Syahid artinya orang yang
mati dalam rangka menegakkan agama Allah, apakah dalam peperangan ataupun
dibunuh oleh orang-orang zhalim bahkan dalam menapaki kehidupan ini yang penuh
dengan onak dan duri, yang penuh dengan ujian, fitnah dan cobaan maka
didalamnya terdapat peluang untuk syahid.Intinya syahid itu orang yang mati
dalam membela kebenaran, menegakkan keadilan dalam seluruh asfek perjuangan
dengan bersungguh-sungguh, sikap demikian disebut dengan jihad.
Jihad juga
tuntutan dari keimanan dalam rangka mempertaruhkan kalimat tauhid yang
diucapkan seseorang ketika mengaku sebagai muslim dengan klasifikasi yang
beragam, baik melalui ilmu, harta, tenaga, politik, ekonomi hingga menyerahkan
jiwa raga demi tegaknya syariat Allah di bumi ini;
’’Sesungguhnya
Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan
memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka
membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Allah di
dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya
(selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu
lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar” [At Taubah 9;111]
Berjihad fisabilillah itu termasuk amal yang
utama,disamping mengerjakan shalat tepat pada waktunya, dan berbakti kepada
kedua orangtua, demikian inti sari hadits dibawah ini;
”Dari Abu
Aburrahman Abdullah bin Mas’ud ra, berkata,”Saya bertanya kepada nabi Saw,”Amal
apakah yang lebih disenangi Allah?” beliau menjawab,”Mengerjakan shalat tepat
pada waktunya” kataku ”Kemudian apa lagi?” sabda nabi,”berbakti kepada kedua
orangtua”, aku bertanya lagi,”Kemudian apa?” sabda nabi,”Berjihad di jalan
Allah”[HR.Bukhari dan Muslim]
Adapun hadits-hadits lain tentang berjihad dan
keutamaannya antara lain adalah,”Berpagi-pagi
di dalam berjuang di jalan Allah atau senja hari adalah lebih baik daripada
mendapatkan keuntungan dunia dan seisinya”[HR.Bukhari dan Muslim]
Keuntungan dunia dengan segala isinya yang diraih manusia
tidaklah seberapa dibandingkan balasan yang akan diterima bagi mujahid di
akherat nanti, dunia hanya sementara, kesenangan yang dirasakanpun semua tiada
abadi, bila kita mampu meraih segala kesenangan dan kenikmatan dunia, paling
lama hanya enampuluh tahun demikian pula halnya kesengsaraan di dunia dirasakan
hanya sebatas usia manusia.
Rasulullah bersabda:”Menjaga garis
depan dalam berjihad di jalan Allah sehari semalam, adalah lebih baik daripada
puasa dan bangun malam sebulan penuh, dan jika mati ketika itu, amal yang biasa
dilakukan itu dilanjutkan dan diberi pahala dan rezeki serta aman dari fitnah
kubur” [HR.Muslim].
Garis depan
adalah posisi strategis untuk menghantam musuh dengan segala kemampuan yang
ada, tidak semua orang siap untuk berada pada garda ini kecuali mukmin sejati
yang telah ditempa dengan iman dan
tauhid melalui tarbiyah jihadiyah. Karena keberanian merekalah sehingga
rasul memberikan kabar gembira sebagaimana yang tercantum pada arti hadits
diatas.Mukmin sejati adalah orang-orang yang siap berjihad di jalan Allah
mencari kematian dan syurga. Sedangkan orang-orang lain berperang selain
dipimpin oleh thaghut mereka juga mengincar materi dunia dan fasilitasnya.
Begitu besarnya pahala yang diraih bagi mujahid yang menunaikan tugas jihadnya
sehingga wajar tidak sedikit para sahabat yang menangis dan menyesal sepulang
perang dengan selamat karena mereka
tidak syahid saja dalam peperangan ini.
Dapat
dipastikan bahwa orang yang membela kebenaran, berjihad di jalan Allah maka
kematian bagi mereka adalah syahid, yaitu kualitas akhir kehidupan yang tidak
ada balasannya kecuali syurga, niatnya ikhlas, caranya sesuai dengan apa yang
diteladankan oleh Rasulullah, dan tujuannyapun mencari ridha Allah semata.
Rasulullah bersabda,”Tiada kaki seorang
hamba yang telah berdebu karena perjuangan di jalan Allah tersentuh api neraka”
[HR.Bukhari]
Pada hadits
lainpun beliau telah menyampaikan sabdanya,”Dua mata yang tidak akan
tersentuh api neraka adalah; mata yang telah menangis karena takut kepada Allah
dan mata yang pernah berjaga dalam fisabilillah”[HR.Turmizi].
Orang yang mati dalam perjuangan itu disebut dengan
syuhada' yaitu orang yang mati syahid, bahkan Allah menerangkan mereka tidaklah
mati, bahkan hidup yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini,
di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan Hanya Allah
sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup itu.
" Dan janganlah kamu
mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu )
mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak
menyadarinya" [Al Baqarah 2;154].
Namun tidaklah selamanya orang
yang mati dalam peperangan sekalipun dapat dikatakan syahid, semuanya
tergantung niat dan motivasi dalam peperangan, apakah niatnya ikhlas dan
motivasinya untuk mencari ridha Allah, bila demikian maka itu mati syahid, tapi
bila sebaliknya justru bagi mereka neraka jahannam.
Dalam hadits
yang diriwayatkan Muslim diceritakan bahwa Allah akan membalas dan membuka
segala kepalsuan yang dilakukan manusia dikatakan bahwa pada hari kiamat akan
diadili terlebih dahulu tiga golongan manusia yaitu pejuang, kaum terpelajar
dan golongan hartawan. Ketiga golongan ini diperiksa satu persatu.
Kaum pejuang
ditanya, ”Apa yang telah engkau kerjakan
di dunia ?” mereka menjawab, ”Saya
berjuang dan bertempur pada jalan Engkau sehingga saya tewas di medan juang”,
Allah menyanggah, ”Engkau berdusta, kamu
tewas bukanlah karena mempertahankan
agama Allah tapi hanya karena mengharapkan supaya kamu disebut sebagai
pahlawan, tempatmu di neraka”.
Kaum terpelajar
ditanya, ”Apakah amal yang kamu kerjakan
?” mereka menjawab, ”Saya menuntut ilmu,
kemudian saya ajarkan pula kepada orang lain, dalam pada itu senantiasa saya
membaca Al Qur’an”, dengan keras Allah membentak mereka, ”Engkau pembohong, sebab engkau belajar dan
mengajar agar digelari orang ulama, kamu
senantiasa membaca Al Qur’an supaya disebut qori’, tempatmu di neraka”.
Kaum dermawan
ditanya, ”Allah telah melapangkan hidupmu
dan mengaruniakan rezeki yang banyak kepada engkau, apa yang telah kamu
kerjakan dengan nikmat itu?” mereka menjawab,”Saya nafkahkan harta itu hanya supaya engkau disebut orang dermawan,
tempatmupun di neraka”.
Dimasa
Rasulullah ada seorang lelaki bernama Kazman, dia selama ini dikenal baik
dengan Rasulullah dan para sahabat yang lain bahkan diapun ikut dalam jihad
bersama beliau, itulah orang munafiq selalu baik bila bertemu dengan orang yang
beriman. Ketika ummat islam sudah berangkat menuju medan jihad, Kazman tanpa
alasan tidak ikut pergi bersama Rasulullah. Tidak berada lama datang dua orang
wanita kepadanya dengan mengatakan,”Hai Kazman, kamu banci, pengecut, semua
lelaki pergi jihad bersama nabi, tapi engkau tidak pergi, malah enak-enakan di
rumah, dasar pengecut, tukar bajumu dengan rok kami ini”. Mendengar itu Kazman
naik emosinya, malu mendengarkan ocehan demikian, dia persiapkan segala
peralatan perang, dengan kuda yang paling kencang dia buru pasukan Rasulullah,
akhirnya dia berhasil bersatu dalam pasukan.
Dalam
peperangan itu dia mampu membunuh musuh dengan pedangnya, diapun terkena sekian
sabetan pedang dan tombak sehingga terhuyung menuju kematiannya,dia tidak tahan
dengan keadaan itu, kemudian dia ambil ujung pedangnya, dengan menahan sakit
dia tekan ujung pedang itu ke dadanya sehingga dia tersunggur jatuh, para
sahabat berseru, Kazman syahid, mendengar itu Rasulullah menyatakan, jangan
katakan Kazman syahid karena dia pergi jihad bukan karena Allah tapi karena
malu diolok-olok kaum wanita, maka tempatnya di neraka.
Ketika perang
Uhud sedang berkecamuk, kafir Quraisy sedang mengincar Hamzah bin Abdul
Muthalib untuk dibunuh, ini merupakan balas dendam mereka karena dalam perang
Badar Hamzah telah menewaskan ayah dan saudara Hindun. Hindun bt. ‘Utba
telah pula menjanjikan Wahsyi, orang Abisinia dan budak Jubair (b. Mut’im) akan
memberikan hadiah besar apabila ia berhasil membunuh Hamzah. Begitu juga Jubair
b. Mut’im sendiri, tuannya, yang pamannya telah terbunuh di Badr, mengatakan
kepadanya:“Kalau Hamzah paman Muhammad itu kau bunuh, maka engkau
kumerdekakan.” Wahsyi sendiri dalam hal ini bercerita sebagai berikut:
“Kemudian aku berangkat bersama
rombongan. Aku adalah orang Abisinia yang apabila sudah melemparkan tombak cara
Abisinia, jarang sekali meleset. Ketika terjadi pertempuran, kucari Hamzah dan
kuincar dia. Kemudian kulihat dia di tengah-fengah orang banyak itu seperti
seekor unta kelabu sedang membabati orang dengan pedangnya.Lalu tombak
kuayunkan-ayunkan, dan sesudah pasti sekali kulemparkan.Ia tepat mengenai
sasaran di bawah perutnya, dan keluar dari antara dua kakinya. Kubiarkan tombak
itu begitu sampai dia mati. Sesudah itu kuhampiri dia dan kuambil tombakku itu,
lalu aku kembali ke markas dan aku diam di sana, sebab sudah tak ada tugas lain
selain itu. Kubunuh dia hanya supaya aku dimerdekakan saja dari perbudakan.Dan
sesudah aku pulang ke Mekah, ternyata aku dimerdekakan.”
Ketika
perang Uhud itu selesai, kemenangan di tangan kafir Qurisy, mereka bergembira
termasuk Abu Sufyan karena dendamnya sudah terbayar.Tetapi isterinya, Hindun
bint ‘Utba tidak cukup hanya dengan kemenangan, dan tidak cukup hanya dengan
tewasnya Hamzah b. Abd’l-Muttalib, malah bersama-sama dengan warõita wanita
lain dalam rombongannya itu ia pergi lagi hendak menganiaya mayat-mayat
Muslimin; mereka memotongi telinga-telinga dan hidung-hidung mayat itu, yang
oleh Hindun lalu dipakainya sebagai kalung dan anting-anting.
Kemudian
diteruskannya lagi, dibedahnya perut Hamzah, dikeluarkannya jantungnya, lalu
dikunyahnya dengan giginya; tapi ia tak dapat menelannya. Begitu kejinya
perbuatannya itu, begitu juga perbuatan wanita-wanita anggota rombongannya,
bankan kaum prianyapun turut pula melakukan kejahatan serupa itu, sehingga Abu
Sufyan sendiri menyatakan lepas tangan dari perbuatan itu.Ia menyatakan, bahwa
dia samasekali tidak memerintahkan orang berbuat serupa itu, sekalipun dia
sudah terlibat di dalamnya. Bahkan ia pernah berkata, yang ditujukan kepada
salah seorang Islam. “Mayat-mayatmu telah mengalami penganiayaan.Tapi aku
sungguh tidak senang, juga tidak benci; aku tidak melarang, juga tidak
memerintahkan.”
Selesai
menguburkan mayat-mayatnya sendiri.Quraisypun pergi. Sekarang kaum Muslimin
kembali ke garis depan guna menguburkan mayat-mayatnya pula. Kemudian Muhammad
pergi hendak mencari Hamzah, pamannya. Bilamana kemudian ia melihatnya sudah
dianiaya dan perutnya sudah dibedah, ia merasa sangat sedih sekali, sehingga ia
berkata:
“Takkan
pernah ada orang mengalami malapetaka seperti kau ini.Belum pernah aku
menyaksikan suatu peristiwa yang begitu menimbulkan amarahku seperti kejadian
ini.” Lalu katanya lagi: “Demi Allah, kalau pada suatu ketika Tuhan memberikan
kemenangan kepada kami melawan mereka, niscaya akan kuaniaya mereka dengan cara
yang belum pernah dilakukan oleh orang Arab.”
Dalam
kejadian inilah firman Tuhan turun.“Dan kalau kamu mengadakan pembalasan,
balaslah seperti yang mereka lakukan terhadap kamu.Tetapi kalau kamu tabah
hati, itulah yang paling baik bagi mereka yang berhati tabah (sabar).Dan
hendaklah kau tabahkan hatimu, dan ketabahan hatimu itu hanyalah dengan
berpegang kepada Tuhan.Jangan pula engkau bersedih hati terhadap mereka, jangan
engkau bersesak dada menghadapi apa yang mereka rencanakan itu.”(Qur’an, 16: 126 - 127)
Lalu
Rasulullah memaafkan mereka, ditabahkannya hatinya dan ia melarang orang
melakukan penganiayaan. Diselubunginya jenazah Hamzah itu dengan mantelnya lalu
disembahyangkannya. Ketika itu Shafia bt Abd’l-Muttailb - saudara perempuannya
- juga datang. Ditatapnya saudaranya itu, lalu ia pun menyembahyangkannya dan
mendoakan pengampunan baginya.[Sejarah Hidup Muhammad, Muhammad Husein Haekal].
Pada
kesempatan lain, sahabat nabi yang bernama Huzaifah memberitahukan kalau dia
akan menikah dalam waktu dekat ini, semoga Nabi berkenan hadir dalam
pernikahannya itu, hal itu dipenuhi oleh Nabi. Karena ,Huzaifah sebagai
penganten baru tentu malam pertamanya tidak akan diganggu, padahal malam itu
Rasul telah menjadwalkan ummat islam untuk berjihad menghadapi orang kafir,
sehingga dimaklumi kalau Huzaifah tidak usah ikut jihad, inilah rukhshah atau
keringanan untuknya. Tapi malam pertama itu, di tengah malam dia mendengar
genderang perang sudah ditabuh, berarti pasukan sedang bergerak menuju lokasi
jihad, Huzaifah terkejut dan bangun, dia berfikir, kenapa tidak diajak untuk
jihad kalau ada jadwal berangkat malam ini, dia persiapkan segala sesuatu untuk
mengejar pasukan Rasulullah.
Saat
pamit kepada isterinya untuk berjihad, sang isteri menjawab,”Pergilan kanda,
penuhi panggilan jihad, bila engkau syahid, tunggu aku di pintu syurga”,
perjalananpun berlanjut, dengan pasti dia bisa mengejar rombongan, rupanya ketika sampai perang
sedang berlansung, Huzaifahpun lansung terjun ke gelanggang, dalam peperangan
itu dia mampu menaklukkan musuh dan diapun akhirnya rubuh dari kudanya,
Huzaifah syahid di malam pertamanya, dari kejauhan Nabi menyaksikan Malaikat
turun memandikan jenazah Huzaifah, Rasul berkata kepada sahabatnya, “Alangkah
bahagianya Huzaifah, dia syahid, jenazah dimandikan oleh Malaikat”, karena
malam itu dia belum sempat untuk mandi junub.
Setiap mukmin
dituntut jadi seorang mujahid dengan cita-cita sebagai syuhada’, yaitu
mati syahid, Imam Hasan Al Banna berkata,”Barangsiapa
yang bercita-cita untuk mati syahid maka dia akan mendapatkannya walaupun wafat di tempat tidur, dan sebaliknya orang
yang tidak punya cita-cita untuk syahid, dia tidak akan dapat syahadah walaupun
mati dalam peperangan”.
Selayaknya kita mengisi waktu untuk berjihad dengan
segala daya dan upaya menegakkan agama Allah melalui tangan dan lisan sehingga
kelak yang tegak di dunia ini adalah hukum Allah, sedangkan pelakunya akan
menemui syahadah atau syahid, yaitu kematian yang berharga sebagaimana
ulama-ulama dibawah ini, tubuhnya sudah hancur ditelan bumi tapi nama dan
jasanya tetap dikenang sepanjang zaman.
Imam
Ibnu al-Jauzy pernah kedatangan tamu yang membicarakan hal-hal yang tak
berguna.Dia meladeni mereka sembari menyerut pensil untuk menulis buku.Siang
dan malam beliau tidak henti-hentinya berpikir, menulis, mengajar dan
membaca.Imam Ibnu al-Jauzy pernah berkata, “Dari tanganku lahir dua ribu jilid
buku dan di tanganku juga telah bertaubat seratus ribu orang, dua puluh ribu
orang di antaranya masuk Islam.” Di antara karya-karyanya, Durratul Ikliil
4 jilid, Fadhail al-Arab, al-Amstaal, al-Manfaat fi Madzahib
al-Arba’ah 2 jilid, al-Mukhtar min al-Asy’ar 10 jilid, at-Tabshirah
3 jilid, Ru’us al-Qawariir 2 jilid, Shaidul Khathir, Kitab
al-Luqat (ilmu kedokteran) 2 jilid, dan sebagainya.
Jika
diberi umur yang panjang, niscaya mereka akan terus menuntut ilmu
sebanyak-banyaknya. Namun kenyataan tidaklah terjadi demikian. Karena ilmu di
dunia ini sangatlah banyak dan tak mungkin umur manusia yang pendek, dapat
menguasai semuanya, para ulama akhirnya membuat pengurutan ilmu-ilmu apa saja
yang “wajib” dikuasai oleh kaum muslimin. Imam Ibnu Qudamah dalam bukunya
berjudul Mukhtashar Minhajul Qashidin mengomentari hadits yang berbunyi,
“Mencari ilmu itu wajib atas setiap orang muslim,” dengan mengatakan bahwa yang
dimaksud ilmu wajib di sini adalah ilmu muamalah hamba terhadap Tuhannya.
Muamalah yang dibebankan di sini meliputi tiga macam: Keyakinan, perbuatan dan
apa yang harus ditinggalkan.[Manusia yang Tidak Pernah Mati, Chandra Kurniawan, Eramuslim,1 Mei 06 06:59 WIB].
Selain
ulama tersebut diatas, masih banyak lagi ulama dan da’i yang sudah mengorbankan
waktu, tenaga, fikiran dan jiwanya untuk melanjutkan perjuangan da’wah
berhadapan dengan kezhaliman thaghut dan keangkaramurkaan rezim sehingga mereka
banyak yang syahid di tiang gantungan seperti Sayid Qutb atau ditembus peluru
seperti Hasan Al Banna atau mendekam dalam penjara sebagaimana sebagaimana
Zainab Al Gazali dan banyak lagi yang menjadikan dirinya sebagai tumbal dari
perjuangan islam, semoga syahidnya mereka akan membakar semangat para mujahid
lainnya hingga akhir zaman,wallahu a’lam
[Cubadak Solok, 1 Agustus 2011.M/ 1 Ramadhan 1432.H].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar