Senin, 25 Januari 2016

122. Ghazwul Fikri



Ghazwul Fikri berasal dari bahasa Arab yang artinya secara harfiyah yaitu Perang Pemikiran, sedangkan maksudnya adalah sebuah upaya umat non muslim untuk menghancurkan ummat islam dengan berbagai cara, sistim yang tepat mereka gunakan untuk  itu adalah memerangi ummat islam melalui fikiran dan idiologi mereka dengan tujuan agar seluruh tatanan kehidupan muslim tersebut mengadopsi cara hidup mereka, hal ini sesuai dengan Firman Allah dalam surat Al Baqarah 2;120; “Yahudi dan Nasrani tidak akan ridho kepadamu sebelum kamu mengikuti millah mereka”, kata “Millah” itu maksudnya adalah cara cara pandangan hidup, idiologi dan pemikiran, semua dari ajaran selain islam. Istilah sudah ketinggalan zaman, tidak relevan lagi, perlu direvisi dan kehendak-kehendak lain untuk meruntuhkan nilai-nilai ajaran islam.

            Samuel Zwemer adalah orang yang paling gencar memusuhi islam dan ummatnya, hanya dengan empat program S tapi tercapai semuanya, dalam waktu yang relatif singkat dengan dana yang minim bahkan ummat islam itu sendiri yang membiayai penghancuran dirinya tanpa disadari. Barat dan idiologi apa saja sudah kewalahan berhadapan dengan ummat islam bila peperangan hanya secara “asykari” melalui militer. Ummat islam adalah ummat yang tangguh berperang di medan jihad walaupun dengan perlengkapan seadanya, sehingga wajar ketika meletuskan Perang Bosnia, sang Presiden Elija Becovic menyatakan siap bertemput dengan Serbia hingga dua puluh tahun lagi, sementara Serbia sudah kecapaian.

            Dengan ketidakberdayaan musuh-musuh islam berhadapan di medan jihad secara frontal sehingga mereka merubah strategi perang melalui pemikiran, perang idiologi dan perang urat syaraf, percaya ataupun tidak ummat islam dilumpuhkan dengan strategi perang ini sehingga berlutut menghadapi kehancuran. Program mereka tersebut hanya dengan S saja yaitu;

            Pertama, mereka menggencarkan Song, yaitu lagu dan nyanyi sehingga ummat islam senang dan terlena dengan kesibukan menyanyi ini. Syair yang tampilpun banyak yang menyimpang dari aqidah islam seperti ”Kaulah segalanya, mau makan ingat kamu, mau tidur ingat kamu”, atau layakkay lagu ”Kutang Barendo” didendangkan oleh anak nagari. Bagaimana penyanyi kita hadir di layar kaca atau di panggung, pakaian dan  dandanannya sungguh diluar syariat. Bukan kita tidak boleh menyanyi, bahkan kegiatan ini adalah rileknya hati manusia, tapi lagu-lagu yang mengajak kepada keimanan, yang memberikan penyadaran agar berhati-hati dalam hidup, ingin bernyanyi dan mendengarkan lagu, selain hiburan alternatif yang dibawakan oleh Raihan, Hijaj, Saujana dan Hadad Alwi dengan nasyidnya perlu dilestarikan agar tidak terjebak program ghazwul fikri.

            Kedua, mereka melancarkan Sport, yaitu olah raga. Ini adalah program mendunia, bahkan Eropa telah menukar tuhannya dengan sport, khususnya sepak bola. Sehingga kegiatan gereja sudah kosong dari ritual ibadah mereka karena disibukkan oleh agama baru mereka di lapangan hijau. Kita sebagai muslim dianjurkan pula berolah raga, tapi bukan olah raga yang hari ini diikuti dan digandrungi oleh ummat ini. Sejak dari pakaian olah raga yang cendrung membuka aurat, nampaknya ketika berolah raga seorang ustadzpun sah membuka auratnya dengan celana pendek di lapangan. Bukanlah rasul kita telah menyatakan bahwa aurat laki-laki itu sejak dari pusat hingga lutut, kenapa ketika berolah raga kita mengabaikan sunnah Rasul. Apalagi pakaian renang, tennis, volley pantai  sungguh tidak islami.

            Sekolah sekolah bila menerima dua buah surat dari instansi atasannya, pertama untuk mengadakan pesantren kilat dan kedua untuk mempersiapkan tim olah raga, maka kepala sekolah dan pembina osis akan mengerahkan segala daya upaya, waktu dan tenaga hingga biaya untuk menanggapi surat kedua, sementara surat pertama dimasukkan ke dalam laci karena dianggap tidak begitu penting. Demikian hebatnya bius sport yang dilancarkan oleh musuh-musuh islam.

            Ketiga, mereka ingin agar ummat islam itu suka dengan   Story yaitu kisah dan cerita yang ditayangkan melalui media elektronik, cetak dan radio yang intinya agar umat islam sibuk dengan itu, bahkan melalui story pula nilai-nilai islam dikubur dengan menampilkan nilai-nilai yang tidak islami seperti kisah Saur Sepuh, Nenek Lampir, Pokemon, Telletubies, Superman dan sederet kisah lainnya.

            Seorang anak usia 12 tahun naik ke gedung tingkat sembilan di Singapura kemudian dengan ucapan ”Superman” dia  terjunkan dirinya ke bawah. Di Jakarta seorang anak menghadang modil di jalan raya sehingga mati seketika, rupanya di punggung sianak tertulis Kura-Kura Ninja. Seorang anak naik ke lemari ibunya di sebuah kamar, ketika disuruh turun dia lansung terjun dengan ucapan Satria Baja Hijam. Solusi dari semua itu , paling tidak dan ringan bagaimana anak-anak kita menyukai kisah-kisah islami dari pada kisah yang akan meracuni kehidupannya.

            Keempat, musuh islam telah berupaya menanamkan kepada ummat islam agar senang dengan Sex, baik melalui ucapan, tontonan, lagu ataupun canda pengisi waktu disela-sela istirahat kerja di kantor, di sawah, di ladang dan kesibukan lainnya. Bahkan da’wahpun kita telah mengarah kepada humor yang dibumbui dengan sex, sungguh ironi dan menyedihkan. Lihatlah di pasar-pasar, kedai-kedai koran dengan berani memampangkan wajah dan tubuh mulus wanita tanpa [minim] busana, dan itu laku keras. Rental vcdpun menjamur ibarat cendawan di musim hujan, yang isinya beragam sesuai selera pelanggannya.

            Ghazwul fikri ini intinya adalah memerangi islam dan ummatnya dari berbagai sisi, yang lebih dahsyat adalah peperangan melalui pemikiran, mengolah otak ummat islam dengan berbagai cara yang akhirnya ummat islam walaupun dia masih melakukan shalat hingga menunaikan ibadah haji tapi mereka sudah memihak kepada musuh-musuhnya, apapun tuduhan yang dilontarkan kepada ummat islam tidak ada penangkisnya bahkan turut serta membenarkan tuduhan itu, contoh yang masih hangat terjadi di belahan dunia ini adalah isu dan tuduhan teroris kepada ummat Islam.
           
Pasca tragedi WTC 11 September, Amerika Serikat menggelar program Global War on Terrorism (GWOT). Negara adidaya itu tidak sendiri. AS mengajak—dengan memaksa—negara lain untuk ikut serta di dalamnya. Yang tidak ikut dianggap melawan Amerika dan mendukung teroris.

Siapa sebenarnya teroris yang dimaksud? Jawabnya: Islam. Lihat saja pernyataan Presiden George W Bush—seperti dilansir BBC 16/09/2001, “This Crusade, this war on terrorism, is going to take a along time (Perang Salib ini, perang melawan terorisme, akan memakan waktu yang lama)”. Bush juga pernah mengatakan, ”Kaum militan percaya dengan mengontrol satu negara akan menggerakkan masa umat Muslim, dan memberikan kemampuan buat mereka untuk menggulingkan seluruh pemerintahan moderat di daerah tersebut dan mendirikan sebuah imperium Islam radikal yang terbentang dari Spanyol hingga ke Indonesia.”

Ada kekhawatiran besar di Barat yang kafir terhadap fenomena kebangkitan Islam baik di dunia Barat maupun Timur.Bagaimana pun arus Islam ini harus dibendung karena bisa membahayakan eksistensi Barat khususnya di dunia Islam.

Indonesia pun tak mau ketinggalan. Densus 88 dibentuk dengan bantuan dana dari Amerika dan Australia. UU Terorisme pun disusun.Setelah itu dibentuk Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) yang banyak diisi oleh orang-orang Densus 88.Proyek deradikalisasi pun dilakukan.Tapi itu belum dianggap cukup.Mereka menginginkan satu lagi, UU Intelijen.

Lahirnya RUU Intelijen tak bisa dilepaskan dari fenomena terorisme.Entah aksi terorisme itu rekayasa atau bukan, pemerintah menganggap UU Terorisme yang ada belum cukup sebagai payung hukum untuk menangani kasus tersebut.Keberadaan RUU Intelijen tersebut berperan menjadi penguat dan pendukung aturan UU terkait terorisme yang memang sudah ada yakni UU Nomor 15 Tahun 2003.

Terorisme yang semula hanya mengarah pada tindak kekerasan, akhir-akhir ini cakupannya diperluas dan digeneralisasi.Ansyaad Mbai dan Hendropriyono yang sering sekali dalam berbagai kesempatan menghubungkan antara terorisme dan upaya penegakan syariah Islam.Aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh simpatisan partai politik maupun masyarakat umum tak pernah dikatakan sebagai teror. Padahal korban dan dampaknya sama, bahkan jauh lebih besar.
Cukup berasalan bila ada yang menduga, RUU ini ditujukan secara khusus untuk mencegah bangkitnya Islam di Indonesia, paling tidak membendung arus Islamisasi atau yang sering disebut orang anti Islam sebagai radikalisasi. Melalui UU ini, gerakan Islam bisa diberangus atas nama stabilitas dan keamanan negara.
Menurut juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia M Ismail Yusan-to, itu sangat mungkin dilakukan.Caranya pun mudah.”Bikin dulu opini bahwa pejuang syariah dan khilafah mengganggu atau mengancam keamanan nasional, karenanya mereka harus dianggap sebagai 'musuh dalam negeri'.Maka absahlah kalau mereka kemudian ditangkap.Canggih, kan?” katanya.

Ketua Lajnah Siasiyah DPP HTI Harist Abu Ulya meminta umat Islam mewaspadai upaya-upaya penguatan legal frame (regulasi) untuk dijadikan alat menggencet atau bahkan mengeliminasi Islam dan kaum Mus-limin melalui bendera “War on terrorism”.Mengapa? Sebab, sebagian pihak pemerintah sudah tidak lagi obyektif menyikapi persoalan terorisme di Indonesia. Ini sama persis dengan kejadian di zaman Orda Baru, Islam dianggap sebagai musuh negara dan disebut sebagai ekstrim kanan.[Website Media Ummat; Thursday, 05 May 2011 04:21,Perang Terhadap Islam].

Ibarat musim, hujan lebat selalu dimulai dengan gerimis terlebih dulu.Usaha musuh-musuh Islam untuk menghancurkan umat Islam tak pernah kendor.

Tak hanya fisik, ghazwul fikri pun ditempuh.Cara ini dipandang lebih efektif dan murah.LĂ­hatlah, sebelum terjadi pengeboman di JW Marriot dan Ritz Carlton.Bulan sebelumnya kita disuguhkan dengan buku Ilusi Negara Islam.Buku ini menyerang Islam politik.

Buku tersebut diterbitkan atas kerjasama Gerakan Bhineka Tunggal Ika, the Wahid Institute dan Maarif Institute.Buku itu merupakan hasil penelitian yang berlangsung lebih dari dua tahun dan dilakukan oleh LibForAll Foundation.Yang menjadi editor dalam buku itu adalah Gus Dur dan yang menjadi penyelaras bahasanya adalah Mohamad Guntur Romli.

Buku berjudul lengkap Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia yang menyebutkan PKS sebagai bagian dari gerakan Islam garis keras transnasional. PKS membantah dan mengatakan, para penulis buku itu merupakan antek-antek dari mantan Presiden AS George W Bush.

Dalam kata pengantar buku itu yang ditulis oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur), memaparkan bahwa PKS telah melakukan infiltrasi ke Muhammadiyah pada Muktamar Muhammadiyah Juli 2005 di Malang. Saat itu, para agen kelompok garis keras seperti PKS mendominasi banyak forum dan berhasil memilih beberapa simpatisan gerakan garis keras menjadi Ketua PP Muhammdiyah.

"Dugaan saya, dana riset buku itu didapatan dari Bush.Itu merupakan proyek terakhir Bush sebelum kejatuhannya.Karena Bush memiliki kebijakan perang melawan terorisme," ujar Wasekjen PKS Fahri Hamzah.
Menurut Fahri, tulisan-tulisan yang ada pada buku itu masih mengacu pada framework dunia saat Bus masih jadi Presiden AS. "Padahal kan framework dunia sudah berbeda dan tuduhan-tuduhan tentang PKS itu semuanya palsu.Saat ini dunia sudah mulai tidak terlalu menyoroti isu terorisme, bahkan dunia sudah menilai Bush sebagai penjahat perang," katanya.
Adapun tuduhan terhadap Hizbut Tahrir sebagai kelompok yang membahayakan Indonesia, adalah sebuah kebohongan besar.Hizbut Tahrir dengan perjuangan syariah dan Khilafah justru bertujuan untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan akibat Sekularisme, Liberalisme, Kapitalisme dan penjajahan modern di segala bidang.
Menurut Ismail Yusanto, Jurubicara HTI,  Liberalisme dan Sekularisme yang selama ini mereka propagandakan itulah yang telah nyata-nyata merusak dan menghancurkan Indonesia. Atas dasar Liberalisme pula, mereka mendukung aliran sesat (Ahmadiyah, Lia Eden, dll), legalisasi aborsi, menolak larangan pornografi dan pornoaksi, mendukung penjualan aset-aset strategis.
“Maka, merekalah yang sesungguhnya harus diwaspadai, karena mereka menghalangi upaya penyelamatan Indonesia dengan syariah, dengan tetap mempertahankan Sekularisme dan penjajahan asing di negeri ini,” tegas Ismail Yusanto.

Dalam masalah Bom di JW Marriot dan Ritz Carlton, HTI Menyerukan kepada semua pihak, khususnya kepolisian dan media massa, untuk bersikap hati-hati menanggapi spekulasi yang mengaitkan bom JW Marriot dan Ritz Carlton ini dengan kelompok, gerakan atau organisasi Islam. Dari sekian kemungkinan, bisa saja peledakan bom itu sengaja dilakukan oleh orang atau kelompok tertentu untuk mengacaukan situasi keamanan di masyarakat dan negara ini demi mendiskreditkan organisasi Islam.

Setelah pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott Jakarta, Jumat (17/7), berhasil diungkap Kepolisian. Kontroversi teror bom masih mengganggu benak umat muslim Indonesia. Kedekatan pelaku dengan Noordin M Top dan Jamaah Islamiyah (JI) seolah-olah kembali menggiring opini publik jika Islam di Indonesia identik dengan kekerasan meski tanpa bukti dan fakta yang nyata. Sehingga menyebabkan antipati publik terhadap Islam.Padahal, selama ini Islam selalu hidup damai, terbuka dan toleran.

  Yang menarik adalah kesimpulan AM Hendropriyono.Mantan Kepala BIN ini mengatakan bahwa kaum ekstrimis Islam yg terlibat teroris mancanegara berasal dari dua aliran dalam agama Islam yaitu Wahabi dan Ikhwanul Muslimin.Statemen AM Hendropriyono mengundang protes keras dari kalangan tertentu.“Terorisme ada di Indonesia karena suasana kondusif untuk benih-benih terorisme.Selama anasir-anasir tsb tidak dibersihkan dari bumi nusantara maka terorisme tidak akan hilang,” katanya pada Sabili yang mewawancarai Hendropriyono di Yogyakarta.

Siapakah Wahabi?
Sebagian ulama yang adil sesungguhnya menyebutkan bahwa Syekh Muhammad bin Abdul Wahab adalah salah seorang mujaddid (pembaharu) abad dua belas Hijriyah. Mereka menulis buku-buku tentang beliau. Di antara para pengarang yang menulis buku tentang Muhammad bin Abdul Wahab adalah Syekh Ali Thanthawi. Beliau menulis buku tentang Silsilah Tokoh-tokoh Sejarah, di antaranya terdapat Syekh Muhammad bin Abdul Wahab dan Ahmad bin 'Irfan.

Dalam buku tersebut beliau menyebutkan, sebagai ajaran akidah tauhid, apa yang disampaikan Muhammad bin Abdul Wahab menyebar ke seluruh dunia Islam melalui jamaah haji yang pulang dari tanah suci. Menguatnya persatuan akidah ini ternyata membawa dampak lain pada kekuatan kolonial yang saat itu berkuasa di dunia Islam. Akhirnya, Inggris ajaran akidah tauhid ini sebagai bentuk baru persatuan dunia Islam yang akan melahirkan ancaman pada kolonial. Berikutnya, kekuatan kolonial membentuk kelompok Murtaziqah (orang-orang bayaran) untuk mencemarkan nama baik dakwah. Maka mereka pun menuduh setiap muwahhid, para penyeru tauhid, dengan kata Wahabi.

Pasca 9/11, sebuah buku diterbitkan oleh di AS dengan judul Wahabi Islam, ditulis seorang orientalis yang merupakan mahasiswa S3 John Esposito. Penulisnya mengatakan bahwa ia tertarik untuk meneliti Wahabisme ketika saat mengambil kuliah Islamologi dan membaca tulisan Muhammad bin Abdul Wahhab, namun tidak menemukan elemen-elemen yang menganjurkan kekerasan. Dalam salah satu babnya, ia mengatakan bahwa pengidentikan Wahabi dengan kekerasan dimulai oleh Inggris di India tahun 1800-an saat terjadi revolusi Muslim. Sejarah menyatakan tidak ada kaitan antara gerakan tersebut dan Wahabisme.
Wahabi sendiri sebenarnya suatu yang kontroversial.Orang awam cenderung mengaitkan Wahabi dengan Islam yang “bertentangan” dengan arus besar (mainstream).

Apa yang dimaksud dengan Wahabi? Bukankah dalam berbagai kesempatan Hendropriyono mengaku bahwa dirinya berasal dari Muhammadiyah.Seperti kita ketahui, Muhammadiyah adalah gerakan Wahabi yang gencar memerangi TBC (Tachayul, Bidah dan Churafat, dalam ejaan lama).“Yang saya maksud adalah Wahabi radikal,” katanya.

Terminologi Wahabi yang sering dilontarkan seringkali menambah kisruh suasana.Ulama-ulama Saudi yang selalu dicap Wahabi oleh sebagian orang, dalam sejarahnya selalu mengecam dan mengritik al-Qaidah, bahkan sebelum pemboman Tanzania.

Taliban selalu dikaitkan dengan Wahabisme.Padahal jika seseorang benar-benar mengikuti ulama Saudi, dampaknya sebenarnya mengejutkan mereka yang selalu berpikir negatif tentang Wahabi.Karena, seluruh ulama terkemuka di Saudi sepakat tindakan teror hukumnya haram.Memberontak bahkan mendemo pemerintah, atau misalnya menebarkan aib pemimpin, juga haram.


Mereka tidak suka mencaci maki pemerintah. Kritikan akan dilakukan secara tertutup (kalau bisa empat mata) dengan penguasa. Ulama mengharamkan melakukan pemberontakan (bughat) selama penguasa masih Muslim.Suasana semakin kisruh ketika Ikhwanul Muslimin (IM) juga disatukan dalam barisan. IM didirikan untuk untuk mengembalikan kekhalifahan setelah runtuhnya kekhalifahan Usmani Turki lepas Perang Dunia I. Ikhwanul Muslimin sendiri tidak terlepas dari proses radikalisasi. Ada beberapa faktor.Salah satu faktor bersifat internal, karena ada beberapa elemen yang memang memilih jalur keras. Di IM, pemikiran radikal ini diwakili oleh misalnya Sayyid Quthb. Faktor eksternal, suatu faktor yang lebih dominan, adalah reaksi politik dari pemerintah yang cenderung menutup akses politik lawan mereka, termasuk IM.

Faktor ini sebenarnya lebih mendorong radikalisasi.Kasus populer adalah Aljazair.Kekerasan muncul saat hasil pemilu tahun 1990an yang dimenangkan secara mutlak oleh partai Islam (FIS) dibatalkan oleh pemerintah berkuasa dan didukung oleh Barat, dan partai tersebut dinyatakan ilegal.Demikian juga di Iran saat Shah Iran.

Faktor penting yang tak bisa dikesampingkan adalah, Afghanistan.Negara ini ketika berperang dengan Komunis Soviet dijadikan sebagai laboratorium jihad oleh berbagai elemen Islam.Apalagi Amerika berada di pihak yang membantu mujahidin.

Namun setelah kemenangan itu diraih, mujahidin banyak yang secara psikologis masih merasa berada di medan jihad. Suasana tempur tak bisa hilang begitu saja.Apalagi negara Barat berbalik menganggap Islam sebagai ancaman.Provokasi dan kezaliman muncul di negeri-negeri Islam.Maka radikalisme itu seolah mendapatkan tempat dan pupuk yang maksimal.Dan setelah itu, target dialihkan pada umat Islam yang dinyatakan radikal.

Padahal, sejarah menceritakan pada dunia bahwa radikalisme nampaknya selalu dipelihara, demi kepentingan kolonial yang selalu berganti pemainnya.Jadi lontaran statemen Wahabi memang lebih dahsyat dari bom itu sendiri. (Cyber Sabili, Eman Mulyatman, Ghazwul Fikri Lebih Dahsyat dari Bom, Rabu, 12 Agustus 2009 13:29)

Sebenarnya peperangan ini sudah berlansung semenjak kehadiran nabi Adam As yang berseteru dengan iblis la’natullah, dia ingin menampakkan segala dosa itu sebagai keindahan sehingga baik dan bagus dipandangan indra kita Iblis berkata, ”Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menyesatkan semua ummat”. Untuk menangkal semua itu adalah Mukhlis yaitu orang yang  punya kriteria Salamatul Fikrah [pemikiran yang selamat], saliimul aqidah [aqidah yang bersih], shahihul ibadah [ibadah yang benar] dan matiinul khuluq [akhlak yang solid].[Mengkoang Pahang Malaysia, 01 Juni 2011M/ 28 Jumadil Akhir 1432.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar