Selasa, 26 Januari 2016

132. Tasauf



Islam mengajarkan kepada kita serta menuntut ummat ini untuk masuk Islam secara kaffah artinya total, tidak boleh setengah-setengah, jangan sampai campur baur dengan ajaran lain yang nyata-nyata menyesatkan. Dalam firman-Nya Allah menyatakan “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”.[Al Baqarah 2;208].

Bila tidak mau masuk kedalam Islam secara total, walaupun hanya sedikit saja penyimpangan itu maka pasti telah mengikuti langkah-langkah syaitan, karena syaitan tidak mau membiarkan ummat islam komitmen dengan nilai aqidah yang tauhid, untuk itulah syaitan berupaya menanamkan nilai-nilai kesesatan itu berbentuk indah dan menarik hati dengan bentuk pemikiran dan pengamalan yang diada-adakan,  sehingga kesesatan itu tidak jelas sesatnya bagi masyarakat awam.
“iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka".[Al Hijr 15;39-40].

Hanya orang-orang yang mukhlis yang selamat dari tipudaya iblis yaitu  orang yang bersih aqidahnya dari nilai-nilai syirik, yang selamat ibadahnya dari bid’ah. Tapi bagi yang mudah dicengkram tipudaya iblis mereka terlibat dalam bentuk-bentuk kesesatan yang dibungkus dengan argumentasi tidak berdasar seperti ajaran Syi’ah, Ahmadiyah, Tarekat dan Tasauf atau Sufi.

Tentang  kapan awal munculnya tasawuf, Ibnul Jauzi  mengemuka­kan,  yang pasti, istilah sufi muncul sebelum tahun 200H.  Ketika pertama  kali  muncul, banyak orang yang  membicarakannya  dengan berbagai ungkapan. Alhasil, tasawuf dalam pandangan mereka  meru­pakan  latihan jiwa dan usaha mencegah tabiat dari akhlak-akhlak yang hina lalu membawanya ke akhlak yang baik, hingga mendatangkan pujian di dunia dan pahala di akherat.

Begitulah yang terjadi pada diri orang-orang yang pertama kali memunculkannya. Lalu datang talbis Iblis (tipuan mencampur  adukkan  yang haq dengan yang batil hingga yang batil dianggap haq) terhadap mereka (orang sufi) dalam berbagai hal. Lalu Iblis  memperdayai  orang-orang setelah itu daripada pengikut  mereka. Setiapkali  lewat  satu  kurun waktu, maka  ketamakan  Iblis  untuk memperdayai mereka semakin menjadi-jadi. Begitu seterusnya hingga mereka yang datang belakangan telah berada dalam talbis Iblis.
Talbis Iblis yang pertama kali terhadap mereka adalah  mengha­langi  mereka mencari ilmu. Ia menampakkan kepada  mereka  bahwa maksud  ilmu  adalah amal. Ketika pelita ilmu yang ada  di  dekat mereka  dipadamkan, mereka pun menjadi linglung dalam  kegelapan.

Di  antara  mereka ada yang diperdaya Iblis,  bahwa  maksud  yang harus digapai adalah meninggalkan dunia secara total. Mereka  pun menolak hal-hal yang mendatangkan kemaslahatan bagi badan, mereka menyerupakan  harta dengan kalajengking, mereka  berlebih-lebihan dalam  membebani  diri,  bahkan di antara mereka  ada  yang  sama sekali tidak mau menelentangkan badannya, terlebih lagi tidur. 

Sebenarnya  tujuan mereka itu bagus. Hanya saja mereka  meniti jalan yang tidak benar dan diantara mereka ada yang karena minim­nya ilmu, lalu berbuat berdasarkan hadits-hadits maudhu` (palsu), sementara dia tidak mengetahuinya.
Orang-orang  sufi  pada  periode-periode  pertama  menetapkan untuk  merujuk (kembali) kepada Al-Quran  dan  As-Sunnah,  namun kemudian Iblis memperdayai mereka karena ilmu mereka yang sedikit sekali.
Ibnul Jauzi (wafat 597H) yang terkenal dengan bukunya  Talbis Iblis menyebutkan contoh,  Al-Junaid  (tokoh  sufi) berkata, "Madzhab  kami ini terikat dengan dasar, yaitu Al-Kitab dan As-Sunnah."
Dia  (Al-Junaid) juga berkata, "Kami tidak  mengambil  tasawuf dari perkataan orang ini dan itu, tetapi dari rasa lapar, mening­galkan dunia, meninggalkan kebiasan sehari-hari dan hal-hal  yang dianggap baik. Sebab tasawuf itu berasal dari kesucian  mu'amalah (pergaulan) dengan Allah dan dasarnya adalah memisahkan diri dari dunia."
Komentar  Ibnul  Jauzi, jika seperti ini  yang  dikatakan  para syeikh  mereka, maka dari syeikh-syeikh yang lain  muncul banyak kesalahan  dan penyimpangan, karena mereka menjauhkan  diri  dari ilmu.
Jika memang begitu keadaannya, lanjut Ibnul Jauzi, maka  mereka harus disanggah, karena tidak perlu ada sikap manis  muka  dalam menegakkan  kebenaran.  Jika tidak benar, maka kita  tetap  harus waspada terhadap perkataan yang keluar dari golongan mereka.
Dicontohkan  suatu  kasus, Imam Ahmad  bin  Hanbal  (780-855M) pernah berkata tentang diri Sary As-Saqathy, "Dia seorang  syeikh yang  dikenal  karena suka menjamu makanan."  Kemudian  ada  yang mengabarinya  bahwa dia berkata, bahwa tatkala Allah  menciptakan huruf-huruf,  maka huruf ba' sujud kepada-Nya. Maka seketika  itu pula  Imam Ahmad berkata: "Jauhilah dia!" (Ibnul  Jauzi,  Talbis Iblis, Darul Fikri, 1368H, hal 168-169).

Ibnul Jauzi (w 597H) dalam Kitabnya, Talbis Iblis mencontohkan betapa ekstrimnya bualan orang sufi, hingga melewati batas dan menentang Allah SWT.
Karena orang-orang sufi jauh dari ilmu, ungkap Ibnul Jauzi, maka perhatian mereka tertuju kepada amal, lalu mereka sepakat menunjukkan kelemahlembutan yang menyerupai karamah, lalu  mereka mengeluarkan berbagai macam bualan.
Diriwayatkan, Abu Yazid Al-Busthamy (tokoh sufi) berkata, "Aku ingin  andaikata saja hari Kiamat sudah tiba, sehingga  aku  bisa memancangkan kemah di Neraka Jahannam.""Mengapa begitu wahai Abu Yazid?" tanya seseorang.Dia  menjawab, "Sebab aku tahu bahwa jika Jahannam  melihatku, maka apinya akan padam, sehingga aku bisa menolong orang lain."

Abu Musa As-Syibli berkata, saya mendengar Abu Yazid  berkata: "Apabila  telah ada hari Kiamat dan Dia memasukkan ahli surga  ke surga  dan ahli neraka ke neraka, maka mintakanlah padaNya  untuk memasukkanku  ke  neraka. Lalu ditanyakan  padanya  (Abu  Yazid), kenapa? Dia berkata: "Sehingga para makhluk tahu bahwa  kebaikan­-Nya  dan kelemahlembutanNya di dalam neraka menyertai para  wali­-Nya." 
Komentar Ibnul Jauzi: "Benar-benar perkataan yang sangat menji­jikkan,  karena dia telah menghinakan apa yang diagungkan  Allah, yaitu  perintah-Nya kepada Neraka.

Abdur  Rahman Abdul Khaliq, dalam bukunya Al-Fikrus  Shufi  fi Dhauil Kitab was Sunnah menegaskan, tidak diketahui secara  tepat siapa  yang  pertama kali menjadi sufi di kalangan  ummat  Islam. Imam  Syafi'i ketika memasuki kota Mesir mengatakan, "Kami  ting­galkan  kota Baghdad sementara di sana kaum zindiq (menyeleweng; aliran  yang  tidak percaya kepada Tuhan,  berasal  dari  Persia; orang  yang  menyelundup ke dalam Islam,  berpura-pura  --menurut Leksikon Islam, 2, hal 778) telah mengadakan sesuatu  yang  baru yang mereka namakan assama'  (nyanyian).

Kaum  zindiq  yang dimaksud Imam Syafi'i  adalah  orang-orang sufi. Dan assama' yang dimaksudkan adalah nyanyian-nyanyian  yang mereka  dendangkan. Sebagaimana  dimaklumi, Imam  Syafi'i  masuk Mesir tahun 199H.
Perkataan Imam Syafi'i ini mengisyaratkan bahwa masalah nyanyian merupakan masalah baru. Sedangkan kaum zindiq tampaknya sudah dikenal  sebelum  itu. Alasannya, Imam Syafi'i  sering  berbicara tentang mereka di antaranya beliau mengatakan:"Seandainya  seseorang menjadi sufi pada pagi hari, maka  siang sebelum dhuhur ia menjadi orang yang dungu."

Dia  (Imam Syafi'i) juga pernah berkata: "Tidaklah seseorang menekuni tasawuf selama 40 hari, lalu  akal­nya (masih bisa) kembali normal selamanya."
Semua  ini,  menurut Abdur Rahman Abdul  Khaliq,  menunjukkan bahwa  sebelum berakhirnya  abad kedua  Hijriyah  terdapat  satu kelompok  yang  di kalangan ulama Islam  dikenal  dengan  sebutan Zanadiqoh (kaum zindiq), dan terkadang dengan sebutan mutashawwi­fah (kaum sufi).

Imam Ahmad (780-855M) hidup sezaman dengan Imam Syafi'i  (767-820M),  dan pada mulanya berguru kepada Imam  Syafi'i.  Perkataan Imam  Ahmad tentang keharusan menjauhi orang-orang tertentu  yang berada dalam lingkaran tasawuf, banyak dikutip orang. Di  antara­nya  ketika seseorang datang kepadanya sambil meminta fatwa  ten­tang  perkataan  Al-Harits  Al-Muhasibi  (tokoh  sufi, meninggal 857M). Lalu Imam Ahmad bin Hanbal berkata:"Aku  nasihatkan  kepadamu,  janganlah  duduk  bersama  mereka (duduk dalam majlis Al-Harits Al-Muhasibi)".
Imam  Ahmad  memberi nasihat seperti itu karena  beliau  telah melihat  majlis  Al-Harits  Al-Muhasibi. Dalam  majlis  itu  para peserta  duduk dan menangis --menurut mereka--  untuk  mengoreksi diri. Mereka berbicara atas dasar bisikan hati yang jahat. (Perlu kita  cermati,  kini ada kalangan-kalangan muda  yang mengadakan daurah/penataran atau halaqah /pengajian, lalu mengadakan muhasabatun  nafsi/ mengoreksi diri, atau mengadakan apa yang  mereka sebut renungan, dan mereka menangis tersedu-sedu, bahkan ada yang meraung-raung. Apakah  perbuatan mereka itu  ada  dalam   sunnah Rasulullah saw? Ataukah memang mengikuti kaum sufi itu?).

Pada abad keenam Hijriyah muncul beberapa tokoh tasawuf,  mas­ing-masing mengaku bahwa dirinya keturunan Rasulullah SAW, kemud­ian  mendirikan tempat thariqat sufiyah dengan  pengikutnya  yang tertentu. Di Irak muncul thariqat sufiyah Ar-Rifa`i  (Rifa'iyah); di  Mesir  muncul Al-Badawi, yang tidak diketahui siapa  ibunya, siapa bapaknya, dan siapa keluarganya; demikian juga Asy-Syadzali (Syadzaliyah/  Syadziliyah) yang muncul di Mesir. Dari  thariqat-thariqat tersebut muncul banyak cabang thariqat sufiyah.

Pada  abad  keenam,  ketujuh, dan  kedelapan  Hijriyah  fitnah sufisme  mencapai puncaknya.  Kaum  Sufi  mendirikan   kelompok-kelompok khusus, kemudian di berbagai tempat dibangun kubah-kubah di atas kuburan. Semua itu terjadi setelah tegaknya Daulah Fathi­miyah  (kebatinan) di Mesir, dan setelah perluasan kekuasaan  ke wilayah-wilayah dunia Islam. Lalu, kuburan-kuburan palsu  muncul, seperti kuburan Husain bin Ali radliyallahu `anhuma di Mesir, dan kuburan Sayyidah Zainab. Setelah itu, mereka mengadakan peringatan  maulid  Nabi, mereka melakukan bid`ah-bid`ah  dan  khufarat-khufarat. Pada akhirnya mereka meng-ilahkan (menuhankan) Al-Hakim Bi-Amrillah Al-Fathimi Al-Abidi.

Propaganda  yang  dilakukan oleh  Daulah  Fathimiyah  tersebut berawal  dari Maghrib  (Maroko),  mereka  menggatikan kekuasaan Abbasiyah  yang  Sunni. Daulah Fathimiyah  berhasil  menggerakkan kelompok Sufi untuk memerangi dunia Islam. Pasukan-pasukan kebat­inan tersebut kemudian menjadi penyebab utama berkuasanya pasukan salib (Kristen Eropa) di wilayah-wilayah Islam.

Pada abad kesembilan, kesepuluh, dan kesebelas Hijriyah, telah muncul  berpuluh-puluh  thariqat  sufiyah,  kemudian  aqidah  dan syari`at Sufi tersebar di tengah-tengah umat. Keadaan yang merata berlanjut sampai masa kebangkitan Islam baru.[Sejarah dan fitnah Tasauf, Dari berbagai sumber Internet].

            Beberapa  komentar  tentang tasawwuf  akan  menjelaskan  bahwa sebenarnya tasawwuf  itu berasal dari luar  Islam.  Berikut  ini komentar para ulama dan ilmuwan yang menyoroti tasawwuf.

Syaikh Ihsan Ilahi Dhahir rahimahullah menulis:
"Ketika  kita memperhatikan dengan teliti tentang ajaran  sufi yang  pertama dan terakhir, serta pendapat-pendapat yang  dikutip dan diakui oleh mereka di dalam kitab-kitab sufi, baik yang  lama maupun  yang baru, maka kita akan melihat dengan jelas  perbedaan yang jauh antara sufi dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Begitu  juga kita  tidak melihat adanya bibit-bibit sufi di  dalam  perjalanan hidup Nabi saw dan para sahabat beliau, yang mereka  itu  adalah (sebaik-baik)  pilihan Allah dari kalangan  makhluk-Nya. Tetapi kita  bisa melihat bahwa sufi diambil dari  percikan  kependetaan Nasrani,  Brahmana (Hindu), Yahudi, dan kezuhudan Agama  Budha." (Ihsan Ilahi Dhahir, At-Tashawwuf al-Mansya' wal Mashadir hal 27, seperti dikutip Syaikh Dr Shalih bin Fauzan Al-Fauzan,  Haqiqatut Tashawwuf / diterjemahkan menjadi Hakikat Tasawuf, Pustaka  As-Salaf, Cet I, 1998/ 1419H, hal 19).
Komentar  ilmuwan lainnya hampir sama. 

"Jelas  bahwa tasawwuf memiliki pengaruh dari  kehidupan  para pendeta Nasrani, mereka suka memakai pakaian dari bulu domba  dan berdiam  di biara-biara. Dan ini banyak sekali.Islam  memutuskan kebiasaan  ini  ketika  Islam membebaskan setiap  negeri  dengan tauhid." (Dr Shobir Tho'imah, Ash-Shufiyyah Mu'taqadan wa  Masla­kan, Riyadh, Cet I, 1985M/ 1405H, hal 25, ibid hal 19).

Lebih jelas lagi, komentar berikut ini: "Sesungguhnya  tasaw­wuf  itu  adalah tipuan/ makar paling hina  dan  tercela.  Syetan telah  membuatnya  untuk menipu para hamba  Allah  dan  memerangi Allah 'Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Sesungguhnya tasawwuf  adalah topeng   kaum Majusi agar ia terlihat sebagai orang yang  Rabbani (taat  pada  Tuhan),  bahkan juga topeng semua  musuh agama ini (Islam). Bila diteliti ke dalam akan ditemui di dalamnya  (ajaran kaum  sufi, ed) ada Brahmaisme, Budhisme, Zaratuisme,  Platoisme, Yahudisme, Nasranisme, dan Paganisme/ Berhalaisme." (Syaikh Abdur Rahim  Al-Wakil rahimahullah, Mashra'ut Tashawwuf, hal  19,  ibid hal 19).
Syaikh  Al-Fauzan  menyimpulkan:
"Jelaslah  bahwa sufi adalah ajaran (dari) luar yang  menyusup ke  dalam  Islam. Hal itu tampak  dari  kebiasaan-kebiasaan  yang dinisbatkan kepadanya. Sufi adalah suatu ajaran yang asing (aneh) di dalam Islam dan jauh dari petunjuk Allah 'Azza wa Jalla.

Yang  dimaksud  dengan kalangan sufi  yang  belakangan  adalah mereka  yang sudah banyak berisi dengan kebohongan.  Adapun  sufi yang dahulu, mereka masih berada di dalam keadaan netral, seperti Al-Fudhail  bin  'Iyadh, Al-Junaid, Ibrahim bin Adham  dan  lain-lain." (Syaikh Dr Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, terjemah Hakikat Tasawwuf, hal 20).

Pada hakekatnya ajaran tasawuf yang dianut umat Islam bercorak panteistis, hasil dari konsepsi filsafat yang disebut monisme.Yaitu konsepsi yang menyatakan bahwa Tuhan dan alam adalah satu.Bahkan jika diurut-urut lebih jauh, konsepsi monisme dengan panteismenya ternyata bersumber dari ajaran Hindu.

Drs H Abdul Qadir Djaelani seorang da'i yang pernah mendekam di penjara di masa Soeharto akibat menentang asas tunggal Pancasila dsb, produktif menulis buku (kini sekitar 14 buku diantaranya menanggapi pendapat-pendapat pembaharu/ neomodernis) ini merasa gemas melihat merebaknya tasawuf dan tarekat di kalangan umat Islam. Dia menulis kritik tajam terhadap tasawuf dalam buku yang berjudul Koreksi terhadap Ajaran Tasawuf diterbitkan GIP Jakarta, cet I 1996, 240 halaman. Dia menohok tokoh-tokoh tasawwuf yang ia nilai melenceng dari Islam seperti Al-Hallaj yang dibunuh oleh para ulama dan Ibnu Arabi yang dikafirkan oleh para ulama.

Berbagai metode ajaran tasawuf dibelejeti dalam buku ini, yang menurut Abdul Qadir (AQ) menyimpang dari Islam seperti zuhud, bai'at dan ketaatan mutlak, wasilah dan rabithah, serta uzlah dan khalwat. Ia juga menghujat praktik ekstase (junun) yang dilakukan para sufi (orang tasawuf).

Secara tegas, AQ mengawali bukunya dengan ungkapan yang menyentak, bahwa teori-teori yang diajarkan oleh berbagai macam aliran tasawuf, baik teori wihdatil wujud, wihdatus syuhud, al-ittihad, al-ittishal, al-hulul, atau al-liqa', semuanya bersifat panteistis.Itu ujung-ujungnya adalah ajaran Hindu yang berpengaruh terhadap Yunani kuno dan kemudian diambil ke tasawuf Islam lewat penerjemahan-penerjemahan yang kebanyakan dilakukan oleh orang-orang Kristen zaman kekhalifahan abad kedua Hijriah.
Cukup banyak para orientalis yang berpendapat bahwa tasawuf berasal dari tradisi pemikiran Yunani.Para orientalis yang berpendapat seperti ini lebih menaruh perhatian terhadap tasawuf yang mulai muncul pada abad ketiga Hijriah, lewat Dzun Nun al-Mishri, wafat 245H. (hal 19).
Muhammad Al-Bahiy (intelektual Islam Mesir, pen) menyatakan tentang adanya intervensi (penyusupan) alam pikiran asing, seperti paganisme Mesir, agama Budha, agama Hindu, agama Zaratrusta, ajaran Manu, Kristen, Yahudi, dan filsafat Yunani.
Dalam kaitan ini secara khusus filsafat Yunani telah:
1. Menimbulkan aliran-aliran filsafat di antaranya:
a. filsafat metafisika yang diwakili oleh Ibnu Sina di Timur dan Ibnu Rusyd di Barat;
b. filsafat alam (fisika) yang diwakili oleh Abu Bakar ar-Razi. c. filsafat emanasi yang diwakili oleh Suhrawardi.

2. Membantu kelahiran:
a. tasawuf zuhud yang diwakili oleh Abdul Haris al-Muhasibi;
b. tasawuf filsafat yang diwakili oleh al-Ghazali; c. tasawuf India, Kristen, dan neoplatonisme yang diwakili oleh Ibnu Arabi, Ibnu Sab'in, dan al-Hallaj.

Selanjutnya, AQ membuktikan bahwa esensi ajaran tasawuf dan praktik-praktik amaliahnya berasal dari asing, yakni Kristen, Yunani, dan Hindu, maka secara prinsipil bertentangan dengan Islam.

Kalau Abdul Qadir Djaelani membuktikannya dengan buku setebal 240 halaman, maka secara mudah ulama tua KH Ghofar Isma'il (almarhum, ayah penyair dr Taufik Isma'il) dalam ceramah-ceramah pengajian tafsirnya cukup menjelaskan pada umat, kalau ada guru yang memberikan amalan-amalan (lafal-lafal dzikir) untuk dibaca sekian kali, itu harus dilandasi hadits yang shohih. Bila tidak, maka perlu diragukan kebenarannya.[Mengoreksi Ajaran Tasauf, dari berbagai sumber].

DR.Yusuf Al-Qardhawi dalam tulisannya Tasauf Diantara Pemuji dan Pengelak, mengatakan tentang sufi dan tasauf diantaranya;
Di antara yang tampak dari penyimpangan sebagian orang-orang sufi adalah sebagai berikut:

1.  Dijadikannya  wijid  (perasaan) dan ilham sebagai ukuran untuk dasar pengetahuan dan lain-lain; juga dapat  dijadikanukuran   untuk  membedakan  antara  yang  benar  dan  salah. Sehingga sebagian ada yang berkata, "Aku  diberi  tahu  oleh hati dari Tuhanku (Allah)."Berbeda  dengan  ungkapan  dari  ahli  sunnah  bahwa apabila mereka meriwayatkan ini  dari  si  Fulan,  si  Fulan  sampai kepada Rasulullah SAW.

2.  Dibedakannya  antara  syariat  dan hakikat, antara hukum Islam dan yang bebas dari hukumnya.

3. Dikuasai oleh paham Jabariah dan Salabiah, sehingga dapat mempengaruhi  iman  dan akidah mereka, dimana manusia mutlak dikendalikannya. Maka tidak perlu lagi  melawan  dan  selalu bersikap pasif, tidak aktif.

Tidak dihargainya dunia dan perkembangannya. Apa yang ada di dunia  dianggapnya  sepele,  padahal  ayat  Al-Qur,an  telah menyatakan: "...dan janganlah kamu melupakan akan nasibmu (kebahagiaanmu) dari (kenikmatan) dunia..." (QS Al-Qashash: 77).

Pikiran dan teori di atas telah  tersebar  dan  dipraktikkan dimana-mana,  dengan  dasar  dan  paham bahwa hal ini bagian dari  Islam,  ditetapkan  oleh  Islam,  dan  ada   sebagian, terutama  dari golongan intelektual, keduanya belum mengerti benar akan hal itu karena tidak mempelajarinya.

Sekali lagi kita tandaskan, bahwa orang sufi dahulu,  selalu menyuruh  jangan  sampai  menyimpang  dari garis syariat dan hukum-hukumnya.

Ibnul Qayyim berkata mengenai  keterangan  dari  tokoh-tokoh sufi, "Tokoh-tokoh sufi dan guru besar mereka, Al-Junaid bin Muhammad (297 H),  berkata,  'Semua  jalan  tertutup  bagi manusia, kecuali jalan yang dilalui Nabi SAW.'"

Al-Junaid pun berkata, "Barangsiapa yang tidak hafal Al-Qur'an dan menulis hadis-hadis Nabi saw. maka tidak boleh dijadikan panutan dan ditiru, karena ilmu kita (tasawuf) terikat pada kitab Al-Qur'an dan As-Sunnah."

Abu Khafs berkata, "Barangsiapa yang tidak menimbang amal dan segala sesuatu dengan timbangan Al-Kitab dan As-Sunnah, serta tidak menuduh perasaannya (tidak membenarkan wijid-nya), maka mereka itu tidak termasuk golongan kaum tasawuf."

Abu Yazid Al-Basthami berkata, "Janganlah kamu menilai dan tertipu dengan kekuatan-kekuatan yang luar biasa, tetapi yang harus dinilai adalah ketaatan dan ketakwaan seseorang pada agama dan syariat pelaksanaannya."[Tasawuf Diantara Pemuji dan Pengelak,Eramuslim.com.Kamis, 12 Mei 2011 19:04 WIB].

            Dengan kenyataan demikian, maka seharusnya para da’i, ulama dan mubaligh gencar untuk menggelar da’wah melalui berbagai media untuk memberikan pengajaran yang benar terhadap islam sesuai dengan asholahnya tanpa dicampuri oleh pengaruh-pengaruh lain seperti Liberalisme, Sekulerisme, Pluralisme serta Tarekat dan Tasauf yang jelas-jelas sesat dan menyesatkan. Aktivis dakwah dan kita semuanya berkewajiban untuk meluruskan pemikiran yang salah kearah pemikiran yang benar dengan sumber yang benar yaitu Al Qur’an dan Al Hadits, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 2 Agustus 2011.M/ 2 Ramadhan 1432.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar