Senin, 25 Januari 2016

124. Emosi



Temperamen manusia tidaklah sama walaupun lahir dalam keadaan kembar, bahkan waktu juga mempengaruhi kondisi  dan situasi seseorang. Ada orang yang mempunyai temperamen tenang dan sabar, ada juga yang punya emosi yang sulit untuk dikendalikan. Orang yang bertemperamen emosi mudah sekali marah dan sulit untuk bisa diajak bicara secara baik dan benar, emosinya akan naik, apalagi menyinggung harga dirinya. Terus terang, orang yang emosi yang kemudian memperturutkan sifat ini akan jadi orang yang  emosional, sulit  dapat teman yang baik apalagi sahabat, banyak orang yang menjauhinya sekalipun ada urusan yang penting, lebih baik tidak ada urusan dengan orang yang mudah emosi.

Orang yang mudah emosi diekspresikan melalui kemarahan, marahnya nampak pada mata yang melotot, hidung berdengus, tangan mengepal, kaki menendang dan mulut yang selalu mengoceh, mengata-ngatai semua orang.Itu dilakukan memang diluar keinginannya tapi temperamen emosionalnya dipelihara dengan kemarahan yang selalu dinampakkan.

Suatu waktu Ibnu Umar radhiya Allahu 'anhu bertanya kepada Rasulullah SAW, ''Apa yang bisa menjauhkan aku dari murka Allah 'Azza wa Jalla?'' Rasul langsung menjawab, ''Jangan marah!'' Dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang yang menahan marah padahal dia sanggup melampiaskannya, akan dipanggil Allah di hadapan semua makhluk dan disuruh memilih bidadari yang mana saja dia suka.

Lain waktu, Rasulullah SAW sampai mengulang tiga kali sabdanya, ketika salah seorang sahabat meminta nasihat kepada beliau.''Jangan marah!''Bahkan, beliau menyampaikan kabar gembira bagi orang yang mampu menahan marah.''Dan bagimu adalah surga!''Subhanallah, karena kita bisa menahan marah ternyata surga dengan semua kenikmatan di dalamnya adalah balasan kita.

Marah adalah nyala api dari neraka. Seseorang pada saat marah, mempunyai kaitan erat dengan penghuni mutlak kehidupan neraka, yaitu setan saat ia mengatakan, ''Saya lebih baik darinya (Adam--Red); Engkau ciptakan saya dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.'' (QS Al-A'raf: 12). Tabiat tanah adalah diam dan tenang, sementara tabiat api adalah bergejolak, menyala, bergerak, dan berguncang.

Marah berarti mendidih dan bergolaknya darah hati yang terlampiaskan. Oleh sebab itu, bila sedang marah, api amarah menyala dan mendidihkan darah hatinya lalu menyebar ke seluruh tubuh. Bahkan, hingga naik ke bagian atas seperti naiknya air yang mendidih di dalam bejana.Karena itulah, wajah, mata, dan kulit yang sedang marah tampak memerah.Semua itu menunjukkan warna sesuatu yang ada di baliknya seperti gelas yang menunjukkan warna sesuatu yang ada di dalamnya.

Jika seseorang marah, tapi tidak bisa dilampiaskan, karena tidak ada kemampuan, misalnya, kepada atasan atau pimpinan, maka darah justru akan menarik diri dari bagian luar kulit ke dalam rongga hati. Sehingga, ia berubah menjadi kesedihan. Karenanya, biasanya warnanya pun menguning dan muka pun berubah murung.

Manusia bila ditilik dari sifat marah ada empat kelompok.Pertama , cepat marah, cepat sadar (ini merupakan sesuatu yang buruk).  Kedua , lambat marah, lambat sadar (ini kurang terpuji).  Ketiga , cepat marah, lambat sadar (adalah sifat yang terburuk). Dan terakhir, lambat marah, cepat sadar (inilah yang baik).

Orang yang lambat marah tapi segera sadar adalah sosok Mukmin yang terpuji. Karena ia berusaha mencerna dan mengelolanya dengan baik, sehingga di akhir kemarahannya yang singkat itu ada proses mengingatkan dan pelajaran.[Republika Online, Ustaz Muhammad Arifin Ilham, Rahasia di Balik Amarah, Jumat, 07 Mei 2010, 10:29 WIB].

Ibnu Hajar dalam Fathul Bani menjelaskan makna hadis itu: "AlKhath thabi berkata, "Arti perkataan Rasu lullah SAW 'jangan marah' adalah menjauhi sebab-sebab marah dan hendaknya menjauhi sesuatu yang meng arah kepadanya." Menurut 'Al-Khaththabi, marah itu tidaklah terlarang, karena itu adalah tabiat yang tak akan hilang dalam diri manusia.

Nah, apa yang harus dilakukan seorang Muslim ketika marah? Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada dalam kitab Mausuu'atul Aadaab alIslamiyah, mengungkapkan hendak nya seorang Muslim memperhatikan adab-abad yang berkaitan dengan marah. Berikut adab-adab yang perlu diperhatikan terkait marah.
Pertama, jangan marah, kecuali karena Allah SWT. Menurut Syekh Sayyid Nada, marah karena Allah merupakan sesuatu yang disukai dan mendapatkan amal. Misalnya, marah ketika menyaksikan perbuatan haram merajalela.Seorang Muslim yang marah karena hukum Allah diabaikan merupakan contoh marah karena Allah."Seorang Muslim hendaknya menjauhi kemarahan karena urusan dunia yang tak mendatangkan pahala," tutur Syekh Sayyid Nada. Rasulullah SAW, kata dia, tak pernah marah karena dirinya, tapi marah karena Allah SWT. Nabi SAW pun tak pernah dendam, kecuali karena Allah SWT.

Kedua, berlemah lembut dan tak marah karena urusan dunia.Syekh Sayyid Nada mengungkapkan, sesungguhnya semua kemarahan itu buruk, kecuali karena Allah SWT.Ia mengingatkan, kemarahan kerap berujung dengan pertikaian dan perselisihan yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar dan bisa pula memutuskan silaturahim.

Ketiga, mengingat keagungan dan kekuasaan Allah SWT."Ingatlah kekuasaan, perlindungan, keagungan, dan keperkasaan Sang Khalik ketika sedang marah," ungkap Syekh Sayyid Nada. Menurut dia, ketika mengingat kebesaran Allah SWT, maka kemarahan akan bisa diredam. Bahkan, mungkin tak jadi marah sama sekali. Sesungguhnya, papar Syekh Sayyid Nada, itulah adab paling bermanfaat yang dapat menolong seseorang untuk berlaku santun (sabar).

Keempat, menahan dan meredam amarah jika telah muncul.Syekh Sayyid Nada mengungkapkan, Allah SWT menyukai seseorang yang dapat menahan dan meredam amarahnya yang telah muncul.Allah SWT berfirman, " … dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memberi maaf orang lain, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS Ali Imran:134).

Menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Bahri, ketika kemarahan tengah me muncak, hendaknya segera menahan dan meredamnya untuk tindakan keji.Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan segenap mahluk.Setelah itu, Allah menyuruhnya memilih bidadari surga dan menikahkannya dengan siapa yang ia kehendaki." (HR Ahmad).

Kelima, berlindung kepada Allah ketika marah.Nabi SAW bersabda, "Jika seseorang yang marah mengucapkan; 'A'uudzu billah (aku berlindung kepada Allah SWT, niscaya akan reda kemarahannya." (HR Ibu 'Adi dalam al-Kaamil.)

Keenam, diam. Rasulullah SAW bersabda, "Ajarilah, permudahlah, dan jangan menyusahkan.Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam." (HR Ahmad). Terkadang orang yang sedang marah mengatakan sesuatu yang dapat merusak agamanya, menyalakan api perselisihan dan menambah kedengkian.

Ketujuh, mengubah posisi ketika marah.Mengubah posisi ketika marah merupakan petunjuk dan perintah Nabi SAW.Nabi SAW bersabda, "Jika salah seorang di antara kalian marah ketika berdiri, maka hendaklah ia duduk.Apabila marahnya tidak hilang juga, maka hendaklah ia berbaring." (HR Ahmad).

Kedelapan, berwudhu atau mandi. Menurut Syekh Sayyid Nada, marah adalah api setan yang dapat mengakibatkan mendidihnya darah dan terbakarnya urat syaraf. "Maka dari itu, wudhu, mandi atau semisalnya, apalagi mengunakan air dingin dapat menghilangkan amarah serta gejolak darah," tuturnya, Kesembilan, memeberi maaf dan bersabar.Orang yang marah sudah selayaknya memberikan ampunan kepada orang yang membuatnya marah.Allah SWT memuji para hamba-Nya "... dan jika mereka marah mereka memberi maaf." (QS Asy-Syuura:37)

Sesungguhnya Nabi SAW adalah orang yang paling lembut, santun, dan pemaaf kepada orang yang bersalah. "... dan ia tak membalas kejahatan dengan kejahatan, namun ia memaafkan dan memberikan ampunan... " begitu sifat Rasulullah SAW yang tertuang dalam Taurat, kitab yang diturunkan Allah kepada Nabi Musa AS. Republika Online, Amin Madani,Adab Mengendalikan Amarah Menurut Islam, Ahad, 08 Agustus 2010, 07:54 WIB].

Emosi yang menimbulkan marah atau menampakkan gejolak jiwa negative dengan sikap-sikap yang merugikan pribadi tidaklah baik bagi seorang muslim karena mereka diajarkan untuk dapat tenang dan sabar,  mengendalikan marah dan menata emosi, mempergunakan gejolak emosi dan marah pada tempat-tempat yang sewajarnya. 

Dalam sebuah peperangan, suatu ketika Khalifah Ali ra berhasil membuat salah satu musuh terjengkang.Saat itu beliau sudah siap menghunus pedangnya untuk memenggal musuhnya. Namun, tiba-tiba sang musuh meludahi wajah Ali ra. Tanpa disangka, beliau tidak jadi membunuh musuh itu, dan pergi begitu saja.Sang musuh menjadi heran dan bertanya-tanya, "Wahai Ali, mengapa engkau tidak membunuhku?"Ali kemudian menjawab, "Aku takut membunuhmu bukan karena Allah, melainkan karena ludahmu yang membuatku marah."

Subhanallah, dengan segala kuasa-Nya, Ali ra memutuskan mengelola emosi negatif dengan berpikir jernih mengenai sebab dan akibat timbulnya rasa marah yang membara.

Menurut penulis buku Psychology of Adjustment, Eastwood Atwater, mengartikan emosi sebagai suatu kondisi kesadaran yang kompleks, mencakup sensasi di dalam diri dan ekspresi ke luar yang memiliki kekuatan memotivasi untuk bertindak.  Emosi terdiri atas emosi positif dan emosi negatif.Gembira, heran, dan takjub adalah bagian dari emosi negatif.Sedangkan marah, benci, ngeri, sedih adalah bagian dari emosi negatif.
Emosi negatif kadang kala menyergap di saat amarah tak tertahan meliputi dengan ganas.Bila hawa amarah telanjur menguasai, maka bersiaplah menghadapi kehancuran diri.Nafsu amarah yang tak terkendali dapat membutakan segala perilaku menjadi di luar ambang batas kenormalan. Sehingga, yang tampak adalah sisi lain kepribadian yang bisa saja menjatuhkan kredibilitas dan martabat seseorang.

Tidak sedikit para petinggi negara jatuh seketika akibat kelalaiannya dalam menata emosi.Bahkan, banyak pula para tokoh budiman yang awalnya disegani menjadi dibenci karena sering lupa menata emosi.Setelah terpuruk, baru menyesal atas segala peristiwa yang telah terjadi.

Padahal, Allah SWT memberikan jaminan yang baik di surga bagi orang yang dapat mengendalikan amarah. Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga hal yang jika seseorang melakukannya, Allah akan menempatkannya di dalam naungan-Nya, mencurahkan rahmat-Nya, dan memasukkannya ke dalam surga-Nya, yaitu jika diberi rezeki ia bersyukur, jika mampu membalas, ia bisa memberi maaf dan jika marah ia bisa menahannya.” “Tidaklah seorang hamba menahan kemarahan karena Allah 
SWT kecuali akan memenuhi baginya keamanan dan keimanan.”(HR Abu Dawud dengan sanad Hasan).
Amarah adalah salah satu emosi negatif yang perlu diwaspadai, maka dibutuhkan pengendalian diri agar emosi dapat dikelola dengan baik sehingga amarah tidak menjalar merasuki.[Republika Online, Amalia Larasati Oetomo, Menata EmosiKamis, 14 April 2011 07:49 WIB].

Emosi yang tertata dengan baik akan menimbulkan sifat mulia pada manusia  seperti tenang dan sabar, tenang menghadapi segala kejadian apapun sambil mencari jalan keluar dari kejadian itu, dia akan menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah, begitu juga sabar menghadapi segala keadaan, untuk sabar dalam musibah memang sudah biasa tapi akan luar biasa kejadiannya bila mampu bersabar ketika mendapat kesenangan dan nikmat.

Sikap penyabar, lembut, kalem, dan tenang tak hanya dimiliki dan diserukan oleh Rasulullah, tapi juga dianjurkan oleh nabi-nabi yang lain. Mengapa begitu, karena kesabaran seorang penyabar-kata Ahmad ar-Rasyid dalam bukunya al-'Awa'iq-adalah benteng yang akan melindunginya dari fitnah, sifat pemarah, dan egois, sehingga ia mampu berlaku adil dalam berbagai keputusannya. Sedangkan sifat "tidak ceroboh" akan memberikan kesempatan untuk menganalisis dan menimbang-nimbang, sehingga tidak ada lagi keraguan.

Sementara itu, sifat ceroboh dan tergesa-gesa menjadikan seseorang tidak cermat dalam menyelesaikan persoalannya, karena ada nafsu yang ikut bermain di dalamnya.Orang yang tergopoh-gopoh sering bertindak keliru dalam hidupnya yang akhirnya membuahkan penyesalan.Kecerobohan juga sering menjadi penyebab dari hilangnya keteguhan dan komitmen seseorang. Orang yang tergesa-gesa akan mudah patah semangat manakala dibenturkan oleh perkara yang sepele sekalipun.

Sebaliknya, orang yang lembut, kalem, dan tenang mempunyai konsentrasi yang tinggi untuk menata dirinya agar lebih baik.Ia kelihatannya berada dalam kebisuan, tapi pikirannya bergerak dinamis. Ia bertindak bukan dengan nafsu dan amarahnya, tapi bergerak dengan pikirannya.

Nabi meraih simpati yang besar dari umat manusia, karena Allah SWT telah melembutkan hatinya sebagaimana firman-Nya: "Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu .…" (Ali Imran [3] : 159).

Kalau teori manajemen modern merekomendasikan bahwa sebuah manajemen yang baik harus mengandung unsur POAC (planning, organizing, actuating, dan controlling), maka seorang yang kalem, lembut, dan tidak tergopoh-gopoh akan memiliki kesempatan yang full untuk melakukan controlling. Hal ini senapas dengan sabda Nabi: "Perlahan-lahan dari Allah dan tergesa-gesa dari setan." (HR Baihaqi).

Sifat kalem, tenang, dan perlahan-lahan tentu tidak identik dengan kelambanan sehingga melewati deadline, namun ia bergerak secara tertata. Demikian pula sifat tergesa-gesa; ia harus dibedakan dengan sikap positif dan penuh percaya diri, yang kadang ditampilkan dan dikesankan dengan bertindak tergesa-gesa dan terburu-buru. Seorang Mukmin yang sejati, yang mempunyai tsiqah (kepercayaan) yang tinggi pada Allah juga kerap kali bertindak dinamis. Tentu saja naif untuk menyebut mereka bertindak ceroboh.[Republika Online, Makmun Nawawi, Hikmah: Bersikap Tenang,Wednesday, 23 March 2011 07:52 WIB].

Islam ditegakkan kembali oleh Rasulullah kurang lebih 23 tahun lamanya.Sepanjang itu Rasulullah bersabar.Baik ditindas, diusir hingga diperangi. Yang memerangi tidak lain adalah paman-paman beliau. Tatkala penghinaan demi penghinaan yang diterima sampai-sampai malaikat pun menawarkan bantuan untuk mengazab kaum kafir Qurays karena kejahatan mereka kepada Nabi Allah itu, Rasulullah tidak merestui.Padahal, kalau beliau menginginkan, kejahatan kafir Qurays itu bisa sirna dalam sekejap.Sekali lagi, Rasulullah mengedepankan kesabaran dalam perjuangannya. Inilah proses untuk meraih keridhoaan Allah.

Jika menilik dari sirah (sejarah) Rasulullah, kita akan mendapatkan kisah seorang sahabat yang bernama Quzman, yang disanjung-sanjung dalam arena peperangan oleh para sahabat yang lain. Namun Rasulullah mengatakan sebaliknya, ia akan melakukan tindakan tercela di dunia dan di akhirat. Benar, prediksi Rasulullah, Quzman, membunuh dirinya sendiri dikala ketidaksabaran menghadapi sakitnya anggota tubuh akibat  panah dari musuh yang menghunjam tubuhnya.

            Karena tidak ingin berlama-lama dengan penderitaan itu, ia pun menancapkan pedangnya ke tubuh sendiri. Ia mati tercela. Bukan syuhada yang didapatinya, melainkan terlaknat dunia akhirat. Bunuh diri, termasuk dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah swt.  Alasan Quzman bunuh diri yang lain perlu diketahui yakni dia sudah salah niat di awal keikutsertaannya. Ia lebih memilih dipuja sebagai pejuang ketimbang  mengharapkan ridho  Allah.[Korandigital.com,Ahmad Rifa’i,Menggugat Logika Radikalisme].

            Dalam menyikapi hal yang sangat pahit sekalipun kita harus mampu mengendalikan emosi, menata dengan baik sehingga kepahitan tadi akan berbuah manis, setelah adanya kesusahan maka akan datang kesenangan, dibalik musibah ada nikmat dan pahala. Bila semuanya disikap dengan emosi maka rusaklah jiwa kita dan hilanglah kewibawaan pribadi, sekalipun yang datang itu berupa musibah, fintah atau bencana maka harus ditata emosi agar menerima semua itu dengan ketegaran dan kekokohan iman.

Disadari atau tidak, ternyata tidak sedikit orang yang hancur luluh keimanannya hanya karena ketidakmampuannya menghadapi musibah dalam hidup.Salah satu penyebabnya karena salah dalam memahami makna musibah dan salah pula dalam menyikapinya.Kesalahan seseorang dalam memaknai dan menyikapi musibah akibatnya bisa sangat fatal terhadap keimanannya.

Bagi seorang mu’min tentu meyakini bahwa, segala sesuatu hanya akan terjadi di dunia ini karena, “Kun Fayakun” Allah, sehingga segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini terutama yang tidak kita inginkan harusnya menjadi bahan “muhasabah” (introspeksi) atau “tazkirah” (peringatan) apa yang sebenarnya sedang Allah rencanakan untuk kita.

Berbicara masalah musibah, sebenarnya musibah adalah sesuatu yang mutlak akan dialami oleh manusia dalam menjalani kehidupannya, baik seseorang itu yang kafir maupun mu'min. Jika musibah menimpa orang yang kafir, pasti itu adalah azab. Allah SWT berfirman: “Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia), sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. As Sajdah, 32 : 21).

Namun, jika menimpa orang yang mu'min, pasti itu adalah bentuk kasih-sayang Allah SWT.Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw pernah menyatakan, "Jika Allah sudah mencintai suatu kaum maka Allah SWT akan memberikan bala, ujian atau cobaan". Ini semakin mempertegas kepada kita bahwa musibah bagi orang-orang yang mu'min itu sebagai bentuk kasih-sayang.[Republika Online, Taufik Rachman, Menyikapi Musibah,Kamis, 15 Oktober 2009, 12:34 WIB].

Emosi itu akan merusak kepribadian, muka akan merah padam, mata melotot menakutkan siapapun yang memandangnya, mulut akan berkumat kamit seperti orang gila, nafas naik turun membuat sesak tidak menentu, jantung berdegup keras, jiwa tidak stabil, karena banyaknya kerugian sifat emosi itu maka mulai sekarang tinggalkanlah, tukar dengan santun, sabar dan tenang, wallahu a’lam [MengkoangPahang Malaysia, 01 Juni 2011M/ 28 Jumadil Akhir 1432.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar