Islam adalah agama yang benar, sempurna
dan lengkap, keorisinilannya masih dapat dipertanggungjawabkan sampai kapanpun,
tapi karena perjalanan sejarah yang panjang terdapat orang-orang jahil yang
berupaya untuk merusak islam melalui berbagai cara, diantaranya memunculkan
faham-faham baru yang bertentangan dengan islam. Upaya untuk merusak islam itu
sudah berlansung sejak dahulu dengan munculnya nabi-nabi palsu seperti
Musailamah al Kazzab, diiringi dengan pengkultusan terhadap sahabat Nabi yang mulia seperti Ali bin Abi
Thalib sebagaimana yang dilakukan oleh sebuah aliran bernama Syi’ah.
Dari
sebuah buku yang berjudul Diantara Aqidah Syi’ah, Menguak Kesesatan Aqidah
Syi’ah, buah penaSyaikh
Abdullah bin Muhammad As-Salafi, mengungkapkan awal
munculnya Syi’ah;
Firqah ini
tumbuh tatkala muncul seorang Yahudi mendakwakan dirinya sudah masuk Islam,
namanya Abdullah bin Saba'. Mendakwakan kecintaan terhadap ahli bait, dan
terlalu memuja-muji Ali, dan mendakwakan, bahwa Ali punya wasiat untuk
mendapatkan khalifah, kemudian ia mengangkat Ali sampai ke tingkat Ketuhanan,
hal ini diakui oleh buku-buku syi'ah sendiri.
Al Qummi
berkata dalam bukunya "Al Maqaalaat wal Firaq : “Ia mengakui
keberadaannya, dan menganggapnya orang pertama yang berbicara tentang wajibnya
keimaman Ali, dan raj’iyah Ali, dan menampakkan celaan terhadap Abu
Bakar, Umar dan Utsman serta seluruh sahabat, seperti yang dikatakan oleh An
Nubakhti di bukunya "Firaqus Syi'ah". Sebagaimana Al Kissyi mengatakan demikian juga di
bukunya yang dikenal dengan "Rijaalul Kissyi" Pengakuan adalah
tuan argumen (argumen yang akurat), dan mereka-mereka ini semuanya adalah
syaikh-syaikh besar Rafidhah.”
Al Baghdadi
berkata : “Kelompok Sabaiyah adalah pengikut Abdullah bin Saba' yang telah
berlebih-lebihan (dalam memuji) Ali, dan mendakwakan, bahwasanya Ali adalah
nabi, kemudian bersikap berlebih-lebihan lagi, sehingga ia mendakwakan
bahwasanya Ali adalah Allah.”
Al Baghdadi
berkata juga : “Adalah ia (Abdullah bin Saba') anak orang berkulit hitam, asal
usulnya adalah orang Yahudi dari penduduk Hirah (Yaman), lalu mengumumkan
keislamannya, dan menginginkan agar ia mempunyai kerinduan dan kedudukan di
sisi penduduk negeri Kufah, dan ia juga menyebutkan kepada mereka, bahwasanya
ia membaca di Taurat, bahwa sesungguhnya bagi tiap-tiap nabi punya orang yang
diwasiatkan, dan sesungguhnya Ali adalah orang yang diwasiatkan Muhammad Sholallahu
‘alaihi wassalam.”
Dan As
Syahrastaani menyebutkan dari ibnu Saba', bahwasanya ia adalah orang yang
pertama kali menyebarkan perkataan keimaman Ali secara nas / telah ditetapkan,
dan ia menyebutkan juga dari kelompok Sabaiyah, bahwa kelompok ini adalah
firqah (golongan) yang pertama sekali mengatakan masalah ghaibahdan
akidah raj’iyah, kemudian syiah mewarisinya setelah itu, meskipun mereka
itu berbeda, dan pecahan golongan mereka banyak. Perkataan tentang keimaman dan
kekhilafan Ali merupakan nas dan wasiat, itu merupakan dari kesalahan-kesalahan
Ibnu Saba'. Yang akhirnya syi'ah sendiri berpecah menjadi golongan-golongan dan
perkataan-perkataan yang banyak sampai puluhan golongan dan perkataan.
Begitulah syiah membuat bid'ah dalam
perkataan tentang keyakinan wasiat, raj’iyah, ghaibah, bahkan
perkataan menjadikan imam-imam sebagai tuhan, karena mengikuti Ibnu Saba' orang
yahudi itu.
Penamaan ini
disebutkan oleh syaikh mereka Al Majlisi dalam bukunya "Al Bihaar"
dan ia mencantumkan empat hadits dari hadits-hadits mereka.
Ada yang
mengatakan : mereka dinamakan rafidhah, karena mereka datang ke Zaid bin Ali
bin Husein, lalu mereka berkata : "Berlepas dirilah kamu dari Abu Bakar
dan Umar sehingga kami bisa bersamamu!", lalu beliau menjawab :
"Mereka berdua (Abu Bakar dan Umar) adalah sahabat kakekku, bahkan aku
setia kepada mereka". Mereka berkata : "Kalau begitu, kami menolakmu
(rafadhnaak) maka dinamakanlah mereka Raafidhah (yang menolak),
dan orang yang membai'at dan sepakat dengan Zaid bin Ali bin Husein disebut Zaidiyah
Ada yang
mengatakan : mereka dinamakan dengan Raafidhah, karena mereka menolak
keimaman (kepemimpinan) Abu Bakar dan Umar Dan dikatakan mereka dinamakan
dengan Rafidhah karena mereka menolak agama.[Syaikh Abdullah bin Muhammad As-Salafi, Penerjemah
Muhammad Elvi Syams, Lc.,File CHM
disusun oleh Abu 'Abdirrahman Muhammad Taufiq,].
Demikian ambisiusnya Abdullah bin Saba untuk mengacau fikiran ummat islam
dengan maksud untuk menolak kekhalifahan sahabat nabi selain Ali bin Abi Thalib
bahkan lebih lanjut mereka sebernarnya menolak ajaran Islam yang dibawa oleh
Rasulullah dengan membawa ajaran baru mengatasnamakan Ali dan Ahlul Bait.
Penanaman kesesatan itu nampak pada fikiran yang menjadikan Ali sebagai
penerima risalah yang ma’shum serta mengetahui hal-hal yang ghaib, padahal
semuanya itu diluar konsep islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.
Sebuah buku yang berjudul Virus Syi’ah waspadalah! yang ditulis olehUstadz Abu Abdirrahman
al-Atsary Abdullah Zain mengatakan tentang keyakinan Syi’ah tentang ahlul bait;
Ahlul bait
adalah: keluarga Ali, ‘Aqil, Ja’far dan Abbas. Tidak diragukan lagi (menurut
Ahlus Sunnah) bahwa istri-istri nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk
ahlul bait karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Hai
istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu
bertakwa. Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah
orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan
hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku
seperti orang-orang jahiliah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah
zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak
menghilangkan dosa dari kamu, (hai) ahlul bait dan membersihkan kamu
sebersih-bersihnya.”(QS. Al Ahzab: 32-33)
Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa istri-istri
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk ahlul bait (keluarga) nya.
Ahlusunnah mencintai dan mengasihi ahlul bait, mencintai dan
mengasihi para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Akan tetapi mereka
(Ahlusunnah) juga meyakini bahwa tidak ada yang ma’shum melainkan hanya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara keyakinan mereka juga:
wahyu telah terputus dengan wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak
ada yang mengetahui hal yang gaib kecuali hanya Allah subhanahu wa ta’ala, dan
tidak seorang pun dari para manusia yang telah mati bangkit kembali sebelum
hari kiamat. Jadi, kita Ahlusunnah menjunjung tinggi keutamaan ahlul bait dan
selalu mendoakan mereka agar senantiasa mendapatkan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala,
tidak lupa kita juga berlepas diri dari musuh-musuh mereka.
Di pihak lain, orang-orang Rafidhah (Rafidhah adalah salah
satu julukan kelompok Syi’ah. Julukan ini disebutkan oleh ulama kontemporer
mereka Al Majlisy dalam kitabnya Bihar al-Anwar hal 68, 96 dan 97.Kata-kata
Rafidhah berasal dari fi’il rafadha yang berarti menolak. Adapun asal muasal
mengapa mereka digelari Rafidhah, ada berbagai versi. Antara lain:
1.
Karena mereka menolak kekhilafahan Abu Bakar dan Umar.
2.
Versi lain mengatakan karena mereka menolak agama Islam. (lihat Maqalat
al-Islamiyin, karya Abu al-Hasan al-Asy’ary jilid I, hal 89).
Selain
berlebih-lebihan dalam mengagung-agungkan imam-imam mereka dengan mengatakan
bahwasanya mereka itu ma’shum dan lebih utama dari para nabi dan para rasul,
mereka juga melekatkan sifat-sifat tuhan di dalam diri para imam, hingga
mengeluarkan mereka dari batas-batas kemakhlukan! Tidak diragukan lagi bahwa
ini merupakan sikap ghuluw (berlebih-lebihan) yang paling besar, paling jelek,
paling rusak dan paling kufur.
Di antara sikap
ekstrem mereka, klaim mereka bahwa para imam mengetahui hal-hal yang gaib, dan
mereka mengetahui segala yang ada di langit dan di bumi, tidak terkecuali.
Mereka mengetahui apa-apa yang ada dalam hati, apa-apa yang ada dalam tulang
belakang kaum pria dan apa-apa yang ada dalam rahim kaum wanita. Mereka juga
mengetahui apa yang telah lalu dan yang akan datang hingga hari kiamat.
Husain bin
Abdul Wahab dalam kitabnya ‘Uyun al-Mu’jizat hal 28 bercerita bahwasanya, Ali
pernah berkata kepada sesosok mayat yang tidak diketahui pembunuhnya,
“Berdirilah -dengan izin Allah- wahai Mudrik bin Handzalah bin Ghassan bin
Buhairah bin ‘Amr bin al-Fadhl bin Hubab! Sesungguhnya Allah dengan izin-Nya
telah menghidupkanmu dengan kedua tanganku!” Maka berkatalah Abu Ja’far
Maytsam, Sesosok tubuh itu bangkit dalam keadaan memiliki sifat-sifat yang
lebih sempurna dari matahari dan bulan, sembari berkata, “Aku dengar
panggilanmu wahai yang menghidupkan tulang, wahai hujjah Allah di kalangan umat
manusia, wahai satu-satunya yang memberikan kebaikan dan kenikmatan. Aku dengar
panggilanmu wahai Ali, wahai Yang Maha Mengetahui.” Maka berkatalah
amirul-mu’minin, “Siapakah yang telah membunuhmu?” Lantas orang tersebut
memberitahukan pembunuhnya.
Dengarlah salah
seorang syaikh mereka Baqir al-faly yang mengatakan bahwasanya Nabiyullah Isa
‘alaihis salam mendapatkan kehormatan untuk menjadi budak Ali rodhiallahu
‘anhu, “Wahai para manusia, beberapa hari yang lalu telah dirayakan hari
kelahiran Isa al-Masih, yang telah mendapatkan kehormatan untuk menjadi budak
Ali bin Abi Thalib!”
Berkata Imam
mereka Ayatullah al-Khomeini di dalam kitabnya Al-Hukumah al- Islamiyah hal 52,
“Sesungguhnya para Imam memiliki kedudukan terpuji, derajat yang tinggi dan
kekuasaan terhadap alam semesta, di mana seluruh bagian alam ini tunduk
terhadap kekuasaan dan pengawasan mereka.”
Dengarlah Basim
al-Karbalaiy menghasung dan mendorong orang-orang Rafidhah untuk pergi ke
kuburan Ali radhiallahu ‘anhu dan meminta kesembuhan darinya, berihram dan
thawaf di sekitar kuburannya, “Wahai yang berada di bawah kubah putih di kota
Najaf! Wahai Ali! Barang siapa yang berziarah ke kuburanmu dan meminta
kesembuhan darimu niscaya dia akan sembuh!”
Di dalam kitab
Wasail ad-Darojat karangan ash-Shaffar (hal 84), Abu Abdillah berkata: Konon
Amirul Mu’minin pernah berkata, “Aku adalah ilmu Allah, aku adalah hati Allah
yang sadar, aku adalah mulut Allah yang berbicara, aku adalah mata Allah yang
melihat, aku adalah pinggang Allah, aku adalah tangan Allah.”
Na’uzubillah dari ghuluw ini!
Dengarlah
Muhsin al-Khuwailidy dalam khotbah kufurnya di mana dia melekatkan kepada Ali
sifat-sifat rububiyah Allah, “Dan di antara khutbah-khutbahnya shallallahu
‘alaihi wa sallam: Aku mempunyai semua kunci hal-hal yang gaib, tidak ada yang
mengetahuinya sesudah Rasulullah kecuali aku. Aku-lah penguasa hisab, aku
pemilik sirath dan mauqif, aku pembagi (distributor) surga dan neraka dengan
perintah Robb-ku. Akulah yang menumbuhkan dedaunan dan mematangkan buah-buahan.
Akulah yang memancarkan mata air dan mengalirkan sungai-sungai..........
Lihatlah
wahai para hamba Allah, bagaimana dia mengedepankan ketaatan kepada Ali di atas
ketaatan kepada Allah!!![Virus Syi’ah
waspadalah!Ustadz Abu Abdirrahman
al-Atsary Abdullah Zain, File CHM disusun oleh Abu 'Abdirrahman Muhammad Taufiq].
Alangkah kasihannya kita bila virus syi’ah ini menggerayangi
ummat islam, maka akan terjadi sesat dan menyesatkan padahal Rasulullah tidak
mengajarkan hal demikian dan Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat yang mulia
tidak tahu menahu tentang apa yang mereka dustakan semua ini. Sebagai muslim kita mengakui Allah
hanya sebagai sahabat Nabi, sama dengan Abu Bakar, Umar dan Usman, tapi bagi
mereka Ali punya posisi lain bahkan lebih dari posisi Nabi Muhammad, ini adalah
sesuatu bid’ah yang menyesatkan ummat islam. Perbedaan yang mereka bawa
bukanlah semata-mata masalah furu’ tapi menyangkut usul yaitu aqidah, bila
aqidah sudah salah maka akan bathil semuanya.
Banyak
orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah
Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah
Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab
Safi’i dengan Madzhab Maliki.
Karenanya
dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar
perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka
berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan
pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan
Sunni tidak dilakukan ?.
Oleh
karena itu, disaat Muslimin bangun melawan serangan Syiah, mereka menjadi
penonton dan tidak ikut berkiprah.
Apa
yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan
mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sehingga
apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui.
Semua
itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah
Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum
memahami persoalan yang sebenarnya.
Sedangkan
apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering
berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab
Maliki dengan Madzahab Syafi’i.
Padahal
perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah
Furu’iyah saja.Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah
Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping
dalam Furuu’ juga dalam Ushuul.
Rukun
Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita, rukun Islamnya juga berbeda, begitu
pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar
ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita
(Ahlussunnah).
Apabila
ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur’annya
sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.
Sehingga
tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah
Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri.[Apa perbedaan antara Ahlussunnah dengan Syiah,
nahimunkar.com21 December 2009].
Rupanya banyak fakta unik tentang Syi’ah yang jarang
diketahui umat muslim pada umumnya. Hal ini terungkap saat KH.Kholil Ridwan
yang tampil sebagai Keynote Speaker dalam seminar tentang kesesatan
Syiah, kemarin, Jum’at/10/06/2011, mengeluarkan sebuah cerita yang unik tentang
kehidupan Syiah di Iran.Beliau mengaku mendapatkan kisah ini langsung dari
almarhum KH. Irfan Zidny, mantan pengurus PBNU yang sempat 11 tahun di Irak dan
bergaul dengan orang Syi’i.“Beliau (KH Irfan Zidny, red) cerita banyak yang
lucu-lucu dari Syiah di Iran.Syiah itu tidak ada shalat jumat sebelum
kedatangan Khomeini. Karena Imam ke 12 masih gaib.""Jadi gimana mau
shalat, Imamnya aja masih gaib.jadi gambar-gambar kubah di Iran itu pun bukan
mesjid, tapi kuburan.” cerita KH. Kholil mengagetkan para pengunjung seminar.
Lalu kapankah Iran baru mendirikan Shalat Jum'at secara
bersama-sama?KH. Kholil menyebutkan bahwa shalat jum’at di Iran baru dapat
terlaksana ketika revolusi Iran meletus dan melambungkan nama Imam Khomeini.
“Nah setelah revolusi Iran baru diadakan Shalat Jum’at karena Imamnya sudah
muncul yakni Khomeini yang tampil sebagai pemimpin spiritual Iran."Namun
uniknya, berbeda dengan shalat jum’at yang dilakukan kaum muslim, shalat Jum’at
yang dilaksanakan kaum Syiah hanya didirikan di satu tempat, yakni Teheran.
Semua kaum Syiah pun melaksanakannya berbondong-bondong di satu tempat itu.
“Beda
dengan di kita, Shalat juma’at di Iran waktu itu cuma ada satu, yaitu di
Teheran dan semua warga Iran shalat jum’at disana dan imamnya harus Presiden
Banisadr atas petunjuk Khomeini.Bayangkan segitu banyaknya kaum Syiah di Iran
tempat shalat jum’atnya hanya satu dan imammnya harus Presiden Banisadr.” papar
KH.Kholil Ridwan memancing tawa para jama’ah yang memadati areal Mesjid Al
Furqon DDII.
Menariknya, suatu ketika Shalat Jum’at di Iran terpaksa
diliburkan ketika Kanselir Jerman datang ke Iran bertepatan dengan waktu Shalat
Jum’at.Bannisadr yang memiliki kewajiban sebagai Presiden dan sekaligus Imam
Shalat Jum’at tentu bimbang. Dan dengan terpaksa ia lebih memilih menyambut
Kanselir Jerman tersebut, dan mengontak perwakilan Mesjid.“Shalat Jum’at
dibatalkan dulu, karena Presiden dapat kunjungan tamu negara dari Jerman,”
tambah KH Kholil, lagi disambut tawa riuh dari jama’ah. (pz)[Fakta Unik: Sebelum Turun Imam Khomeini, Di
Iran Belum Wajib Shalat Jum'at, Nahimungkar.com.Sabtu, 11/06/2011 12:07
WIB].
Sulitnya masyarakat mengendus gerakan Syiah karena tertutup
doktrin taqiyyah yang dilakukan Syiah, tidak membuat pusing KH.Idrus
Ramli dari Ponpes Sidogiri Pasuruan. Untuk mengidentifikasi Syi’i atau tidak,
beliau memiliki cara yang cukup unik.“Kalau ditanya Syiah atau Sunni, mereka
tidak mau menjawab dirinya Syiah.Namun untuk mengetahui orang itu Syiah atau
tidak, kita bisa mulai dengan minta tanggapannya tentang Syiah.”Katanya kepada
Eramuslim.com, saat dihubungi lewat telepon, Sabtu lalu, 11/06/2011.
Tokoh yang Jum’at lalu menjadi pembicara saat seminar Ahlussunah
Bersatu Menolak Syiah dan banyak terlibat debat dengan kader-kader Syiah
Jember ini, juga menyarankan untuk mencermati shalawat yang biasa
disenandungkan komunitas Syiah.“Shalawat mereka beda dengan sunni. Kalau
shalawat sunni mengucapkan Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa’alaa aali
Muhammad. Tapi kalau Syiah, hanya Allahumma shalli 'ala Muhammad wa
'aali Muhammad. Jadi langsung ‘aali Muhammad,”
Selain itu, kata pengurus NU Jawa Timur ini, biasanya Syiah
mengklaim bahwa Ali bin Abi Thalib adalah penerus Khalifah setelah Rasulullah
SAW wafat. Pada realitasnya, kebanyakan orang Syiah juga enggan diajak untuk membongkar
kesesatannya dengan dalih ukhuwah. Ini disebabkan kekhawatiran kelompok Syiah
karena ideologinya akan terbongkar.
Walau banyak bercokol di kampus-kampus, namun dalam
pandangan KH. Idrus Ramli, gerakan Syiah masih belum banyak berkembang di
kampus-kampus. Sekalipun demikian, beliau berpesan kepada masyarakat untuk
hati-hati dan tetap waspada mengawasi perkembangan Syiah.“Karena anak-anak
kampus sering dijadikan sasaran.” Ujarnya
Menurut berbagai literatur, taqiyyah adalah doktrin
Syiah dimana mereka boleh berdusta kepada non Syiah untuk menjalankan misinya.
Dengan carataqiyyahini, kaum Syiah mengatakan ajaran mereka sama dengan
sunni, dan banyak kaum sunni yang terjebak.
KH. M. Dawam Anwar pada seminar Syiah tahun 1997 di Mesjid
Istiqlal pernah menyatakan bahwa taqiyyah bagi Syiah setara dengan
sembilan persepuluh agama, wajib dilakukan dan tidak boleh ditinggalkan sampai
Imam Mahdi datang. Taqiyyah tidak hanya dilakukan antar orang Syiah dan
lawannya, tapi juga sesama Syiah sendiri sebagai bahan latihan. (pz)[Inilah Tips Agar Tidak Tertipu Taqiyyah Syiah,
Eramuslim.com.Senin, 13/06/2011 13:39 WIB].
Rasulullah mengingatkan kepada kita agar berhati-hati
terhadap jalan yang menyimpang, pada satu hari beliau membuat garis lurus di
atas tanah sambil bersabda,”Ini adalah jalan yang lurus, kalau kalian
mengikutinya maka kalian akan selamat, hati-hati terhadap jalan persimpangan
jalan yang menyesatkan kalian”, dilain kesempatan beliaupun menyampaikan
sabdanya, “Aku tinggalkan dua pusaka, maka barangsiapa berpegangteguh dengan
dua pusaka itu maka selamatlah dia, tidak akan sesat selama-lamanya, dua pusaka
itu adalah Al Qur’an dan Sunnah”, resep ini sangat mujarab untuk menghindari
penyesatan dari siapapun dan untuk kelompok manapun,wallahu a’lam
[Cubadak Solok, 2 Agustus 2011.M/ 2 Ramadhan 1432.H].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar