Ghazwul
Fikri berasal dari bahasa Arab yang artinya secara harfiyah yaitu Perang
Pemikiran, sedangkan maksudnya adalah sebuah upaya umat non muslim untuk
menghancurkan ummat islam dengan berbagai cara, sistim yang tepat mereka
gunakan untuk itu adalah memerangi ummat
islam melalui fikiran dan idiologi mereka dengan tujuan agar seluruh tatanan
kehidupan muslim tersebut mengadopsi cara hidup mereka, hal ini sesuai dengan
Firman Allah dalam surat Al Baqarah 2;120; “Yahudi
dan Nasrani tidak akan ridho kepadamu sebelum kamu mengikuti millah mereka”,
kata “Millah” itu maksudnya adalah cara cara pandangan hidup, idiologi dan
pemikiran, semua dari ajaran selain islam. Istilah sudah ketinggalan zaman,
tidak relevan lagi, perlu direvisi dan kehendak-kehendak lain untuk meruntuhkan
nilai-nilai ajaran islam.
Samuel
Zwemer adalah orang yang paling gencar memusuhi islam dan ummatnya, hanya
dengan empat program S tapi tercapai semuanya, dalam waktu yang relatif singkat
dengan dana yang minim bahkan ummat islam itu sendiri yang membiayai
penghancuran dirinya tanpa disadari. Barat dan idiologi apa saja sudah kewalahan berhadapan dengan ummat islam
bila peperangan hanya secara “asykari” melalui militer. Ummat islam adalah
ummat yang tangguh berperang di medan jihad walaupun dengan perlengkapan
seadanya, sehingga wajar ketika meletuskan Perang Bosnia, sang Presiden Elija Becovic menyatakan siap bertemput
dengan Serbia hingga dua puluh tahun lagi, sementara Serbia sudah kecapaian.
Dengan ketidakberdayaan musuh-musuh islam berhadapan di
medan jihad secara frontal sehingga mereka merubah strategi perang melalui
pemikiran, perang idiologi dan perang urat syaraf, percaya ataupun tidak ummat
islam dilumpuhkan dengan strategi perang ini sehingga berlutut menghadapi
kehancuran. Program mereka tersebut hanya dengan S saja yaitu;
Pertama,
mereka menggencarkan Song, yaitu lagu dan nyanyi sehingga ummat islam senang
dan terlena dengan kesibukan menyanyi ini. Syair yang tampilpun banyak yang
menyimpang dari aqidah islam seperti ”Kaulah segalanya, mau makan ingat kamu,
mau tidur ingat kamu”, atau layakkay lagu ”Kutang Barendo” didendangkan oleh
anak nagari. Bagaimana penyanyi kita hadir di layar kaca atau di panggung,
pakaian dan dandanannya sungguh diluar
syariat. Bukan kita tidak boleh menyanyi, bahkan kegiatan ini adalah rileknya
hati manusia, tapi lagu-lagu yang mengajak kepada keimanan, yang memberikan
penyadaran agar berhati-hati dalam hidup, ingin bernyanyi dan mendengarkan
lagu, selain hiburan alternatif yang dibawakan oleh Raihan, Hijaj, Saujana dan
Hadad Alwi dengan nasyidnya perlu dilestarikan agar tidak terjebak program
ghazwul fikri.
Kedua, mereka
melancarkan Sport, yaitu olah raga. Ini adalah program mendunia, bahkan Eropa
telah menukar tuhannya dengan sport, khususnya sepak bola. Sehingga kegiatan
gereja sudah kosong dari ritual ibadah mereka karena disibukkan oleh agama baru
mereka di lapangan hijau. Kita sebagai muslim dianjurkan pula berolah raga,
tapi bukan olah raga yang hari ini diikuti dan digandrungi oleh ummat ini.
Sejak dari pakaian olah raga yang cendrung membuka aurat, nampaknya ketika
berolah raga seorang ustadzpun sah membuka auratnya dengan celana pendek di
lapangan. Bukanlah rasul kita telah menyatakan bahwa aurat laki-laki itu sejak
dari pusat hingga lutut, kenapa ketika berolah raga kita mengabaikan sunnah
Rasul. Apalagi pakaian renang, tennis, volley pantai sungguh tidak islami.
Sekolah sekolah bila menerima dua buah surat dari
instansi atasannya, pertama untuk mengadakan pesantren kilat dan kedua untuk
mempersiapkan tim olah raga, maka kepala sekolah dan pembina osis akan
mengerahkan segala daya upaya, waktu dan tenaga hingga biaya untuk menanggapi
surat kedua, sementara surat pertama dimasukkan ke dalam laci karena dianggap
tidak begitu penting. Demikian hebatnya bius sport yang dilancarkan oleh
musuh-musuh islam.
Ketiga, mereka
ingin agar ummat islam itu suka dengan
Story yaitu kisah dan cerita yang ditayangkan melalui media elektronik,
cetak dan radio yang intinya agar umat islam sibuk dengan itu, bahkan melalui
story pula nilai-nilai islam dikubur dengan menampilkan nilai-nilai yang tidak
islami seperti kisah Saur Sepuh, Nenek Lampir, Pokemon, Telletubies, Superman
dan sederet kisah lainnya.
Seorang anak usia 12 tahun naik ke gedung tingkat sembilan
di Singapura kemudian dengan ucapan ”Superman” dia terjunkan dirinya ke bawah. Di Jakarta
seorang anak menghadang modil di jalan raya sehingga mati seketika, rupanya di
punggung sianak tertulis Kura-Kura Ninja. Seorang anak naik ke lemari ibunya di
sebuah kamar, ketika disuruh turun dia lansung terjun dengan ucapan Satria Baja
Hijam. Solusi dari semua itu , paling tidak dan ringan bagaimana anak-anak kita
menyukai kisah-kisah islami dari pada kisah yang akan meracuni kehidupannya.
Keempat, musuh
islam telah berupaya menanamkan kepada ummat islam agar senang dengan Sex, baik
melalui ucapan, tontonan, lagu ataupun canda pengisi waktu disela-sela
istirahat kerja di kantor, di sawah, di ladang dan kesibukan lainnya. Bahkan
da’wahpun kita telah mengarah kepada humor yang dibumbui dengan sex, sungguh
ironi dan menyedihkan. Lihatlah di pasar-pasar, kedai-kedai koran dengan berani
memampangkan wajah dan tubuh mulus wanita tanpa [minim] busana, dan itu laku
keras. Rental vcdpun menjamur ibarat cendawan di musim hujan, yang isinya
beragam sesuai selera pelanggannya.
Ghazwul fikri ini intinya adalah memerangi islam dan
ummatnya dari berbagai sisi, yang lebih dahsyat adalah peperangan melalui
pemikiran, mengolah otak ummat islam dengan berbagai cara yang akhirnya ummat
islam walaupun dia masih melakukan shalat hingga menunaikan ibadah haji tapi
mereka sudah memihak kepada musuh-musuhnya, apapun tuduhan yang dilontarkan
kepada ummat islam tidak ada penangkisnya bahkan turut serta membenarkan
tuduhan itu, contoh yang masih hangat terjadi di belahan dunia ini adalah isu
dan tuduhan teroris kepada ummat Islam.
Pasca
tragedi WTC 11 September, Amerika Serikat menggelar program Global War on
Terrorism (GWOT). Negara adidaya itu tidak sendiri. AS mengajak—dengan
memaksa—negara lain untuk ikut serta di dalamnya. Yang tidak ikut dianggap
melawan Amerika dan mendukung teroris.
Siapa
sebenarnya teroris yang dimaksud? Jawabnya: Islam. Lihat saja pernyataan
Presiden George W Bush—seperti dilansir BBC 16/09/2001, “This Crusade, this war
on terrorism, is going to take a along time (Perang Salib ini, perang melawan
terorisme, akan memakan waktu yang lama)”. Bush juga pernah mengatakan, ”Kaum
militan percaya dengan mengontrol satu negara akan menggerakkan masa umat Muslim,
dan memberikan kemampuan buat mereka untuk menggulingkan seluruh pemerintahan
moderat di daerah tersebut dan mendirikan sebuah imperium Islam radikal yang
terbentang dari Spanyol hingga ke Indonesia.”
Ada kekhawatiran besar di Barat yang kafir terhadap fenomena kebangkitan Islam baik di dunia Barat maupun Timur.Bagaimana pun arus Islam ini harus dibendung karena bisa membahayakan eksistensi Barat khususnya di dunia Islam.
Indonesia pun tak mau ketinggalan. Densus 88 dibentuk dengan bantuan dana dari Amerika dan Australia. UU Terorisme pun disusun.Setelah itu dibentuk Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) yang banyak diisi oleh orang-orang Densus 88.Proyek deradikalisasi pun dilakukan.Tapi itu belum dianggap cukup.Mereka menginginkan satu lagi, UU Intelijen.
Lahirnya RUU Intelijen tak bisa dilepaskan dari fenomena terorisme.Entah aksi terorisme itu rekayasa atau bukan, pemerintah menganggap UU Terorisme yang ada belum cukup sebagai payung hukum untuk menangani kasus tersebut.Keberadaan RUU Intelijen tersebut berperan menjadi penguat dan pendukung aturan UU terkait terorisme yang memang sudah ada yakni UU Nomor 15 Tahun 2003.
Terorisme yang semula hanya mengarah pada tindak kekerasan, akhir-akhir ini cakupannya diperluas dan digeneralisasi.Ansyaad Mbai dan Hendropriyono yang sering sekali dalam berbagai kesempatan menghubungkan antara terorisme dan upaya penegakan syariah Islam.Aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh simpatisan partai politik maupun masyarakat umum tak pernah dikatakan sebagai teror. Padahal korban dan dampaknya sama, bahkan jauh lebih besar.
Cukup berasalan bila ada yang
menduga, RUU ini ditujukan secara khusus untuk mencegah bangkitnya Islam di
Indonesia, paling tidak membendung arus Islamisasi atau yang sering disebut
orang anti Islam sebagai radikalisasi. Melalui UU ini, gerakan Islam bisa
diberangus atas nama stabilitas dan keamanan negara.
Menurut juru bicara Hizbut Tahrir
Indonesia M Ismail Yusan-to, itu sangat mungkin dilakukan.Caranya pun
mudah.”Bikin dulu opini bahwa pejuang syariah dan khilafah mengganggu atau
mengancam keamanan nasional, karenanya mereka harus dianggap sebagai 'musuh
dalam negeri'.Maka absahlah kalau mereka kemudian ditangkap.Canggih, kan?”
katanya.
Ketua Lajnah Siasiyah DPP HTI Harist
Abu Ulya meminta umat Islam mewaspadai upaya-upaya penguatan legal frame
(regulasi) untuk dijadikan alat menggencet atau bahkan mengeliminasi Islam dan
kaum Mus-limin melalui bendera “War on terrorism”.Mengapa? Sebab, sebagian
pihak pemerintah sudah tidak lagi obyektif menyikapi persoalan terorisme di
Indonesia. Ini sama persis dengan kejadian di zaman Orda Baru, Islam dianggap
sebagai musuh negara dan disebut sebagai ekstrim kanan.[Website Media Ummat; Thursday,
05 May 2011 04:21,Perang Terhadap Islam].
Ibarat
musim, hujan lebat selalu dimulai dengan gerimis terlebih dulu.Usaha
musuh-musuh Islam untuk menghancurkan umat Islam tak pernah kendor.
Tak hanya fisik, ghazwul fikri pun ditempuh.Cara ini dipandang lebih efektif dan murah.LĂhatlah, sebelum terjadi pengeboman di JW Marriot dan Ritz Carlton.Bulan sebelumnya kita disuguhkan dengan buku Ilusi Negara Islam.Buku ini menyerang Islam politik.
Tak hanya fisik, ghazwul fikri pun ditempuh.Cara ini dipandang lebih efektif dan murah.LĂhatlah, sebelum terjadi pengeboman di JW Marriot dan Ritz Carlton.Bulan sebelumnya kita disuguhkan dengan buku Ilusi Negara Islam.Buku ini menyerang Islam politik.
Buku
tersebut diterbitkan atas kerjasama Gerakan Bhineka Tunggal Ika, the Wahid
Institute dan Maarif Institute.Buku itu merupakan hasil penelitian yang
berlangsung lebih dari dua tahun dan dilakukan oleh LibForAll Foundation.Yang
menjadi editor dalam buku itu adalah Gus Dur dan yang menjadi penyelaras
bahasanya adalah Mohamad Guntur Romli.
Buku
berjudul lengkap Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di
Indonesia yang menyebutkan PKS sebagai bagian dari gerakan Islam garis keras
transnasional. PKS membantah dan mengatakan, para penulis buku itu merupakan
antek-antek dari mantan Presiden AS George W Bush.
Dalam
kata pengantar buku itu yang ditulis oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur),
memaparkan bahwa PKS telah melakukan infiltrasi ke Muhammadiyah pada Muktamar
Muhammadiyah Juli 2005 di Malang. Saat itu, para agen kelompok garis keras
seperti PKS mendominasi banyak forum dan berhasil memilih beberapa simpatisan
gerakan garis keras menjadi Ketua PP Muhammdiyah.
"Dugaan
saya, dana riset buku itu didapatan dari Bush.Itu merupakan proyek terakhir
Bush sebelum kejatuhannya.Karena Bush memiliki kebijakan perang melawan
terorisme," ujar Wasekjen PKS Fahri Hamzah.
Menurut
Fahri, tulisan-tulisan yang ada pada buku itu masih mengacu pada framework
dunia saat Bus masih jadi Presiden AS. "Padahal kan framework dunia sudah
berbeda dan tuduhan-tuduhan tentang PKS itu semuanya palsu.Saat ini dunia sudah
mulai tidak terlalu menyoroti isu terorisme, bahkan dunia sudah menilai Bush
sebagai penjahat perang," katanya.
Adapun
tuduhan terhadap Hizbut Tahrir sebagai kelompok yang membahayakan Indonesia,
adalah sebuah kebohongan besar.Hizbut Tahrir dengan perjuangan syariah dan
Khilafah justru bertujuan untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan
akibat Sekularisme, Liberalisme, Kapitalisme dan penjajahan modern di segala
bidang.
Menurut
Ismail Yusanto, Jurubicara HTI, Liberalisme dan Sekularisme yang selama
ini mereka propagandakan itulah yang telah nyata-nyata merusak dan
menghancurkan Indonesia. Atas dasar Liberalisme pula, mereka mendukung aliran
sesat (Ahmadiyah, Lia Eden, dll), legalisasi aborsi, menolak larangan
pornografi dan pornoaksi, mendukung penjualan aset-aset strategis.
“Maka,
merekalah yang sesungguhnya harus diwaspadai, karena mereka menghalangi upaya
penyelamatan Indonesia dengan syariah, dengan tetap mempertahankan Sekularisme
dan penjajahan asing di negeri ini,” tegas Ismail Yusanto.
Dalam masalah Bom di JW Marriot dan Ritz Carlton, HTI Menyerukan kepada semua pihak, khususnya kepolisian dan media massa, untuk bersikap hati-hati menanggapi spekulasi yang mengaitkan bom JW Marriot dan Ritz Carlton ini dengan kelompok, gerakan atau organisasi Islam. Dari sekian kemungkinan, bisa saja peledakan bom itu sengaja dilakukan oleh orang atau kelompok tertentu untuk mengacaukan situasi keamanan di masyarakat dan negara ini demi mendiskreditkan organisasi Islam.
Dalam masalah Bom di JW Marriot dan Ritz Carlton, HTI Menyerukan kepada semua pihak, khususnya kepolisian dan media massa, untuk bersikap hati-hati menanggapi spekulasi yang mengaitkan bom JW Marriot dan Ritz Carlton ini dengan kelompok, gerakan atau organisasi Islam. Dari sekian kemungkinan, bisa saja peledakan bom itu sengaja dilakukan oleh orang atau kelompok tertentu untuk mengacaukan situasi keamanan di masyarakat dan negara ini demi mendiskreditkan organisasi Islam.
Setelah
pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott Jakarta, Jumat (17/7), berhasil
diungkap Kepolisian. Kontroversi teror bom masih mengganggu benak umat muslim
Indonesia. Kedekatan pelaku dengan Noordin M Top dan Jamaah Islamiyah (JI)
seolah-olah kembali menggiring opini publik jika Islam di Indonesia identik
dengan kekerasan meski tanpa bukti dan fakta yang nyata. Sehingga menyebabkan
antipati publik terhadap Islam.Padahal, selama ini Islam selalu hidup damai,
terbuka dan toleran.
Yang menarik adalah kesimpulan AM
Hendropriyono.Mantan Kepala BIN ini mengatakan bahwa kaum ekstrimis Islam yg
terlibat teroris mancanegara berasal dari dua aliran dalam agama Islam yaitu
Wahabi dan Ikhwanul Muslimin.Statemen AM Hendropriyono mengundang protes keras
dari kalangan tertentu.“Terorisme ada di Indonesia karena suasana kondusif
untuk benih-benih terorisme.Selama anasir-anasir tsb tidak dibersihkan dari
bumi nusantara maka terorisme tidak akan hilang,” katanya pada Sabili yang
mewawancarai Hendropriyono di Yogyakarta.
Siapakah
Wahabi?
Sebagian
ulama yang adil sesungguhnya menyebutkan bahwa Syekh Muhammad bin Abdul Wahab
adalah salah seorang mujaddid (pembaharu) abad dua belas Hijriyah. Mereka
menulis buku-buku tentang beliau. Di antara para pengarang yang menulis buku
tentang Muhammad bin Abdul Wahab adalah Syekh Ali Thanthawi. Beliau menulis
buku tentang Silsilah Tokoh-tokoh Sejarah, di antaranya terdapat Syekh Muhammad
bin Abdul Wahab dan Ahmad bin 'Irfan.
Dalam
buku tersebut beliau menyebutkan, sebagai ajaran akidah tauhid, apa yang
disampaikan Muhammad bin Abdul Wahab menyebar ke seluruh dunia Islam melalui
jamaah haji yang pulang dari tanah suci. Menguatnya persatuan akidah ini
ternyata membawa dampak lain pada kekuatan kolonial yang saat itu berkuasa di
dunia Islam. Akhirnya, Inggris ajaran akidah tauhid ini sebagai bentuk baru
persatuan dunia Islam yang akan melahirkan ancaman pada kolonial. Berikutnya,
kekuatan kolonial membentuk kelompok Murtaziqah (orang-orang bayaran) untuk
mencemarkan nama baik dakwah. Maka mereka pun menuduh setiap muwahhid, para
penyeru tauhid, dengan kata Wahabi.
Pasca
9/11, sebuah buku diterbitkan oleh di AS dengan judul Wahabi Islam, ditulis
seorang orientalis yang merupakan mahasiswa S3 John Esposito. Penulisnya
mengatakan bahwa ia tertarik untuk meneliti Wahabisme ketika saat mengambil
kuliah Islamologi dan membaca tulisan Muhammad bin Abdul Wahhab, namun tidak
menemukan elemen-elemen yang menganjurkan kekerasan. Dalam salah satu babnya,
ia mengatakan bahwa pengidentikan Wahabi dengan kekerasan dimulai oleh Inggris
di India tahun 1800-an saat terjadi revolusi Muslim. Sejarah menyatakan tidak
ada kaitan antara gerakan tersebut dan Wahabisme.
Wahabi sendiri
sebenarnya suatu yang kontroversial.Orang awam cenderung mengaitkan Wahabi
dengan Islam yang “bertentangan” dengan arus besar (mainstream).
Apa yang dimaksud dengan Wahabi? Bukankah dalam berbagai kesempatan Hendropriyono mengaku bahwa dirinya berasal dari Muhammadiyah.Seperti kita ketahui, Muhammadiyah adalah gerakan Wahabi yang gencar memerangi TBC (Tachayul, Bidah dan Churafat, dalam ejaan lama).“Yang saya maksud adalah Wahabi radikal,” katanya.
Apa yang dimaksud dengan Wahabi? Bukankah dalam berbagai kesempatan Hendropriyono mengaku bahwa dirinya berasal dari Muhammadiyah.Seperti kita ketahui, Muhammadiyah adalah gerakan Wahabi yang gencar memerangi TBC (Tachayul, Bidah dan Churafat, dalam ejaan lama).“Yang saya maksud adalah Wahabi radikal,” katanya.
Terminologi
Wahabi yang sering dilontarkan seringkali menambah kisruh suasana.Ulama-ulama
Saudi yang selalu dicap Wahabi oleh sebagian orang, dalam sejarahnya selalu
mengecam dan mengritik al-Qaidah, bahkan sebelum pemboman Tanzania.
Taliban selalu dikaitkan dengan Wahabisme.Padahal jika seseorang benar-benar mengikuti ulama Saudi, dampaknya sebenarnya mengejutkan mereka yang selalu berpikir negatif tentang Wahabi.Karena, seluruh ulama terkemuka di Saudi sepakat tindakan teror hukumnya haram.Memberontak bahkan mendemo pemerintah, atau misalnya menebarkan aib pemimpin, juga haram.
Taliban selalu dikaitkan dengan Wahabisme.Padahal jika seseorang benar-benar mengikuti ulama Saudi, dampaknya sebenarnya mengejutkan mereka yang selalu berpikir negatif tentang Wahabi.Karena, seluruh ulama terkemuka di Saudi sepakat tindakan teror hukumnya haram.Memberontak bahkan mendemo pemerintah, atau misalnya menebarkan aib pemimpin, juga haram.
Mereka tidak suka mencaci maki pemerintah. Kritikan akan dilakukan secara tertutup (kalau bisa empat mata) dengan penguasa. Ulama mengharamkan melakukan pemberontakan (bughat) selama penguasa masih Muslim.Suasana semakin kisruh ketika Ikhwanul Muslimin (IM) juga disatukan dalam barisan. IM didirikan untuk untuk mengembalikan kekhalifahan setelah runtuhnya kekhalifahan Usmani Turki lepas Perang Dunia I. Ikhwanul Muslimin sendiri tidak terlepas dari proses radikalisasi. Ada beberapa faktor.Salah satu faktor bersifat internal, karena ada beberapa elemen yang memang memilih jalur keras. Di IM, pemikiran radikal ini diwakili oleh misalnya Sayyid Quthb. Faktor eksternal, suatu faktor yang lebih dominan, adalah reaksi politik dari pemerintah yang cenderung menutup akses politik lawan mereka, termasuk IM.
Faktor
ini sebenarnya lebih mendorong radikalisasi.Kasus populer adalah
Aljazair.Kekerasan muncul saat hasil pemilu tahun 1990an yang dimenangkan
secara mutlak oleh partai Islam (FIS) dibatalkan oleh pemerintah berkuasa dan
didukung oleh Barat, dan partai tersebut dinyatakan ilegal.Demikian juga di
Iran saat Shah Iran.
Faktor
penting yang tak bisa dikesampingkan adalah, Afghanistan.Negara ini ketika
berperang dengan Komunis Soviet dijadikan sebagai laboratorium jihad oleh
berbagai elemen Islam.Apalagi Amerika berada di pihak yang membantu mujahidin.
Namun
setelah kemenangan itu diraih, mujahidin banyak yang secara psikologis masih
merasa berada di medan jihad. Suasana tempur tak bisa hilang begitu
saja.Apalagi negara Barat berbalik menganggap Islam sebagai ancaman.Provokasi
dan kezaliman muncul di negeri-negeri Islam.Maka radikalisme itu seolah
mendapatkan tempat dan pupuk yang maksimal.Dan setelah itu, target dialihkan
pada umat Islam yang dinyatakan radikal.
Padahal,
sejarah menceritakan pada dunia bahwa radikalisme nampaknya selalu dipelihara,
demi kepentingan kolonial yang selalu berganti pemainnya.Jadi lontaran statemen
Wahabi memang lebih dahsyat dari bom itu sendiri. (Cyber Sabili, Eman Mulyatman,
Ghazwul Fikri Lebih Dahsyat dari Bom, Rabu, 12 Agustus 2009 13:29)
Sebenarnya peperangan ini sudah berlansung semenjak
kehadiran nabi Adam As yang berseteru dengan iblis la’natullah, dia ingin
menampakkan segala dosa itu sebagai keindahan sehingga baik dan bagus
dipandangan indra kita Iblis berkata, ”Ya
Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan
menyesatkan semua ummat”. Untuk menangkal semua itu adalah Mukhlis yaitu
orang yang punya kriteria Salamatul
Fikrah [pemikiran yang selamat], saliimul aqidah [aqidah yang bersih], shahihul
ibadah [ibadah yang benar] dan matiinul khuluq [akhlak yang solid].[Mengkoang Pahang
Malaysia, 01 Juni 2011M/ 28 Jumadil Akhir 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar