Manusia
hanya merencanakan tapi segala ketentuanberada
di tangan Allah, itu kalimat yang sering kita dengar bahkan kita ucapkan
yang menggambarkan kelemahan manusia dan keperkasaan Allah. Memang manusia
sangat tidak berdaya terhadap ketentuan hidupnya karena semuanya berada dalam
genggaman yang Maha Kuasa, apakah ada kekuasaan manusia terhadap kelahiran,
rezeki, jodoh dan kematiannya, kita
hanya sebagai wayang [pemain] yang menjalankan scenario kehidupan ini yang
telah ditentukan Allah.
Banyak mungkin diantara kita yang masih berpendapat bahwa Rezeki, Ajal, serta
jodoh telah ditetapkan oleh Allah semenjak kita masih di dalam
kandungan.Pemikiran seperti ini mungkin telah mendarah daging di dalam diri
kita.Apalagi kiranya sejak kecil mungkin orang tua, guru, dan lingkungan masyarakat dimana tempat kita hidup pun kalimat ini sampai sekarang masih sangat familiardiulang-ulang.
Ar-Rizqu (rezeki) secara bahasa berasal dari akar kata razaqa–yarzuqu–razq[an] wa rizq[an]. Razq[an] adalah mashdar yang hakiki, sedangkan rizq[an] adalah ism yang diposisikan sebagai mashdar. Kata rizq[an] maknanya adalah marzûq[an] (apa yang direzekikan); mengunakan redaksi fi’l[an] dalam makna maf’ûl (obyek) seperti dzibh[an] yang bermakna madzbûh (sembelihan).
Secara bahasa razaqa artinya a’thâ (memberi) dan ar-rizqu artinya al-‘atha’ (pemberian).
1. Menurut ar-Razi dan al-Baydhawi, secara bahasa ar-rizqu juga berarti al-hazhzhu (bagian/porsi), yaitu nasib (bagian) seseorang yang dikhususkan untuknya tanpa orang lain.Karena itu, Abu as-Saud mengartikan ar-rizqu dengan al-hazhzhu al-mu’thâ (bagian/porsi yang diberikan).
2 Menurut Ibn Abdis Salam dalam tafsirnya, asal dari ar-rizqu adalah al-hazhzhu (bagian/porsi). Karena itu, apa saja yang dijadikan sebagai bagian/porsi (seseorang) dari pemberian Allah adalah rizq[an].
Selain itu, ar-rizqu juga diartikan apa saja yang bisa dimanfaatkan. Dari semuanya itu, ar-rizqu bisa diartikan sebagai: bagian/porsi dari pemberian Allah kepada seorang hamba berupa apa saja yang bisa dimanfaatkan sebagai bagian/porsi yang dikhususkan untuknya.
Ayat-ayat tentang rezeki lebih banyak menunjuk pada harta baik berupa barang maupun jasa yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi aneka kebutuhan manusia.Konteks ayat-ayat bahwa Allah meluaskan dan menyempitkan rezeki juga lebih menunjuk pada konotasi harta.
Banyak orang menduga, merekalah yang mendatangkan rezeki mereka sendiri.Mereka menganggap kondisi-kondisi mereka meraih harta —barang atau jasa—sebagai sebab datangnya rezeki; meskipun mereka menyatakan, bahwa Allahlah Yang memberikan rezeki.Profesi atau usaha yang dicurahkan mereka anggap sebagai sebab datangnya rezeki.
Fakta yang ada sebenarnya cukup jelas menunjukkan kesalahan anggapan itu.Banyak orang yang telah berusaha dengan segenap tenaga dan pikirannya, tetapi rezeki tidak datang, bahkan tidak jarang justru merugi.
Sebaliknya, sangat banyak fakta bahwa rezeki datang kepada seseorang tanpa dia melakukan usaha apapun.Ini menunjukkan bahwa usaha bukan sebab bagi datangnya rezeki.Rezeki tidak berada di tangan manusia.Allahlah yang menentukan rezeki itu datang kepada manusia dan Dia memberinya kepada manusia menurut kehendak-Nya.
Keimanan tentang rezeki itu menjadi salah satu kunci seorang tidak akan tersibukkan dengan dunia, tidak menjadi pemburu harta, bisa bersikap zuhud, giat beramal, berdakwah amar makruf nahi mungkar dan ketaatan pada umumnya. Imam Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang rahasia zuhudnya.Beliau menjawab, “Aku tahu rezekiku tidak akan bisa diambil orang lain.Karena itu, hatikupun jadi tenteram. Aku tahu amalku tidak akan bisa dilakukan oleh selainku. Karena itu, aku pun sibuk beramal.Aku tahu Allah selalu mengawasiku.Karena itu, aku malu jika Dia melihatku di atas kemaksiatan.Aku pun tahu kematian menungguku.Karena itu, aku mempersiapkan bekal untuk berjumpa dengan-Nya.”.
Lafadz “jodoh” adalah kata yang dipakai dalam
bahasa Indonesia untuk menunjuk makna tertentu. Lafadz ini berbeda dengan
lafadz suami, istri, pasangan hidup atau yang semisal dengannya. Lafadz jodoh
menurut kamus bahasa Indonesia adalah “pasangan yang cocok” baik bagi laki-laki
maupun perempuan.
Oleh karena itu lafadz jodoh memiliki makna yang lebih spesifik dari lafadz
suami, istri, atau pasangan hidup, sebab di sana terdapat penjelasan sifat
lebih khusus dari sekedar pasangan hidup. Dalam bahasa Arab, kata yang bermakna
“jodoh” seperti yang terdapat dalam bahasa Indonesia tidak ditemukan.Para Fuqaha’ ketika membahas hukum pernikahan hanya menyebut istilah ( زَوْجٌ ) atau( بَعْلٌ ) untuk suami, dan ( زَوْجَةٌ ) atau ( امْرَأَةٌ ) untuk istri, yakni istilah-istilah yang berkonotasi “netral” tanpa ada penekanan sifat tertentu sebagaimana kata suami, istri, atau pasangan hidup dalam bahasa Indonesia.
Adapun makna jodoh yang menjadi topik diskusi di sini adalah “orang atau individu tertentu yang akan menjadi pasangan hidup kita”, dengan titik diskusi: Apakah Allah telah menentukan dalam Lauhul Mahfudz, sebelum manusia dilahirkan bahwa ia akan dipasangkan dengan individu tertentu ataukah tidak? Artinya apakah Allah sudah mentakdirkan dalam Azal bahwa A akan dipasangkan dengan B, C dipasangkan dengan D, ataukah tidak?
Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu harus dilakukan studi yang mendalam terhadap nash-nash yang terkait dengan topik tersebut berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah atau dalil yang ditunjuk keduanya seraya mengesampingkan semua dasar yang tidak terkait dengan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah baik ia berupa adat, tradisi, pameo, peribahasa, dsb.
Hanya saja, pembahasan tentang jodoh termasuk perkara Qadha’ atau bukan tidak boleh dicampur adukkan dengan pembahasan keimanan bahwa Allah adalah ( اْلمُدَبِّرُ ) (Maha Pengatur). Sebab, pembahasan “jodoh termasuk perkara Qadha’ atau bukan” adalah satu hal, sementara pembahasan tentang keimanan bahwa Allah bersifat ( اْلمُدَبِّرُ ) adalah hal yang lain.
Dari sini bisa difahami, bahwa langkah yang harus dilakukan untuk menjawab persoalan jodoh adalah mencari dalil yang menunjukkan bahwa Allah telah menetapkan pasangan hidup manusia sebelum mereka diciptakan. Dalil itupun harus bersifat ( قَطْعِيٌّ ) baik ( قَطْعِيُّ الثُّبُوْتِ ) (pasti sumbernya) maupun ( قَطْعِيُّ الدَّلاَلَةِ ) (pasti penunjukan maknanya).
Setelah dilakukan kajian terhadap persoalan ini, nyatalah bahwa tidak ada nash baik dalam al-Qur’an mapun as-Sunnah, juga Ijma’ sahabat dan Qiyas yang menunjukkan bahwa Allah menetapkan calon pasangan seseorang. Bahkan nash-nash yang ada menunjukkan bahwa persoalan ini adalah masalah mu’amalah biasa yang berada dalam area yang dikuasai manusia.
Artinya persoalan menentukan pasangan hidup adalah hal yang bersifat pilihan, yang manusia bertanggung jawab di dalamnya dan dihisab atasnya. Dalil yang menunjukkan bahwa menentukan pasangan hidup adalah pilihan manusia adalah:Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. (An-Nisa;4).
Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya dia berkata: Seorang gadis datang kepada Nabi Saw. Kemudian ia berkata: Sesungguhnya ayahku menikahkan aku dengan putra saudaranya untuk mengangkat derajatnya melalui aku. Maka Nabipun menyerahkan keputusan itu pada gadis tersebut. Maka gadis itu berkata: Aku telah mengizinkan apa yang dilakukan ayahku, akan tetapi aku hanya ingin agar para wanita tahu bahwa para ayah tidak punya hak dalam urusan ini. (HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i).
Dalam hadis di atas, Nabi memberi kebebasan penuh pada gadis tersebut untuk memutuskan apakah melanjutkan pernikahannya ataukah membatalkannya.Ini menunjukkan bahwa menentukan calon suami adalah hak penuh bagi wanita dan merupakan pilihan dia semata-mata.
Dalil lain yang mendukung adalah adanya syari’at talak. Talak adalah pembubaran akad nikah. Syari’at talak memungkinkan seseorang yang menjadi pasangan hidup orang lain untuk berpisah pada satu waktu tertentu dengan sebab-sebab tertentu. Karena itu mustahil dikatakan bahwa seseorang sudah dipasangkan dengan orang tertentu jika ternyata syara’ memberikan suatu mekanisme untuk membubarkan akad nikah.
Secara bahasa kata ajal berasal dari kata: ajila–ya‘jalu–ajal[an]. Menurut al-Khalil al-Farahidi dalam Kitâb al-‘Ayn dan ash-Shahib ibn ‘Abad di dalam Al-Muhîth fî al-Lughah, dikatakan ajila asy-syay‘u ya‘jalu wahuwa âjilun artinya naqîdu al-‘âjil (lawan dari segera).Dengan demikian, al-ajal (bentuk pluralnya al-âjalu) secara bahasa artinya terlambat atau tertunda.
Masalah ajal ini persis seperti masalah rezeki.Ajal dan umur tiap orang telah ditetapkan oleh Allah. Allah SWT juga menegaskan tidak akan memajukan atau menangguhkan ajal seseorang. Allah tidak akan menambah atau mengurangi jatah umur seseorang. Dalam QS al-Munafiqun [63]: 11, Allah mengungkapkan dengan kata lan yang merupakan penafian selama-lamanya (Lihat pula QS. Fathir [35]: 11).
Datangnya ajal adalah pasti, tidak bisa dimajukan ataupun dimundurkan. Berjihad, berdakwah, amar makruf nahi mungkar, mengoreksi penguasa, dsb, tidak akan menyegerakan ajal atau mengurangi umur. Begitu pula berdiam diri, tidak berjihad, tidak berdakwah, tidak mengoreksi penguasa, tidak beramar makruf nahi mungkar, dan tidak melakukan perbuatan yang disangka berisiko mendatangkan kematian, sesungguhnya tidak akan bisa memundurkan kematian dan tidak akan memperpanjang umur. Semua itu jelas dan tegas dinyatakan oleh ayat-ayat al-Quran seperti di atas.[disarikan dari ,Antara Rezeki, Jodoh dan Ajal, Adi Victoria
Al_ikhwan1924@yahoo.com,Senin, 29/11/2010 13:37 WIB].
Ketentuan dan ketetapan Allah kita kenal dengan taqdir yang akan dijalani manusia sepanjang kehidupannya, ada memang perdebatan dikalangan ulama tentang taqdir dan ketentuan, tapi yang jelas segala yang terjadi pada makhluk Allah sebagai ketentuan bagi manusia yang akan dijalaninya.
Hampir
dipastikan, kita semua tidak pernah bisa meraba bagaimana rupa takdir kita ke
depan. Segala sesuatunya adalah misteri bagi kita.Acap kali kejadian dan semua
peristiwa terjadi begitu saja tanpa bisa direkayasa.Terkadang kita juga tidak
berkuasa dengan amalan kita sendiri.Kegagalan, kesuksesan, kaya miskin, antara
kehidupan dan kematian adalah mutlak milik Allah. Bahkan, di beberapa ayat
diinformasikan, salah satunya dalam QS ash-Shaaffat, [37]: 96, bahwa kita dan
semua amalan kita Allahlah pembuat skenarionya, "Wallahu khalaqakum wa maa
ta'maluun".
Meski pembuat skenario semuanya adalah Allah SWT, tapi hal yang tidak bisa dinapikan adalah bahwa banyak amalan yang bisa menentukan arah keberpihakan takdir-Nya. Pertama, doa. Sebuah hadis, Laa yaruddul qadhaa-a illa biddu'a, tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa. Jika kita menghendaki kegagalan beralih kepada kesuksesan, maka ubahlah di antaranya dengan doa. Kenapa?Karena Allah sangat mencintai hamba-Nya yang banyak minta kepada-Nya. Dalam hadis lain disebutkan, "Innallaaha yuhibul mulihhiina biddu'a." Karena Allah mencintai hamba-Nya, maka akan mudah bagi-Nya mengubah apa pun dari semua ciptaan-Nya. Cukup dengan mengatakan, "Jadilah!" Maka, "Terjadilah." (QS Yaasiin [36]: 82).
Ketahuilah, doa telah terbukti menjadi senjata yang cukup menentukan bagi orang-orang yang beriman. Sabda Nabi SAW, "ad-Du'au silahul mu'miniin." Doa adalah senjata orang yang beriman. Di antara petikan sejarah yang mampir di telinga kita adalah cerita keajaiban senjata doa Ibrahim 'alaihis salam ketika dipanggang di api unggun raksasa. Saat itu Raja Namrudz memerintahkan punggawa kerajaan untuk mengumpulkan kayu bakar dan disulutkan api raksasa. Lalu Ibrahim diletakkan di atasnya.
Saat itu Ibrahim-seorang hamba pilihan-Nya yang memiliki sebuah keyakinan dan kepasrahan total kepada Sang Khalik- sudah tidak memiliki daya apa pun kecuali senjata doa. Tidak lama, Allah pun kemudian menghadirkan takdir lain dari api, yaitu dingin dan turut membantu menyelamatkan Ibrahim as. "Hai api, jadilah dingin dan selamatkan Ibrahim." (QS al-Anbiyaa [21]: 69).
Kekuatan doa itu pula yang dibuktikan oleh Nabi Musa dan para pengikutnya ketika mereka terdesak di Laut Merah saat dikejar oleh pasukan Firaun. Hukum alam air yang tidak mungkin terbelah dan terpisah, ternyata kala itu tidak berfungsi. Bersamaan dengan doa, air membelah dirinya dan mempersilakan Musa dan pengikutnya lewat. Musa pun selamat, justru Firaun dan semua pasukannya terkubur di dasar Lautan Merah.
Doa adalah sebuah kekuatan (the power). Bahkan, dalam doa berhimpun berbagai kekuatan untuk menghadirkan puncak harapan setiap hamba."Jika hamba-Ku bertanya tentang Aku, sungguh Aku teramat dekat. Aku akan memenuhi permintaanmu jika kamu memohon (berdoa) dan beriman kepada-Ku" (QS al-Baqarah [2]: 186).[RepublikaOnline, Damanhuri,Amalan yang Mewarnai Penentuan Takdir,Jumat, 04 Juni 2010, 09:54 WIB].
Meski pembuat skenario semuanya adalah Allah SWT, tapi hal yang tidak bisa dinapikan adalah bahwa banyak amalan yang bisa menentukan arah keberpihakan takdir-Nya. Pertama, doa. Sebuah hadis, Laa yaruddul qadhaa-a illa biddu'a, tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa. Jika kita menghendaki kegagalan beralih kepada kesuksesan, maka ubahlah di antaranya dengan doa. Kenapa?Karena Allah sangat mencintai hamba-Nya yang banyak minta kepada-Nya. Dalam hadis lain disebutkan, "Innallaaha yuhibul mulihhiina biddu'a." Karena Allah mencintai hamba-Nya, maka akan mudah bagi-Nya mengubah apa pun dari semua ciptaan-Nya. Cukup dengan mengatakan, "Jadilah!" Maka, "Terjadilah." (QS Yaasiin [36]: 82).
Ketahuilah, doa telah terbukti menjadi senjata yang cukup menentukan bagi orang-orang yang beriman. Sabda Nabi SAW, "ad-Du'au silahul mu'miniin." Doa adalah senjata orang yang beriman. Di antara petikan sejarah yang mampir di telinga kita adalah cerita keajaiban senjata doa Ibrahim 'alaihis salam ketika dipanggang di api unggun raksasa. Saat itu Raja Namrudz memerintahkan punggawa kerajaan untuk mengumpulkan kayu bakar dan disulutkan api raksasa. Lalu Ibrahim diletakkan di atasnya.
Saat itu Ibrahim-seorang hamba pilihan-Nya yang memiliki sebuah keyakinan dan kepasrahan total kepada Sang Khalik- sudah tidak memiliki daya apa pun kecuali senjata doa. Tidak lama, Allah pun kemudian menghadirkan takdir lain dari api, yaitu dingin dan turut membantu menyelamatkan Ibrahim as. "Hai api, jadilah dingin dan selamatkan Ibrahim." (QS al-Anbiyaa [21]: 69).
Kekuatan doa itu pula yang dibuktikan oleh Nabi Musa dan para pengikutnya ketika mereka terdesak di Laut Merah saat dikejar oleh pasukan Firaun. Hukum alam air yang tidak mungkin terbelah dan terpisah, ternyata kala itu tidak berfungsi. Bersamaan dengan doa, air membelah dirinya dan mempersilakan Musa dan pengikutnya lewat. Musa pun selamat, justru Firaun dan semua pasukannya terkubur di dasar Lautan Merah.
Doa adalah sebuah kekuatan (the power). Bahkan, dalam doa berhimpun berbagai kekuatan untuk menghadirkan puncak harapan setiap hamba."Jika hamba-Ku bertanya tentang Aku, sungguh Aku teramat dekat. Aku akan memenuhi permintaanmu jika kamu memohon (berdoa) dan beriman kepada-Ku" (QS al-Baqarah [2]: 186).[RepublikaOnline, Damanhuri,Amalan yang Mewarnai Penentuan Takdir,Jumat, 04 Juni 2010, 09:54 WIB].
Dari Salman Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda,
“Tak ada yang dapat menolak takdir
selain doa, dan tak ada yang dapat memperpanjang umur selain kebajikan.” (HR.
At-Tirmidzi, no. 2139.Al-Albani menganggapnya hasan lighairih dalam Shahih
At-Targhib, no. 1639).
Ada beberapa hadits lain yang senada
dengan ini dan menunjukkan bahwa takdir bisa dicegah dengan doa, tapi semuanya
dha’if. Sedangkan hadits ini derajatnya hasan, sehingga bisa dipakai sebagai
hujjah.
Bagaimana doa bisa menolak takdir
padahal takdir sudah ditentukan?
Jawabnya, Allah Tabaraka wa Ta’ala
telah menciptakan takdir dan menciptakan pula sebabnya. Allah maha tahu apa
yang akan terjadi nanti dan Ia tidak mungkin lupa atau kecolongan sehingga
mengubah keputusan-Nya yang telah lalu. Tapi itu semua berada dalam dimensi
ilahiyyah yang tak mungkin bisa diselami akal manusia yang serba terbatas
ini.Maka tak perlu membahas masalah tersebut lebih lanjut.
Manusia hanya diperintahkan untuk
melakukan sebab.Bila ingin mendapatkan rezki harus bekerja, tidak mungkin bisa
kaya dengan bermalas-malasan.Nah, kerja adalah sebab dan rezki memang di tangan
tuhan.Hanya orang kurang akal yang mengatakan, “Ah, buat apa bekerja bukankah
rezki di tangan tuhan.Jadi, kalau saya sudah ditakdirkan kaya, maka saya akan
kaya dengan sendirinya.”
Demikianlah doa, ia merupakan sebab
yang diciptakan Allah untuk memperoleh keuntungan dan menolak kerugian, sama
seperti kerja yang diciptakan sebagai sebab untuk mendapat kekayaan.
Kesimpulannya, takdir sudah ditetapkan dan tidak akan
berubah dalam dimensi Allah. Ia hanya akan berubah dalam dimensi manusia.
Manusia tidak boleh tahu apa yang sudah diputuskan Allah, tapi hanya harus
berusaha untuk mendapatkan yang terbaik. Dan, Allah telah menunjukkan jalan
terbaik untuk selamat dari keburukan yang kemungkinan besar akan terjadi, yaitu
dengan doa. Itulah takdir dalam dimensi manusia, sesuatu yang sudah dipastikan
akan terjadi, sehingga secara logika tak mungkin tertolak. Misalnya, ada yang
sakit dan menurut dokter tinggal menunggu waktu saja dan tidak mungkin
disembuhkan. Tapi, dengan doa siapa tahu terjadi keajaiban dan yang
bersangkutan ternyata sembuh. Inilah maksud doa menolak takdir.[Republika
Online, Anshari Taslim, Doa Menolak
Takdir,Sabtu, 30/04/2011 06:15 WIB].
Satu ketika Umar bin Khattab
memerintahkan pasukannya untuk mengalihkan perjalanan kesuatu tempat yang aman
dari musibah, salah seorang sahabat memprotes kebijakan itu dengan
mengatakan,”Kenapa kita alihkan tujuan kita ke tempat lain, walaupun disana
diserang wabah, kita tawakkal kepada Allah, kalau Allah tidak berkenan maka
kita tidak akan terkena wabah itu”, mendengar itu Umar bin Khattab
menjawab,”Kita sedang mencari takdir yang lebih baik, kalau kita ke tempat
semula berarti kita mencari takdir yang buruk”. Artinya ada takdir yang bisa
kita rubah sesuai dengan kondisi alami.
Semua ciptaan Allah itu telah ditentukan kadar
dan ukurannya sesuai dengan jenis makhluk yang diciptakan itu, setiap kandungan
seorang ibu sesuai dengan kadar dan ukurannya itu akan lahir seorang bayi,
selama hidup di dunia dalam batas waktunya kelak akan tua dan meninggal dunia, selama proses tertentu pula
awan yang mengandung air akan turun hujan untuk kehidupan dan penghidupan
penghuni bumi, bahkan bakteri dan baksil yang masuk ke tubuh manusia, pada
waktu dan ukuran tertentu akan menjadi penyakit yang mencelakakan manusia bila
tidak ditanggulangi dengan pengobatan yang intensif, Allah menjelaskan dalam
firman-Nya; “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”[QS. 54;49]
Air dimanapun
telah ditentukan ukurannya oleh Allah akan mengalir dari tempat yang tinggi ke
tempat yang lebih rendah, api akan membakar karena memang demikian ukurannya,
besi adalah benda keras yang sulit untuk ditembus oleh kekuatan manusia sedang
busa akan mengapung di air karena ringannya dan itu sudah keputusan yang
ditentukan oleh Allah sesuai dengan ukuran untuk benda-benda itu, wallahu a’lam
[Cheras Kuala
Lumpur Malaysia, 03 Rajab 1432.H/ 05 Juni 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar