Selasa, 26 Januari 2016

134. Syi'ah



Islam adalah agama yang benar, sempurna dan lengkap, keorisinilannya masih dapat dipertanggungjawabkan sampai kapanpun, tapi karena perjalanan sejarah yang panjang terdapat orang-orang jahil yang berupaya untuk merusak islam melalui berbagai cara, diantaranya memunculkan faham-faham baru yang bertentangan dengan islam. Upaya untuk merusak islam itu sudah berlansung sejak dahulu dengan munculnya nabi-nabi palsu seperti Musailamah al Kazzab, diiringi dengan pengkultusan terhadap  sahabat Nabi yang mulia seperti Ali bin Abi Thalib sebagaimana yang dilakukan oleh sebuah aliran bernama Syi’ah.
            Dari sebuah buku yang berjudul Diantara Aqidah Syi’ah, Menguak Kesesatan Aqidah Syi’ah, buah penaSyaikh Abdullah bin Muhammad As-Salafi, mengungkapkan awal munculnya Syi’ah;
Firqah ini tumbuh tatkala muncul seorang Yahudi mendakwakan dirinya sudah masuk Islam, namanya Abdullah bin Saba'. Mendakwakan kecintaan terhadap ahli bait, dan terlalu memuja-muji Ali, dan mendakwakan, bahwa Ali punya wasiat untuk mendapatkan khalifah, kemudian ia mengangkat Ali sampai ke tingkat Ketuhanan, hal ini diakui oleh buku-buku syi'ah sendiri.
Al Qummi berkata dalam bukunya "Al Maqaalaat wal Firaq : “Ia mengakui keberadaannya, dan menganggapnya orang pertama yang berbicara tentang wajibnya keimaman Ali, dan raj’iyah Ali, dan menampakkan celaan terhadap Abu Bakar, Umar dan Utsman serta seluruh sahabat, seperti yang dikatakan oleh An Nubakhti di bukunya "Firaqus Syi'ah". Sebagaimana Al Kissyi mengatakan demikian juga di bukunya yang dikenal dengan "Rijaalul Kissyi" Pengakuan adalah tuan argumen (argumen yang akurat), dan mereka-mereka ini semuanya adalah syaikh-syaikh besar Rafidhah.”
Al Baghdadi berkata : “Kelompok Sabaiyah adalah pengikut Abdullah bin Saba' yang telah berlebih-lebihan (dalam memuji) Ali, dan mendakwakan, bahwasanya Ali adalah nabi, kemudian bersikap berlebih-lebihan lagi, sehingga ia mendakwakan bahwasanya Ali adalah Allah.”
Al Baghdadi berkata juga : “Adalah ia (Abdullah bin Saba') anak orang berkulit hitam, asal usulnya adalah orang Yahudi dari penduduk Hirah (Yaman), lalu mengumumkan keislamannya, dan menginginkan agar ia mempunyai kerinduan dan kedudukan di sisi penduduk negeri Kufah, dan ia juga menyebutkan kepada mereka, bahwasanya ia membaca di Taurat, bahwa sesungguhnya bagi tiap-tiap nabi punya orang yang diwasiatkan, dan sesungguhnya Ali adalah orang yang diwasiatkan Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam.”
Dan As Syahrastaani menyebutkan dari ibnu Saba', bahwasanya ia adalah orang yang pertama kali menyebarkan perkataan keimaman Ali secara nas / telah ditetapkan, dan ia menyebutkan juga dari kelompok Sabaiyah, bahwa kelompok ini adalah firqah (golongan) yang pertama sekali  mengatakan masalah ghaibahdan akidah raj’iyah, kemudian syiah mewarisinya setelah itu, meskipun mereka itu berbeda, dan pecahan golongan mereka banyak. Perkataan tentang keimaman dan kekhilafan Ali merupakan nas dan wasiat, itu merupakan dari kesalahan-kesalahan Ibnu Saba'. Yang akhirnya syi'ah sendiri berpecah menjadi golongan-golongan dan perkataan-perkataan yang banyak sampai puluhan golongan dan perkataan.
Begitulah syiah membuat bid'ah dalam perkataan tentang keyakinan wasiat, raj’iyah, ghaibah, bahkan perkataan menjadikan imam-imam sebagai tuhan, karena mengikuti Ibnu Saba' orang yahudi itu.
Penamaan ini disebutkan oleh syaikh mereka Al Majlisi dalam bukunya "Al Bihaar" dan ia mencantumkan empat hadits dari hadits-hadits mereka.
Ada yang mengatakan : mereka dinamakan rafidhah, karena mereka datang ke Zaid bin Ali bin Husein, lalu mereka berkata : "Berlepas dirilah kamu dari Abu Bakar dan Umar sehingga kami bisa bersamamu!", lalu beliau menjawab : "Mereka berdua (Abu Bakar dan Umar) adalah sahabat kakekku, bahkan aku setia kepada mereka". Mereka berkata : "Kalau begitu, kami menolakmu (rafadhnaak) maka dinamakanlah mereka Raafidhah (yang menolak), dan orang yang membai'at dan sepakat dengan Zaid bin Ali bin Husein disebut Zaidiyah
Ada yang mengatakan : mereka dinamakan dengan Raafidhah, karena mereka menolak keimaman (kepemimpinan) Abu Bakar dan Umar Dan dikatakan mereka dinamakan dengan Rafidhah karena mereka menolak agama.[Syaikh Abdullah bin Muhammad As-Salafi, Penerjemah Muhammad Elvi Syams, Lc.,File CHM disusun oleh Abu 'Abdirrahman Muhammad Taufiq,].
Demikian ambisiusnya Abdullah bin Saba untuk mengacau fikiran ummat islam dengan maksud untuk menolak kekhalifahan sahabat nabi selain Ali bin Abi Thalib bahkan lebih lanjut mereka sebernarnya menolak ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah dengan membawa ajaran baru mengatasnamakan Ali dan Ahlul Bait. Penanaman kesesatan itu nampak pada fikiran yang menjadikan Ali sebagai penerima risalah yang ma’shum serta mengetahui hal-hal yang ghaib, padahal semuanya itu diluar konsep islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.
Sebuah buku yang berjudul Virus Syi’ah waspadalah! yang ditulis olehUstadz Abu Abdirrahman al-Atsary Abdullah Zain mengatakan tentang keyakinan Syi’ah tentang ahlul bait;
Ahlul bait adalah: keluarga Ali, ‘Aqil, Ja’far dan Abbas. Tidak diragukan lagi (menurut Ahlus Sunnah) bahwa istri-istri nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk ahlul bait karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, (hai) ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”(QS. Al Ahzab: 32-33)
Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk ahlul bait (keluarga) nya.
Ahlusunnah mencintai dan mengasihi ahlul bait, mencintai dan mengasihi para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Akan tetapi mereka (Ahlusunnah) juga meyakini bahwa tidak ada yang ma’shum melainkan hanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara keyakinan mereka juga: wahyu telah terputus dengan wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada yang mengetahui hal yang gaib kecuali hanya Allah subhanahu wa ta’ala, dan tidak seorang pun dari para manusia yang telah mati bangkit kembali sebelum hari kiamat. Jadi, kita Ahlusunnah menjunjung tinggi keutamaan ahlul bait dan selalu mendoakan mereka agar senantiasa mendapatkan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, tidak lupa kita juga berlepas diri dari musuh-musuh mereka.
Di pihak lain, orang-orang Rafidhah (Rafidhah adalah salah satu julukan kelompok Syi’ah. Julukan ini disebutkan oleh ulama kontemporer mereka Al Majlisy dalam kitabnya Bihar al-Anwar hal 68, 96 dan 97.Kata-kata Rafidhah berasal dari fi’il rafadha yang berarti menolak. Adapun asal muasal mengapa mereka digelari Rafidhah, ada berbagai versi. Antara lain:
1.    Karena mereka menolak kekhilafahan Abu Bakar dan Umar.
2.    Versi lain mengatakan karena mereka menolak agama Islam. (lihat Maqalat al-Islamiyin, karya Abu al-Hasan al-Asy’ary jilid I, hal 89).
Selain berlebih-lebihan dalam mengagung-agungkan imam-imam mereka dengan mengatakan bahwasanya mereka itu ma’shum dan lebih utama dari para nabi dan para rasul, mereka juga melekatkan sifat-sifat tuhan di dalam diri para imam, hingga mengeluarkan mereka dari batas-batas kemakhlukan! Tidak diragukan lagi bahwa ini merupakan sikap ghuluw (berlebih-lebihan) yang paling besar, paling jelek, paling rusak dan paling kufur.
Di antara sikap ekstrem mereka, klaim mereka bahwa para imam mengetahui hal-hal yang gaib, dan mereka mengetahui segala yang ada di langit dan di bumi, tidak terkecuali. Mereka mengetahui apa-apa yang ada dalam hati, apa-apa yang ada dalam tulang belakang kaum pria dan apa-apa yang ada dalam rahim kaum wanita. Mereka juga mengetahui apa yang telah lalu dan yang akan datang hingga hari kiamat.
Husain bin Abdul Wahab dalam kitabnya ‘Uyun al-Mu’jizat hal 28 bercerita bahwasanya, Ali pernah berkata kepada sesosok mayat yang tidak diketahui pembunuhnya, “Berdirilah -dengan izin Allah- wahai Mudrik bin Handzalah bin Ghassan bin Buhairah bin ‘Amr bin al-Fadhl bin Hubab! Sesungguhnya Allah dengan izin-Nya telah menghidupkanmu dengan kedua tanganku!” Maka berkatalah Abu Ja’far Maytsam, Sesosok tubuh itu bangkit dalam keadaan memiliki sifat-sifat yang lebih sempurna dari matahari dan bulan, sembari berkata, “Aku dengar panggilanmu wahai yang menghidupkan tulang, wahai hujjah Allah di kalangan umat manusia, wahai satu-satunya yang memberikan kebaikan dan kenikmatan. Aku dengar panggilanmu wahai Ali, wahai Yang Maha Mengetahui.” Maka berkatalah amirul-mu’minin, “Siapakah yang telah membunuhmu?” Lantas orang tersebut memberitahukan pembunuhnya.
Dengarlah salah seorang syaikh mereka Baqir al-faly yang mengatakan bahwasanya Nabiyullah Isa ‘alaihis salam mendapatkan kehormatan untuk menjadi budak Ali rodhiallahu ‘anhu, “Wahai para manusia, beberapa hari yang lalu telah dirayakan hari kelahiran Isa al-Masih, yang telah mendapatkan kehormatan untuk menjadi budak Ali bin Abi Thalib!”
Berkata Imam mereka Ayatullah al-Khomeini di dalam kitabnya Al-Hukumah al- Islamiyah hal 52, “Sesungguhnya para Imam memiliki kedudukan terpuji, derajat yang tinggi dan kekuasaan terhadap alam semesta, di mana seluruh bagian alam ini tunduk terhadap kekuasaan dan pengawasan mereka.”
Dengarlah Basim al-Karbalaiy menghasung dan mendorong orang-orang Rafidhah untuk pergi ke kuburan Ali radhiallahu ‘anhu dan meminta kesembuhan darinya, berihram dan thawaf di sekitar kuburannya, “Wahai yang berada di bawah kubah putih di kota Najaf! Wahai Ali! Barang siapa yang berziarah ke kuburanmu dan meminta kesembuhan darimu niscaya dia akan sembuh!”
Di dalam kitab Wasail ad-Darojat karangan ash-Shaffar (hal 84), Abu Abdillah berkata: Konon Amirul Mu’minin pernah berkata, “Aku adalah ilmu Allah, aku adalah hati Allah yang sadar, aku adalah mulut Allah yang berbicara, aku adalah mata Allah yang melihat, aku adalah pinggang Allah, aku adalah tangan Allah.”
Na’uzubillah dari ghuluw ini!
Dengarlah Muhsin al-Khuwailidy dalam khotbah kufurnya di mana dia melekatkan kepada Ali sifat-sifat rububiyah Allah, “Dan di antara khutbah-khutbahnya shallallahu ‘alaihi wa sallam: Aku mempunyai semua kunci hal-hal yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya sesudah Rasulullah kecuali aku. Aku-lah penguasa hisab, aku pemilik sirath dan mauqif, aku pembagi (distributor) surga dan neraka dengan perintah Robb-ku. Akulah yang menumbuhkan dedaunan dan mematangkan buah-buahan. Akulah yang memancarkan mata air dan mengalirkan sungai-sungai..........
Lihatlah wahai para hamba Allah, bagaimana dia mengedepankan ketaatan kepada Ali di atas ketaatan kepada Allah!!![Virus Syi’ah waspadalah!Ustadz Abu Abdirrahman al-Atsary Abdullah Zain,  File CHM disusun oleh Abu 'Abdirrahman Muhammad Taufiq].
Alangkah kasihannya kita bila virus syi’ah ini menggerayangi ummat islam, maka akan terjadi sesat dan menyesatkan padahal Rasulullah tidak mengajarkan hal demikian dan Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat yang mulia tidak tahu menahu tentang apa yang mereka dustakan  semua ini. Sebagai muslim kita mengakui Allah hanya sebagai sahabat Nabi, sama dengan Abu Bakar, Umar dan Usman, tapi bagi mereka Ali punya posisi lain bahkan lebih dari posisi Nabi Muhammad, ini adalah sesuatu bid’ah yang menyesatkan ummat islam. Perbedaan yang mereka bawa bukanlah semata-mata masalah furu’ tapi menyangkut usul yaitu aqidah, bila aqidah sudah salah maka akan bathil semuanya.
Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Safi’i dengan Madzhab Maliki.
Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan ?.
Oleh karena itu, disaat Muslimin bangun melawan serangan Syiah, mereka menjadi penonton dan tidak ikut berkiprah.
Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui.
Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya.
Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzahab Syafi’i.
Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja.Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul.

Rukun Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita (Ahlussunnah).
Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur’annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.
Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri.[Apa perbedaan antara Ahlussunnah dengan Syiah, nahimunkar.com21 December 2009].
Rupanya banyak fakta unik tentang Syi’ah yang jarang diketahui umat muslim pada umumnya. Hal ini terungkap saat KH.Kholil Ridwan yang tampil sebagai Keynote Speaker dalam seminar tentang kesesatan Syiah, kemarin, Jum’at/10/06/2011, mengeluarkan sebuah cerita yang unik tentang kehidupan Syiah di Iran.Beliau mengaku mendapatkan kisah ini langsung dari almarhum KH. Irfan Zidny, mantan pengurus PBNU yang sempat 11 tahun di Irak dan bergaul dengan orang Syi’i.“Beliau (KH Irfan Zidny, red) cerita banyak yang lucu-lucu dari Syiah di Iran.Syiah itu tidak ada shalat jumat sebelum kedatangan Khomeini. Karena Imam ke 12 masih gaib.""Jadi gimana mau shalat, Imamnya aja masih gaib.jadi gambar-gambar kubah di Iran itu pun bukan mesjid, tapi kuburan.” cerita KH. Kholil mengagetkan para pengunjung seminar.
Lalu kapankah Iran baru mendirikan Shalat Jum'at secara bersama-sama?KH. Kholil menyebutkan bahwa shalat jum’at di Iran baru dapat terlaksana ketika revolusi Iran meletus dan melambungkan nama Imam Khomeini. “Nah setelah revolusi Iran baru diadakan Shalat Jum’at karena Imamnya sudah muncul yakni Khomeini yang tampil sebagai pemimpin spiritual Iran."Namun uniknya, berbeda dengan shalat jum’at yang dilakukan kaum muslim, shalat Jum’at yang dilaksanakan kaum Syiah hanya didirikan di satu tempat, yakni Teheran. Semua kaum Syiah pun melaksanakannya berbondong-bondong di satu tempat itu.
“Beda dengan di kita, Shalat juma’at di Iran waktu itu cuma ada satu, yaitu di Teheran dan semua warga Iran shalat jum’at disana dan imamnya harus Presiden Banisadr atas petunjuk Khomeini.Bayangkan segitu banyaknya kaum Syiah di Iran tempat shalat jum’atnya hanya satu dan imammnya harus Presiden Banisadr.” papar KH.Kholil Ridwan memancing tawa para jama’ah yang memadati areal Mesjid Al Furqon DDII.
Menariknya, suatu ketika Shalat Jum’at di Iran terpaksa diliburkan ketika Kanselir Jerman datang ke Iran bertepatan dengan waktu Shalat Jum’at.Bannisadr yang memiliki kewajiban sebagai Presiden dan sekaligus Imam Shalat Jum’at tentu bimbang. Dan dengan terpaksa ia lebih memilih menyambut Kanselir Jerman tersebut, dan mengontak perwakilan Mesjid.“Shalat Jum’at dibatalkan dulu, karena Presiden dapat kunjungan tamu negara dari Jerman,” tambah KH Kholil, lagi disambut tawa riuh dari jama’ah. (pz)[Fakta Unik: Sebelum Turun Imam Khomeini, Di Iran Belum Wajib Shalat Jum'at, Nahimungkar.com.Sabtu, 11/06/2011 12:07 WIB].
Sulitnya masyarakat mengendus gerakan Syiah karena tertutup doktrin taqiyyah yang dilakukan Syiah, tidak membuat pusing KH.Idrus Ramli dari Ponpes Sidogiri Pasuruan. Untuk mengidentifikasi Syi’i atau tidak, beliau memiliki cara yang cukup unik.“Kalau ditanya Syiah atau Sunni, mereka tidak mau menjawab dirinya Syiah.Namun untuk mengetahui orang itu Syiah atau tidak, kita bisa mulai dengan minta tanggapannya tentang Syiah.”Katanya kepada Eramuslim.com, saat dihubungi lewat telepon, Sabtu lalu, 11/06/2011.
Tokoh yang Jum’at lalu menjadi pembicara saat seminar Ahlussunah Bersatu Menolak Syiah dan banyak terlibat debat dengan kader-kader Syiah Jember ini, juga menyarankan untuk mencermati shalawat yang biasa disenandungkan komunitas Syiah.“Shalawat mereka beda dengan sunni. Kalau shalawat sunni mengucapkan Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa’alaa aali Muhammad. Tapi kalau Syiah, hanya Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'aali Muhammad. Jadi langsung ‘aali Muhammad,”
Selain itu, kata pengurus NU Jawa Timur ini, biasanya Syiah mengklaim bahwa Ali bin Abi Thalib adalah penerus Khalifah setelah Rasulullah SAW wafat. Pada realitasnya, kebanyakan orang Syiah juga enggan diajak untuk membongkar kesesatannya dengan dalih ukhuwah. Ini disebabkan kekhawatiran kelompok Syiah karena ideologinya akan terbongkar.
Walau banyak bercokol di kampus-kampus, namun dalam pandangan KH. Idrus Ramli, gerakan Syiah masih belum banyak berkembang di kampus-kampus. Sekalipun demikian, beliau berpesan kepada masyarakat untuk hati-hati dan tetap waspada mengawasi perkembangan Syiah.“Karena anak-anak kampus sering dijadikan sasaran.” Ujarnya
Menurut berbagai literatur, taqiyyah adalah doktrin Syiah dimana mereka boleh berdusta kepada non Syiah untuk menjalankan misinya. Dengan carataqiyyahini, kaum Syiah mengatakan ajaran mereka sama dengan sunni, dan banyak kaum sunni yang terjebak.
KH. M. Dawam Anwar pada seminar Syiah tahun 1997 di Mesjid Istiqlal pernah menyatakan bahwa taqiyyah bagi Syiah setara dengan sembilan persepuluh agama, wajib dilakukan dan tidak boleh ditinggalkan sampai Imam Mahdi datang. Taqiyyah tidak hanya dilakukan antar orang Syiah dan lawannya, tapi juga sesama Syiah sendiri sebagai bahan latihan. (pz)[Inilah Tips Agar Tidak Tertipu Taqiyyah Syiah, Eramuslim.com.Senin, 13/06/2011 13:39 WIB].
Rasulullah mengingatkan kepada kita agar berhati-hati terhadap jalan yang menyimpang, pada satu hari beliau membuat garis lurus di atas tanah sambil bersabda,”Ini adalah jalan yang lurus, kalau kalian mengikutinya maka kalian akan selamat, hati-hati terhadap jalan persimpangan jalan yang menyesatkan kalian”, dilain kesempatan beliaupun menyampaikan sabdanya, “Aku tinggalkan dua pusaka, maka barangsiapa berpegangteguh dengan dua pusaka itu maka selamatlah dia, tidak akan sesat selama-lamanya, dua pusaka itu adalah Al Qur’an dan Sunnah”, resep ini sangat mujarab untuk menghindari penyesatan dari siapapun dan untuk kelompok manapun,wallahu a’lam [Cubadak Solok, 2 Agustus 2011.M/ 2 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar