Rabu, 02 Maret 2016

292. Ramadhan



Terasa belum lama kita berpisah dengan bulan Ramadhan yang lalu, kini telah diambang pintu pula bulan suci Ramadhan, bulan yang dirindukan oleh ummat islam yang beriman sebagai bulan yang penuh berkah, bulan untuk melaksanakan ibadah.

            Dimana saja masjid akan penuh sesak oleh generasi tua muda, besar kecil, baik pria maupun wanita. Dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan menurut yang pernah dilakukan Rasulullah Saw, ada beberapa hal yang perlu kita lakukan yaitu;
  1. Pada akhir bulan Sya’ban adakanlah ceramah-ceramah, pengajian-pengajian atau penerangan agama dalam rangka menyambut bulan Ramadhan dengan menjelaskan keistimewaan bulan Ramadhan serta amalan saja yang layak dilakukan bagi orang yang sedang menjalankan ibadah puasa.

  1. Menyambut bulan Ramadhan dengan penuh riang gembira, seolah-olah menunggu seorang tamu yang dirindukan dengan mengucapkan ”Ahlan wasahlan syahrur Ramadhan” atau ”Marhaban ya Ramadhan” [selamat datang bulan Ramadhan].

  1. Niatkan di dalam hati untuk berpuasa sebulan penuh dengan didasari keimanan dan ikhlas. Karena orang-orang berimanlah yang diwajibkan untuk berpuasa,”Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa” [Al Baqarah 2;183].

            Ada beberapa hal dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan yang telah menjadi tradisi bagi bangsa Indonesia, tetapi tidak sesuai dengan ajaran islam atau tidak ada tuntunannya, yaitu;

1.       Ziarah kubur disertai dengan membakar kemenyan di kuburan, mengirim kembang kepada arwah dan berbagai minuman serta makanan yang dikirim untuk arwah yang ada di alam ghaib. Hukumnya ziarah kubur itu adalah sunnah, tetapi apabila dicampuri dengan urusan yang tidak ada tuntunannya, maka perbuatan itu mengandung syirik yang membawa kepada kesesatan.

2.       Mandi keramas menyambut Ramadhan bukan pula suatu keharusan, karena memang tidak ada tuntunan yang pasti dari Nabi Muhammad Saw. 

            Demikianlah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyambut bulan Ramadhan, yang kiranya tidak sesuai dengan ajaran yang telah dituntunkan Rasulullah Saw agar ditinggalkan, sehingga kita memperoleh derajat taqwa yang dilukiskan pada surat Al Baqarah, karena memang tujuan puasa ialah membentuk orang-orang yang bertaqwa.

            Imam Al Gazali membagi derajat puasa menjadi tiga tingkatan yaitu;
  1. Puasa Umum, yaitu puasa yang dilakukan oleh orang-orang sebagian besar, yang hanya sekedar menahan lapar, haus dan menahan keinginan biologis dengan isteri/suami sejak terbit fajar hingga tenggelamnya matahari.

  1. Puasa Khusus, yaitu puasa disamping puasa di atas juga menahan anggota badan dari perbuatan yang tercela seperti tangan jangan mengambil barang orang lain dan mata jangan memandang hal-hal yang mendatangkan dosa.

  1. Puasa Istimewa, yaitu puasa disamping mencakup dua hal diatas juga menahan hati dari niat yang buruk dan sikap yang tercela seperti dengki, hasad, sombong, takabur dan lain-lain.

            Agar Ramadhan tahun ini tidak sia-sia dan berlalu tanpa bekas, maka alangkah baiknya kita menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat mengurangi nilai-nilai ibadah puasa, Rasulullah bersabda,”Berapa banyak orang yang berpuasa yang tidak memberi faedah puasanya itu, kecuali hanya lapar dan dahaga saja”.

Dalam menjalankan ibadah Ramadhan ada beberapa kekeliruan dan kesalahan yang harus dihindari agar ibadah puasa kita itu optimal dan berbuah pahala di sisi Allah, diantaranya;

Pertama; keseriusan ibadah hanya di bulan Ramadhan.
Seorang mukmin dalam beribadah sebenarnya tidak kenal musim, bulan atau hari apapun dia harus beribadah, tapi dalam bulan ini Allah hanya memberi ransangan yang luar biasa dan pahala yang berbeda dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain, seperti memberi makan orang yang berbuka sama pahalanya dengan orang yang puasa, ibadah sunnah yang dikerjakan sama nilainya dengan ibadah wajib, bagi yang mendapat malam qadar akan bernilai ibadahnya 1000 bulan, sehingga wajar bila Rasulullah menyatakan dalam sabdanya,”Kalau sekiranya ummatku mengetahui kebaikan di bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar supaya tahun semuanya menjadi Ramadhan, karena semua kebaikan berkumpul padanya, ketaatan bisa diterima, do’a dikabulkan, dosa diampuni dan syurga rindu kepada mereka”.

Kedua; melakukan perbuatan haram.
Di luar Ramadhan saja kita tidak boleh berbuat haram apalagi dalam bulan Ramadhan, seperti ghibah, adu domba, berbohong, saksi palsu dan lain-lainnya. Rasulullah bersabda,”Lima perkara yang dapat menghapuskan pahala ibadah puasa yaitu dusta, ghibah, adu domba, sumpah palsu dan memandang dengan syahwat”.

Ketiga; bersikap malas.
Orang yang beranggapan   bahwa Ramadhan adalah bulan untuk bermalas-malasan, karena mendengar  hadits dhaif yang menyatakan bahwa tidurnya orang yang puasa itu adalah ibadah. Bahkan Ramadhan disebut juga dengan syahrul jihad, artinya bulan untuk berjuang, tidak ada istilah bagi seorang muslim untuk berhenti bekerja karena Ramadhan, justru dengan puasa kita bekerja maka pahalanya akan berlipat ganda, Rasulullah selalu berdo’a kepada Allah, ”Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kedukaan, dari lemah dan malas, dari pengecut dan bakhil, dari belenggu hutang dan dipengaruhi orang”.

Banyak sekali kisah-kisah yang memberikan motivasi kepada kita untuk bekerja diantaranya; Umar bin Khattab pernah mengusir seorang lelaki di dalam masjid padahal hari sudah siang, dia sibuk ibadah saja dan lalai untuk mencari nafkah. Seorang pengemis datang kepada Rasulullah minta sesuatu, Rasul memberinya kapak lalu dkisuruh mencari kayu ke hutan, sabda beliau,”Itu  lebih baik bagimu dari pada kamu meminta-minta”. Ada pula orang yang sibuk dengan ibadah saja sementara hidupnya ditanggung oleh kakaknya, Rasul menyatakan, ”Kakakmu lebih baik darimu”.

Keempat; boros dalam makanan dan minuman.
 Orang yang  beranggapan Ramadhan adalah ajang untuk melampiaskan nafsu perut sehingga dana untuk itu disediakan, padahal makna Ramadhan adalah agar hidup hemat dan sederhana. Pemborosan itu nampak pada; makanan dan minuman dengan menyediakan seluruh jenis makanan dan minuman untuk menyambut datangnya waktu berbuka, padahal semua itu tidak akan habis bahkan lebaih banyak yang mendarat ke tong sampah.

Rasulullah ketika berbuka hanya memakan 3 butir kurma yang kualitasnya baik dan minum dua teguk air setelah itu beliah shalat maghrib, kemudian baru makan sebatas yang beliau ajarkan; tidak terlalu kenyang, karena perut manusia itu harus diisi oleh air, udara dan makanan masing-masing sepertiga bagian.

Siti Fatimah suatu kali berpuasa nazar untuk tiga hari; hari pertama dia persiapkan makanan untuk berbuka satu potong roti dengan segelas air, rupanya datang seorang pengemis yang sudah sekian hari tidak makan, maka dia berikan roti itu kepada pengemis itu, hari kedua datanglah anak yatim dan hari ketiga datang pula orang yang baru keluar dari penjara, sehingga tiga hari lamanya Fatimah tidak menikmati makanan untuk berbuka selain segelas air, kita tentu tidak mampu sebagaimana anak kesayangan Rasulullah ini, tapi janganlah boros saat berbuka sehingga mubazir, ”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros, sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudaranya syaithan dan syaitan itu sangat ingkar kepada Tuhannya” [Al Isra’ 17;26-27].

Dalam ayat lainpun ditegaskan Allah, ”Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan, Allah tidak suka kepada orang-orang yang berlebih-lebihan” [Al A’raf 7;31].
Sejak awal kita buang pandangan yang keliru tersebut sehingga ibadah kita bermakna pada bulan ini, jangan sampai sia-sia .

Melalui puasa manusia dididik, digembleng dan ditempa untuk menahan nafsunya, pengendalian hati dari niat yang tidak baik dan mengekang anggota tubuh dari perbuatan jahat. Puasa Ramadhan itu hukumnya wajib berdasarkan kitab Allah, sunnah dan ijma’ , dalam firman-Nya Allah menyebutkan,”Hai orang-orang yang beriman diwajibkan kepada kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada  orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” [Al Baqarah 2;183].

            Dalam hadits, diriwayatkan oleh Thalha bin Ubaidillah disebutkan bahwa seorang lelaki bertanya kepada nabi, “Ya Rasulullah katakanlah kepadaku puasa yang diwajibkan     Allah atas diriku”, ujar nabi, “Puasa Ramadhan”, tanya lelaki itu,”Apakah masih ada lagi yang diwajibkan atasku?” sabda nabi,”Tidak ada, kecuali kalau kamu berpuasa sunnah”.

            Puasa hanya ditujukan kepada orang-orang yang beriman dalam rangka untuk memperbaiki pribadinya dengan meningkatkan ketaatan kepada Allah, sedangkan bagi mereka yang tiada beriman maka mendapat keringanan dari Allah untuk tidak berpuasa . Ujud dari keimanan adalah melakukan perintah Allah diantaranya puasa di bulan Ramadhan dengan tuntunan yang telah ditetapkan. Walaupun demikian masih saja banyak orang yang mengaku beriman tapi tidak dibuktikan imannya dengan jalan ibadah puasa, puasa baginya adalah beban, dia tidak mampu mengekang nafsunya dengan jalan berpuasa, ironisnya baru masuk bulan Sya’ban penyakitnya kambuh sehingga dapat melalaikan puasa dengan dalih kesehatan terganggu.

            Sebenarnya puasa itu bukanlah ibadah yang memberatkan, siapapun akan mampu melaksanakannya asalkan dalam keadaan sehat, sebab orang yang sakit memang diperkenankan untuk tidak berpuasa, demikian pula bagi orang yang berat melakukannya karena sebab-sebab lain, semua itu dapat diganti dengan qadha atau membayar fidyah yang disyariatkan islam.

            Puasa itu memiliki tiga tingkatan yaitu; puasa orang awam, puasa orang khawas [khusus] dan puasa orang khawashil [istimewa]. Adapun puasanya orang awam ialah menahan perut dari makan dan minum serta tidak menggauli isteri disiang hari, puasanya orang khusus yaitu puasanya orang-orang yang shaleh, disamping menahan makan dan minum dan senggama juga menahan semua indra dari perbuatan dosa, puasa itu akan sempurna dengan menjalankan lima perkara;
  1. Memajamkan mata dari segala sesuatu yang mencela menurut syara’ [agama]
  2. Menjaga lisan dari mengghibah/ gunjing, dari berkata dusta, adu domba dan sumpah palsu.
  3. Menahan telinga dari mendengarkan sesuatu yang dibenci.
  4. Menahan semua anggota badan dari semua yang dibenci.
  5. Orang yang puasa hendaknya tidak terlalu banyak makan, sampai penuh perutnya diwaktu berbuka, meskipun makanan itu halal.

            Kesadaran untuk meningkatkan nilai ibadah puasa pada setiap tahun semakin berkurang di tengah masyarakat kita karena kurangnya pengetahuan yang diawali tidak mau mendengarkan pengajian apa lagi membaca buku-buku fiqih. Di bulan ini dijadikan sebagai arena pemborosan dengan istilah konsumerisme, bukan melatih diri untuk hidup prihatin tapi berlomba-lomba dalam bentuk masakan yang diikuti lomba pakaian diakhirnya. Ketika saat berbuka tiba semua makanan dilahap tanpa fikir panjang karena sekian jam tidak makan tidak minum yang akhirnya  balas dendam sampai untuk shalat maghribpun tidak sanggup lagi karena kekenyangan.

            Adapun puasa orang Khawashi khawash [istimewa] ialah menahan hati dari kemauan yang rendah dan dari pemikiran terhadap duniawi, dan menahan juga pemikiran selain tertuju kepada Allah dengan banyak berzikir dan berfikir, puasa ini adalah martabat bagi para nabi dan shiddiqin.

            Bagi orang-orang yang tidak puasa karena alasan yang tidak tepat, Allah menurunkan ancamannya sebagaimana sabda nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah danTurmuzi,”Siapa yang berbuka pada satu hari dari bulan Ramadhan tanpa keringanan yang diberikan Allah padanya, tiadalah akan dapat dibayar oleh puasa sepanjang tahun walaupun dilakukannya”.

            Adapun manfaatkan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang berpuasa Ramadhan adalah sebagaimana hadits riwayat Baihaqi,”Sungguh telah datang padamu bulan yang penuh berkah, Allah mewajibkan kamu berpuasa, disaat itu dibuka pintu syurga, ditutup pintu neraka dan dibelenggu syaitan-syaitan, dan padanya ada satu malam yang nilainya lebih berharga dari seribu bulan”.

            Dalam hadits lain banyak disebutkan bahwa orang-orang yang berpuasa akan dihapuskan kesalahannya dan akan dimasukkan ke syurga-Nya,”Siapa yang puasa pada bulan Ramadhan karena  keimanan dan mengharapkan keridhaan Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” [HR. Ahmad]. Itu adalah keutamaan yang diberikan Allah, sedangkan keutamaan dan faedahnya dalam kehidupan sehari-hari yaitu;

  1. Melatih hidup disiplin, walaupun makanan dan minuman yang terhidang halal dan memang milik seseorang akan tetapi tidak akan dimakan sebelum waktunya.

  1. Dalam masyarakat dapat dirasakan betapa pedihnya hidup orang-orang yang tidak ada makanan, bagi orang-orang yang tidak punya, apa yang harus dinikmati; haus dan lapar sering mereka hadapi, hal ini akan menimbulkan sikap santun dan kasih sayang.

  1. Dari segi kesehatan dapat menyelamatkan seseorang dari penyakit obesitas [kegemukan] yang sangat ditakuti, penderita ini sering mengalami rasa nyeri di pinggul, kelainan disendi lutut dan sendi tumit, tekanan darah tinggi, dan bagi wanita dengan mengakibatkan amenora atau kelainan haid artinya hilangnya daur haid lebih jauh,  dan dikatakan bahwa penderita obesitas  cendrung mengalami serangan jantung karena pembuluh darah mengalami pengapuran dan penyempitan.

            Menurut dokter Elen, puasa dapat menyembuhkan penyakit gula, demikian pula dokter Alan Cott, dia mengatakan dengan puasa fisik merasa lebih baik, lebih enak dan lebih muda, batin terasa bersih, tekanan darah menurun, mengendurkan ketegangan, menajamkan perasaan dan menghambat proses ketuaan. Serta pendapat dokter Ali Akbar, katanya puasa dapat men yembuhkan penyakit ginjal dan pendarahan otak sehingga wajar kalau Rasul bersabda,”Banyak makan dapat melemahkan semangat dan fikiran.

Terlalu merugi orang yang berpuasa tidak menggunakan peluang bulan ini untuk menumpuk pahala sebanyak-banyaknya, apalagi imbalannya berkali lipat dibanding hari lain. Pada bulan ini sediki sekali godaan yang mengajak untuk berbuat maksiat, sebab masing-masing figur memberikan contoh dan keteladanan kepada masyarakat, apalagi mereka yang terbilang pejabat dan orang yang terkemuka yang   selama ini tidak pernah tampil ke masjid, tiba-tiba nampak wajahnya dengan kalem menyandang sajadah, berpeci hitam dan seakan-akan mereka adalah orang yang paling alim di dunia,”Sesungguhnya dalam pribadi Rasul itu ada contoh teladan yang baik bagimu” [33;21]

            Momen yang tepat bagi semua pihak untuk menampilkan figur terbaik kepada masyarakat melalui akhlaqul karimah atau keteladanan melalui ujud pergaulan sehari-hari,”Seorang mukmin yang bergaul dan sabar terhadap gangguan orang, lebih besar pahalanya dari orang yang bergaul dengan manusia dan tidak sabar menghadapi gangguan mereka”[HR.Ahmad]

            Seorang mukmin harus bersosialisasi diri dengan masyarakat di sekitarnya apalagi di bulan Ramadhan ini banyak sekali amal-amal yang merupakan ujud kepedulian terhadap sesama seperti memperbanyak infaq, sedekah, mengundang berbuka bersama, shalat tarawih dan aktivitas lainnya.

            Seorang ayah dan ibu bagaimana dia mampu menampilkan dirinya kepada anak dan keluarganya sebagai figur yang dapat diteladani, bagus kita menyuruh anak untuk shalat tarawih ke masjid, membaca Al Qur’an dan berinfaq, akan tetapi didikan tadi akan membekas bila lansung orangtua mencontohkannya dengan mengajak anak-anak ke masjid menyemarakkan ibadah Ramadhan. Tidak layak kiranya, bila orangtua melarang anaknya merokok sementara dia    sendiri menghabiskan rokok berbatang-batang sehari, terlepas dari rokok itu makruh ataupun haram, yang jelas keuntungan dari penjualan rokok itu disumbangkan duapuluh lima persen untuk mengkafirkan ummat islam melalui program kristenisasi [2;120], berarti kita punya saham untuk memurtadkan ummat islam. Tegakah anda wahai perokok ? sementara asap rokok membubung tinggi ke udara, nikotinnya meresap ke paru-paru, abunya bertebaran ke bumi, keuntungan untuk agama lain sedangkan kerugiannya untuk anda dan ummat islam.

Bulan ini adalah bulan panen bagi abid [ahli ibadah] untuk mengisi kekurangan dan menambah amal-amal di kemudian hari dengan berbagai rangkaian ibadah Ramadhan sehingga peluang ini digunakan seoptimal mungkin oleh orang-orang yang cerdas. Sebab bulan Ramadhan hanya sekali dalam setahun,”Seandainya umatku tahu keutamaan bulan Ramadhan tentu mereka akan meminta agar seluruh bulan ini Ramadhan”[Hadits].

            Dari ibadah yang dilakukan seorang hamba,  akan mendapat pahala dari Allah dan diukur sebagai ibadah bila niatnya ikhlas hanya semata-mata termotivasi untuk beribadah kepada Allah saja. Tidak dipaksa dan tidak terpaksa oleh siapapun. Bukan karena atasan, bukan karena mertua dan tetangga,”Tidak Aku perintahkan mereka beribadah kepada Allah selain mengikhlaskan amal-amal itu dalam agama ini” [98;5]. Kegiatan hamba akan bernilai pahala bila aktivitas itu mengacu kepada tuntunan yang ditunjukkan oleh sistim yang diturunkan Allah dan Rasul-Nya, ”Ittibaur rasul” tidak melaksanakan ibadah tanpa aturannya,”Barangsiapa yang beribadah tidak sesuai dengan apa yang kami ajarkan maka tertolak”[hadits], inilah yang disebut dengan bid’ah, yaitu mengada-adakan ibadah yang  tidak diajarkan oleh Rasul. Kerja kita akan bernilai pahala bila tujuannya tiada lain mencari ridha Allah. Bila sandaran ibadah mencari ridha yang lain maka akan bernilai nihil ”Barangsiapa mencari pahala akhirat maka dia akan mendapatkan dunia, barangsiapa yang semata-mata mencari dunia maka dia tidak akan mendapatkan pahala akherat” [Al Ghazali].

            Ibadah  yang dilakukan seorang hamba karena dua hal;
1.       Disebabkan rasa syukur yang mendalam karena banyaknya nikmat yang diberikan Allah. Bahkan jika dihitung-hitung jumlah nikmat itu maka manusia tidak mampu untuk mengkalkulasikannya sejak dari tidur sampai tidur kembali, apalagi sejak lahir hingga wafat [16;18]

2.       Pengabdian kita kepada Allah selain rasa syukur juga ujud rasa kagum atas keagungan Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya  termasuk menciptakan diri manusia dengan fasilitas yang luar biasa [7;54], wajar bila seorang sufi berkata,”Barangsiapa yang mengetahui eksistensi dirinya niscaya dia mengenal siapa Tuhannya”. 

            Namun praktek ibadah itu tidak semuanya diterima Alah sebagai ibadah yang akan dinilai dengan pahala bila telah menyimpang dari niat. Jauh dari mencontoh Rasulullah dan tujuannya bukan karena mencari ridha Allah ” Betapa banyak orang yang melakukan amal besar tapi pahalanya kecil karena salah niatnya dan tidak sedikit pula orang yang beramal kecil tapi pahalanya besar karena  benar niatnya” [Ulama Salaf], inilah yang disebut dengan fatamorgana. Disangka ibadah yang dilakukan di dunia dapat banyak pahala sebagai imbalannya tapi setelah berada di akherat hilang sama sekali,”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membatalkan sedekahmu dengan menyebut-nyebut dan menyakiti hati orang seperti halnya orang yang memberikan hartanya karena ria kepada manusia”[2;264].

            Seorang musafir sudah dua hari dia menyusuri padang pasir dalam melakukan perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan.  Rasa lapar bisa dia tahan tapi dikala haus sulit sekali mengendalikannya. Diantara kelelahannya itu dari kejauhan nampak olehnya sebuah oase yang penuh berisi air sehingga meningkatkan kembali semangat juangnya untuk melakukan perjalanan. Penuh harap terbersit di hatinya agar cepat sampai di lembah yang berair itu, tapi rasa takut dan khawatirpun hinggap di hatinya seandainya dia tidak mampu melanjutkan perjalanan. Dia usahakan sekuat tenaga dan kemampuannya, tempat dimaksud sudah dekat, tanda lokasi serumpun batang kurma jadi pedomannya. Tapi alangkah terkejutnya dikala sampai di tempat itu, disini tidak ada ada air sedikitpun, dia mengeluh, kesabarannya hampir lenyap.

            Diantara kekecewaannya itu, dia melihat sebuah lembah yang penuh dengan air, persis sebagaimana pemandangan yang pertama tadi, ketika dituju, hal itu hilang dari pandangannya, itulah fatamorgana. Hanya sebuah pemandangan menurut prasangka dan imajinasi seseorang tapi realitanya tidak ada, kita khawatir demikian pula nanti ibadah puasa yang kita ukir dari malam ke malam dengan berbagai kegiatan. Dikira mendapat  pahala, tapi di akherat tidak satupun kebaikan yang bisa kita terima bahkan  berubah menjadi bencana.

Ibadah puasa Ramadhan dan segala asfek yang terkait dengannya merupakan nilai-nilai fithrah untuk menjaga eksistensi manusia yang sejak di alam rahim sudah dibekali dengan fithrah yaitu sikap tunduk dan patuh serta mengabdi hanya kepada Allah semata; “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" [Al A’raf 7;172]

            Yang nilai-nilai fithrah tersebut nampak nyata melalui sikap sehari-hari untuk taat, mengabdi hanya kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Menurut Psikolog, dalam jiwa manusia itu ada enam bekal hidup yang diberikan Allah, salah satunya adalah ”religius” yaitu kecendrungan kepada nilai-nilai fihtrah; kebenaran, keadilan dan ketuhanan. Jadikanlah Ramadhan kali ini merupakan Ramadhan terakhir bagi kita, agar kita optimal berbuat untuk menggapai ridha dan rahmat-Nya, wallahu a'lam. [Cubadak Solok, 19 Ramadhan 1431.H/ 29Agustus 2010.M]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar