Tiada
kalimat yang indah didengar, tiada kata yang baik diucapkan, tiada kerja yang
menuntut keikhlasan selain ihsan yaitu kebaikan.Dalam ajaran Islam, ihsan
adalah tingkatan tertinggi di atas Islam dan Iman.Ihsan merupakan esensi utama
dari sebuah keimanan dan puncak tertinggi dalam hal kepatuhan dan kepasrahan
seorang hamba kepada Tuhannya.Dalam ihsan tercakup segala perangai indah dan
amal kebajikan.
Suatu
hari ketika Rasulullah sedang berdialoq dengan para sahabatnya, tiba-tiba
datanglah seorang lelaki dengan pakaian putih-putih dan bertanya;
"Apakah Iman itu?" Rasulullah
menjawab,"Iman ialah engkau percaya dan meyakini Allah, Malaikat-Nya, hari
akherat, para Rasul dan yakin adanya hari berangkit".Selanjutnya orang itu
bertanya lagi"Apakah Islam itu?", Rasulullah menjawab,"Islam
ialah hendaknya kamu menyembah Allah,
jangan menyekutukannya, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat dan puasa
pada bulan Ramadhan". Orang itu bertanya lagi,"Apakah Ihsan",
Rasulullah menjawab,"Hendaklah kamu menyembah Allah, seolah-olah kamu
melihat-Nya, jika kamu tidak melihat-Nya pasti Dia melihatmu".Orang itu
bertanya lagi,"Kapan Kiamat akan terjadi?"Rasul menjawab,"Aku
yang ditanya juga tidak tahu".
Dari
hadits diatas ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik yaitu;
1.Rasul sering
berdiskusi tentang agama dengan sahabat
Rasulullah kerapkali berdialoq,
berdiskusi dan menyampaikan taujih dan tausiyah kepada sahabatnya untuk menanamkan Al Wa’yu artinya kesadaran diri
untuk hidup bersama islam dengan segala suka dan dukanya melalui pengkajian
islam yang intensif, sebenarnya kenapa ummat islam berbuat diluar ketentuan
ajaran agamanya karena sebagian dari mereka tidak sadar tentang perannya dalam
hidup ini, kewajiban dan haknya sebagai muslim masih belum mereka ketahui.
Kesadaran ini perlu kita tumbuhkan karena memang banyak muslim yang tidak sadar
tentang kemuslimannya.
Untuk
melakukan semua itu memang bukan tugas ulama saja tapi tugas semua muslim
melalui da’wah yang intensif dikerjakan dengan rapi dan terprogram yang hanya
bisa dilakukan dengan da’wah fardiyah
[rekrutmen] bukan da’wah yang cendrung seremonial dan formal.
Rasul saja dalam sejarahnya mengajak ummat ini agar
menggencarkan da’wah secara pribadi tapi dalam bingkai jama’i [organisasi].
Allah menyiratkan dalam firman-Nya surat Ali Imran 3;104 ;
”Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada
kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar,
merekalah orang-orang yang beruntung”
2.Siapa yang datang
dengan pakaian putih-putih?
Yang sering datang kepada Rasul
untuk menyampaikan wahyu adalah malaikat Jibril, kerap datang dengan rupa
seorang lelaki dengan pakaian putih, kalau Jibril datang dengan bentuk aslinya
maka Rasulullah tidak mampu melihatnya sebab kakinya saja berada di bumi tapi
kepalanya menjulang ke langit dengan ribuan sayapnya.
Kedatangannya ketika itu lansung menemui Rasulullah
sambil duduk berdekatan sehingga lututnya beradu dengan lutut Rasulullah, dia
datang untuk mengajar sesuatu kepada Rasul dan
para sahabatnya.
3.Kenapa orang itu
bertanya tentang hal yang sudah diketahuinya
Yang datang itu adalah malaikat
Jibril dan dia menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan iman dan islam, ketika
dijawab oleh Rasul dia mengatakan "benar ya Muhammad" artinya dia
sudah tahu jawaban dari apa yang ditanyakan itu, hal ini sebagai pelajaran
bahwa boleh kita bertanya hal-hal yang sudah diketahui agar jawabannya didengar
oleh orang lain yang belum tahu.
4.Apakah Iman itu
Malaikat
bertanya tentang iman, maka dijawab oleh Rasulullah,"Iman ialah engkau
percaya dan meyakini Allah, Malaikat-Nya, hari akherat, para Rasul dan yakin
adanya hari berangkit' hal ini kita kenal dengan rukun iman.
Selain itu
iman itu harus mengikuti jejak risalah Nabi Muhammad, maksudnya adalah
mengikuti karakter Rasulullah dan orang-orang beriman sebagaimana yang tertera
dalam surat Al Fath 48;29
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang
bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih
sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah
dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.
Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam
Injil,”.
5.Apakah Islam itu
Ketika ditanya tentang makna Islam, maka Rasulullah
menjawabnya,"Islam ialah hendaknya kamu menyembah Allah, jangan menyekutukannya, mendirikan shalat,
mengeluarkan zakat dan puasa pada bulan Ramadhan, yang kita kenal
dengan rukun islam.
Keyakinan
seorang muslim terhadap dienul islam adalah bahwa islam merupakan satu-satunya
dien Allah yang otomatis menolak segala bentuk dien yang datang setelah atau
sebelumnya,;
"Sesungguhnya
agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang
yang Telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka,
Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap
ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya".[Ali Imran 3;19]
Berarti semua bentuk isme dan dien lain selain islam
adalah bathil dan sia-sia, alangkah meruginya manusia bila salah memilih agama
apa yang layak untuk dijadikan sebagai pegangan hidup, tapi tidak sedikit pula
manusia yang mengetahui kebenaran islam namun enggan untuk mengakui
kebenarannya karena beberapa faktor.
“Barangsiapa mencari agama
selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama
itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”[Ali Imran
3;85]
6.Apakah Ihsan itu
Ihsan menurut Rasul adalah,"Hendaklah kamu
menyembah Allah, seolah-olah kamu melihat-Nya, jika kamu tidak melihat-Nya
pasti Dia melihatmu". Sehingga pengabdian kepada Allah akan
mantap tanpa diganggu oleh sikap riya', bahkan walaupun tidak dilihat manusia
maka Allah tetap melihatnya;
"Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku
dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam" [Al An'am 6;162].
"Kepunyaan
Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu
melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah
akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu" [Al Baqarah 2;284]
Secara bahasa,
ihsan berasal dari kata Ahsana: memberi kenikmatan atau kebaikan kepada orang
lain. Hal ini seperti yang difirmankan oleh Allah Swt dalam surat an-Nahl ayat
90. “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan
(ihsan), memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji,
kemungkaran dan permusuhan.Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat
mengambil pelajaran.” (an-Nahl [16]: 90).
Menurut Raghib
al-Asfahani ihsan lebih tinggi derajatnya dari sekedar adil.Jika adil adalah
memberi dan mengambil sesuai dengan porsi yang yang dibutuhkan, maka Ihsan
adalah memberi lebih banyak dan mengambil lebih sedikit.Dalam salah satu
hadisnya Rasulullah menjelaskan bahwa “Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah
seakan-akan kami melihat-Nya.Namun apabila kamu tidak merasakan melihat-Nya,
sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim).
Kata ibadah yang
dijelaskan oleh Rasulullah di atas tidak terbatas pada ibadah makhdah. Dalam
Islam ibadah melingkupi segala perbuatan yang diniatkan untuk kepatuhan kepada
Allah Swt. Orang yang shalat dan yang bermain bola sama-sama ibadah, apabila
ditujukan dengan ikhlas sebagai upaya kepatuhan terhadap Allah Swt.. Dengan
pengertian ini maka orang yang telah mencapai tingkatan ihsan akan selalu
merasakan kehadiran Allah dalam setiap tindakannya, baik yang tersembunyi
maupun terang-terangan.
Bukan hanya dalam
hubungan dengan Allah (hablunminallah), dalam tataran interaksi dengan manusia
(hablunminannas) ihsan juga sangat diperlukan.Kebobrokan moral dan meningkatnya
kriminalitas adalah pertanda utama hilangnya ihsan. Bagaimana mungkin seorang
yang merasakan kehadiran Allah dalam setiap tindakannya akan mudah berbohong,
membohongi, hingga korupsi? Dalam beribadah orang yang mencapai tingkatan ihsan
akan merasakan kekhusyuan dan kepasrahan yang penuh kepada Allah Swt. Dalam
berinteraksi dengan orang lain, dia akan selalu mengedepankan etika dan
kemaslahatan. Dalam mengemban amanah dia akan menjalankanya dengan bijaksana.
Bahkan dalam berinteraksi dengan binatang pun dia tidak akan pernah
menyakitinya.
Rasululllah bersabda,
“Sesungguhnya Allah telah menuliskan ihsan dalam segala hal.Maka apabila kalian
berperang, berperanglah dengan ihsan.Apabila kalian menyembelih binatang,
sembelihlah dengan ihsan, yaitu dengan menajamkan mata pisau agar sembelihan
itu tidak tersiksa.” (HR Muslim).
Orang yang telah
mencapai derajat ihsan ini disebut muhsin.
Seorang muhsin memiliki keistimewaan tersendiri di sisi Allah Swt. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang muhsinin.” (an-Nahl [16]: 128).[Republika OnLine,Jauhar Ridloni Marzuq,Hikmah Pagi: Ihsan,Selasa, 04 Januari 2011, 07:12 WIB].
Ustadz Didin Hafiduddin
malah meletakkan ihsan beriringan dengan itqan sehingga menjadi baik dan rapi,
sifat dan sikap ini harus dimiliki oleh siapapun dan apapun level kekuasaan
yang disandangnya.
Ihsan dan itqan adalah
dua istilah yang terdapat dalam Alquran dan sunah yang berkaitan dengan amal
perbuatan seorang Muslim yang harus dilakukannya dalam hidup dan kehidupannya
di dunia ini.Ihsan berarti optimalisasi dalam kebaikan. Artinya, kebaikan apa
pun yang dilakukan seorang Muslim harus selalu optimal dalam persiapan dan
pelaksanaannya, agar hasilnya didapat secara optimal pula.
Allah SWT berfirman dalam QS al-Mulk [67]: 2: "(Dia) Yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya (optimal). Dan, Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun."
Jika seorang Muslim sedang melakukan ibadah maka dipersiapkan dan dilakukan dengan baik, baik ilmu pengetahuan yang berkaitan dengannya maupun teknis pelaksanaannya. Ketika melaksanakan ibadah haji, misalnya, ilmunya dipersiapkan, tata cara pelaksanaannya disempurnakan, juga menjaga kesehatan jasmani rohani, sehingga betul-betul predikat haji mabrur dapat diraih, termasuk menjaga dan mempertahankannya ketika ia sudah kembali ke kampung halamannya.
Seorang Muslim yang sedang mendapatkan amanah jabatan publik di wilayah eksekutif, legislatif, ataupun yudikatif, ia penuhi amanah tersebut dengan semaksimal mungkin agar betul-betul mampu mempersembahkan yang terbaik bagi kepentingan masyarakat dan bangsa di wilayah pekerjaannya tersebut. Amanah dan profesionalitas merupakan ciri utama dari pejabat Muslim tersebut. Karena disadarinya, semuanya akan dipertanggungjawabkan kepada konstituennya di dunia ini dan terutama kepada Allah SWT kelak kemudian hari, dan selalu berusaha menjauhi sifat khianat.
Allah SWT berfirman dalam QS al-Anfal [8]: 27: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui."
Sedangkan, itqan berarti kesungguhan dan kemantapan dalam melaksanakan suatu tugas, sehingga dikerjakannya secara maksimal, tidak asal-asalan, sampai dengan pekerjaan tersebut tuntas dan selesai dengan baik.Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melaksanakan suatu pekerjaan, maka pekerjaaan tersebut dilakukannya dengan itqan." (HR Thabrani).
Karena itu, ihsan dan itqan harus selalu menjadi ruh dan spirit bagi setiap Muslim dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya, baik yang berhubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia, sehingga pekerjaannya itu akan selalu bernilai ibadah dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat.[Republika Online, Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MSc.Ihsan dan Itqan-lah dalam Mengemban Tugas,Jumat, 06 Mei 2011 11:35 WIB].
Allah SWT berfirman dalam QS al-Mulk [67]: 2: "(Dia) Yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya (optimal). Dan, Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun."
Jika seorang Muslim sedang melakukan ibadah maka dipersiapkan dan dilakukan dengan baik, baik ilmu pengetahuan yang berkaitan dengannya maupun teknis pelaksanaannya. Ketika melaksanakan ibadah haji, misalnya, ilmunya dipersiapkan, tata cara pelaksanaannya disempurnakan, juga menjaga kesehatan jasmani rohani, sehingga betul-betul predikat haji mabrur dapat diraih, termasuk menjaga dan mempertahankannya ketika ia sudah kembali ke kampung halamannya.
Seorang Muslim yang sedang mendapatkan amanah jabatan publik di wilayah eksekutif, legislatif, ataupun yudikatif, ia penuhi amanah tersebut dengan semaksimal mungkin agar betul-betul mampu mempersembahkan yang terbaik bagi kepentingan masyarakat dan bangsa di wilayah pekerjaannya tersebut. Amanah dan profesionalitas merupakan ciri utama dari pejabat Muslim tersebut. Karena disadarinya, semuanya akan dipertanggungjawabkan kepada konstituennya di dunia ini dan terutama kepada Allah SWT kelak kemudian hari, dan selalu berusaha menjauhi sifat khianat.
Allah SWT berfirman dalam QS al-Anfal [8]: 27: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui."
Sedangkan, itqan berarti kesungguhan dan kemantapan dalam melaksanakan suatu tugas, sehingga dikerjakannya secara maksimal, tidak asal-asalan, sampai dengan pekerjaan tersebut tuntas dan selesai dengan baik.Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melaksanakan suatu pekerjaan, maka pekerjaaan tersebut dilakukannya dengan itqan." (HR Thabrani).
Karena itu, ihsan dan itqan harus selalu menjadi ruh dan spirit bagi setiap Muslim dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya, baik yang berhubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia, sehingga pekerjaannya itu akan selalu bernilai ibadah dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat.[Republika Online, Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MSc.Ihsan dan Itqan-lah dalam Mengemban Tugas,Jumat, 06 Mei 2011 11:35 WIB].
Untuk dapat banyak menyelesaikan pekerjaan semua orang
mampu melakukannya selama ada waktu dan tenaga tapi untuk bisa menyelesaikan
pekerjaan secara ihsan dan itqan tidaklah semua orang karena membutuhkan
keahlian, ketekunan dan kesabaran, orang yang tekun membutuhkan sikap hati-hati
melaksanakan pekerjaan itu, orang yang sabar membutuhkan keseimbangan mental
menghadapi problem yang dihadapi saat bekerja dan orang yang ahli tidak
sembarangan melakukan pekerjaannya sehingga wajar bila nabi menyarankan untuk menyerahkan
pekerjaan kepada orang yang ahlinya, bila tidak maka tunggu saja kehancurannya,
orang yang tidak ahli mengerjakan pekerjaan itu akan terjadi kerusakan disana
sini karena salah urus dan salah prosedur, wallahu a’lam [Mengkoang Pahang
Malaysia, 02 Juni 2011M/ 29 Jumadil Akhir 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar