Selasa, 19 Januari 2016

119. Hidayah



Bila  ada orang yang belum masuk islam walaupun dia sudah faham dengan islam dan diapun bergaul dengan komunitas islam, maka dia dikatakan belum dapat hidayah. Orang yang bergelimanmg dengan kejahiliyyahan dan belum mau untuk melaksanakan tuntutan islam secara total maka disebut juga bahwa dia belum dapat petunjuk atau hidayah Allah.

Hidayah itu artinya petunjuk Allah yang berkaitan dengan  keimanan, hanya diberikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya dan ini merupakan hak preogatif Allah tanpa bisa dicampuri oleh siapapun. Walaupun demikian hidayah tersebut akan diberikan memang kepada orang-orang yang mencarinya atau orang-orang yang memang ada kecendrungan kepada keimanan, Allah berfirman;

"Segala puji bagi Allah yang Telah menunjuki kami kepada (surga) ini. dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. "[Al A'raf 7;43]

"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, Maka merekalah orang-orang yang merugi" [Al A'raf 7;178]

            Menurut Muhammad Abduh, hidayah itu ada empat macam yaitu;
1.Hidayah Tabiat yaitu hidayah yang berkaitan dengan insting manusia seperti bayi bila merasakan haus/lapar, maka untuk menyampaikan  informasi dia hanya menangis saja.
2.Hidayah Indra yaitu petunjuk yang melekat pada indra manusia, dengan panca indra yang diberikan Allah, dapat digunakan untuk  kehidupan.
3.Hidayah Akal yaitu petunjuk yang diberikan Allah untuk menimbang yang baik dan yang buruk melalui fikiran manusia.
4.Hidayah Addin yaitu  hidayah atau petunjuk yang berkaitan dengan keimanan dan agama Islam, diberikan hanya untuk orang tertentu saja

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabbnya, maka Allah menerima tobatnya.Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Kami berfirman: "Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati".Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Baqarah 37-39)

Di dalam ayat di atas Allah swt memberikan suatu prinsip hidup yang sangat fundamental."Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati".

Allah swt menegaskan bahwa barangsiapa hidup di dunia berlandaskan petunjuk dan arahan yang Allah berikan, niscaya mereka tidak akan khawatir dan bersedih hati. Artinya, mereka akan hidup dalam kebaikan dan kebahagiaan. Dan bila Allah swt menyatakan demikian, tidak mungkin tidak pasti menjadi kenyataan.Dan kenyataan tersebut tidak hanya bersifat sementara, melainkan selamanya alias abadi.Tidak saja kebaikan dan kebahagiaan di dunia fana tetapi juga meliputi alam akhirat yang kekal abadi.

Siapapun yang berakal sehat dan berhati nurani pasti akan menyambutnya dengan baik. Dan mengingat bahwa jaminan tersebut memiliki syarat, maka iapun akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi syaratnya. Walaupun syarat itu berat, namun karena jaminannya begitu menggiurkan dan berasal dari fihak yang dia yakini kredibilitasnya, tentu dia siap menghadapinya.
Apakah syaratnya? Allah swt berfirman:
...maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku,” 

Allah mensyaratkan manusia untuk mengikuti petunjukNya bila datang kepada mereka.Bagaimana petunjuk itu datang kepada manusia?Yaitu, melalui para kurir resmi yang diutusnya bernama para Nabiyullah dan Rasulullah ’alahimus-salam.Dan dalam sejarah dunia Allah telah mengutus banyak sekali rangkaian Nabi dan RasulNya ’alahimus-salam. Dan kita yang hidup dewasa ini bahkan hidup di masa Allah telah mengirim Nabi dan RasulNya yang terakhir alias Nabi Akhir Zaman yakni Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam. Beliau adalah penutup para Nabi dan petunjuk yang diterima dari Allah swt dan disampaikannya kepada ummat manusia merupakan petunjuk terakhir yang Allah wahyukan, yakni Kitabullah Al-Qur’anul Karim. Maka sangatlah pantas bila Allah swt menjamin bahwa petunjukNya yang terakhir ini merupakan petunjuk yang otentitas-nya (keasliannya) tidak akan mengalami kontaminasi. Al-Qur’an bakal terpelihara hingga hari Kiamat.
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS Al-Hijr 9)

Berbeda dengan berbagai Nabi dan RasulNya yang diutus sebelum Nabi terakhir, maka mereka menerima petunjuk yang belum final dan tidak dijamin otentitasnya terpelihara.Sehingga petunjuk Allah swt yang mereka terima hanya berlaku bagi kaum yang mereka hidup bersamanya dan di masa mereka hadir di dunia hingga datangnya Nabi dan Rasulullah berikutnya.Sebab kedatangan para Nabi dan Rasulullah sebelumnya bakal disempurnakan lebih lanjut dengan kedatangan Nabi dan Rasulullah berikutnya.Hingga tiba giliran Allah swt mengutus Penutup Para Nabi dan RasulNya. Oleh karenanya, Al-Quranul Karim Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam berfungsi sebagai the Final Divine Guidance for the Whole of Mankind (Petunjuk Ilahi yang Final bagi segenap ummat manusia). Menjelang berakhirnya dunia yang fana ini Allah menyempurnakan petunjukNya kepada ummat manusia dengan diwahyukannya Kitabullah yang sempurna, final dan komprehensif (lengkap). Dan diutusnya seorang Nabiyullah yang tidak memimpin kaumnya saja (bangsa Arab), melainkan menjadi Teladan bagi segenap ummat manusia bahkan Rahmat bagi semesta alam.[Eramuslim, Ihsan Tandjung,Peradaban Dunia Tanpa Petunjuk Allah,Jumat, 24/09/2010 10:08 WIB]

            Hidayah itu artinya petunjuk Allah yang berkaitan dengan  keimanan, hanya diberikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya dan ini merupakan hak preogatif Allah tanpa bisa dicampuri oleh siapapun. Walaupun demikian hidayah tersebut akan diberikan memang kepada orang-orang yang mencarinya atau orang-orang yang memang ada kecendrungan kepada keimanan, Allah berfirman;

"Segala puji bagi Allah yang Telah menunjuki kami kepada (surga) ini. dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. "[Al A'raf 7;43]

"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, Maka merekalah orang-orang yang merugi" [Al A'raf 7;178]

            Menurut Muhammad Abduh, hidayah itu ada empat macam yaitu;
1.Hidayah Tabiat yaitu hidayah yang berkaitan dengan insting manusia seperti bayi bila merasakan haus/lapar, maka untuk menyampaikan  informasi dia hanya menangis saja.
2.Hidayah Indra yaitu petunjuk yang melekat pada indra manusia, dengan panca indra yang diberikan Allah, dapat digunakan untuk  kehidupan.
3.Hidayah Akal yaitu petunjuk yang diberikan Allah untuk menimbang yang baik dan yang buruk melalui fikiran manusia.
4.Hidayah Addin yaitu  hidayah atau petunjuk yang berkaitan dengan keimanan dan agama Islam, diberikan hanya untuk orang tertentu saja.

Ustadz Fathuddin Jafar mengungkapkan tentang hidayah itu dalam khutbah jum’atnya yang dimuat pada Eramuslim Rabu, 03/03/2010 14:44 WIB dengan judul Mahalnya Harga Hidayah;
Untuk merasakan betapa mahalnya nilai sebuah Hidayah, paling tidak ada dua hal yang perlu diketahui.Pertama, pengertian Hidayah. Kedua, Macam-Macam Hidayah.

1.Pengertian Hidayah (Petunjuk)
Kata Hidayah adalah dari bahasa Arab atau bahasa Al-Qur’an yang telah menjadi bahasa Indonesia. Akar katanya ialah : هدى – يهدي – هديا – هدى – هدية - هداية (hadaa, yahdii, hadyan, hudan, hidyatan, hidaayatan). Khusus yang terakhir, kata (هداية) kalau wakaf (berhenti) di baca : Hidayah, nyaris seperti ucapan bahasa Indonesia. Hidayah secara bahasa berarti petunjuk. Lawan katanya adalah : ضلالة (Dholalah) yang berarti “kesesatan”. Secara istilah (terminologi), Hidayah ialah penjelasan dan petunjuk jalan yang akan menyampaikan kepada tujuan sehingga meraih kemenangan di sisi Allah. Pengertian seperti ini dapat kita pahami melalui firman Allah surat Al-Baqarah berikut :
“Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan Pencipta mereka, dan (sebab itu) merekalah orang-orang yang sukses.” (Q.S. Al-Baqarah: 5)

2.Macam-Macam Hidayah
Para Ulama besar Islam telah menjelaskan dengan rinci dan mendalam perihal Hidayah/Hudan, khususnya yang diambil dari Al-Qur’an seperti yang ditulis oleh Al-Balkhi dalam bukunya “Al-Asybah wa An-Nazho-ir”, Yahya Ibnu Salam dalam bukunya “At-Tashoriif”, As-Suyuthi dalam bukunya “Al-Itqon” dan Ibnul Qoyyim Al-Jawzi dalam bukunya “Nuzhatu Al-A’yun An-Nawazhir”.

Hidayah/Hudan Dalam Al-Qur’an tercantum sekitar 171 ayat dan terdapat pula dalam 52 Hadits.Sedangkan pengertian Hidayah / Hudan dalam Al-Qur’an dan Hadits terdapat sekitar 27 makna. Di antaranya bermakna : penjelasan, agama Islam, Iman (keyakinan), seruan, pengetahuan, perintah, lurus/cerdas, rasul /kitab, Al-Qur’an, Taurat, taufiq/ketepatan, menegakkan argumentasi, Tauhid/ mengesakan Allah, Sunnah/Jalan, perbaikan, ilham/insting, kemampuan menilai, pengajaran, karunia, mendorong, mati dalam Islam, pahala, mengingatkan, benar dan kokoh/konsisten.
Dari 27 pengertian tersebut di atas, sesungguhnya Hidayah, secara umum, terbagi menjadi empat bagian utama :

1.Hidayah I’tiqodiyah (Petunjuk Terkait Keyakinan Hidup), seperti firman Allah dalam surat An-Nahl berikut :
“Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk (keyakinan hidup), maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong”. (Q.S. An-Nahl : 37)
Atau seperti firman Allah berikut ini :
Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Firaun yang menyembunyikan imannya berkata: "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: "Tuhan Penciptaku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhan Penciptamu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan (tetapi) jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu". Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk (hidayah) kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta (penolak kebenaran yang datang dari-Nya). (Q.S. Al-Mu’min: 28)

2.Hidayah Thoriqiyah (Petunjuk Terkait Jalan Hidup, yakni Islam yang didasari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul Saw, seperti Firman Allah dalam surat Al-Hajj berikut ini :
“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu.Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus (Islam)”.(Q.S. Al-Hajj: 67)
ِAtau seperti firman Allah di bawah ini :
“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk (Islam/ Al-Qur’an) kepada mereka dari Tuhan mereka”. (Q.S. Annajm: 23)

3.Hidayah ‘Amaliyah (Petunjuk Terkait Aktivitas Hidup), seperti firman Allah dalam surat Al-Ankabut berikut :
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”(Q.S. Al-Ankabut: 69)

4.Hidayah Fithriyah (Fitrah). Hidayah Fithriyah ini terkait dengan kecenderungan alami yang Allah tanamkan dalam diri manusia untuk meyakini Tuhan Pencipta, mentauhidkan-Nya dan melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk diri mereka.
Realisasinya tergantung atas pilihan dan keinginan mereka sendiri.Sumbernya adalah Qalb (hati nurani) dan akal fikiran yang masih bersih (fithriyah) sebagaimana yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Allah menjelaskan dalam firma-Nnya:
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat". (Q.S. Al-An’am: 77)
"Menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan" [Lukman 31;3]

Petunjuk Allah diberikan kepada orang yang berbuat kebaikan, yaitu mendistribusikan nilai lebih yang dimiliki kepada orang lain sehingga kelebihan yang dimiliki juga menjadi hak orang lain yang harus dikeluarkan. Muhsinin adalah orang yang menambah amal wajibnya dengan amal sunnah melalui shalat, infaq atau amaliyah lain, dengan menjadikan dirinya sebagai orang baik itulah sehingga hidayah Allah dapat diraihnya. 

"Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa[Al Baqarah 2;2],

Allah memberikan hidayah-Nya kepada hamba yang bertaqwa yaitu orang yang berusaha mengerjakan segala perintah Allah tanpa tawar menawar dan meningalkan larangan-larangan Allah tanpa ragu.

Sebaliknya Allah tidak memberikan hidayah agama ini kepada orang kafir, orangt fasiq dan orang zhalim, karena semua watak mereka itu menghalangi datangnya hidayah dari Allah. sebagaimana beberapa firman Allah;".....dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir " [At Taubah 9;37]

Kekafiran dalam bentuk apapun seperti nifaq dan syirik tidak akan diberikan hidayah oleh Allah karena cukup sebagai penghalang masuknya hidayah disebabkan  watak mereka."........Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik" [Al Maidah 5;108]

Suatu hal mustahil hidayah akan didapati oleh orang fasik karena orang fasik itu adalah orang yang mengerti dengan kebenaran Islam tapi dia enggan untuk mengamalkannya. ".....Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim' [Ali Imran 3;86].

            Allah juga tidak akan memberikan hidayah kepada orang-orang yang zhalim yaitu orang yang prilaku dan sikapnya menzhalimi diri sendiri, keluarga dan orang lain, kezhaliman menjadi penghalang untuk menerima hidayah Allah.

Orang yang mendapat hidayah dalam sejarah;
            Sepanjang sejarah kehidupan manusia ada orang-orang yang mendapat hidayah sehingga hidupnya terbimbing oleh petunjuk sehingga selamat di dunia hingga akherat sebagaimana contoh berikut;

1.Umar bin Khattab;
            Rasulullah pernah berdo'a "Ya Allah tinggikanlah Islam dengan salah seorang diantara dua laki-laki yaitu Umar bin Hisyam [Abu Jahal] dan Umar bin Khattab".

            Ketika Umar bin Khattab dengan pedang terhunus ingin mencari Muhammad, di tengah jalan dia bertemu dengan seseorang lalu menegurnya, "Hendak kemana engkah ya Umar, nampaknya terburu-buru benar?", dia menjawab, "Saya akan memcari Muhammad dan membunuhnya karena dia telah mengajarkan agama baru kepada masyarakat kita dan mengajak kita agar meninggalkan tuhan-tuhan nenek moyang kita". Orang itu berkata, "Kalau begitu janganlah engkau mencari Muhammad karena adikmu Fatimah sudah beriman kepada Muhammad".

             Berbalik dia delapan puluh derajat mendengarkan kata-kata yang menyudutkan itu, dia lansung menemui adiknya di rumah. Dalam rumah itu adiknya berserta suami dan pembantunya sedang membaca dan mempelajari Al Qur'an, dikala pintu digedor dengan keras yang diiringi oleh teriakan Umar, Fatimah yakin kalau kedatangan kakaknya itu untuk mencegah keislamannya.

            Dikala pintu dibuka lansung Umar mengintorigasi adiknya yang dibenarkan oleh Fatimah, maka saat itu Umar tidak bisa membendung kemarahannya, maka dia tamparlah sang adik, tanpa perlawanan yang berarti sang adik menantangnya agar menampar lagi, tapi Umar tidak tega, yang akhirnya terjadilah dialoq tentang Al Qur'an yang sedang dipegang Fatimah, Umar ingin tahu isinya, setelah dia baca maka dia pergi mencari Muhammad untuk menyatakan keislamannya.

2.Fudhail bin Iyad
            Seorang pemuda yang selalu berbuat maksiat kepada Allah dengan berbagai kelakuan. Suatu malam dia sedang menjalankan aksinya, memanjat rumah seseorang untuk mencuri, namun dia mendengarkan bacaan Al Qur'an dikumandangkan oleh seorang wanita, dia sudah biasa mendengarkan Al Qur'an dibacakan tapi malam ini seolah-olah isi Al Qur'an itu ditujukan kepadanya. Dia urungkan niatnya untuk mencuri,dia turun dari rumah itu untuk mensucikan diri kemudian bertaubat kepada Allah.

3.Asiyah, isteri Fir'aun

"Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah Aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah Aku dari kaum yang zhalim" [At Tahrim 66;11]

            Dizaman kini yaitu abad 20 banyak orang yang mendapat hidayah Allah diantaranya;

1.Margaret Marcus; wanita Yahudi yang mengkaji ajaran Islam akhirnya dia masuk
   Islam, diganti namanya menjadi Maryam Jameelah.

2.Cat Steven, penyanyi terkenal Inggris yang hidup mewah, masuk islam dengan
   nama barunya yaitu Yusuf Islam,

3.Leofold Weis; sosiolog Perancis yang masuk islam dengan namanya yang baru
   Muhammad Assad.

4.Jhon Esposito; seorang profesor pengamat masalah islam selama 20 tahun, 
   akhirnya masuk islam tahun 1994

5.Petinju Hitam yang bernama Muhammad Ali

6.Irena Handoko, mantan Biarawati yang masuk islam lalu jadi da'i.

Karena hidayah atau petunjuk keimanan itu hak preogatif Allah saja, maka banyak orang yang dekat dengan Rasul tapi tidak dapat hidayah dari Allah seperti; paman Nabi Muhammad yang bernama Abu Thalib, Ayah Nabi Ibrahim, Qarun, saudara sepupu Nabi Musa, Isteri dan anak Nabi Nuh dan Isteri Nabi Lut.

Siapapun di dunia ini hanya akan menjaga dengan sungguh-sungguh sesuatu yang dianggapnya berharga dan membuang sesuatu yang dianggapnya tidak berharga. Semakin bernilai dan semakin berharga suatu benda, maka akan lebih habis-habisan pula dijaganya.
Ada yang sibuk menjaga hartanya karena dia menganggap hartanyalah yang paling bernilai.Ada yang sibuk menjaga wajahnya agar awet muda, karena awet muda itulah yang dianggapnya paling bernilai.Ada juga yang mati-matian menjaga kedudukan dan jabatannya, karena kedudukan dan jabatan itulah yang dianggap membuatnya berharga.

Tapi ada pula orang yang mati-matian menjaga hidayah dan taufik dari-Nya karena dia yakin bahwa hidup tidak akan selamat mencapai akhirat kecuali dengan hidayah dan taufik dari ALLOH yang Mahaagung. Inilah sebenarnya harta benda paling mahal yang perlu kita jaga mati-matian.Betapa nikmat iman yang bersemayam di dalam kalbu melampaui apapun yang bernilai di dunia ini.

Karenanya, sudah sepantasnya dalam mencari apapun di dunia ini, kita tetap dalam rambu-rambu supaya hidayah itu tidak hilang.Misal, ketika mencari uang untuk nafkah keluarga, kita sibuk dengan berkuah peluh bermandi keringat mencarinya, tapi tetap berupaya dengan sekuat tenaga agar dalam mencari uang ini hidayah sebagai sebuah barang berharga tidak hilang dan taufik tidak sampai sirna.
Begitupula ketika menuntut ilmu, kita kejar ilmu setinggi-tingginya tetapi tetap dalam rambu-rambu supaya hidayah tidak sampai sirna.Bahkan seharusnya acara mencari nafkah, mencari ilmu, atau mencari dunia bisa lebih mendekatkan dengan sumber hidayah dari ALLAH.

Ada sebuah doa yang ALLAH ajarkan kepada kita melalui firman-Nya, "Robbanaa, laa tuziquluu banaa ba’da ijhhadaitana wahablana milladunkarahmatan innaka antal wahhaab…" (Q.S. Ali Imran [3]: 8). (Ya Tuhan kami, jangan jadikan hati ini condong kepada kesesatan sesudah engkau beri petunjuk, dan karuniakan kepada kami rahmat dari sisimu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Karunia).

Demikianlah ALLAH Azza wa Jalla, Dzat Maha Pemberi Karunia Hidayah, mengajarkan kepada kita agar senantiasa bermohon kepada-Nya sehingga selalu tertuntun dengan cahaya hidayah dari-Nya. Tidak bisa tidak, doa inilah yang harus senantiasa kita panjatkan di malam-malam hening kita, di setiap getar-getar doa yang meluncur dari bibir kita.[Aa Gym, Tausiyah Manajemen Kalbu, Karunia Hidayah].

                    Rasanya walaupun kita kehilangan semuanya tidak ada masalah asal jangan kehilangan hidayah karena hidayah itu sangat mahal harganya dan dia tidak bisa ditukar dengan harta benda juga tidak bisa dibeli dengan harga berapapun, untuk itu jagalah hidayah itu hingga mengantarkan kita ke akherat dengan syurga-Nya, wallahu a’lam [MengkoangPahang Malaysia, 02 Juni 2011M/ 29 Jumadil Akhir 1432.H].
].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar