Bila ada orang
yang belum masuk islam walaupun dia sudah faham dengan islam dan diapun bergaul
dengan komunitas islam, maka dia dikatakan belum dapat hidayah. Orang yang
bergelimanmg dengan kejahiliyyahan dan belum mau untuk melaksanakan tuntutan
islam secara total maka disebut juga bahwa dia belum dapat petunjuk atau hidayah
Allah.
Hidayah itu artinya petunjuk
Allah yang berkaitan dengan keimanan,
hanya diberikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya dan ini merupakan hak
preogatif Allah tanpa bisa dicampuri oleh siapapun. Walaupun demikian hidayah
tersebut akan diberikan memang kepada orang-orang yang mencarinya atau
orang-orang yang memang ada kecendrungan kepada keimanan, Allah berfirman;
"Segala puji bagi Allah yang Telah menunjuki
kami kepada (surga) ini. dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk
kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. "[Al A'raf 7;43]
"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah,
Maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, Maka
merekalah orang-orang yang merugi" [Al A'raf 7;178]
Menurut Muhammad Abduh, hidayah itu ada empat macam
yaitu;
1.Hidayah Tabiat yaitu hidayah yang berkaitan
dengan insting manusia seperti bayi bila merasakan haus/lapar, maka untuk
menyampaikan informasi dia hanya
menangis saja.
2.Hidayah Indra yaitu petunjuk yang melekat
pada indra manusia, dengan panca indra yang diberikan Allah, dapat digunakan
untuk kehidupan.
3.Hidayah Akal yaitu petunjuk yang diberikan
Allah untuk menimbang yang baik dan yang buruk melalui fikiran manusia.
4.Hidayah Addin yaitu hidayah atau petunjuk yang berkaitan dengan
keimanan dan agama Islam, diberikan hanya untuk orang tertentu saja
Kemudian Adam menerima
beberapa kalimat dari Rabbnya, maka Allah menerima tobatnya.Sesungguhnya Allah Maha
Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Kami berfirman: "Turunlah kamu semua
dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa
yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan
tidak (pula) mereka bersedih hati".Adapun orang-orang yang kafir dan
mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di
dalamnya. (QS Al-Baqarah 37-39)
Di dalam ayat di atas Allah
swt memberikan suatu prinsip hidup yang sangat fundamental."Kemudian
jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku,
niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih
hati".
Allah swt menegaskan bahwa
barangsiapa hidup di dunia berlandaskan petunjuk dan arahan yang Allah berikan,
niscaya mereka tidak akan khawatir dan bersedih hati. Artinya, mereka akan
hidup dalam kebaikan dan kebahagiaan. Dan bila Allah swt menyatakan demikian,
tidak mungkin tidak pasti menjadi kenyataan.Dan kenyataan tersebut tidak hanya
bersifat sementara, melainkan selamanya alias abadi.Tidak saja kebaikan dan
kebahagiaan di dunia fana tetapi juga meliputi alam akhirat yang kekal abadi.
Siapapun yang berakal sehat
dan berhati nurani pasti akan menyambutnya dengan baik. Dan mengingat bahwa
jaminan tersebut memiliki syarat, maka iapun akan berusaha sekuat tenaga untuk
memenuhi syaratnya. Walaupun syarat itu berat, namun karena jaminannya begitu
menggiurkan dan berasal dari fihak yang dia yakini kredibilitasnya, tentu dia
siap menghadapinya.
Apakah syaratnya? Allah swt berfirman:
...maka barang siapa yang mengikuti
petunjuk-Ku,”
Allah mensyaratkan manusia
untuk mengikuti petunjukNya bila datang kepada mereka.Bagaimana petunjuk itu
datang kepada manusia?Yaitu, melalui para kurir resmi yang diutusnya bernama
para Nabiyullah dan Rasulullah ’alahimus-salam.Dan dalam
sejarah dunia Allah telah mengutus banyak sekali rangkaian Nabi dan RasulNya ’alahimus-salam.
Dan kita yang hidup dewasa ini bahkan hidup di masa Allah telah mengirim Nabi
dan RasulNya yang terakhir alias Nabi Akhir Zaman yakni Nabi Muhammad shallallahu
’alaihi wa sallam. Beliau adalah penutup para Nabi dan petunjuk
yang diterima dari Allah swt dan disampaikannya kepada ummat manusia merupakan
petunjuk terakhir yang Allah wahyukan, yakni Kitabullah Al-Qur’anul Karim. Maka
sangatlah pantas bila Allah swt menjamin bahwa petunjukNya yang terakhir ini
merupakan petunjuk yang otentitas-nya (keasliannya) tidak akan mengalami
kontaminasi. Al-Qur’an bakal terpelihara hingga hari Kiamat.
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al
Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS
Al-Hijr 9)
Berbeda dengan berbagai Nabi
dan RasulNya yang diutus sebelum Nabi terakhir, maka mereka menerima petunjuk
yang belum final dan tidak dijamin otentitasnya terpelihara.Sehingga petunjuk
Allah swt yang mereka terima hanya berlaku bagi kaum yang mereka hidup
bersamanya dan di masa mereka hadir di dunia hingga datangnya Nabi dan
Rasulullah berikutnya.Sebab kedatangan para Nabi dan Rasulullah sebelumnya
bakal disempurnakan lebih lanjut dengan kedatangan Nabi dan Rasulullah
berikutnya.Hingga tiba giliran Allah swt mengutus Penutup Para Nabi dan
RasulNya. Oleh karenanya, Al-Quranul Karim Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad shallallahu
’alaihi wa sallam berfungsi sebagai the Final Divine
Guidance for the Whole of Mankind (Petunjuk Ilahi yang Final bagi
segenap ummat manusia). Menjelang berakhirnya dunia yang fana ini Allah
menyempurnakan petunjukNya kepada ummat manusia dengan diwahyukannya Kitabullah
yang sempurna, final dan komprehensif (lengkap). Dan diutusnya seorang
Nabiyullah yang tidak memimpin kaumnya saja (bangsa Arab), melainkan menjadi
Teladan bagi segenap ummat manusia bahkan Rahmat bagi semesta alam.[Eramuslim, Ihsan
Tandjung,Peradaban Dunia
Tanpa Petunjuk Allah,Jumat, 24/09/2010 10:08 WIB]
Hidayah
itu artinya petunjuk Allah yang berkaitan dengan keimanan, hanya diberikan kepada orang-orang
yang dikehendaki-Nya dan ini merupakan hak preogatif Allah tanpa bisa dicampuri
oleh siapapun. Walaupun demikian hidayah tersebut akan diberikan memang kepada
orang-orang yang mencarinya atau orang-orang yang memang ada kecendrungan
kepada keimanan, Allah berfirman;
"Segala puji bagi Allah yang Telah menunjuki
kami kepada (surga) ini. dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk
kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. "[Al A'raf 7;43]
"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah,
Maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, Maka
merekalah orang-orang yang merugi" [Al A'raf 7;178]
Menurut Muhammad Abduh, hidayah itu ada empat macam
yaitu;
1.Hidayah Tabiat yaitu hidayah yang berkaitan
dengan insting manusia seperti bayi bila merasakan haus/lapar, maka untuk
menyampaikan informasi dia hanya
menangis saja.
2.Hidayah Indra yaitu petunjuk yang melekat
pada indra manusia, dengan panca indra yang diberikan Allah, dapat digunakan
untuk kehidupan.
3.Hidayah Akal yaitu petunjuk yang diberikan
Allah untuk menimbang yang baik dan yang buruk melalui fikiran manusia.
4.Hidayah Addin yaitu hidayah atau petunjuk yang berkaitan dengan
keimanan dan agama Islam, diberikan hanya untuk orang tertentu saja.
Ustadz Fathuddin Jafar
mengungkapkan tentang hidayah itu dalam khutbah jum’atnya yang dimuat pada
Eramuslim Rabu, 03/03/2010 14:44 WIB dengan judul Mahalnya
Harga Hidayah;
Untuk merasakan betapa mahalnya nilai sebuah
Hidayah, paling tidak ada dua hal yang perlu diketahui.Pertama, pengertian
Hidayah. Kedua, Macam-Macam Hidayah.
1.Pengertian Hidayah (Petunjuk)
Kata Hidayah adalah dari
bahasa Arab atau bahasa Al-Qur’an yang telah menjadi bahasa Indonesia. Akar
katanya ialah : هدى – يهدي – هديا – هدى – هدية - هداية (hadaa, yahdii, hadyan,
hudan, hidyatan, hidaayatan). Khusus yang terakhir, kata (هداية) kalau wakaf
(berhenti) di baca : Hidayah, nyaris seperti ucapan bahasa Indonesia. Hidayah
secara bahasa berarti petunjuk. Lawan katanya adalah : ضلالة (Dholalah) yang
berarti “kesesatan”. Secara istilah (terminologi), Hidayah ialah penjelasan dan
petunjuk jalan yang akan menyampaikan kepada tujuan sehingga meraih kemenangan
di sisi Allah. Pengertian seperti ini dapat kita pahami melalui firman Allah
surat Al-Baqarah berikut :
“Mereka itulah yang tetap mendapat
petunjuk dari Tuhan Pencipta mereka, dan (sebab itu) merekalah orang-orang yang
sukses.” (Q.S. Al-Baqarah: 5)
2.Macam-Macam Hidayah
Para Ulama besar Islam telah
menjelaskan dengan rinci dan mendalam perihal Hidayah/Hudan, khususnya yang
diambil dari Al-Qur’an seperti yang ditulis oleh Al-Balkhi dalam bukunya
“Al-Asybah wa An-Nazho-ir”, Yahya Ibnu Salam dalam bukunya “At-Tashoriif”,
As-Suyuthi dalam bukunya “Al-Itqon” dan Ibnul Qoyyim Al-Jawzi dalam bukunya
“Nuzhatu Al-A’yun An-Nawazhir”.
Hidayah/Hudan Dalam Al-Qur’an
tercantum sekitar 171 ayat dan terdapat pula dalam 52 Hadits.Sedangkan pengertian
Hidayah / Hudan dalam Al-Qur’an dan Hadits terdapat sekitar 27 makna. Di
antaranya bermakna : penjelasan, agama Islam, Iman (keyakinan), seruan,
pengetahuan, perintah, lurus/cerdas, rasul /kitab, Al-Qur’an, Taurat,
taufiq/ketepatan, menegakkan argumentasi, Tauhid/ mengesakan Allah,
Sunnah/Jalan, perbaikan, ilham/insting, kemampuan menilai, pengajaran, karunia,
mendorong, mati dalam Islam, pahala, mengingatkan, benar dan kokoh/konsisten.
Dari 27 pengertian tersebut di
atas, sesungguhnya Hidayah, secara umum, terbagi menjadi empat bagian utama :
1.Hidayah I’tiqodiyah (Petunjuk
Terkait Keyakinan Hidup), seperti firman Allah dalam surat An-Nahl berikut :
“Jika kamu sangat mengharapkan agar
mereka dapat petunjuk (keyakinan hidup), maka sesungguhnya Allah tiada memberi
petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada
mempunyai penolong”. (Q.S. An-Nahl : 37)
Atau seperti firman Allah berikut ini :
Dan seorang laki-laki
yang beriman di antara pengikut-pengikut Firaun yang menyembunyikan imannya
berkata: "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia
menyatakan: "Tuhan Penciptaku ialah Allah, padahal dia telah datang
kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhan Penciptamu. Dan jika
ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan
(tetapi) jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang
diancamkannya kepadamu akan menimpamu". Sesungguhnya Allah tidak
memberikan petunjuk (hidayah) kepada orang-orang yang melampaui batas lagi
pendusta (penolak kebenaran yang datang dari-Nya). (Q.S. Al-Mu’min:
28)
2.Hidayah Thoriqiyah (Petunjuk
Terkait Jalan Hidup, yakni Islam yang didasari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul Saw,
seperti Firman Allah dalam surat Al-Hajj berikut ini :
“Bagi tiap-tiap umat
telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah
sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada
(agama) Tuhanmu.Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus
(Islam)”.(Q.S. Al-Hajj: 67)
ِAtau seperti firman Allah di bawah ini :
“Itu tidak lain
hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah
tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain
hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu
mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk (Islam/ Al-Qur’an) kepada mereka
dari Tuhan mereka”. (Q.S. Annajm: 23)
3.Hidayah ‘Amaliyah (Petunjuk
Terkait Aktivitas Hidup), seperti firman Allah dalam surat Al-Ankabut berikut :
Dan orang-orang yang
berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada
mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang
yang berbuat baik.”(Q.S. Al-Ankabut: 69)
4.Hidayah Fithriyah (Fitrah).
Hidayah Fithriyah ini terkait dengan kecenderungan alami yang Allah tanamkan
dalam diri manusia untuk meyakini Tuhan Pencipta, mentauhidkan-Nya dan
melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk diri mereka.
Realisasinya tergantung atas
pilihan dan keinginan mereka sendiri.Sumbernya adalah Qalb (hati nurani) dan
akal fikiran yang masih bersih (fithriyah) sebagaimana yang dialami oleh Nabi
Ibrahim. Allah menjelaskan dalam firma-Nnya:
Kemudian tatkala dia
melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah
bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi
petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat".
(Q.S. Al-An’am: 77)
"Menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang
yang berbuat kebaikan" [Lukman 31;3]
Petunjuk Allah diberikan kepada orang yang berbuat kebaikan, yaitu
mendistribusikan nilai lebih yang dimiliki kepada orang lain sehingga kelebihan
yang dimiliki juga menjadi hak orang lain yang harus dikeluarkan. Muhsinin
adalah orang yang menambah amal wajibnya dengan amal sunnah melalui shalat,
infaq atau amaliyah lain, dengan menjadikan dirinya sebagai orang baik itulah
sehingga hidayah Allah dapat diraihnya.
"Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan
padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa[Al Baqarah 2;2],
Allah memberikan hidayah-Nya kepada hamba yang bertaqwa yaitu orang yang
berusaha mengerjakan segala perintah Allah tanpa tawar menawar dan meningalkan
larangan-larangan Allah tanpa ragu.
Sebaliknya Allah tidak memberikan hidayah agama ini kepada orang kafir,
orangt fasiq dan orang zhalim, karena semua watak mereka itu menghalangi
datangnya hidayah dari Allah. sebagaimana beberapa firman Allah;".....dan
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir " [At
Taubah 9;37]
Kekafiran dalam bentuk apapun seperti nifaq dan syirik tidak akan
diberikan hidayah oleh Allah karena cukup sebagai penghalang masuknya hidayah
disebabkan watak mereka."........Allah
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik" [Al Maidah
5;108]
Suatu hal mustahil hidayah akan didapati oleh orang fasik karena orang
fasik itu adalah orang yang mengerti dengan kebenaran Islam tapi dia enggan
untuk mengamalkannya. ".....Allah tidak menunjuki orang-orang yang
zalim' [Ali Imran 3;86].
Allah juga tidak akan
memberikan hidayah kepada orang-orang yang zhalim yaitu orang yang prilaku dan
sikapnya menzhalimi diri sendiri, keluarga dan orang lain, kezhaliman menjadi
penghalang untuk menerima hidayah Allah.
Orang yang mendapat hidayah dalam sejarah;
Sepanjang sejarah kehidupan
manusia ada orang-orang yang mendapat hidayah sehingga hidupnya terbimbing oleh
petunjuk sehingga selamat di dunia hingga akherat sebagaimana contoh berikut;
1.Umar bin Khattab;
Rasulullah pernah berdo'a "Ya
Allah tinggikanlah Islam dengan salah seorang diantara dua laki-laki yaitu Umar
bin Hisyam [Abu Jahal] dan Umar bin Khattab".
Ketika Umar bin Khattab dengan
pedang terhunus ingin mencari Muhammad, di tengah jalan dia bertemu dengan
seseorang lalu menegurnya, "Hendak kemana engkah ya Umar, nampaknya
terburu-buru benar?", dia menjawab, "Saya akan memcari Muhammad dan
membunuhnya karena dia telah mengajarkan agama baru kepada masyarakat kita dan
mengajak kita agar meninggalkan tuhan-tuhan nenek moyang kita". Orang itu
berkata, "Kalau begitu janganlah engkau mencari Muhammad karena adikmu
Fatimah sudah beriman kepada Muhammad".
Berbalik dia delapan puluh derajat
mendengarkan kata-kata yang menyudutkan itu, dia lansung menemui adiknya di
rumah. Dalam rumah itu adiknya berserta suami dan pembantunya sedang membaca
dan mempelajari Al Qur'an, dikala pintu digedor dengan keras yang diiringi oleh
teriakan Umar, Fatimah yakin kalau kedatangan kakaknya itu untuk mencegah
keislamannya.
Dikala pintu dibuka lansung Umar
mengintorigasi adiknya yang dibenarkan oleh Fatimah, maka saat itu Umar tidak
bisa membendung kemarahannya, maka dia tamparlah sang adik, tanpa perlawanan
yang berarti sang adik menantangnya agar menampar lagi, tapi Umar tidak tega,
yang akhirnya terjadilah dialoq tentang Al Qur'an yang sedang dipegang Fatimah,
Umar ingin tahu isinya, setelah dia baca maka dia pergi mencari Muhammad untuk
menyatakan keislamannya.
2.Fudhail bin Iyad
Seorang pemuda yang selalu berbuat
maksiat kepada Allah dengan berbagai kelakuan. Suatu malam dia sedang
menjalankan aksinya, memanjat rumah seseorang untuk mencuri, namun dia
mendengarkan bacaan Al Qur'an dikumandangkan oleh seorang wanita, dia sudah
biasa mendengarkan Al Qur'an dibacakan tapi malam ini seolah-olah isi Al Qur'an
itu ditujukan kepadanya. Dia urungkan niatnya untuk mencuri,dia turun dari
rumah itu untuk mensucikan diri kemudian bertaubat kepada Allah.
3.Asiyah, isteri Fir'aun
"Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan
bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah
untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah Aku dari
Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah Aku dari kaum yang zhalim" [At
Tahrim 66;11]
Dizaman kini yaitu abad 20
banyak orang yang mendapat hidayah Allah diantaranya;
1.Margaret
Marcus; wanita Yahudi yang mengkaji ajaran Islam akhirnya dia masuk
Islam, diganti namanya menjadi Maryam
Jameelah.
2.Cat
Steven, penyanyi terkenal Inggris yang hidup mewah, masuk islam dengan
nama barunya yaitu Yusuf Islam,
3.Leofold
Weis; sosiolog Perancis yang masuk islam dengan namanya yang baru
Muhammad Assad.
4.Jhon
Esposito; seorang profesor pengamat masalah islam selama 20 tahun,
akhirnya masuk islam tahun 1994
5.Petinju
Hitam yang bernama Muhammad Ali
6.Irena
Handoko, mantan Biarawati yang masuk islam lalu jadi da'i.
Karena hidayah atau petunjuk keimanan itu hak preogatif Allah saja, maka
banyak orang yang dekat dengan Rasul tapi tidak dapat hidayah dari Allah
seperti; paman Nabi Muhammad yang bernama Abu Thalib, Ayah Nabi Ibrahim, Qarun,
saudara sepupu Nabi Musa, Isteri dan anak Nabi Nuh dan Isteri Nabi Lut.
Siapapun di dunia ini hanya akan menjaga dengan sungguh-sungguh
sesuatu yang dianggapnya berharga dan membuang sesuatu yang dianggapnya tidak
berharga. Semakin bernilai dan semakin berharga suatu benda, maka akan lebih
habis-habisan pula dijaganya.
Ada yang sibuk menjaga hartanya karena dia menganggap hartanyalah
yang paling bernilai.Ada yang sibuk menjaga wajahnya agar awet muda, karena
awet muda itulah yang dianggapnya paling bernilai.Ada juga yang mati-matian
menjaga kedudukan dan jabatannya, karena kedudukan dan jabatan itulah yang dianggap
membuatnya berharga.
Tapi ada pula orang yang mati-matian menjaga hidayah dan taufik
dari-Nya karena dia yakin bahwa hidup tidak akan selamat mencapai akhirat
kecuali dengan hidayah dan taufik dari ALLOH yang Mahaagung. Inilah sebenarnya
harta benda paling mahal yang perlu kita jaga mati-matian.Betapa nikmat iman
yang bersemayam di dalam kalbu melampaui apapun yang bernilai di dunia ini.
Karenanya, sudah sepantasnya dalam mencari apapun di dunia ini,
kita tetap dalam rambu-rambu supaya hidayah itu tidak hilang.Misal, ketika
mencari uang untuk nafkah keluarga, kita sibuk dengan berkuah peluh bermandi
keringat mencarinya, tapi tetap berupaya dengan sekuat tenaga agar dalam
mencari uang ini hidayah sebagai sebuah barang berharga tidak hilang dan taufik
tidak sampai sirna.
Begitupula ketika menuntut ilmu, kita kejar ilmu
setinggi-tingginya tetapi tetap dalam rambu-rambu supaya hidayah tidak sampai
sirna.Bahkan seharusnya acara mencari nafkah, mencari ilmu, atau mencari dunia
bisa lebih mendekatkan dengan sumber hidayah dari ALLAH.
Ada sebuah doa yang ALLAH ajarkan kepada kita melalui
firman-Nya, "Robbanaa, laa tuziquluu banaa ba’da ijhhadaitana wahablana
milladunkarahmatan innaka antal wahhaab…" (Q.S. Ali Imran [3]: 8). (Ya
Tuhan kami, jangan jadikan hati ini condong kepada kesesatan sesudah engkau
beri petunjuk, dan karuniakan kepada kami rahmat dari sisimu, sesungguhnya
Engkau Maha Pemberi Karunia).
Demikianlah ALLAH Azza wa Jalla, Dzat Maha Pemberi Karunia
Hidayah, mengajarkan kepada kita agar senantiasa bermohon kepada-Nya sehingga
selalu tertuntun dengan cahaya hidayah dari-Nya. Tidak bisa tidak, doa inilah
yang harus senantiasa kita panjatkan di malam-malam hening kita, di setiap
getar-getar doa yang meluncur dari bibir kita.[Aa Gym, Tausiyah Manajemen
Kalbu, Karunia Hidayah].
Rasanya
walaupun kita kehilangan semuanya tidak ada masalah asal jangan kehilangan
hidayah karena hidayah itu sangat mahal harganya dan dia tidak bisa ditukar
dengan harta benda juga tidak bisa dibeli dengan harga berapapun, untuk itu
jagalah hidayah itu hingga mengantarkan kita ke akherat dengan syurga-Nya,
wallahu a’lam [MengkoangPahang
Malaysia, 02 Juni 2011M/ 29 Jumadil Akhir 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar