Selasa, 19 Januari 2016

120. Hati



Sebuah organ yang ada pada tubuh manusia yang dinamakan dengan hati jadi perhatian besar dalam kehidupan sehari-hari, ketika rasa bahagia menyelemutinya dinamakan “Senanghati”, saat dicederai dengan perasaan sedih dinamakan “Sakithati”. Orang yang tidak tahu untung, kurang ajar, keras kepala disebut ‘’Tidak punya hati’’, tidak bisa diarahkan, berbuat semaunya “Beraja dihati”, hidup tertekan, tidak bahagia “Makan hati” dan banyak lagi kata-kata yang berkaitan dengan hati. Bahkan Rasulullah menyatakan bahwa baiknya manusia tergantung dari baiknya hati dan sebaliknya.

Firman Allah Ta’ala: ‘’Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al-Baqoroh: 155). Selain itu, orang yang optimis selalu mengucapkan kalimah istirjaa (pernyataan kembali pada Allah) ‘’(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘’Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun’’ (Al-Baqoroh: 156).
Dalam kitab Nashooihul ‘Ibad karya Syeikh Muhammad Nawawi Al-Bantani, disebutkan hadits mengenai tiga hal yang harus diwaspadai oleh hati. Hal-hal yang harus diwaspadai tersebut ialah:
Pertama, hindari kesedihan di pagi hari dan mengeluhkan kesulitan hidup kepada orang lain. Mulailah menempuh pagi hari kita dengan rasa syukur dan kebahagiaan.Bersyukur karena Allah masih memberikan umur dan kesehatan. Jika mengawali pagi hari dengan kesedihan, maka hidup yang dijalani pun akan terasa berat dan sulit.
Bila seseorang terbiasa bersedih di pagi hari, berarti seakan-akan ia mengeluhkan Allah. Mengeluhkan nasib yang Allah takdirkan untuk kita. Melakukan syikayah (pengaduan) atas nasib buruk yang dialami seseorang kepada orang lain termasuk pertanda tidak ridha atas bagian yang telah Allah berikan. Seseorang hanya pantas melakukan syikayah pada Allah, bukan pada selain-Nya. Lagi pula syikayah pada Allah adalah  doa.
Sungguh, Allah dekat jika kita mendekat. Sebaliknya, Allah akan jauh manakala kita pun menjauh. Doa, diucapkan dalam bahasa apa pun, jika kita ada keyakinan di hati kita pasti akan dikabulkan oleh-Nya. Hal ini ditegaskan Allah dalam surah berikut, ’’ Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’’ (QS. Al-Mu’min: 60).
Kedua, hindari kesedihan pagi hari karena urusan duniawi. Kesedihan yang terpancar pada hamba Allah di pagi hari berarti ia tidak puas dengan ketetapan Allah. Urusan duniawi memang penting.Namun, kesulitan duniawi tak perlu terus-menerus diratapi.Allah mengisyaratkan agar seorang hamba menyeimbangkan kehidupan duniawi dan ukhrowi.Karena, kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan. 

’’Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.’’ (QS. Al-Qashash: 77).
Dalam ayat lain, Allah berfirman, ’’Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. (QS. Muhammad: 36).
Jika ditinjau dari sudut pandang psikologis, maka pakar psikologi Amerika, Dr. Dicks memberikan resep hidup bahagia yang mungkin mulai saat ini dapat diterapkan. Menurut Dr. Dicks hidup bahagia itu adalah seni keindahan yang memiliki sepuluh dimensi.
Sepuluh resep itu ialah melakukan pekerjaan yang kita cintai, memperhatikan kesehatan karena kesehatan merupakan ruh kebahagiaan, memiliki tujuan hidup, menjalani kehidupan apa adanya dan menerima dengan ikhlas segala ketetapan Tuhan, hidup hari ini dengan tidak menyesali masa lalu serta gelisah dengan masa yang akan datang, berpikir sebelum bertindak, hidup dengan memandang ke bawah (sederhana), membiasakan tersenyum dan berkawan dengan orang-orang yang optimis, berusaha membahagiakan orang lain, dan memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang bagus sebagai jalan menuju kebahagiaan.
Ketiga,hindari menghormati seseorang karena kekayaannya.Seseorang yang menghormati seseorang karena kekayaannya, berarti sungguh lenyaplah duapertiga agamanya.Harta dan tahta kerap membutakan mata hati manusia.
Terlebih di zaman yang semakin dahsyat ini, di mana segala sesuatu hanya dipandang dari segi materi belaka.Sebagai contoh, banyak orang yang kurang mampu tak bisa berobat dengan layak lantaran mereka tidak mempunyai uang.Padahal sejatinya, tidak ada yang abadi di dunia ini.Termasuk harta kekayaan. Semua itu akan lenyap. Hanya amal jariah, anak sholeh dan ilmu yang bermanfaat yang abadi sebagai bekal di akhirat nanti.
Allah menganjurkan agar kita menghormati seseorang karena ketinggian ilmunya, bukan kekayaannya.Karena seseorang yang memiliki keluasan ilmu pengetahuan lebih mulia derajatnya di hadapan Allah ketimbang orang yang memiliki banyak harta namun kosong ilmu.
’’Allah meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu dengan beberapa derajat.’’ (QS. Al-Mujaadalah: 11). Bahkan, Allah menunjukkan jalan bahwa siapa yang ingin meraih kehidupan dunia, akhirat dan kedua-duanya (dunia-akhirat) hanya dengan ilmu.’’Barang siapa yang menginginkan kehidupan dunia, hendaklah dengan ilmu.Siapa yang ingin kehidupan akhirat dengan ilmu.Dan siapa yang menginginkan keduanya (dunia-akhirat), juga dengan ilmu.’’ (HR. Bukhori dan Muslim).[Republika.co.id.Ina Febriani,Tiga Hal yang Harus Diwaspadai Hati,Selasa, 17 Agustus 2010, 17:32 WIB].
            Mengeluh, sedih dan memuji orang lain merupakan cetusan hati yang harus berhati-hati menjaganya, keluhan yang berlarut-larut akan menjadikan hati semakin sakit dikala tidak ada solusi yang didapat, sedih yang diperturutkan membuat hati gundah gulana dan memuji orang yang bukan pada tempatnya membuat hati kita tidak ikhlas, artinya hadapilah segala problem dengan baik, jangan sampai semuanya dimasukkan ke hati.
            Rasa sakit pada fisik manusia mudah mencari obatnya, ada dokter dan apotik yang dapat menunjang penyelesaian penyakit itu dengan izin Allah, tapi kalau hati  yang sakit sangat sulit pengobatannya, harus diterapi khusus dengan butir-butir nasehat dari ajaran islam.

Suatu hari, seorang laki-laki menemui Nabi Muhammad SAW, "Wahai Rasulullah, berwasiatlah kepadaku."Lalu Rasulullah bersabda, "Janganlah kamu marah!"Beliau mengulanginya berkali-kali, lalu bersabda, "Janganlah kamu marah." (HR Bukhari)

Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah RA di atas berisi wasiat Rasulullah kepada umatnya agar menjauhi berbagai penyakit hati, seperti marah, dendam, iri, serta dengki kepada sesama.Ada dua jenis penyakit yang senantiasa melekat pada tubuh manusia, yaitu penyakit fisik dan penyakit hati.

Penyakit fisik terkadang mendapat perhatian lebih ketimbang penyakit hati.Padahal, penyakit hati pun berpotensi menimbulkan efek yang luar biasa.  Banyak yang tak menyadari bahwa penyakit hati merupakan sesuatu yang berbahaya.

Berbeda dengan penyakit fisik yang kasat mata dan dapat dirasakan, penyakit hati justru tersembunyi. Meski tak terlihat, penyakit hati akan melahirkan gangguan psikologis yang berpengaruh pada kesehatan fisik.  Salah satu penyakit hati yang sering kali muncul pada seorang manusia adalah dendam.[Republika co.id.,Menjauhi Penyakit Hati,Selasa, 19 Oktober 2010, 09:32 WIB].

Ada satu pepatah Arab meyebutkan: Likulli dzi ni'matin mahsudun.Kalimat ini memiliki semantikal bahwa setiap orang yang diberi nikmat pasti ada saja yang tidak suka. Dengan kata lain, seseorang akan hasud bila ada temannya yang mendapatkan kebahagiaan. Begitu sebaliknya, ia merasa bahagia apabila temannya mendapatkan kesusahan.

Dengki atau merasa iri hati pada orang lain merupakan salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya, sampai-sampai dalam sebuah hadis Nabi SAW ditegaskan bahwa penyakit ini dapat menghapuskan amal-amal baik kita laksana api yang memakan kayu bakar. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).
            Dalam hidup ini, kita dituntut bersyukur atas segala limpahan kurnia yang telah Allah SWT anugerahkan kepada kita.Perintah itu termaktub dalam firman-Nya, "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'." (QS Ibrahim [14] : 7).

            Berlandaskan kalam Ilahi tersebut, sudah sepatutnya kita mensyukuri apa pun yang kita miliki, dengan meminjam istilah motivator kenamaan Mario Teguh, mensyukuri dan bahagia dengan apa adanya kita. Bahagia dan kesedihan (kesulitan) dalam hidup ini harus kita terima dan kita jalani dengan senang hati.Rasulullah mengajarkan dalam masalah dunia kita harus melihat ke bawah, karena sangat dimungkinkan masih banyak saudara-saudara kita yang potret kehidupannya masih terpuruk di bawah kita.Sedangkan untuk masalah akhirat, kita diperintahkan untuk melihat ke atas demi merangsang kita dalam melakukan amal ibadah kepada Allah SWT. Kita harus mengukur kualitas ibadah kita dengan orang lain, agar semakin mendekatkan diri pada-Nya.

Penyakit iri adalah penyakit rohani yang harus dibuang jauh-jauh dalam diri kita.Penyakit rohani ini lebih berbahaya dari penyakit jasmani.Oleh karena itu, sebelum "virus hati" ini semakin parah dalam menggerogoti hati kita, maka sedini mungkin kita harus memiliki "anti virus" yang ampuh untuk menghilangkannya.

Pertama, bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberi-Nya, seperti yang telah dipaparkan di atas.Kedua, selalu berzikir kepada Sang Khalik.Zikir bisa dilakukan dalam beberapa keadaan, baik ramai maupun sepi.Dengan melantukan kalimah toyyibah diharapkan perasaan iri hati ini lenyap dari hati kita dan diganti dengan rasa ketenangan.

Karena zikir adalah bentuk psikoterapi yang dapat digunakan sebagai terapi dahsyat untuk menyembuhkan berbagai penyakit rohani.Allah berfirman, "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah.Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram." (ar-Ra'd [13] : 28).[Republika.co.id.Nasrullah Nurdin,Penyakit Hati,Rabu, 13 April 2011 12:48 WIB]

Orang yang beriman dalam kehidupan sehari-hari selalu menaikkan poltase imannya hingga kepada derajat taqwa, hal  itu akan mempengaruhi hatinya, dia sangat sensitive terhadap dosa yang dapat merusak hatinya, mata hatinya  sangat tajam memandang hal yang kurang dia lakukan sehingga membuat dia berusaha untuk memperbaiki diri, keluarga dan masyarakatnya.

Syekh Atha' as-Silmi dikenal sebagai guru mengaji yang tulus. Selain itu, ia juga dikenal sebagai seorang yang pandai menenun pakaian. Sekali dalam seminggu, ia membawa hasil tenunannya ke pasar untuk dijual. Syekh Atha' as-Silmi sangat yakin bahwa tenunannya sangat apik dan tak ada cacat.

Di tengah hiruk-pikuk keramaian pasar, kalimat tasbih dan tahmid mengiringi hembusan-hembusan napasnya.Tiba-tiba, ada seseorang yang mendekat dan melihat-lihat pakaian tenunannya.Orang tersebut adalah seorang penjahit.Kemudian, orang itu berkata, "Baju ini cukup bagus.Namun sayang, ada cacatnya, ini, ini, dan ini."

Dengan tanpa kata, Syekh Atha' menyahut pakaiannya dari tangan orang itu.Kemudian, dia duduk dan menangis terisak-isak.Orang itu bingung melihat Syekh Atha' menangis. Namun, penyesalan tampak di wajahnya atas apa yang diucapkan. Dia meminta maaf bila ucapan tadi melukai hati.Dan, dia mau membeli tenunan itu berapa pun harganya.

            Kemudian, Syekh Atha' berkata, "Sebab yang menyebabkan aku menangis bukan seperti yang kamu kira.Aku telah bersungguh-sungguh menenun baju ini.Tenunan baju ini tidak seperti baju-baju lain yang telah aku buat.Aku membuatnya lebih halus, lalu kemudian aku tambahkan keindahan di dalamnya.Setelah itu, aku periksa dengan amat teliti untuk memastikan tidak ada cacat di dalamnya.

            Tapi, ketika hasil tenunanku ini diperiksa oleh manusia, terlihat ada cacat di bagian yang mana aku tidak menyadarinya.Lalu, bagaimana nanti dengan amal-amal perbuatan kita tatkala diperiksa oleh Allah, Zat yang Maha Tahu di Hari Kiamat nanti?Berapa banyak cacat dan dosa yang akan tampak dari amal ibadah kita, dan itu yang tidak kita sadari!"

Kisah di atas menggambarkan bahwa orang yang bertakwa, sangat sensitif dalam keimanan.Apa yang terjadi di hadapannya langsung mengetuk hatinya untuk ingat terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah. Mereka sangat takut akan segala kekurangan ibadah kepada Allah. Mereka sangat sedih bila amal ibadah yang dikerjakannya selama ini terdapat kekurangan dan ketidaksempurnaan.Hal itu, dapat menyebabkan berkurangnya pahala atau bahkan tertolaknya amalan yang dikerjakan.Jika itu terjadi, niscaya sia-sialah amal ibadahnya.

Imam Ibnu Jauzi menuturkan, "Ketakwaan dan keimanan akan mempertajam mata hati pelakunya.Apa pun peristiwa yang terjadi di sekitar, ia akan dapat mengambil hikmah dan pelajaran darinya. Panasnya musim kemarau mengingatkan pada api neraka, gelapnya malam mengingatkan gelap gulitanya alam kubur, hawa sejuk dan indahnya musim semi mengilhami untuk mencari rezeki yang halal."[Republika.co.id.,Mata Hati yang Tajam,Rabu, 29 September 2010, 09:20 WIB].

                Keberhasilan apa saja, apalagi keberhasilan dakwah, semuanya tergantung hati yang mengembannya, hati yang kusam, berdebu penuh dosa maka dakwah tidak akan mengalami kehancuran, hati yang cerah dan terang bersinar maka dakwah akan berjalan dengan lancer, asahlah mata hati agar dia mampu menyemburatkan sinarnya yang menerangi semua lapisan kehidupan di dunia ini.

Perjalanan dakwah yang yang panjang menuntut ketahanan stamina yang prima.Saking tidak sabarnya, terkadang membuat seseorang terjebak oleh perasaannya sendiri.Perasaan yang bila diibaratkan dalam sebuah perjalanan seperti fatamorgana. Ketika memasuki jalan tol di siang hari, Anda akan melihat di ujung jalan seperti ada genangan air di aspal yang panas. Setelah dekat, ternyata cuma bayangan.

Betapa banyak aktivis yang merasa paling kesepian, merasa paling berkeringat, merasa paling senior dan di saat yang sama dirinya merasa yang paling dizalimi. Akhirnya merasa putus asa meratapi lingkungannya.Menyalahkan semua orang dan akhirnya memilih istirahat dari jalan dakwah. Atau pindah ke gerakan lain. Bahkan ada yang berbalik menjadi penentang dakwah.

Betapa orang yang pintar berbicara dan mengaku pakar bertebaran ibarat pedagang kaki lima. Mereka menjajakan asongan. Isme-isme mereka jajakan dengan segala cara yang memikat.

Di antara faktor yang mendorong seseorang untuk berbicara tanpa ilmu adalah cinta dunia dan kedudukan. Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya al-Fawaid hal dengan panjang lebar menjelaskan: “Setiap ulama yang lebih mementingkan dunia dan mencintainya pasti akan berbicara atas Allah tanpa ilmu yang benar baik dalam fatwanya atau dalam mengabarkan dan memegangi hukum Allah. Hal itu karena hukum-hukum Allah hampir seluruhnya bertentangan dengan kehendak orang, lebih-lebih orang yang cinta pangkat dan mengikuti syahwat. Mereka tidak akan mendapatkan apa yang mereka inginkan melainkan dengan menentang dan menolak al-haq.

Bila seseorang alim atau seorang hakim cinta pangkat dan mengikuti syahwat, maka tujuannya tidak akan tercapai kecuali bila dia menentang al-haq yang merintangi keinginannya. Terlebih lagi bila dia telah termakan syubhat, maka terkumpullah syahwat dan syubhat yang akhirnya al-haq pun lenyap darinya.”

Ingatlah selalu nasihat berharga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, "Janganlah engkau jadikan hatimu terhadap syubhat seperti spon (karet busa) yang menyerapnya serta merta: Tetapi jadikanlah hatimu seperti kaca yang kuat. Sehingga tatkala syubhat  mampir padanya, dia dapat melihat dengan kejernihannya dan mengusir dengan kekuatannya. Tetapi apabila engkau jadikan hatimu menyerap setiap syubhat, maka dia akan menjadi sarang syubhat:"[Cyber Sabili, Eman Mulyatman Hati Bersinar Dakwah LancarSabtu, 13 November 2010 20:39].

Kebersinaran dakwah hingga ke pelosok dunia merupakan berkah Allah terhadap agama ini yang diberikan kepada para duat yang telah menggunakan hatinya dalam menyampaikan dakwahnya itu, pesan yang disampaikan dengan hati maka akan diterima pula oleh hati dan sebaliknya bila pesan dakwah disampaikan dengan suara yang keras maka dia akan berhenti hanya sampai di telinga pendengarnya.

Kata-kata mempunyai kekuatan yang luar biasa. Bahkan terkadang ia lebih ampuh daripada senjata. Dalam hal ini pepatah lama masih relevan, bahwa lidah lebih tajam daripada pedang.Betapa sering sebuah perang berkobar disebabkan oleh kata.Demikian pula sebaliknya, perang dapat dihentikan oleh sebuah diplomasi atau secarik kertas perjanjian damai.Seorang penulis wanita Jerman, Annemarie Schimmel, berbicara tentang kekuatan kata.“Kata yang baik laksana pohon yang baik.Kata diyakini sebagai suatu kekuatan kreatif oleh sebagian besar agama di dunia; katalah yang mengantarkan wahyu; kata diamanahkan kepada umat manusia sebagai titipan yang harus dijaga, jangan sampai ada yang teraniaya, terfitnah, atau terbunuh oleh kata-kata.”

Karena kata-kata seseorang bisa bergairah, bersemangat, terhibur dari duka, seorang pasien akan mempunyai harapan sembuh oleh kata-kata dokter. Yang terkadang kondisi sesungguhnya berlawanan dengan kata-kata itu, sekadar untuk menerbitkan semangat.Juga karena kata-kata, hati yang tadinya cerah berbunga-bunga menjadi redup sedih.Tadinya optimis menjadi pesimis.Bersemangat menjadi patah arang.

Kata-kata sebagai alat yang ampuh untuk berbagai kepentingan orang.Melobi, mempengaruhi, merayu, menghina, melecehkan, membalaskan sakit hati. Dan kata orang, ia adalah senjata bermata dua. Jika kata-kata itu keluar dari orang baik dan suka melakukan perbaikan, maka dampak yang ditimbulkannya akan positif. Namun jika ia diungkapkan oleh orang jahat dan mencintai tersebarnya kejahatan di muka bumi ini, dampak yang ditimbulkannya tentu kejahatan itu sendiri sebagai produk hatinya yang jahat itu.

Seorang dai dengan tugas dakwahnya mengajak orang kepada Allah dalam taat dan ibadah kepada-Nya. Aktivitas dakwahnya sangat didominasi oleh penyampaian kata-kata.Sebab sasaran yang hendak dituju adalah akal manusia itu sendiri. Jika tujuan dakwah adalah melakukan perubahan (taghyir), maka faktor utama yang dapat mempengaruhi proses perubahan adalah akal pikiran. Dengan adanya perubahan pada tataran pemahaman dan pola pikir, maka perubahan persepsi dan tingkah laku bisa terjadi.

Penyampaian kata-kata bahkan menjadi titik tekan tugas para nabi dan rasul. Seperti yang Allah tegaskan kepada Rasulullah saw. Allah berfirman, “Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah).” (As-Syura: 48)

Sebagai penerus tugas para nabi dan rasul, seorang dai berdakwah menyampaikan risalah kepada manusia. Hendaknya ia selalu meningkatkan kemampuan dan kreativitasnya dalam memasarkan risalah ini kepada manusia.[Republika.co.id.Asfuri Bahri, Lc,Agar Pesan Sampai Ke Hati ,1/4/2007 | 14 Rabiul Awwal 1428 H].

            Sebenarnya dalam urusan apa saja, pekerjaan apa saja, apakah kepentingan masyarakat dengan dakwah, kepentingan pribadi dalam mencari rezeki, semuanya harus dikerjakan secara ihsan dan itqan yaitu secara baik dan rapi, intinya bekerja tidak sembarang bekerja tapi bekerja dengan hati nurani sehingga hasilnya  menggembirakan kita.

Dalam proses mencari rezeki, seseorang akan menghadapi berbagai kendala dan rintangan. Rintangan terberat adalah ketika hati nurani tak lagi disertakan dalam bekerja, dan lebih memilih menuruti hawa nafsu. Ketika nafsu lepas kendali, rasa malu untuk melakukan keburukan tak ada lagi, segala macam cara dihalalkan, norma dan etika tak lagi penting, bahkan iman akan mudah dikorbankan. "Sesungguhnya sebagian ajaran yang masih dikenal umat manusia dari perkataan para nabi adalah 'jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu'." (HR Bukhari).

Bila kondisi semacam ini terus berlanjut, akan timbul perilaku-perilaku impulsif yang bisa menyeret pada kepribadian yang menyimpang (personality disorder). Tidak ada kecemasan ketika melakukan kejahatan dan seusai berbuat tak tebersit perasaan bersalah (guilty feeling), yang lebih ironis perbuatan jahatnya dianggap sesuatu yang wajar.

            Perilaku seperti itu merugikan banyak pihak dan diri sendiri. Tidak saja lahan pekerjaan dan kepercayaan orang lain kepadanya yang terancam lenyap, tapi kerugian yang amat besar telah menantinya yaitu bangkrutnya kekayaan hakiki (hati nurani). Dan, pada saat hati nurani telah mati, tak ada lagi ukuran untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, setiap tindakan cenderung melampaui batas, perbuatan baik dan ketaatan menjadi sesuatu yang remeh, tak sadar bahwa hidup di dunia dalam genggaman Zat Pencipta yang setiap saat siap untuk dicabut, dan lupa bahwa kehidupan dunia menjadi penentu nasib di kehidupan akhirat yang kekal.[Republika.co.id.Muhammad Saifudin Kodiran, Bekerja dengan Hati, Minggu, 10 April 2011 11:03 WIB].

            Dengan cermat Aa Gym menyatakan dalam sebuah tulisannya yang bertajuk Selalu Manata Hati, [Tausiyah Manajemen Kalbu, Aa Gym].

Kebaikan yang ditunaikan dan kejahatan yang diperbuat seseorang pastilah akan kembali kepada pelakunya. Jika berbuat kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala sesuai dengan takaran yang telah dijanjikan-Nya. Sebaliknya, jika berbuat kejahatan, niscaya ia akan mendapatkan balasan siksa sesuai dengan kadar kejahatan yang dilakukannya. Sedangkan kebaikan dan kejahatan tidaklah bisa berhimpun dalam satu kesatuan.

            Orang yang hatinya tertata rapih adalah orang yang telah berhasil merintis jalan ke arah kebaikan.Ia tidak akan tergoyahkan dengan aneka rayuan dunia yang tampak menggiurkan. Ia akan melangkah pada jalan yang lurus. Dititinya tahapan kebaikan itu hingga mencapai titik puncak. Sementara itu ia akan berusaha sekuat-kuatnya untuk berusaha sekuat-kuatnya untuk memelihara dirinya dari sikap riya, ujub, dan perilaku rendah lainnya. Oleh karenanya, surga sebaik-baiknya tempat kembali, tentulah telah disediakan bagi kepulangannya ke yaumil akhir kelak. Bahkan ketika hidup di dunia yang singkat ini pun ia akan menikmati buah dari segala amal baiknya.

            Dengan demikian, sungguh betapa beruntungnya orang yang senantiasa bersungguh-sungguh menata hatinya karena berarti ia telah menabung aneka kebaikan yang akan segera dipetik hasilnya dunia akhirat. Sebaliknya alangkan malangnya orang yang selama hidupnya lalai dan membiarkan hatinya kusut masai dan kotor. Karena, jangankan akhirat kelak, bahkan ketika hidup di dunia pun nyaris tidak akan pernah merasakan nikmatnya hidup tenteram, nyaman, dan lapang.

                    Sebuah ungkapan menyatakan, biarlah sempit asal hati lapang, artinya tempat yang sempit sekalipun kalau dihuni oleh yang punya hati maka suasananya akan baik dan lapang, untuk itu hati-hatilah dalam menjaga hati, wallahu a’lam [MengkoangPahang Malaysia, 02 Juni 2011M/ 29 Jumadil Akhir 1432.H].
].






Tidak ada komentar:

Posting Komentar