Sebuah organ yang ada pada tubuh manusia
yang dinamakan dengan hati jadi perhatian besar dalam kehidupan sehari-hari,
ketika rasa bahagia menyelemutinya dinamakan “Senanghati”, saat dicederai
dengan perasaan sedih dinamakan “Sakithati”. Orang yang tidak tahu untung,
kurang ajar, keras kepala disebut ‘’Tidak punya hati’’, tidak bisa diarahkan,
berbuat semaunya “Beraja dihati”, hidup tertekan, tidak bahagia “Makan hati”
dan banyak lagi kata-kata yang berkaitan dengan hati. Bahkan Rasulullah
menyatakan bahwa baiknya manusia tergantung dari baiknya hati dan sebaliknya.
Firman Allah Ta’ala:
‘’Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita
gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al-Baqoroh: 155). Selain itu, orang
yang optimis selalu mengucapkan kalimah istirjaa (pernyataan kembali pada
Allah) ‘’(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘’Inna
lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun’’ (Al-Baqoroh: 156).
Dalam kitab Nashooihul
‘Ibad karya Syeikh Muhammad Nawawi Al-Bantani, disebutkan hadits mengenai
tiga hal yang harus diwaspadai oleh hati. Hal-hal yang harus diwaspadai
tersebut ialah:
Pertama,
hindari kesedihan di pagi hari dan mengeluhkan kesulitan hidup kepada orang
lain. Mulailah menempuh pagi hari kita dengan rasa syukur dan
kebahagiaan.Bersyukur karena Allah masih memberikan umur dan kesehatan. Jika
mengawali pagi hari dengan kesedihan, maka hidup yang dijalani pun akan terasa
berat dan sulit.
Bila seseorang terbiasa
bersedih di pagi hari, berarti seakan-akan ia mengeluhkan Allah. Mengeluhkan
nasib yang Allah takdirkan untuk kita. Melakukan syikayah (pengaduan)
atas nasib buruk yang dialami seseorang kepada orang lain termasuk pertanda
tidak ridha atas bagian yang telah Allah berikan. Seseorang hanya pantas
melakukan syikayah pada Allah, bukan pada selain-Nya. Lagi pula syikayah
pada Allah adalah doa.
Sungguh, Allah dekat
jika kita mendekat. Sebaliknya, Allah akan jauh manakala kita pun menjauh. Doa,
diucapkan dalam bahasa apa pun, jika kita ada keyakinan di hati kita pasti akan
dikabulkan oleh-Nya. Hal ini ditegaskan Allah dalam surah berikut, ’’ Dan
Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan
bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan
masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’’ (QS. Al-Mu’min: 60).
Kedua, hindari
kesedihan pagi hari karena urusan duniawi. Kesedihan yang terpancar pada hamba
Allah di pagi hari berarti ia tidak puas dengan ketetapan Allah. Urusan duniawi
memang penting.Namun, kesulitan duniawi tak perlu terus-menerus diratapi.Allah
mengisyaratkan agar seorang hamba menyeimbangkan kehidupan duniawi dan ukhrowi.Karena,
kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan.
’’Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.’’ (QS. Al-Qashash: 77).
’’Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.’’ (QS. Al-Qashash: 77).
Dalam ayat lain,
Allah berfirman, ’’Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda
gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala
kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. (QS. Muhammad: 36).
Jika ditinjau
dari sudut pandang psikologis, maka pakar psikologi Amerika, Dr. Dicks
memberikan resep hidup bahagia yang mungkin mulai saat ini dapat diterapkan.
Menurut Dr. Dicks hidup bahagia itu adalah seni keindahan yang memiliki sepuluh
dimensi.
Sepuluh resep
itu ialah melakukan pekerjaan yang kita cintai, memperhatikan kesehatan karena
kesehatan merupakan ruh kebahagiaan, memiliki tujuan hidup, menjalani kehidupan
apa adanya dan menerima dengan ikhlas segala ketetapan Tuhan, hidup hari ini
dengan tidak menyesali masa lalu serta gelisah dengan masa yang akan datang,
berpikir sebelum bertindak, hidup dengan memandang ke bawah (sederhana),
membiasakan tersenyum dan berkawan dengan orang-orang yang optimis, berusaha
membahagiakan orang lain, dan memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang bagus
sebagai jalan menuju kebahagiaan.
Ketiga,hindari
menghormati seseorang karena kekayaannya.Seseorang yang menghormati seseorang
karena kekayaannya, berarti sungguh lenyaplah duapertiga agamanya.Harta dan
tahta kerap membutakan mata hati manusia.
Terlebih di
zaman yang semakin dahsyat ini, di mana segala sesuatu hanya dipandang dari
segi materi belaka.Sebagai contoh, banyak orang yang kurang mampu tak bisa
berobat dengan layak lantaran mereka tidak mempunyai uang.Padahal sejatinya,
tidak ada yang abadi di dunia ini.Termasuk harta kekayaan. Semua itu akan
lenyap. Hanya amal jariah, anak sholeh dan ilmu yang bermanfaat yang abadi
sebagai bekal di akhirat nanti.
Allah
menganjurkan agar kita menghormati seseorang karena ketinggian ilmunya, bukan
kekayaannya.Karena seseorang yang memiliki keluasan ilmu pengetahuan lebih
mulia derajatnya di hadapan Allah ketimbang orang yang memiliki banyak harta
namun kosong ilmu.
’’Allah
meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu dengan beberapa derajat.’’
(QS. Al-Mujaadalah: 11). Bahkan, Allah menunjukkan jalan bahwa siapa yang ingin
meraih kehidupan dunia, akhirat dan kedua-duanya (dunia-akhirat) hanya dengan
ilmu.’’Barang siapa yang menginginkan kehidupan dunia, hendaklah dengan
ilmu.Siapa yang ingin kehidupan akhirat dengan ilmu.Dan siapa yang menginginkan
keduanya (dunia-akhirat), juga dengan ilmu.’’ (HR. Bukhori dan Muslim).[Republika.co.id.Ina
Febriani,Tiga Hal
yang Harus Diwaspadai Hati,Selasa, 17 Agustus 2010, 17:32 WIB].
Mengeluh, sedih dan memuji orang
lain merupakan cetusan hati yang harus berhati-hati menjaganya, keluhan yang
berlarut-larut akan menjadikan hati semakin sakit dikala tidak ada solusi yang
didapat, sedih yang diperturutkan membuat hati gundah gulana dan memuji orang
yang bukan pada tempatnya membuat hati kita tidak ikhlas, artinya hadapilah
segala problem dengan baik, jangan sampai semuanya dimasukkan ke hati.
Rasa sakit pada fisik manusia mudah
mencari obatnya, ada dokter dan apotik yang dapat menunjang penyelesaian
penyakit itu dengan izin Allah, tapi kalau hati
yang sakit sangat sulit pengobatannya, harus diterapi khusus dengan
butir-butir nasehat dari ajaran islam.
Suatu
hari, seorang laki-laki menemui Nabi Muhammad SAW, "Wahai Rasulullah,
berwasiatlah kepadaku."Lalu Rasulullah bersabda, "Janganlah kamu
marah!"Beliau mengulanginya berkali-kali, lalu bersabda, "Janganlah
kamu marah." (HR Bukhari)
Hadis
yang diriwayatkan Abu Hurairah RA di atas berisi wasiat Rasulullah kepada
umatnya agar menjauhi berbagai penyakit hati, seperti marah, dendam, iri, serta
dengki kepada sesama.Ada dua jenis penyakit yang senantiasa melekat pada tubuh
manusia, yaitu penyakit fisik dan penyakit hati.
Penyakit
fisik terkadang mendapat perhatian lebih ketimbang penyakit hati.Padahal,
penyakit hati pun berpotensi menimbulkan efek yang luar biasa. Banyak
yang tak menyadari bahwa penyakit hati merupakan sesuatu yang berbahaya.
Berbeda
dengan penyakit fisik yang kasat mata dan dapat dirasakan, penyakit hati justru
tersembunyi. Meski tak terlihat, penyakit hati akan melahirkan gangguan
psikologis yang berpengaruh pada kesehatan fisik. Salah satu penyakit
hati yang sering kali muncul pada seorang manusia adalah dendam.[Republika co.id.,Menjauhi Penyakit Hati,Selasa, 19 Oktober 2010, 09:32 WIB].
Ada satu pepatah
Arab meyebutkan: Likulli dzi ni'matin mahsudun.Kalimat ini memiliki
semantikal bahwa setiap orang yang diberi nikmat pasti ada saja yang tidak
suka. Dengan kata lain, seseorang akan hasud bila ada temannya yang mendapatkan
kebahagiaan. Begitu sebaliknya, ia merasa bahagia apabila temannya mendapatkan
kesusahan.
Dengki
atau merasa iri hati pada orang lain merupakan salah satu penyakit hati yang
sangat berbahaya, sampai-sampai dalam sebuah hadis Nabi SAW ditegaskan bahwa
penyakit ini dapat menghapuskan amal-amal baik kita laksana api yang memakan
kayu bakar. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Dalam
hidup ini, kita dituntut bersyukur atas segala limpahan kurnia yang telah Allah
SWT anugerahkan kepada kita.Perintah itu termaktub dalam firman-Nya, "Dan
(ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur,
pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'." (QS Ibrahim [14] :
7).
Berlandaskan
kalam Ilahi tersebut, sudah sepatutnya kita mensyukuri apa pun yang kita
miliki, dengan meminjam istilah motivator kenamaan Mario Teguh, mensyukuri dan
bahagia dengan apa adanya kita. Bahagia dan kesedihan (kesulitan) dalam hidup
ini harus kita terima dan kita jalani dengan senang hati.Rasulullah mengajarkan
dalam masalah dunia kita harus melihat ke bawah, karena sangat dimungkinkan
masih banyak saudara-saudara kita yang potret kehidupannya masih terpuruk di
bawah kita.Sedangkan untuk masalah akhirat, kita diperintahkan untuk melihat ke
atas demi merangsang kita dalam melakukan amal ibadah kepada Allah SWT. Kita
harus mengukur kualitas ibadah kita dengan orang lain, agar semakin mendekatkan
diri pada-Nya.
Penyakit iri adalah penyakit
rohani yang harus dibuang jauh-jauh dalam diri kita.Penyakit rohani ini lebih
berbahaya dari penyakit jasmani.Oleh karena itu, sebelum "virus hati"
ini semakin parah dalam menggerogoti hati kita, maka sedini mungkin kita harus
memiliki "anti virus" yang ampuh untuk menghilangkannya.
Pertama, bersyukur kepada
Allah SWT atas nikmat yang telah diberi-Nya, seperti yang telah dipaparkan di
atas.Kedua, selalu berzikir kepada Sang Khalik.Zikir bisa dilakukan dalam
beberapa keadaan, baik ramai maupun sepi.Dengan melantukan kalimah
toyyibah diharapkan perasaan iri hati ini lenyap dari hati kita dan
diganti dengan rasa ketenangan.
Karena zikir adalah bentuk psikoterapi yang dapat digunakan sebagai terapi dahsyat untuk menyembuhkan berbagai penyakit rohani.Allah berfirman, "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah.Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram." (ar-Ra'd [13] : 28).[Republika.co.id.Nasrullah Nurdin,Penyakit Hati,Rabu, 13 April 2011 12:48 WIB]
Orang
yang beriman dalam kehidupan sehari-hari selalu menaikkan poltase imannya
hingga kepada derajat taqwa, hal itu
akan mempengaruhi hatinya, dia sangat sensitive terhadap dosa yang dapat
merusak hatinya, mata hatinya sangat
tajam memandang hal yang kurang dia lakukan sehingga membuat dia berusaha untuk
memperbaiki diri, keluarga dan masyarakatnya.
Syekh Atha' as-Silmi dikenal sebagai guru mengaji yang tulus. Selain itu, ia juga dikenal sebagai seorang yang pandai menenun pakaian. Sekali dalam seminggu, ia membawa hasil tenunannya ke pasar untuk dijual. Syekh Atha' as-Silmi sangat yakin bahwa tenunannya sangat apik dan tak ada cacat.
Di tengah hiruk-pikuk keramaian pasar, kalimat tasbih dan tahmid mengiringi hembusan-hembusan napasnya.Tiba-tiba, ada seseorang yang mendekat dan melihat-lihat pakaian tenunannya.Orang tersebut adalah seorang penjahit.Kemudian, orang itu berkata, "Baju ini cukup bagus.Namun sayang, ada cacatnya, ini, ini, dan ini."
Dengan tanpa kata, Syekh Atha' menyahut pakaiannya dari tangan orang itu.Kemudian, dia duduk dan menangis terisak-isak.Orang itu bingung melihat Syekh Atha' menangis. Namun, penyesalan tampak di wajahnya atas apa yang diucapkan. Dia meminta maaf bila ucapan tadi melukai hati.Dan, dia mau membeli tenunan itu berapa pun harganya.
Kemudian, Syekh Atha' berkata, "Sebab yang menyebabkan aku menangis bukan seperti yang kamu kira.Aku telah bersungguh-sungguh menenun baju ini.Tenunan baju ini tidak seperti baju-baju lain yang telah aku buat.Aku membuatnya lebih halus, lalu kemudian aku tambahkan keindahan di dalamnya.Setelah itu, aku periksa dengan amat teliti untuk memastikan tidak ada cacat di dalamnya.
Tapi, ketika hasil tenunanku ini diperiksa oleh manusia, terlihat ada cacat di bagian yang mana aku tidak menyadarinya.Lalu, bagaimana nanti dengan amal-amal perbuatan kita tatkala diperiksa oleh Allah, Zat yang Maha Tahu di Hari Kiamat nanti?Berapa banyak cacat dan dosa yang akan tampak dari amal ibadah kita, dan itu yang tidak kita sadari!"
Kisah di atas menggambarkan bahwa orang yang bertakwa, sangat sensitif dalam keimanan.Apa yang terjadi di hadapannya langsung mengetuk hatinya untuk ingat terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah. Mereka sangat takut akan segala kekurangan ibadah kepada Allah. Mereka sangat sedih bila amal ibadah yang dikerjakannya selama ini terdapat kekurangan dan ketidaksempurnaan.Hal itu, dapat menyebabkan berkurangnya pahala atau bahkan tertolaknya amalan yang dikerjakan.Jika itu terjadi, niscaya sia-sialah amal ibadahnya.
Imam Ibnu Jauzi menuturkan, "Ketakwaan dan keimanan akan mempertajam mata hati pelakunya.Apa pun peristiwa yang terjadi di sekitar, ia akan dapat mengambil hikmah dan pelajaran darinya. Panasnya musim kemarau mengingatkan pada api neraka, gelapnya malam mengingatkan gelap gulitanya alam kubur, hawa sejuk dan indahnya musim semi mengilhami untuk mencari rezeki yang halal."[Republika.co.id.,Mata Hati yang Tajam,Rabu, 29 September 2010, 09:20 WIB].
Keberhasilan
apa saja, apalagi keberhasilan dakwah, semuanya tergantung hati yang
mengembannya, hati yang kusam, berdebu penuh dosa maka dakwah tidak akan
mengalami kehancuran, hati yang cerah dan terang bersinar maka dakwah akan
berjalan dengan lancer, asahlah mata hati agar dia mampu menyemburatkan
sinarnya yang menerangi semua lapisan kehidupan di dunia ini.
Perjalanan dakwah yang yang
panjang menuntut ketahanan stamina yang prima.Saking tidak sabarnya, terkadang
membuat seseorang terjebak oleh perasaannya sendiri.Perasaan yang bila
diibaratkan dalam sebuah perjalanan seperti fatamorgana. Ketika memasuki jalan
tol di siang hari, Anda akan melihat di ujung jalan seperti ada genangan air di
aspal yang panas. Setelah dekat, ternyata cuma bayangan.
Betapa banyak aktivis yang
merasa paling kesepian, merasa paling berkeringat, merasa paling senior dan di
saat yang sama dirinya merasa yang paling dizalimi. Akhirnya merasa putus asa
meratapi lingkungannya.Menyalahkan semua orang dan akhirnya memilih istirahat
dari jalan dakwah. Atau pindah ke gerakan lain. Bahkan ada yang berbalik menjadi
penentang dakwah.
Betapa orang yang pintar
berbicara dan mengaku pakar bertebaran ibarat pedagang kaki lima. Mereka
menjajakan asongan. Isme-isme mereka jajakan dengan segala cara yang memikat.
Di antara faktor yang
mendorong seseorang untuk berbicara tanpa ilmu adalah cinta dunia dan
kedudukan. Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya al-Fawaid hal dengan panjang
lebar menjelaskan: “Setiap ulama yang lebih mementingkan dunia dan mencintainya
pasti akan berbicara atas Allah tanpa ilmu yang benar baik dalam fatwanya atau
dalam mengabarkan dan memegangi hukum Allah. Hal itu karena hukum-hukum Allah
hampir seluruhnya bertentangan dengan kehendak orang, lebih-lebih orang yang
cinta pangkat dan mengikuti syahwat. Mereka tidak akan mendapatkan apa yang
mereka inginkan melainkan dengan menentang dan menolak al-haq.
Bila seseorang alim atau
seorang hakim cinta pangkat dan mengikuti syahwat, maka tujuannya tidak akan
tercapai kecuali bila dia menentang al-haq yang merintangi keinginannya.
Terlebih lagi bila dia telah termakan syubhat, maka terkumpullah syahwat dan
syubhat yang akhirnya al-haq pun lenyap darinya.”
Ingatlah
selalu nasihat berharga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, "Janganlah engkau
jadikan hatimu terhadap syubhat seperti spon (karet busa) yang menyerapnya serta
merta: Tetapi jadikanlah hatimu seperti kaca yang kuat. Sehingga tatkala
syubhat mampir padanya, dia dapat melihat dengan kejernihannya dan
mengusir dengan kekuatannya. Tetapi apabila engkau jadikan hatimu menyerap
setiap syubhat, maka dia akan menjadi sarang syubhat:"[Cyber Sabili, Eman Mulyatman Hati Bersinar Dakwah LancarSabtu, 13 November 2010 20:39].
Kebersinaran
dakwah hingga ke pelosok dunia merupakan berkah Allah terhadap agama ini yang
diberikan kepada para duat yang telah menggunakan hatinya dalam menyampaikan
dakwahnya itu, pesan yang disampaikan dengan hati maka akan diterima pula oleh
hati dan sebaliknya bila pesan dakwah disampaikan dengan suara yang keras maka
dia akan berhenti hanya sampai di telinga pendengarnya.
Kata-kata mempunyai kekuatan
yang luar biasa. Bahkan terkadang ia lebih ampuh daripada senjata. Dalam hal
ini pepatah lama masih relevan, bahwa lidah lebih tajam daripada pedang.Betapa
sering sebuah perang berkobar disebabkan oleh kata.Demikian pula sebaliknya,
perang dapat dihentikan oleh sebuah diplomasi atau secarik kertas perjanjian
damai.Seorang penulis wanita Jerman, Annemarie Schimmel, berbicara tentang
kekuatan kata.“Kata yang baik laksana pohon yang baik.Kata diyakini sebagai
suatu kekuatan kreatif oleh sebagian besar agama di dunia; katalah yang
mengantarkan wahyu; kata diamanahkan kepada umat manusia sebagai titipan yang
harus dijaga, jangan sampai ada yang teraniaya, terfitnah, atau terbunuh oleh
kata-kata.”
Karena kata-kata seseorang
bisa bergairah, bersemangat, terhibur dari duka, seorang pasien akan mempunyai
harapan sembuh oleh kata-kata dokter. Yang terkadang kondisi sesungguhnya
berlawanan dengan kata-kata itu, sekadar untuk menerbitkan semangat.Juga karena
kata-kata, hati yang tadinya cerah berbunga-bunga menjadi redup sedih.Tadinya
optimis menjadi pesimis.Bersemangat menjadi patah arang.
Kata-kata sebagai alat yang
ampuh untuk berbagai kepentingan orang.Melobi, mempengaruhi, merayu, menghina,
melecehkan, membalaskan sakit hati. Dan kata orang, ia adalah senjata bermata
dua. Jika kata-kata itu keluar dari orang baik dan suka melakukan perbaikan,
maka dampak yang ditimbulkannya akan positif. Namun jika ia diungkapkan oleh
orang jahat dan mencintai tersebarnya kejahatan di muka bumi ini, dampak yang
ditimbulkannya tentu kejahatan itu sendiri sebagai produk hatinya yang jahat
itu.
Seorang dai dengan tugas
dakwahnya mengajak orang kepada Allah dalam taat dan ibadah kepada-Nya.
Aktivitas dakwahnya sangat didominasi oleh penyampaian kata-kata.Sebab sasaran
yang hendak dituju adalah akal manusia itu sendiri. Jika tujuan dakwah adalah
melakukan perubahan (taghyir), maka faktor utama yang dapat mempengaruhi proses
perubahan adalah akal pikiran. Dengan adanya perubahan pada tataran pemahaman
dan pola pikir, maka perubahan persepsi dan tingkah laku bisa terjadi.
Penyampaian kata-kata bahkan
menjadi titik tekan tugas para nabi dan rasul. Seperti yang Allah tegaskan
kepada Rasulullah saw. Allah berfirman, “Jika mereka berpaling maka Kami tidak
mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah
menyampaikan (risalah).” (As-Syura: 48)
Sebagai
penerus tugas para nabi dan rasul, seorang dai berdakwah menyampaikan risalah
kepada manusia. Hendaknya ia selalu meningkatkan kemampuan dan kreativitasnya
dalam memasarkan risalah ini kepada manusia.[Republika.co.id.Asfuri Bahri, Lc,Agar Pesan Sampai Ke Hati ,1/4/2007 | 14 Rabiul Awwal 1428 H].
Sebenarnya
dalam urusan apa saja, pekerjaan apa saja, apakah kepentingan masyarakat dengan
dakwah, kepentingan pribadi dalam mencari rezeki, semuanya harus dikerjakan
secara ihsan dan itqan yaitu secara baik dan rapi, intinya bekerja tidak
sembarang bekerja tapi bekerja dengan hati nurani sehingga hasilnya menggembirakan kita.
Dalam
proses mencari rezeki, seseorang akan menghadapi berbagai kendala dan
rintangan. Rintangan terberat adalah ketika hati nurani tak lagi disertakan
dalam bekerja, dan lebih memilih menuruti hawa nafsu. Ketika nafsu lepas
kendali, rasa malu untuk melakukan keburukan tak ada lagi, segala macam cara
dihalalkan, norma dan etika tak lagi penting, bahkan iman akan mudah
dikorbankan. "Sesungguhnya sebagian ajaran yang masih dikenal umat manusia
dari perkataan para nabi adalah 'jika engkau tidak malu, berbuatlah
sesukamu'." (HR Bukhari).
Bila kondisi semacam ini terus berlanjut, akan timbul perilaku-perilaku impulsif yang bisa menyeret pada kepribadian yang menyimpang (personality disorder). Tidak ada kecemasan ketika melakukan kejahatan dan seusai berbuat tak tebersit perasaan bersalah (guilty feeling), yang lebih ironis perbuatan jahatnya dianggap sesuatu yang wajar.
Perilaku seperti itu merugikan
banyak pihak dan diri sendiri. Tidak saja lahan pekerjaan dan kepercayaan orang
lain kepadanya yang terancam lenyap, tapi kerugian yang amat besar telah
menantinya yaitu bangkrutnya kekayaan hakiki (hati nurani). Dan, pada saat hati
nurani telah mati, tak ada lagi ukuran untuk membedakan antara yang baik dan
yang buruk, setiap tindakan cenderung melampaui batas, perbuatan baik dan
ketaatan menjadi sesuatu yang remeh, tak sadar bahwa hidup di dunia dalam
genggaman Zat Pencipta yang setiap saat siap untuk dicabut, dan lupa bahwa
kehidupan dunia menjadi penentu nasib di kehidupan akhirat yang kekal.[Republika.co.id.Muhammad
Saifudin Kodiran, Bekerja dengan Hati, Minggu, 10 April 2011 11:03 WIB].
Dengan cermat Aa Gym menyatakan
dalam sebuah tulisannya yang bertajuk Selalu Manata Hati, [Tausiyah Manajemen
Kalbu, Aa Gym].
Kebaikan
yang ditunaikan dan kejahatan yang diperbuat seseorang pastilah akan kembali
kepada pelakunya. Jika berbuat kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala sesuai
dengan takaran yang telah dijanjikan-Nya. Sebaliknya, jika berbuat kejahatan,
niscaya ia akan mendapatkan balasan siksa sesuai dengan kadar kejahatan yang
dilakukannya. Sedangkan kebaikan dan kejahatan tidaklah bisa berhimpun dalam satu
kesatuan.
Orang yang hatinya tertata rapih adalah orang yang telah berhasil merintis
jalan ke arah kebaikan.Ia tidak akan tergoyahkan dengan aneka rayuan dunia yang
tampak menggiurkan. Ia akan melangkah pada jalan yang lurus. Dititinya tahapan
kebaikan itu hingga mencapai titik puncak. Sementara itu ia akan berusaha
sekuat-kuatnya untuk berusaha sekuat-kuatnya untuk memelihara dirinya dari
sikap riya, ujub, dan perilaku rendah lainnya. Oleh karenanya, surga
sebaik-baiknya tempat kembali, tentulah telah disediakan bagi kepulangannya ke
yaumil akhir kelak. Bahkan ketika hidup di dunia yang singkat ini pun ia akan
menikmati buah dari segala amal baiknya.
Dengan demikian, sungguh betapa beruntungnya orang yang senantiasa
bersungguh-sungguh menata hatinya karena berarti ia telah menabung aneka
kebaikan yang akan segera dipetik hasilnya dunia akhirat. Sebaliknya alangkan
malangnya orang yang selama hidupnya lalai dan membiarkan hatinya kusut masai
dan kotor. Karena, jangankan akhirat kelak, bahkan ketika hidup di dunia pun
nyaris tidak akan pernah merasakan nikmatnya hidup tenteram, nyaman, dan
lapang.
Sebuah
ungkapan menyatakan, biarlah sempit asal hati lapang, artinya tempat yang
sempit sekalipun kalau dihuni oleh yang punya hati maka suasananya akan baik
dan lapang, untuk itu hati-hatilah dalam menjaga hati, wallahu a’lam [MengkoangPahang
Malaysia, 02 Juni 2011M/ 29 Jumadil Akhir 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar