Terasa belum lama kita berpisah dengan bulan
Ramadhan yang lalu, kini telah diambang pintu pula bulan suci Ramadhan, bulan
yang dirindukan oleh ummat islam yang beriman sebagai bulan yang penuh berkah,
bulan untuk melaksanakan ibadah.
Dimana
saja masjid akan penuh sesak oleh generasi tua muda, besar kecil, baik pria
maupun wanita. Dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan menurut yang pernah
dilakukan Rasulullah Saw, ada beberapa hal yang perlu kita lakukan yaitu;
- Pada akhir bulan Sya’ban adakanlah ceramah-ceramah, pengajian-pengajian atau penerangan agama dalam rangka menyambut bulan Ramadhan dengan menjelaskan keistimewaan bulan Ramadhan serta amalan saja yang layak dilakukan bagi orang yang sedang menjalankan ibadah puasa.
- Menyambut bulan Ramadhan dengan penuh riang gembira, seolah-olah menunggu seorang tamu yang dirindukan dengan mengucapkan ”Ahlan wasahlan syahrur Ramadhan” atau ”Marhaban ya Ramadhan” [selamat datang bulan Ramadhan].
- Niatkan di dalam hati untuk berpuasa sebulan penuh dengan didasari keimanan dan ikhlas. Karena orang-orang berimanlah yang diwajibkan untuk berpuasa,”Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa” [Al Baqarah 2;183].
Ada
beberapa hal dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan yang telah menjadi
tradisi bagi bangsa Indonesia, tetapi tidak sesuai dengan ajaran islam atau
tidak ada tuntunannya, yaitu;
1. Ziarah kubur disertai dengan membakar
kemenyan di kuburan, mengirim kembang kepada arwah dan berbagai minuman serta
makanan yang dikirim untuk arwah yang ada di alam ghaib. Hukumnya ziarah kubur
itu adalah sunnah, tetapi apabila dicampuri dengan urusan yang tidak ada
tuntunannya, maka perbuatan itu mengandung syirik yang membawa kepada
kesesatan.
2. Mandi keramas menyambut Ramadhan bukan
pula suatu keharusan, karena memang tidak ada tuntunan yang pasti dari Nabi
Muhammad Saw.
Demikianlah
hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyambut bulan Ramadhan, yang kiranya
tidak sesuai dengan ajaran yang telah dituntunkan Rasulullah Saw agar
ditinggalkan, sehingga kita memperoleh derajat taqwa yang dilukiskan pada surat
Al Baqarah, karena memang tujuan puasa ialah membentuk orang-orang yang
bertaqwa.
Imam
Al Gazali membagi derajat puasa menjadi tiga tingkatan yaitu;
- Puasa Umum, yaitu puasa yang dilakukan oleh orang-orang sebagian besar, yang hanya sekedar menahan lapar, haus dan menahan keinginan biologis dengan isteri/suami sejak terbit fajar hingga tenggelamnya matahari.
- Puasa Khusus, yaitu puasa disamping puasa di atas juga menahan anggota badan dari perbuatan yang tercela seperti tangan jangan mengambil barang orang lain dan mata jangan memandang hal-hal yang mendatangkan dosa.
- Puasa Istimewa, yaitu puasa disamping mencakup dua hal diatas juga menahan hati dari niat yang buruk dan sikap yang tercela seperti dengki, hasad, sombong, takabur dan lain-lain.
Agar
Ramadhan tahun ini tidak sia-sia dan berlalu tanpa bekas, maka alangkah baiknya
kita menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat mengurangi nilai-nilai ibadah
puasa, Rasulullah bersabda,”Berapa banyak
orang yang berpuasa yang tidak memberi faedah puasanya itu, kecuali hanya lapar
dan dahaga saja”.
Dalam menjalankan ibadah Ramadhan ada
beberapa kekeliruan dan kesalahan yang harus dihindari agar ibadah puasa kita
itu optimal dan berbuah pahala di sisi Allah, diantaranya;
Pertama; keseriusan ibadah hanya di bulan Ramadhan.
Seorang mukmin dalam beribadah sebenarnya
tidak kenal musim, bulan atau hari apapun dia harus beribadah, tapi dalam bulan
ini Allah hanya memberi ransangan yang luar biasa dan pahala yang berbeda
dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain, seperti memberi makan orang yang
berbuka sama pahalanya dengan orang yang puasa, ibadah sunnah yang dikerjakan
sama nilainya dengan ibadah wajib, bagi yang mendapat malam qadar akan bernilai
ibadahnya 1000 bulan, sehingga wajar bila Rasulullah menyatakan dalam
sabdanya,”Kalau sekiranya ummatku mengetahui kebaikan di bulan Ramadhan,
niscaya mereka menginginkan agar supaya tahun semuanya menjadi Ramadhan, karena
semua kebaikan berkumpul padanya, ketaatan bisa diterima, do’a dikabulkan, dosa
diampuni dan syurga rindu kepada mereka”.
Kedua; melakukan perbuatan haram.
Di luar Ramadhan saja kita tidak boleh
berbuat haram apalagi dalam bulan Ramadhan, seperti ghibah, adu domba,
berbohong, saksi palsu dan lain-lainnya. Rasulullah bersabda,”Lima perkara yang
dapat menghapuskan pahala ibadah puasa yaitu dusta, ghibah, adu domba, sumpah
palsu dan memandang dengan syahwat”.
Ketiga; bersikap malas.
Orang yang beranggapan bahwa Ramadhan adalah bulan untuk
bermalas-malasan, karena mendengar
hadits dhaif yang menyatakan bahwa tidurnya orang yang puasa itu adalah
ibadah. Bahkan Ramadhan disebut juga dengan syahrul jihad, artinya bulan untuk
berjuang, tidak ada istilah bagi seorang muslim untuk berhenti bekerja karena
Ramadhan, justru dengan puasa kita bekerja maka pahalanya akan berlipat ganda,
Rasulullah selalu berdo’a kepada Allah, ”Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari
kesusahan dan kedukaan, dari lemah dan malas, dari pengecut dan bakhil, dari
belenggu hutang dan dipengaruhi orang”.
Banyak sekali kisah-kisah yang memberikan
motivasi kepada kita untuk bekerja diantaranya; Umar bin Khattab pernah
mengusir seorang lelaki di dalam masjid padahal hari sudah siang, dia sibuk
ibadah saja dan lalai untuk mencari nafkah. Seorang pengemis datang kepada
Rasulullah minta sesuatu, Rasul memberinya kapak lalu dkisuruh mencari kayu ke
hutan, sabda beliau,”Itu lebih baik
bagimu dari pada kamu meminta-minta”. Ada pula orang yang sibuk dengan ibadah
saja sementara hidupnya ditanggung oleh kakaknya, Rasul menyatakan, ”Kakakmu
lebih baik darimu”.
Keempat; boros dalam makanan dan minuman.
Orang yang
beranggapan Ramadhan adalah ajang untuk melampiaskan nafsu perut
sehingga dana untuk itu disediakan, padahal makna Ramadhan adalah agar hidup
hemat dan sederhana. Pemborosan itu nampak pada; makanan dan minuman dengan
menyediakan seluruh jenis makanan dan minuman untuk menyambut datangnya waktu
berbuka, padahal semua itu tidak akan habis bahkan lebaih banyak yang mendarat
ke tong sampah.
Rasulullah ketika berbuka hanya memakan 3
butir kurma yang kualitasnya baik dan minum dua teguk air setelah itu beliah
shalat maghrib, kemudian baru makan sebatas yang beliau ajarkan; tidak terlalu
kenyang, karena perut manusia itu harus diisi oleh air, udara dan makanan
masing-masing sepertiga bagian.
Siti Fatimah suatu kali berpuasa nazar
untuk tiga hari; hari pertama dia persiapkan makanan untuk berbuka satu potong
roti dengan segelas air, rupanya datang seorang pengemis yang sudah sekian hari
tidak makan, maka dia berikan roti itu kepada pengemis itu, hari kedua
datanglah anak yatim dan hari ketiga datang pula orang yang baru keluar dari
penjara, sehingga tiga hari lamanya Fatimah tidak menikmati makanan untuk
berbuka selain segelas air, kita tentu tidak mampu sebagaimana anak kesayangan
Rasulullah ini, tapi janganlah boros saat berbuka sehingga mubazir, ”Dan
berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin
dan orang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu
secara boros, sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudaranya syaithan dan
syaitan itu sangat ingkar kepada Tuhannya” [Al Isra’ 17;26-27].
Dalam ayat lainpun ditegaskan Allah,
”Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan, Allah tidak suka kepada
orang-orang yang berlebih-lebihan” [Al A’raf 7;31].
Sejak awal kita buang pandangan yang
keliru tersebut sehingga ibadah kita bermakna pada bulan ini, jangan sampai
sia-sia .
Melalui
puasa manusia dididik, digembleng dan ditempa untuk menahan nafsunya,
pengendalian hati dari niat yang tidak baik dan mengekang anggota tubuh dari
perbuatan jahat. Puasa Ramadhan itu hukumnya wajib berdasarkan kitab Allah,
sunnah dan ijma’ , dalam firman-Nya Allah menyebutkan,”Hai orang-orang yang beriman diwajibkan kepada kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan kepada
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” [Al Baqarah 2;183].
Dalam hadits,
diriwayatkan oleh Thalha bin Ubaidillah disebutkan bahwa seorang lelaki
bertanya kepada nabi, “Ya Rasulullah katakanlah kepadaku puasa yang
diwajibkan Allah atas diriku”, ujar
nabi, “Puasa Ramadhan”, tanya lelaki itu,”Apakah masih ada lagi yang diwajibkan
atasku?” sabda nabi,”Tidak ada, kecuali kalau kamu berpuasa sunnah”.
Puasa hanya ditujukan kepada orang-orang yang beriman
dalam rangka untuk memperbaiki pribadinya dengan meningkatkan ketaatan kepada
Allah, sedangkan bagi mereka yang tiada beriman maka mendapat keringanan dari
Allah untuk tidak berpuasa . Ujud
dari keimanan adalah melakukan perintah Allah diantaranya puasa di bulan
Ramadhan dengan tuntunan yang telah ditetapkan. Walaupun demikian masih saja
banyak orang yang mengaku beriman tapi tidak dibuktikan imannya dengan jalan
ibadah puasa, puasa baginya adalah beban, dia tidak mampu mengekang nafsunya
dengan jalan berpuasa, ironisnya baru masuk bulan Sya’ban penyakitnya kambuh
sehingga dapat melalaikan puasa dengan dalih kesehatan terganggu.
Sebenarnya
puasa itu bukanlah ibadah yang memberatkan, siapapun akan mampu melaksanakannya
asalkan dalam keadaan sehat, sebab orang yang sakit memang diperkenankan untuk
tidak berpuasa, demikian pula bagi orang yang berat melakukannya karena
sebab-sebab lain, semua itu dapat diganti dengan qadha atau membayar fidyah
yang disyariatkan islam.
Puasa
itu memiliki tiga tingkatan yaitu; puasa orang awam, puasa orang khawas
[khusus] dan puasa orang khawashil [istimewa]. Adapun puasanya orang awam ialah
menahan perut dari makan dan minum serta tidak menggauli isteri disiang hari,
puasanya orang khusus yaitu puasanya orang-orang yang shaleh, disamping menahan
makan dan minum dan senggama juga menahan semua indra dari perbuatan dosa,
puasa itu akan sempurna dengan menjalankan lima perkara;
- Memajamkan mata dari segala sesuatu yang mencela menurut syara’ [agama]
- Menjaga lisan dari mengghibah/ gunjing, dari berkata dusta, adu domba dan sumpah palsu.
- Menahan telinga dari mendengarkan sesuatu yang dibenci.
- Menahan semua anggota badan dari semua yang dibenci.
- Orang yang puasa hendaknya tidak terlalu banyak makan, sampai penuh perutnya diwaktu berbuka, meskipun makanan itu halal.
Kesadaran
untuk meningkatkan nilai ibadah puasa pada setiap tahun semakin berkurang di
tengah masyarakat kita karena kurangnya pengetahuan yang diawali tidak mau
mendengarkan pengajian apa lagi membaca buku-buku fiqih. Di bulan ini dijadikan
sebagai arena pemborosan dengan istilah konsumerisme, bukan melatih diri untuk
hidup prihatin tapi berlomba-lomba dalam bentuk masakan yang diikuti lomba
pakaian diakhirnya. Ketika saat berbuka tiba semua makanan dilahap tanpa fikir
panjang karena sekian jam tidak makan tidak minum yang akhirnya balas dendam sampai untuk shalat maghribpun
tidak sanggup lagi karena kekenyangan.
Adapun
puasa orang Khawashi khawash [istimewa] ialah menahan hati dari kemauan yang
rendah dan dari pemikiran terhadap duniawi, dan menahan juga pemikiran selain
tertuju kepada Allah dengan banyak berzikir dan berfikir, puasa ini adalah
martabat bagi para nabi dan shiddiqin.
Bagi
orang-orang yang tidak puasa karena alasan yang tidak tepat, Allah menurunkan
ancamannya sebagaimana sabda nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah
danTurmuzi,”Siapa yang berbuka pada satu hari dari bulan Ramadhan tanpa
keringanan yang diberikan Allah padanya, tiadalah akan dapat dibayar oleh puasa
sepanjang tahun walaupun dilakukannya”.
Adapun
manfaatkan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang berpuasa Ramadhan
adalah sebagaimana hadits riwayat Baihaqi,”Sungguh telah datang padamu bulan
yang penuh berkah, Allah mewajibkan kamu berpuasa, disaat itu dibuka pintu
syurga, ditutup pintu neraka dan dibelenggu syaitan-syaitan, dan padanya ada
satu malam yang nilainya lebih berharga dari seribu bulan”.
Dalam
hadits lain banyak disebutkan bahwa orang-orang yang berpuasa akan dihapuskan
kesalahannya dan akan dimasukkan ke syurga-Nya,”Siapa yang puasa pada bulan
Ramadhan karena keimanan dan
mengharapkan keridhaan Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” [HR.
Ahmad]. Itu adalah keutamaan yang diberikan Allah, sedangkan keutamaan dan
faedahnya dalam kehidupan sehari-hari yaitu;
- Melatih hidup disiplin, walaupun makanan dan minuman yang terhidang halal dan memang milik seseorang akan tetapi tidak akan dimakan sebelum waktunya.
- Dalam masyarakat dapat dirasakan betapa pedihnya hidup orang-orang yang tidak ada makanan, bagi orang-orang yang tidak punya, apa yang harus dinikmati; haus dan lapar sering mereka hadapi, hal ini akan menimbulkan sikap santun dan kasih sayang.
- Dari segi kesehatan dapat menyelamatkan seseorang dari penyakit obesitas [kegemukan] yang sangat ditakuti, penderita ini sering mengalami rasa nyeri di pinggul, kelainan disendi lutut dan sendi tumit, tekanan darah tinggi, dan bagi wanita dengan mengakibatkan amenora atau kelainan haid artinya hilangnya daur haid lebih jauh, dan dikatakan bahwa penderita obesitas cendrung mengalami serangan jantung karena pembuluh darah mengalami pengapuran dan penyempitan.
Menurut
dokter Elen, puasa dapat menyembuhkan penyakit gula, demikian pula dokter Alan
Cott, dia mengatakan dengan puasa fisik merasa lebih baik, lebih enak dan lebih
muda, batin terasa bersih, tekanan darah menurun, mengendurkan ketegangan,
menajamkan perasaan dan menghambat proses ketuaan. Serta pendapat dokter Ali
Akbar, katanya puasa dapat men yembuhkan penyakit ginjal dan pendarahan otak
sehingga wajar kalau Rasul bersabda,”Banyak makan dapat melemahkan semangat dan
fikiran.
Terlalu merugi orang yang berpuasa tidak
menggunakan peluang bulan ini untuk menumpuk pahala sebanyak-banyaknya, apalagi
imbalannya berkali lipat dibanding hari lain. Pada bulan ini sediki sekali
godaan yang mengajak untuk berbuat maksiat, sebab masing-masing figur
memberikan contoh dan keteladanan kepada masyarakat, apalagi mereka yang terbilang
pejabat dan orang yang terkemuka yang
selama ini tidak pernah tampil ke masjid, tiba-tiba nampak wajahnya
dengan kalem menyandang sajadah, berpeci hitam dan seakan-akan mereka adalah
orang yang paling alim di dunia,”Sesungguhnya
dalam pribadi Rasul itu ada contoh teladan yang baik bagimu” [33;21]
Momen
yang tepat bagi semua pihak untuk menampilkan figur terbaik kepada masyarakat
melalui akhlaqul karimah atau keteladanan melalui ujud pergaulan sehari-hari,”Seorang mukmin yang bergaul dan sabar terhadap
gangguan orang, lebih besar pahalanya dari orang yang bergaul dengan manusia
dan tidak sabar menghadapi gangguan mereka”[HR.Ahmad]
Seorang
mukmin harus bersosialisasi diri dengan masyarakat di sekitarnya apalagi di
bulan Ramadhan ini banyak sekali amal-amal yang merupakan ujud kepedulian
terhadap sesama seperti memperbanyak infaq, sedekah, mengundang berbuka
bersama, shalat tarawih dan aktivitas lainnya.
Seorang
ayah dan ibu bagaimana dia mampu menampilkan dirinya kepada anak dan
keluarganya sebagai figur yang dapat diteladani, bagus kita menyuruh anak untuk
shalat tarawih ke masjid, membaca Al Qur’an dan berinfaq, akan tetapi didikan
tadi akan membekas bila lansung orangtua mencontohkannya dengan mengajak
anak-anak ke masjid menyemarakkan ibadah Ramadhan. Tidak layak kiranya, bila
orangtua melarang anaknya merokok sementara dia sendiri menghabiskan rokok berbatang-batang
sehari, terlepas dari rokok itu makruh ataupun haram, yang jelas keuntungan
dari penjualan rokok itu disumbangkan duapuluh lima persen untuk mengkafirkan
ummat islam melalui program kristenisasi [2;120], berarti kita punya saham
untuk memurtadkan ummat islam. Tegakah anda wahai perokok ? sementara asap
rokok membubung tinggi ke udara, nikotinnya meresap ke paru-paru, abunya bertebaran
ke bumi, keuntungan untuk agama lain sedangkan kerugiannya untuk anda dan ummat
islam.
Bulan ini adalah bulan panen bagi abid [ahli
ibadah] untuk mengisi kekurangan dan menambah amal-amal di kemudian hari dengan
berbagai rangkaian ibadah Ramadhan sehingga peluang ini digunakan seoptimal
mungkin oleh orang-orang yang cerdas. Sebab bulan Ramadhan hanya sekali dalam
setahun,”Seandainya umatku tahu keutamaan
bulan Ramadhan tentu mereka akan meminta agar seluruh bulan ini Ramadhan”[Hadits].
Dari
ibadah yang dilakukan seorang hamba,
akan mendapat pahala dari Allah dan diukur sebagai ibadah bila niatnya
ikhlas hanya semata-mata termotivasi untuk beribadah kepada Allah saja. Tidak
dipaksa dan tidak terpaksa oleh siapapun. Bukan karena atasan, bukan karena mertua
dan tetangga,”Tidak Aku perintahkan
mereka beribadah kepada Allah selain mengikhlaskan amal-amal itu dalam agama
ini” [98;5]. Kegiatan hamba akan bernilai pahala bila aktivitas itu mengacu
kepada tuntunan yang ditunjukkan oleh sistim yang diturunkan Allah dan
Rasul-Nya, ”Ittibaur rasul” tidak melaksanakan ibadah tanpa aturannya,”Barangsiapa yang beribadah tidak sesuai
dengan apa yang kami ajarkan maka tertolak”[hadits], inilah yang disebut
dengan bid’ah, yaitu mengada-adakan ibadah yang
tidak diajarkan oleh Rasul. Kerja kita akan bernilai pahala bila
tujuannya tiada lain mencari ridha Allah. Bila sandaran ibadah mencari ridha
yang lain maka akan bernilai nihil ”Barangsiapa
mencari pahala akhirat maka dia akan mendapatkan dunia, barangsiapa yang semata-mata
mencari dunia maka dia tidak akan mendapatkan pahala akherat” [Al Ghazali].
Ibadah yang dilakukan seorang hamba karena dua hal;
1. Disebabkan rasa syukur yang mendalam
karena banyaknya nikmat yang diberikan Allah. Bahkan jika dihitung-hitung
jumlah nikmat itu maka manusia tidak mampu untuk mengkalkulasikannya sejak dari
tidur sampai tidur kembali, apalagi sejak lahir hingga wafat [16;18]
2. Pengabdian kita kepada Allah selain rasa
syukur juga ujud rasa kagum atas keagungan Allah yang telah menciptakan langit
dan bumi dengan segala isinya termasuk
menciptakan diri manusia dengan fasilitas yang luar biasa [7;54], wajar bila
seorang sufi berkata,”Barangsiapa yang
mengetahui eksistensi dirinya niscaya dia mengenal siapa Tuhannya”.
Namun
praktek ibadah itu tidak semuanya diterima Alah sebagai ibadah yang akan
dinilai dengan pahala bila telah menyimpang dari niat. Jauh dari mencontoh
Rasulullah dan tujuannya bukan karena mencari ridha Allah ” Betapa banyak orang yang melakukan amal besar tapi pahalanya kecil
karena salah niatnya dan tidak sedikit pula orang yang beramal kecil tapi
pahalanya besar karena benar niatnya”
[Ulama Salaf], inilah yang disebut dengan fatamorgana. Disangka ibadah yang
dilakukan di dunia dapat banyak pahala sebagai imbalannya tapi setelah berada
di akherat hilang sama sekali,”Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu membatalkan sedekahmu dengan
menyebut-nyebut dan menyakiti hati orang seperti halnya orang yang memberikan
hartanya karena ria kepada manusia”[2;264].
Seorang
musafir sudah dua hari dia menyusuri padang pasir dalam melakukan perjalanan
yang cukup jauh dan melelahkan. Rasa
lapar bisa dia tahan tapi dikala haus sulit sekali mengendalikannya. Diantara
kelelahannya itu dari kejauhan nampak olehnya sebuah oase yang penuh berisi air
sehingga meningkatkan kembali semangat juangnya untuk melakukan perjalanan.
Penuh harap terbersit di hatinya agar cepat sampai di lembah yang berair itu,
tapi rasa takut dan khawatirpun hinggap di hatinya seandainya dia tidak mampu
melanjutkan perjalanan. Dia usahakan sekuat tenaga dan kemampuannya, tempat
dimaksud sudah dekat, tanda lokasi serumpun batang kurma jadi pedomannya. Tapi
alangkah terkejutnya dikala sampai di tempat itu, disini tidak ada ada air
sedikitpun, dia mengeluh, kesabarannya hampir lenyap.
Diantara
kekecewaannya itu, dia melihat sebuah lembah yang penuh dengan air, persis
sebagaimana pemandangan yang pertama tadi, ketika dituju, hal itu hilang dari
pandangannya, itulah fatamorgana. Hanya sebuah pemandangan menurut prasangka
dan imajinasi seseorang tapi realitanya tidak ada, kita khawatir demikian pula
nanti ibadah puasa yang kita ukir dari malam ke malam dengan berbagai kegiatan.
Dikira mendapat pahala, tapi di akherat
tidak satupun kebaikan yang bisa kita terima bahkan berubah menjadi bencana.
Ibadah puasa
Ramadhan dan segala asfek yang terkait dengannya merupakan nilai-nilai fithrah
untuk menjaga eksistensi manusia yang sejak di alam rahim sudah dibekali dengan
fithrah yaitu sikap tunduk dan patuh serta mengabdi hanya kepada Allah semata; “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu
mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini
Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi
saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
terhadap ini (keesaan Tuhan)" [Al A’raf 7;172]
Yang
nilai-nilai fithrah tersebut nampak nyata melalui sikap sehari-hari untuk taat,
mengabdi hanya kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.
Menurut Psikolog, dalam jiwa manusia itu ada enam bekal hidup yang diberikan
Allah, salah satunya adalah ”religius” yaitu kecendrungan kepada nilai-nilai
fihtrah; kebenaran, keadilan dan ketuhanan. Jadikanlah Ramadhan kali ini
merupakan Ramadhan terakhir bagi kita, agar kita optimal berbuat untuk
menggapai ridha dan rahmat-Nya, wallahu a'lam. [Cubadak Solok, 19 Ramadhan 1431.H/ 29Agustus
2010.M]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar