Haji
merupakan rangkaian dari lima rukun dalam islam setelah mengucapkan shahadat,
melaksanakan shalat, menunaikan ibadah puasa dan membayarkan zakat. Ibadah haji
adalah ibadah yang dilakukan cukup sekali seumur hidup bagi yang mampu, mampu
dari segi fisik, mental dan finansial.Dilaksanakan di Mekkah Al Mukarramah
sekali dalam setahun pada bulan Zulhijjah.
"Padanya terdapat tanda-tanda yang
nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi
amanlah Dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu
(bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.barangsiapa
mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak
memerlukan sesuatu) dari semesta alam.."(AliImran:3;97)
Kewajiban haji bila sudah datang
kepada mereka yang mampu harus dilaksanakan walaupun dengan rukhshah atau
keringanan sebagaimana yang terjadi dizaman Rasulullah, Abdullah bin Abbas r.a.
berkata, "Al-Fadhl bin Abbas mengiringi Rasulullah, lalu datang seorang
wanita dari Khats'am. Kemudian al-Fadhl melihat kepadanya dan wanita itu
melihat Fadhl. Lalu, Nabi mengalihkan wajah al-Fadhl ke arah lain. Wanita itu
berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah mewajibkan hamba-Nya untuk haji.
Ayahku terkena kewajiban itu, namun ia sudah tua bangka, tidak kuat duduk di
atas kendaraan. Apakah saya menghajikannya?'Beliau menjawab, 'Ya.'Hal itu pada
Haji Wada'."
Salah satu hikmah Allah dalam mensyaRiatkan ibadah adalah Dia menjadikannya
beRagam, di mana hal ini bisa dilihat dalam ibadah-ibadah yang meRupakan Rukun
Islam, syahadat meRupakan ibadah hati kaRena ia meRupakan keyakinan dasaR yang
kemudian dilafazhkan dengan lisan, sementaRa shalat adalah geRakan jasad, ia
meRupakan ibadah badani, lain lagi puasa yang meRupa-kan sikap menahan diRi,
lalu zakat yang meRupakan ibadah haRtawi dan yang kelima adalah haji yang
menggabungkan semua sisi daRi empat ibadah sebelumnya. DaRi sinilah, maka haji
teRmasuk ibadah yang teRakhiR diwajibkan kepada kaum Muslimin yaitu pada tahun
9 H. Hal ini kaRena haji memeRlukan segala peRkaRa yang dipeRlukan Oleh empat
Rukun sebelumnya. Ia memeRlukan landasan iman yang teRtanam dalam syahadat, ia
memeRlukan tenaga jasmani dan haRta yang ada pada shalat dan zakat, dan ia
memeRlukan sikap menahan diRi yang dikandung Oleh puasa.
Maka daRi itu, ibadah haji saRat dengan nilai-nilai luhuR, padat dengan jihad dan pengORbanan, penuh dengan pendidikan dan penempaan diRi. Kita menengOk kepada syaRat wajib haji, ia adalah istitha'ah. FiRman Allah Ta’ala,
"MengeRjakan haji adalah kewajiban manusia teRhadap Allah, yaitu (bagi)
ORang yang sanggup mengadakan peRjalanan ke Baitullah. BaRangsiapa mengingkaRi
(kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memeRlukan sesuatu)
daRi semesta alam." (Ali ImRan: 97).
Kesanggupan atau kemampuan di mana dasaRnya menuRut paRa ulama adalah
kesanggupan finansial, kesanggupan tenaga dan kesanggupan jalan, untuk
mewujudkan semua itu dibutuhkan usaha yang tidak mudah, lebih tidak mudah lagi
manakala haRta yang telah diRaih itu, yang meRupakan keteRgantungan dan
kecintaan jiwa, mesti diROgOh daRi kantOng untuk membiayai diRi, demi Rukun
Islam yang agung ini, belum lagi kesiapan jasmani di mana mOdal utamanya adalah
sehat. Dibutuhkan jihad melawan kecintaan beRlebih kepada haRta agaR jiwa Rela
dan lapang mengORbankannya demi kebaikan dan kemaslahatan diRinya sendiRi.
Dibutuhkan pula jihad melawan kecintaan beRlebih kepada sikap santai dan Rehat,
sebab haji memang menghaRuskan kelelahan, baik kelelahan peRjalanan dan
kelelahan pelaksanaan.
Kita menengOk lebih
dalam kepada atuRan dan tatanan manasik haji. Kita bisa mendapatkan bahwa ia
meRupakan pendidikan jihad agaR jiwa menghORmati dan menghaRgai batasan-batasan
Allah, menahan diRi dengan tidak melanggaRnya. SepeRti kita ketahui, haji
ditunaikan dalam keadaan ihRam, dan dalam ihRam ini teRdapat
pantangan-pantangan yang haRus dijaga, sepeRti pakaian beRjahit, tOpi atau
kOpyah, mencukuR Rambut, memOtOng kuku, membunuh binatang buRuan, memakai minyak
wangi, beRsetubuh, menikah dan menikahkan. Semua ini adalah peRkaRa-peRkaRa
yang haRus dijauhi semasa ihRam, padahal sebagian daRinya adalah peRkaRa yang
mungkin dalam pandangan sebagian ORang sepele, sepeRti menutup kepala dengan
penutup atau memOtOng kuku. SementaRa sebagian lagi meRupakan peRkaRa yang
disukai Oleh jiwa sepeRti minyak wangi dan beRsetubuh. Akan tetapi semua itu
adalah batasan-batasan Allah yang tidak patut disepelekan atau dipandang
sebelah mata.
Kita kembali menengOk, atuRan-atuRan di atas mengakibatkan sangsi dan
hukuman bagi pelanggaRnya, mulai daRi beRsedekah dan beRpuasa, sampai dengan
mengaliRkan daRah dengan menyembelih hewan teRnak, sebuah pendidikan
kedisiplinan dan tanggung jawab seRta kesiapan memikul ResikO kelalaian dan
kekhilafan, dan itu pun dalam bentuk peRbuatan yang kebaikannya kembali kepada
diRi sendiRi atau kepada sesama. FiRman Allah Ta’ala,
"Dan telah
Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian daRi syiaR Allah, kamu
mempeROleh kebaikan yang banyak padanya, maka kalian sebutlah nama Allah ketika
kamu menyembelihnya dalam keadaan beRdiRi (dan telah teRikat). Kemudian apabila
telah RObOh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beRi makanlah ORang yang Rela
dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan ORang yang meminta.
Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan
kamu beRsyukuR. Daging-daging unta dan daRahnya itu sekali-kali tidak dapat
mencapai (keRidhaan) Allah, tetapi ketakwaan daRi kamulah yang dapat
mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu
mengagungkan Allah teRhadap hidayahNya kepada kamu. Dan beRilah kabaR gembiRa
kepada ORang-ORang yang beRbuat baik." (Al-Hajj: 36-37). [Izzudin
KaRimi, Lc. Haji, Jihad dan PengORbanan
(Khutbah Idul Adha).
Kekhasan
haji sebagai ibadah Mahdhah antar lain disebabkan, karena ia menggabungkan dua
unsur sekaligus; fisik dan finansial (ibadah jasadiyah wa maaliyah). Berbeda
dengan Shalat dan puasa yang hanya melibatkan fisik (ibadah jasadiyah).Juga
berbeda dengan zakat yang semata-mata ibadah maaliyah tanpa melibatkan jasad.
Jadi haji memang ibadah yang
unik. Seseorang yang hanya memiliki kemampuan fisik atau dana saja, tidaklah
menjadi jaminan untuk menunaikan haji. Sekian banyak orang sehat, tapi tidak
memiliki dukungan maaliyah, begitu juga sebaliknya, akhirnya mereka tidak dapat
berhaji.
Juga menarik, satu-satunya rukun Islam yang
diambil menjadi nama surat dalam Alqur'an hanyalah haji dengan surat al-haj.
Ada poin essensial dalam haji yang justru banyak
dilupakan orang termasuk yang melakukan manasik itu sendiri, yaitu ketergantungan
(tidak sekedar keterkaitan) haji dengan Tauhid.
Adalah jarang kita mendengar, dalam pelajaran
manasik, masalah haji dan tauhid dibahas.Yang lebih dominan adalah pembahasan
haji dari sudut pandang hukum (fiqh), mempersoalkan mana yang rukun, wajib dan
sunnat haji?
Umpamanya, bagaimana kalau wudhu' batal di tengah
tawaf, karena bersenggolan dengan wanita yang bukan mahramnya, dalam mazhab
Syafii.Bagaimana batu yang digunakan untuk melontar Jamrah, bukan dari
Muzdalifah, dan persoalan yang sejenisnya.
Padahal, haji mengandung pelajaran penting bagi
'Aqidah seorang Muslim.Seharusnya, yang banyak diperhatikan oleh jamaah haji
adalah evaluasi terhadap pemahaman tauhid yang ada pada diri
masing-masing.Apakah pemahamannya selama ini tentang syahadat tauhid sudah
benar atau belum.
Jika ilmu tentang syahadat sudah ia miliki,
bagaimana implementasinya dalam kehidupan? Apakah ilmu itu sudah membuahkan
hasil tunduk dan pasrah secara mutlak kepada Allah Swt?Apakah mereka sudah
benar-benar mengilahkan (menuhankan) Allah swt atau belum?
Jika ya, niscaya akan terlihat efeknya dalam
sepak terjangnya. Bila ia seorang politisi, tentunya ia tidak akan haus jabatan
dan pemburu kekuasaan. Jika ia seorang pebisnis, tentu ia tidak menuhankan
keuntungan materi.
Jadi pertanyaan-pertanyaan ini perlu dihidupkan
terus menerus oleh para jamaah, agar kepergiannya ke tanah haram membuahkan
hasil berupa perubahan dalam garis hidupnya. Tanpa melakukan ini, besar
kemungkinan tidak ada yang berubah, sehingga setelah ia kembali dari haji, mentalnya
sama seperti ketika ia belum berangkat.
Jika ia melakukan korupsi sebelum haji, maka
setelah hajipun perbuatan haram itu masih tetap berlanjut. Jika sebelum haji,
ia hampir tidak pernah datang ke masjid, maka setelah hajipun ia juga jarang
berjamaah ke masjid.
Tidak sedikit muslim bahkan aktifis Islam, yang
bolak balik haji dan umroh (bahkan iktikaf asyrul awakhir bulan Ramadhan di
Masjidil Haram), tapi sesampainya di tanah air, watak aslinya tetap muncul,
enggan salat berjamaah di Masjid, ambisi kekuasaannya sampai ke ubun-ubun,
kehausannya pada kesenangan duniawi mengalahkan kaum kuffar.
Manusia semacam ini, jelas mengkhianati iqrar
tauhid yang ia ucapkan dalam manasik haji atau umroh.[Republika Online, Dr. Daud Rasyid, MA,Haji dan Ideologi
Kekuasaan ,Rabu, 12/11/2008 12:26 WIB].
Banyak
keutamaan dan pahala yang diberikan Allah kepada orang yang datang menunaikan
ibadah haji, sejak dari ujung timur hingga ujung barat dengan syarat
semata-mata mengharapkan ridha Allah, jauh dari motivasi duniawi;
"
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan
datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang
datang dari segenap penjuru yang jauh,Supaya mereka menyaksikan berbagai
manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang Telah
ditentukan atas rezki yang Allah Telah berikan kepada mereka berupa binatang
ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah
untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.
Allah
menggambarkan kedatangan ummat Islam untuk menunaikan ibadah haji dengan
megnendarai Unta yang kurus, hal ini
menunjukkan jauh dan sukarnya perjalanan yang ditempuh oleh jemaah haji,
apalagi mereka yang sudah lanjut usia tentu lebih sukar lagi perjalanan itu,
tapi disana jugalah letak manisnya ujian dalam menjalankan ibadah kepada Allah,
bahkan kadangkala mereka berazham untuk wafat di Mekkah saja, yaitu tanah suci
tempat ummat islam menunaikan ibadah besar setiap tahun. Ibnu Umar r.a. berkata, "Saya melihat
Rasulullah mengendarai kendaraannya di Dzul Hulaifah. Kemudian beliau membaca
talbiyah dengan suara keras sehingga kendaraan itu berdiri tegak."
Karena sukarnya perjalanan untuk
menunaikan ibadah haji itu, tidak sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, selain
membutuhkan fisik yang sehat dan dana yang tidak sedikit juga membutuhkan
konsentrasi dan kekhusu'kan yang prima, sehingga wajar bila ibadah haji merupakan
salah satu bentuk jihad, Umar r.a. berkata, "Pergilah dengan
berkendaraan untuk mengerjakan ibadah haji. Sebab, sesungguhnya haji itu adalah
salah satu dari dua macam jihad.".
Haji termasuk amal yang utama dari
amal-amal yang lain, setelah iman dan jihad, Abu Hurairah r.a. berkata, "Nabi
ditanya, 'Amal apakah yang lebih utama?' Beliau bersabda, 'Iman kepada Allah
dan Rasul-Nya.' Ditanyakan, 'Kemudian apa?' Beliau bersabda, 'Berjuang di jalan
Allah.' Ditanyakan, 'Kemudian apa?' Beliau bersabda, 'Haji yang mabrur.'.
Aisyah Ummul Mukminin r.a. berkata,
"Wahai Rasulullah, kami melihat bahwa jihad (berperang) itu
seutama-utama amal, apakah kami tidak perlu berjihad?" Nabi saw. bersabda,
'Tidak, bagi kalian jihad yang paling utama adalah haji mabrur." (Dalam
satu riwayat: Rasulullah ditanya oleh istri-istri beliau tentang haji, lalu
beliau bersabda, "Sebaik-baik jihad adalah haji.".
Ibadah haji yang mabrur itu adalah
ibadah haji yang mendapatkan ganjaran
dari Allah, melalui prosesi ibadah yang dilakukan sebelum, saat dan setelah
melaksanakan semua syarat dan rukunya, selain melepaskan dirinya dari
dosa-dosanya juga memasukkannya kelak ke dalam syurga. Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Ibadah
umrah sampai umrah berikutnya sebagai kafarat untuk dosa di antara keduanya dan
haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga. (Shahih Muslim )
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia
berkata: Rasulullah saw. telah bersabda:
Barang siapa datang (haji) ke Baitullah ini lalu tidak berbicara kotor dan
tidak berbuat maksiat, maka ia akan kembali seperti ketika dilahirkan oleh
ibunya. (Shahih Muslim]
Ada pelajaran yang sangat
berharga dari haji, yaitu membangun solidaritas sesama muslim. Sebuah kekuatan
dahsyat yang tampak pudar akhir-akhir ini, baik di tingkat rendah maupun di
level internasional.
Kekuatan umat cenderung
terpecah-pecah.Masing-masing jama'ah merasa kelompoknya yang paling benar
“Setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang dimilikinya”.Negara-negara
Muslim asyik dengan persoalannya sendiri-sendiri. Negara muslim yang kaya asyik
menikmati kekayaannya, membiarkan saudaranya bangsa Palestina kelaparan,
tertindas, terjajah oleh zionis Israel.
Adapun mereka yang sama-sama melaksanakan haji,
memiliki rasa kebersamaan karena hati mereka diikat oleh ikatan pemersatu yang
hakiki, kesamaan tujuan sesama pengabdi Allah swt, pencari ridhoNya, jauh dari
faktor pemersatu yang palsu, seperti satu negara, satu bahasa, satu etnis, satu
profesi, satu hobi, satu partai, dan lainnya.
Haji bisa berfungsi sebagai
Multi Konperensi ummat Islam sedunia. Dalam ibadah haji, berbagai professi dan
tingkatan ummat, berkumpul dalam waktu dan tempat yang sama. Mereka bisa
membincangkan berbagai persoalan ummat di berbagai belahan dunia, dari berbagai
sudut pandang.
Umpamanya dari sisi ekonomi dan bisnis, jika sisi
ini dianggap sebagai salah satu titik lemah ummat Islam di dunia, para
pengusaha Muslim dari berbagai negara dapat saling tukar menukar informasi
tentang peluang bisnis di negara masing-masing, merencanakan kerjasama ekonomi
dan dagang antar sesama bangsa Muslim.
Di tingkat dunia Arab saja, kita temukan, modal
usaha dimiliki oleh negara-negara Teluk Arab (seperti Saudi, Qatar, Kuweit,
Emirat).Tenaga kerja dan SDM dimiliki oleh Mesir.Lahan yang luas dimiliki oleh
Sudan. Jika potensi ini disatukan, maka di sana akan muncul ‘Macan ekonomi
Arab’.
Apa lagi jika diperluas ruang lingkupnya ke dunia
Islam. Tenaga kerja dan SDM yang bisa dipasok oleh Indonesia dan Pakistan,
disamping Mesir.Profesionalisme-nya Malaysia, Sumber Alam dan lahan juga
tersedia di Indonesia. Belum lagi jika disertakan Afrika, tidak diragukan, akan
lahir kekuatan ekonomi yang cukup diperhitungkan, kendatipun belum bisa
digolongkan sebagai ‘superpower’.
Semua ini membutuhkan diskusi dan pertemuan dalam
satu meja yang tersedia sarananya pada ibadah Haji.
Yang mengganjal sekarang di tengah umat Islam,
egoisme dan fanatisme kebangsaan yang menghancurkan solidaritas dan
kesatuan.Demikian juga persoalan industri, teknologi informasi dan bidang
lainnya selama tidak menghilangkan misi awal, yaitu menunaikan faridhoh haji.
Fungsi ini selama ini kurang dioptimalkan oleh
umat. Padahal ia merupakan peluang emas untuk mengembangkan potensi umat secara
besar-besaran. Umat lain tidak memiliki ajaran seperti ini, namun mereka tetap
berusaha untuk menciptakan jaringan seperti itu.
Tak kurang pentingnya, membincangkan soal dakwah
Islam.Alhamdulillah sisi ini sudah berjalan melalui Rabithah Alam Islami.Para
da’i diundang haji oleh pemerintah Saudi setiap tahun dari berbagai negara.Di
sela-sela haji itu mereka dapat memanfaatkan keberadaan delegasi-delegasi untuk
mengkaji realita dakwah di negara-negara Muslim, baik mayoritas ataupun
minoritas, dan merencanakan strategi dakwah yang lebih menjawab tantangan dakwah
masa kini.
Namun, hendaknya pertemuan seperti itu tidak
sebatas basa-basi, sambil lalu, dan hasilnya dapat dijadikan acuan dan panduan
bagi umat Islam. Jadi, yang akan terbentuk di tengah umat –dengan ibadah haji-
adalah jaringan yang didasari oleh aqidah, keimanan, sehingga melahirkan
hubungan yang penuh dengan kejujuran dan amanah.[Republika Online, Dr. Daud Rasyid, MA,Haji dan Kekuatan
Umat, Kamis, 20/11/2008 12:30 WIB].
Secara formal,
rangkaian-rangkaian ibadah haji mulai dari ihram sampai tahalul sudah sempurna
dilakukan.Tapi, sesungguhnya ibadah haji tidak hanya pemenuhan formal saja.Pada
hadis di atas, Rasulullah mengisyaratkan sisi informal haji yang juga harus
dipenuhi, yakni larangan untuk tidak berkata-kata kotor atau berbuat dosa.
Sisi informal ini berlaku,
atau hal yang mesti disertakan pada setiap rangkaian ibadah formal haji. Jika
dua sisi ini dilakukan, seperti disebutkan oleh beliau, orang tersebut akan
kembali tanpa dosa, seperti bayi baru terlahir. Itulah yang disebut dengan haji
mabrur, yang balasannya adalah surga. "Haji mabrur itu tidak ada balasan
lain, kecuali surga." (HR Nasai dari Abu Hurairah)
Tidak ada oleh-oleh yang
paling berharga dari Tanah Suci, selain haji mabrur. Inilah aset yang akan
ditukar dengan surga, sekaligus investasi paling berharga di akhirat. Dan,
memang hanya surgalah yang disiapkan oleh Allah bagi orang-orang yang hajinya
mabrur.
Sebagai sebuah
aset, orang-orang yang hajinya mabrur berkewajiban untuk menjaganya baik-baik
agar tidak kotor, apalagi sampai rusak.Tidak sedikit orang yang berhaji dan
pulang membawa haji mabrur. Tapi setelah haji, ia kembali berkata-kata kotor
dan berbuat dosa.
Label haji atau hajah yang
disematkan di depan nama orang yang pulang dari haji sebenarnya adalah label
pengingat bahwa ia sudah berhaji dan dituntut untuk menjaga kehajian atau
kehajahannya sampai akhir hayat dengan menjaga lisan atau menjaga diri dari
perbuatan dosa.
Secara formal, ibadah haji
waktunya terbatas, bentuk-bentuk manasiknya juga sudah ditentukan. Tapi, secara
informal, nilai-nilai ibadah haji akan terus menyertai orang yang berhaji,
bahkan hingga ketika haji formal itu sudah usai.
Tidak ada haji di bulan
selain Dzulhijah, tapi nilai-nilai yang terkandung di dalam seluruh rangkaian
ibadah haji itu akan terus bersama orang yang telah berhaji, kapan pun dan di
manapun. Orang yang telah berhaji dituntut untuk mengimplementasikan
nilai-nilai itu sepanjang hayat.[Republika
online, Hanya Surga, Balasan Bagi Haji Mabrur ,Kamis, 25 November
2010, 10:11 WIB].
Itulah filosofi haji itu
hanya bisa dilakukan oleh orang yang mampu untuk melaksanakannya, kemampuan
fisik banyak orang yang mampu sehingga sejak anak muda dan orangtua bersedia
pergi ke Mekkah untuk berhaji, apalagi kemampuan finansial tidak sedikit ummat
islam yang antri hingga tujuh dan sepuluh tahun masuk daftar tunggu, tapi mampu
untuk mengaplikasikan nilai-nilai ibadah haji tidaklah sebanyak itu, wallahu
a’lam [MengkoangPahang Malaysia, 02 Juni 2011M/ 29 Jumadil Akhir 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar