat
keagungan dan kekuasaan Allah SWT."Ingatlah kekuasaan, perlindungan, keagungan,
dan keperkasaan Sang Khalik ketika sedang marah," ungkap Syekh Sayyid
Nada. Menurut dia, ketika mengingat kebesaran Allah SWT, maka kemarahan akan
bisa diredam. Bahkan, mungkin tak jadi marah sama sekali. Sesungguhnya, papar
Syekh Sayyid Nada, itulah adab paling bermanfaat yang dapat menolong seseorang
untuk berlaku santun (sabar).
Keempat, menahan dan
meredam amarah jika telah muncul.Syekh Sayyid Nada mengungkapkan, Allah SWT
menyukai seseorang yang dapat menahan dan meredam amarahnya yang telah muncul.Allah
SWT berfirman, " … dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memberi maaf
orang lain, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS
Ali Imran:134).
Menurut Ibnu Hajar
dalam Fathul Bahri, ketika kemarahan tengah me muncak, hendaknya segera menahan
dan meredamnya untuk tindakan keji.Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa
yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan
memanggilnya di hadapan segenap mahluk.Setelah itu, Allah menyuruhnya memilih bidadari
surga dan menikahkannya dengan siapa yang ia kehendaki." (HR Ahmad).
Kelima, berlindung
kepada Allah ketika marah.Nabi SAW bersabda, "Jika seseorang yang marah
mengucapkan; 'A'uudzu billah (aku berlindung kepada Allah SWT, niscaya akan
reda kemarahannya." (HR Ibu 'Adi dalam al-Kaamil.)
Keenam, diam.
Rasulullah SAW bersabda, "Ajarilah, permudahlah, dan jangan
menyusahkan.Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam."
(HR Ahmad). Terkadang orang yang sedang marah mengatakan sesuatu yang dapat merusak
agamanya, menyalakan api perselisihan dan menambah kedengkian.
Ketujuh, mengubah
posisi ketika marah.Mengubah posisi ketika marah merupakan petunjuk dan
perintah Nabi SAW.Nabi SAW bersabda, "Jika salah seorang di antara kalian
marah ketika berdiri, maka hendaklah ia duduk.Apabila marahnya tidak hilang
juga, maka hendaklah ia berbaring." (HR Ahmad).
Kedelapan, berwudhu
atau mandi. Menurut Syekh Sayyid Nada, marah adalah api setan yang dapat
mengakibatkan mendidihnya darah dan terbakarnya urat syaraf. "Maka dari
itu, wudhu, mandi atau semisalnya, apalagi mengunakan air dingin dapat
menghilangkan amarah serta gejolak darah," tuturnya, Kesembilan, memeberi
maaf dan bersabar.Orang yang marah sudah selayaknya memberikan ampunan kepada
orang yang membuatnya marah.Allah SWT memuji para hamba-Nya "... dan jika
mereka marah mereka memberi maaf." (QS Asy-Syuura:37)
Sesungguhnya Nabi SAW
adalah orang yang paling lembut, santun, dan pemaaf kepada orang yang bersalah.
"... dan ia tak membalas kejahatan dengan kejahatan, namun ia memaafkan
dan memberikan ampunan... " begitu sifat Rasulullah SAW yang tertuang
dalam Taurat, kitab yang diturunkan Allah kepada Nabi Musa AS. Republika Online, Amin Madani,Adab Mengendalikan Amarah Menurut Islam, Ahad, 08 Agustus 2010, 07:54 WIB].
Emosi
yang menimbulkan marah atau menampakkan gejolak jiwa negative dengan
sikap-sikap yang merugikan pribadi tidaklah baik bagi seorang muslim karena
mereka diajarkan untuk dapat tenang dan sabar,
mengendalikan marah dan menata emosi, mempergunakan gejolak emosi dan
marah pada tempat-tempat yang sewajarnya.
Dalam
sebuah peperangan, suatu ketika Khalifah Ali ra berhasil membuat salah satu
musuh terjengkang.Saat itu beliau sudah siap menghunus pedangnya untuk
memenggal musuhnya. Namun, tiba-tiba sang musuh meludahi wajah Ali ra. Tanpa
disangka, beliau tidak jadi membunuh musuh itu, dan pergi begitu saja.Sang
musuh menjadi heran dan bertanya-tanya, "Wahai Ali, mengapa engkau tidak
membunuhku?"Ali kemudian menjawab, "Aku takut membunuhmu bukan karena
Allah, melainkan karena ludahmu yang membuatku marah."
Subhanallah,
dengan segala kuasa-Nya, Ali ra memutuskan mengelola emosi negatif dengan
berpikir jernih mengenai sebab dan akibat timbulnya rasa marah yang membara.
Menurut penulis buku Psychology of Adjustment, Eastwood Atwater, mengartikan emosi sebagai suatu kondisi kesadaran yang kompleks, mencakup sensasi di dalam diri dan ekspresi ke luar yang memiliki kekuatan memotivasi untuk bertindak. Emosi terdiri atas emosi positif dan emosi negatif.Gembira, heran, dan takjub adalah bagian dari emosi negatif.Sedangkan marah, benci, ngeri, sedih adalah bagian dari emosi negatif.
Menurut penulis buku Psychology of Adjustment, Eastwood Atwater, mengartikan emosi sebagai suatu kondisi kesadaran yang kompleks, mencakup sensasi di dalam diri dan ekspresi ke luar yang memiliki kekuatan memotivasi untuk bertindak. Emosi terdiri atas emosi positif dan emosi negatif.Gembira, heran, dan takjub adalah bagian dari emosi negatif.Sedangkan marah, benci, ngeri, sedih adalah bagian dari emosi negatif.
Emosi
negatif kadang kala menyergap di saat amarah tak tertahan meliputi dengan
ganas.Bila hawa amarah telanjur menguasai, maka bersiaplah menghadapi
kehancuran diri.Nafsu amarah yang tak terkendali dapat membutakan segala
perilaku menjadi di luar ambang batas kenormalan. Sehingga, yang tampak adalah
sisi lain kepribadian yang bisa saja menjatuhkan kredibilitas dan martabat
seseorang.
Tidak
sedikit para petinggi negara jatuh seketika akibat kelalaiannya dalam menata
emosi.Bahkan, banyak pula para tokoh budiman yang awalnya disegani menjadi
dibenci karena sering lupa menata emosi.Setelah terpuruk, baru menyesal atas
segala peristiwa yang telah terjadi.
Padahal,
Allah SWT memberikan jaminan yang baik di surga bagi orang yang dapat
mengendalikan amarah. Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga hal yang jika
seseorang melakukannya, Allah akan menempatkannya di dalam naungan-Nya,
mencurahkan rahmat-Nya, dan memasukkannya ke dalam surga-Nya, yaitu jika diberi
rezeki ia bersyukur, jika mampu membalas, ia bisa memberi maaf dan jika marah
ia bisa menahannya.” “Tidaklah seorang hamba menahan kemarahan karena Allah
SWT
kecuali akan memenuhi baginya keamanan dan keimanan.”(HR Abu Dawud dengan sanad
Hasan).
Amarah
adalah salah satu emosi negatif yang perlu diwaspadai, maka dibutuhkan
pengendalian diri agar emosi dapat dikelola dengan baik sehingga amarah tidak
menjalar merasuki.[Republika Online, Amalia Larasati Oetomo, Menata EmosiKamis, 14 April 2011 07:49
WIB].
Emosi
yang tertata dengan baik akan menimbulkan sifat mulia pada manusia seperti tenang dan sabar, tenang menghadapi
segala kejadian apapun sambil mencari jalan keluar dari kejadian itu, dia akan
menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah, begitu juga sabar menghadapi
segala keadaan, untuk sabar dalam musibah memang sudah biasa tapi akan luar
biasa kejadiannya bila mampu bersabar ketika mendapat kesenangan dan nikmat.
Sikap
penyabar, lembut, kalem, dan tenang tak hanya dimiliki dan diserukan oleh
Rasulullah, tapi juga dianjurkan oleh nabi-nabi yang lain. Mengapa begitu,
karena kesabaran seorang penyabar-kata Ahmad ar-Rasyid dalam bukunya
al-'Awa'iq-adalah benteng yang akan melindunginya dari fitnah, sifat pemarah,
dan egois, sehingga ia mampu berlaku adil dalam berbagai keputusannya.
Sedangkan sifat "tidak ceroboh" akan memberikan kesempatan untuk
menganalisis dan menimbang-nimbang, sehingga tidak ada lagi keraguan.
Sementara
itu, sifat ceroboh dan tergesa-gesa menjadikan seseorang tidak cermat dalam
menyelesaikan persoalannya, karena ada nafsu yang ikut bermain di
dalamnya.Orang yang tergopoh-gopoh sering bertindak keliru dalam hidupnya yang
akhirnya membuahkan penyesalan.Kecerobohan juga sering menjadi penyebab dari
hilangnya keteguhan dan komitmen seseorang. Orang yang tergesa-gesa akan mudah
patah semangat manakala dibenturkan oleh perkara yang sepele sekalipun.
Sebaliknya,
orang yang lembut, kalem, dan tenang mempunyai konsentrasi yang tinggi untuk
menata dirinya agar lebih baik.Ia kelihatannya berada dalam kebisuan, tapi
pikirannya bergerak dinamis. Ia bertindak bukan dengan nafsu dan amarahnya,
tapi bergerak dengan pikirannya.
Nabi
meraih simpati yang besar dari umat manusia, karena Allah SWT telah melembutkan
hatinya sebagaimana firman-Nya: "Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu
berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi
berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu .…" (Ali
Imran [3] : 159).
Kalau
teori manajemen modern merekomendasikan bahwa sebuah manajemen yang baik harus
mengandung unsur POAC (planning, organizing, actuating, dan controlling), maka
seorang yang kalem, lembut, dan tidak tergopoh-gopoh akan memiliki kesempatan
yang full untuk melakukan controlling. Hal ini senapas dengan sabda Nabi:
"Perlahan-lahan dari Allah dan tergesa-gesa dari setan." (HR
Baihaqi).
Sifat
kalem, tenang, dan perlahan-lahan tentu tidak identik dengan kelambanan
sehingga melewati deadline, namun ia bergerak secara tertata. Demikian pula
sifat tergesa-gesa; ia harus dibedakan dengan sikap positif dan penuh percaya
diri, yang kadang ditampilkan dan dikesankan dengan bertindak tergesa-gesa dan
terburu-buru. Seorang Mukmin yang sejati, yang mempunyai tsiqah (kepercayaan)
yang tinggi pada Allah juga kerap kali bertindak dinamis. Tentu saja naif untuk
menyebut mereka bertindak ceroboh.[Republika Online, Makmun Nawawi, Hikmah: Bersikap Tenang,Wednesday, 23
March 2011 07:52 WIB].
Islam
ditegakkan kembali oleh Rasulullah kurang lebih 23 tahun lamanya.Sepanjang itu
Rasulullah bersabar.Baik ditindas, diusir hingga diperangi. Yang memerangi
tidak lain adalah paman-paman beliau. Tatkala penghinaan demi penghinaan yang
diterima sampai-sampai malaikat pun menawarkan bantuan untuk mengazab kaum
kafir Qurays karena kejahatan mereka kepada Nabi Allah itu, Rasulullah tidak
merestui.Padahal, kalau beliau menginginkan, kejahatan kafir Qurays itu bisa
sirna dalam sekejap.Sekali lagi, Rasulullah mengedepankan kesabaran dalam
perjuangannya. Inilah proses untuk meraih keridhoaan Allah.
Jika
menilik dari sirah (sejarah) Rasulullah, kita akan mendapatkan kisah seorang
sahabat yang bernama Quzman, yang disanjung-sanjung dalam arena peperangan oleh
para sahabat yang lain. Namun Rasulullah mengatakan sebaliknya, ia akan
melakukan tindakan tercela di dunia dan di akhirat. Benar, prediksi Rasulullah,
Quzman, membunuh dirinya sendiri dikala ketidaksabaran menghadapi sakitnya
anggota tubuh akibat panah dari musuh yang menghunjam tubuhnya.
Karena tidak ingin berlama-lama
dengan penderitaan itu, ia pun menancapkan pedangnya ke tubuh sendiri. Ia mati
tercela. Bukan syuhada yang didapatinya, melainkan terlaknat dunia akhirat.
Bunuh diri, termasuk dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah swt.
Alasan Quzman bunuh diri yang lain perlu diketahui yakni dia sudah salah niat
di awal keikutsertaannya. Ia lebih memilih dipuja sebagai pejuang
ketimbang mengharapkan ridho Allah.[Korandigital.com,Ahmad Rifa’i,Menggugat Logika Radikalisme].
Dalam
menyikapi hal yang sangat pahit sekalipun kita harus mampu mengendalikan emosi,
menata dengan baik sehingga kepahitan tadi akan berbuah manis, setelah adanya
kesusahan maka akan datang kesenangan, dibalik musibah ada nikmat dan pahala.
Bila semuanya disikap dengan emosi maka rusaklah jiwa kita dan hilanglah kewibawaan
pribadi, sekalipun yang datang itu berupa musibah, fintah atau bencana maka
harus ditata emosi agar menerima semua itu dengan ketegaran dan kekokohan iman.
Disadari
atau tidak, ternyata tidak sedikit orang yang hancur luluh keimanannya hanya
karena ketidakmampuannya menghadapi musibah dalam hidup.Salah satu penyebabnya
karena salah dalam memahami makna musibah dan salah pula dalam
menyikapinya.Kesalahan seseorang dalam memaknai dan menyikapi musibah akibatnya
bisa sangat fatal terhadap keimanannya.
Bagi
seorang mu’min tentu meyakini bahwa, segala sesuatu hanya akan terjadi di dunia
ini karena, “Kun Fayakun” Allah, sehingga segala sesuatu yang terjadi dalam
kehidupan ini terutama yang tidak kita inginkan harusnya menjadi bahan
“muhasabah” (introspeksi) atau “tazkirah” (peringatan) apa yang sebenarnya
sedang Allah rencanakan untuk kita.
Berbicara
masalah musibah, sebenarnya musibah adalah sesuatu yang mutlak akan dialami
oleh manusia dalam menjalani kehidupannya, baik seseorang itu yang kafir maupun
mu'min. Jika musibah menimpa orang yang kafir, pasti itu adalah azab. Allah SWT
berfirman: “Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang
dekat (di dunia), sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan
mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. As Sajdah, 32 : 21).
Namun,
jika menimpa orang yang mu'min, pasti itu adalah bentuk kasih-sayang Allah
SWT.Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw pernah menyatakan, "Jika Allah
sudah mencintai suatu kaum maka Allah SWT akan memberikan bala, ujian atau
cobaan". Ini semakin mempertegas kepada kita bahwa musibah bagi
orang-orang yang mu'min itu sebagai bentuk kasih-sayang.[Republika Online, Taufik Rachman, Menyikapi Musibah,Kamis,
15 Oktober 2009, 12:34 WIB].
Emosi
itu akan merusak kepribadian, muka akan merah padam, mata melotot menakutkan
siapapun yang memandangnya, mulut akan berkumat kamit seperti orang gila, nafas
naik turun membuat sesak tidak menentu, jantung berdegup keras, jiwa tidak
stabil, karena banyaknya kerugian sifat emosi itu maka mulai sekarang
tinggalkanlah, tukar dengan santun, sabar dan tenang, wallahu a’lam [MengkoangPahang Malaysia, 01 Juni 2011M/ 28 Jumadil Akhir 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar